PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 28 - Perubahan


__ADS_3

Bab 28 PMM


Di rumah Rara, Raja membawakan mie ayam buatan Dita untuk Ryujin dan keluarga.


"Enak banget buatan bunda kamu," puji Ryujin.


"Iya bener, Ja. Cocok kalau bikin kedai mie ayam. Belum ada kan di komplek kamu," ucap Rio seraya memasukkan penuh mie ayam tersebut.


"Oh, bisa bisa. Nanti aku bilang sama bunda," sahut Raja.


Rara tampak mengaduk-aduk mie ayam di hadapannya.


"Heh, dimakan bukan diaduk!" seru Raja menahan tangan Rara.


"Kamu kenapa, Ra?" Rio mulai memicingkan mata menatap adiknya.


"Aku masih mikir aja tentang foto anak-anak Mapala Merah. Di buku harian Lani ada foto itu. Terus si Dikta juga pegang foto kayak gitu. Kenapa ya, Kak?" tanya Rara.


"Kita lagi perdalam, kok." Rio menyahut.


"Kalau aku khawatir si Lani yang hilang ini kira-kira dia ke mana," ucap Raja.


"Lani hilang? Kata siapa? Minggu lalu dia ke kantor polisi buat kasih laporan mengenai kasus kecelakaan si Dikta. Kamu nggak tahu?" Rio menatap ke arah Raja.


Raja dan Rara langsung saling bertatapan.


"Kakak tau Lani tinggal di mana?" tanya Rara.


"Tanya sama temen kamu si bule itu. Dia datang sama temennya yang bule," sahut Rio.


"Briana?" Rara dan Rio mengucap bersamaan.


***


Dikta memanggil Tyo ke rumahnya. Ia


terlihat tergesa-gesa, ia ingin segera bertemu Tyo. Ia segera menarik Tyo menuju ke kamarnya.


Tyo mulai cemas. la mulai sadar, akibat dari tindakannya waktu itu sepertinya Dikta memang cidera kepala cukup serius tetapi sosok Dikta masih sangat garang dan mengkhawatirkan sepertinya.


"Ini semua foto-foto Lani. Kenapa aku bisa terlihat sangat bucin sama Lani? Dan Mbok Nah bilang si Lani ini pacar aku. Apa itu benar, Yo?" tanya Dikta.

__ADS_1


Satu minggu ini Dikta sangat kalut dengan dugaan kalau Lani adalah kekasihnya. Terpaksa ditanyanya Tyo, satu-satunya orang yang mungkin tahu keberadaan Lani.


"Jawab aku, Yo!" bentak Dikta.


"Dia emang pacar elu. Tapi kata Lani elu berdua udah putus. Hanya saja elu masih bucin banget dan nggak mau pisah dari Lani," ucap Tyo.


Dikta merasa rupanya Tyo masih menyimpan kemarahan padanya.


"Apa ada lagi mantan aku selain Lani di kampus? Apa mereka baik-baik saja sekarang? Kenapa nggak ada yang jenguk aku pas di rumah sakit?" tanya Dikta.


"Emang ada ya, mantan pacar elu yang baik- baik aja?" Tyo balik bertanya, lalu hendak pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Dikta tadi.


Perkataan Tyo malah membuatnya berpikir keras. Dia berusaha mengejar Tyo untuk memaksa mendapatkan jawaban. Semoga tidak akan sia-sia.


"Bantu aku, bantu aku supaya bisa cari Lani dan mantan-mantan aku. Mungkin itu bisa membuatku berubah dan mendapatkan ingatanku kembali," pinta Dikta.


Tyo merinding mendengarnya, ia tak menyangka sosok Dikta mengatakan hal tersebut. Namun, bisa jadi karena efek hilang ingatan yang membuatnya menjadi berubah lebih baik. Akhirnya, Tyo membantu Dikta.


Ketika seminggu kemudian, memasuki minggu keempat, Lani belum juga kelihatan, Tyo bersama Dikta sudah tidak bisa lagi tinggal diam. Apa pun akan dilakukannya agar Lani kembali ke kampus. Dicarinya Briana, yang meskipun masih sering bersama Rara dan Raja.


Namun, Dikta malah merasa sekarang seperti ada dinding yang tebal di antara mereka semuanya. Mereka menghindari sosok Dikta.


Dikta melihat Briana sedang berjalan ke koridor yang menuju fakultas ekonomi. Briana langsung menghentikan langkahnya begitu Dikta menyejajarkan langkahnya. Tyo mengikuti di belakang.


Dikta menghela napas. "Iya," ucapnya berat.


"Kamu tahu di mana Lani, kan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Dikta.


"Ada ya, mantan elu yang baik-baik aja?" Lani bertanya balik.


Lewat sudut mata lentik itu, bisa dilihat Briana kalau Tyo sedang melangkah cepat ke arah dia dan Dikta. Pria di hadapan Briana menghela napas. Belakangan ini dia mau mulai bisa belajar untuk bersabar.


"Gue nggak mau kuliahnya Lani dan gue berantakan," ucap Briana dengan suara melunak.


"Oh, ya? Bagus dong. Aku juga maunya begitu!" ucap Dikta menghadapkan tubuhnya ke Briana.


Sekilas diliriknya Tyo yang sudah berada bersama mereka.


"Kuliah berantakan itu masih bisa ngulang, Ta. Tapi kalau hidup yang udah elu acak-acakin dan berantakan, yang ada cuma penyesalan. Ya mending kalau berantakan karena ulah sendiri sih nggak apa-apa. Kalau karena ulah orang lain macam elu, gimana? Apalagi gara-gara ulah psikopat sinting kayak gini! Sakit jiwa banget!" cibir Briana.


Dikta sampai terperangah. Ditatapnya Briana dengan wajah yang kini memucat. Kedua rahangnya mengatup keras. Briana membalas tatapan itu, kemudian menoleh dan menatap ke arah Tyo tajam.

__ADS_1


"Elu mau ikutan nyerang gue?" tantang Briana.


Tyo langsung mengangkat kedua tangannya. Mengisyaratkan dia tidak akan bicara untuk kepentingan pria di hadapan Briana. Meskipun begitu, wajahnya memperlihatkan kemarahan yang sangat jelas.


"Gini aja, deh. Kalau elu mau si Lani nongol di kampus lagi, dan supaya dia bisa nerusin kuliahnya sampai tamat...," Lani menghentikan pembicaraannya dan mengembalikan tatapannya ke Dikta.


"Jangan berusaha untuk memiliki apa yang bukan seharusnya milik elu. Dan jangan berdiri di tempat yang bukan menjadi tempat elu! Pergi lo dari sini!" sentak Briana.


Tak tampak kaget. Dia takut emosi Dikta tersulut dan akan menyakiti Briana. Namun, Dikta justru pasang wajah tenang. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi. Bahkan Dikta tersenyum.


"Oke, gue paham sama elu!" ucap Dikta pelan.


"Terima kasih buat semua jawaban elu, Bri."


Ditepuknya bahu Briana, kemudian Dikta pergi. Briana menatap tercengang. Sama sekali tidak menyangka akhirnya Dikta tak memperpanjang lagi adu mulut mereka dan bersedia mundur. Namun ketercengangan Briana tidak bertahan lama, karena mendadak Tyo mencekal satu lengannya dan menatapnya marah.


"Elu ngomong apa barusan? Itu yang barusan gue denger. Psikopat sinting dan sakit jiwa? Dikta pasti marah, Bri!"


"Tapi dia nggak marah, kok," sahutnya.


"Ya mungkin lagi dia pendem. Nanti nanti kalau dia makin parah, gue yakin elu salah satu yang harus tanggung jawab!" ucap Tyo.


Briana tercengang. "Masih juga elo belain dia setelah apa yang dia lakuin ke kita?" pekik Briana.


Tyo melepaskan cekalannya dari lengan Briana.


"Bukan seratus persen salah dia. Gue bukan- nya mau belain Dikta. Kadang susah untuk menolak hal-hal yang bikin mupeng apalagi kalau disodorin langsung di depan hidung elu. Pasti kegoda, kan?"


"Iya juga sih." Briana mengangguk. Terpaksa mengakui.


"Lani baik- baik aja, kan?" tanya Tyo akhirnya.


"Baik-baik aja, sih. Cuma belom berani ke kampus. Jadi bukan gue yang ngelarang dia ke kampus ya." Briana akhirnya mengakui kalau dia tahu di mana keberadaan Lani.


"Dia bener-bener ngumpet sendirian?" tanya Tyo.


"Ya nggak lah. Gila aja gue ninggalin anak orang yang lagi depresi gitu sendirian. Apalagi kalau jadi target pembunuhan nanti. Lani ada yang nemenin. Udahlah, elu jangan tanya banyak-banyak. Gue takut elu bakal bongkar semua ke Dikta. Udah deh yang penting elu udah tau kalau Lani aman. Baik baik aja gitu," ucap Briana.


"Iya deh, oke oke." Tyo tersenyum dan mengangguk, "Thanks, Bri."


...*****...

__ADS_1


^^^To be continued, see you next chapter!^^^


__ADS_2