PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 41 - Briana Dihantui


__ADS_3

Bab 41 PMM


Tiba-tiba, sebuah kecelakaan terjadi tak jauh dari rumah Lani. Suara mobil yang saling beradu terdengar tak jauh dari posisi mobil Raja yang dihentikan secara tiba-tiba juga. Ternyata mobil taksi online yang Pak Adrian tumpangi tadi tertabrak truk besar dari arah sebelah kanannya.


"Ja, itu kan mobil yang Pak Adrian tumpangi tadi," ucap Rara.


"Iya, Ra." Raja mengangguk sedih.


Anta yang penasaran sampai menghadang salah satu warga yang baru saja menonton kecelakan tersebut.


"Mas, itu ada kecelakaan ya?" tanya Anta.


"Iya, Bu, masa ada topeng monyet!" serunya.


"Mas, saya serius lho tanyanya," sahut Anta.


"Ya kali Kak Anta lagi ngobrol sama monyetnya," ucap Raja dengan nada pelan.


Rara menepuk bahu Raja agar berhati-hati dalam berbicara.


"Iya, saya serius juga jawabnya, Bu! Ada kecelakaan sopir avanza sama penumpangnya yang sampai meninggal di tempat, karena tertabrak truk. Katanya rem truk besar itu blong," ujarnya lagi.


"Oh, makasih informasinya, Pak."


Pria yang dihadang Anta tadi langsung pergi.


"Kita pulang aja, ya. Kata Bunda Dita jangan suka iseng liat kecelakaan, nanti hantunya minta ikut pulang lagi," ucap Rara mengingatkan.


Rara mencengkeram bahu Raja dan juga bahunya Anta bersamaan.


"Oke," sahut Raja.


Pemuda itu masih saja memikirkan kecelakaan yang menimpa Pak Adrian tadi. Padahal, Raja ingin menolongnya. Namun, Kak Anta sudah melarangnya.


"Heh, kok malah bengong! Ayo, pulang!" Anta kembali menepuk bahu Raja lebih keras.


Raja lantas mengangguk dan melajukan kembali mobilnya Arya.


...***...


Di rumah kas Briana.


Setelah ia bertemu dengan Ajeng, Briana jadi lebih paranoid menuju ke rumahnya. Ia harus melewati jembatan kali yang sepi dan juga lapangan tempat anak-anak main bola. Ada juga taman di tempat itu. Briana bergegas.


"Eh, Bri, baru pulang?" sapa tetangga Briana.


"Iya, Ri." Briana melihat sosok hitam melintas ke kamar kos Riri.


"Ri, kamu ada teman?" tanya Briana.

__ADS_1


"Nggak ada, kok. Aku sendirian. Kenapa emangnya?" tanya Riri


"Oh, gue salah lihat kayaknya. Gue masuk dulu, ya," ucap Briana.


Gadis itu lalu pamit dan masuk ke dalam kamar kos. Briana membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Ia mencoba memejamkan mata, tetapi tak bisa.


Malam itu, tepat pukul sembilan malam. Briana masih mendengar para bocah yang bermain seraya tertawa di dekat bantaran kali dekat kamar kos-nya. Gadis itu tersenyum ia sangat bersyukur karena akhirnya ia dapat melihat langit malam penuh bintang dan bulan purnama.


Briana hendak menutup tirai, namun saat tangan gadis itu hendak menutup jendela kamarnya, ia melihat seorang anak kecil basah kuyup menuju gang kecil di samping rumahnya. Rasa penasaran Briana kala itu mulai menyeruak. Ia menuju pintu kamar kos untuk keluar dan menghampiri anak tadi.


"Dek, mau ke mana? Itu kan tembok dan jalan buntu," ucap Briana kala melihat punggung anak laki-laki itu.


Anak laki-laki yang basah kuyup itu berhenti membelakangi Briana. Kepalanya menunduk lalu menangis.


"Dingin, Kak, hiks hiks."


"Terus kenapa kamu belum pulang? Kamu habis main di kali, ya? Ini udah malam, lho," ucap Briana menjawab.


Hantu laki-laki tadi hanya diam seraya memeluk dirinya sendiri.


"Bri, elu ngapain di belakang situ, mau buang sampah?" tanya Riri tetangga Briana yang mengejutkan gadis itu secara mendadak.


Briana langsung menoleh pada wanita yang memakai daster itu.


"Eh, si Riri ngagetin aja. Ini loh, Ri, ada anak yang—"


"Anak siapa? Anak yang mana, Bri?" tanya Riri kala menghampiri Briana dan ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Briana tersebut.


"Tadi gue lihat anak kecil nangis, terus basah kuyup di dekat tembok itu, Ri!" tunjuk Briana.


"Ngaco elu, nggak ada siapa-siapa di sana."


"Tapi tadi gue ngomong sama—"


Briana menunjuk angin yang berembus di tempat anak tadi.


"Hmm... mungkin anaknya udah lari pulang," ucap Briana.


"Gue nggak liat siapa-siapa, Bri. Ngaco luh!" tegas Riri.


Briana masih menelisik tempat anak tadi menangis. Benar tak ada siapapun di sana.


"Mungkin gue nge-halu kayaknya," gumam Briana.


Setelah menghela napas berat, Briana akhirnya pergi juga untuk beristirahat.


Keheningan malam tercipta, hanya suara detak jam dinding yang terdengar kala itu. Sesekali suara binatang malam terdengar mewarnai sunyinya malam.


Pukul satu dini hari, perlahan-lahan selimut yang Briana gunakan untuk menutupi dirinya bergerak turun. Seperti ada sesuatu yang menarik selimut gadis itu agar sampai terlepas dari tubuhnya. Hawa dingin di ruangan itu makin terasa.

__ADS_1


"Kok, dingin banget, sih?" Briana sampai terjaga dari tidurnya seraya mengusap kedua mata lentiknya.


Briana merasa tubuh rampingnya makin menggigil. Ia meraba tubuhnya sendiri dan mendapati tak ada selimut yang menutupi tubuhnya.


Briana lantas mencoba memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Ia menarik selimut bermotif bunga matahari favoritnya dengan dasar warna hijau muda itu. Namun, keanehan langsung terasa. Selimut itu perlahan bergerak menurun ke kakinya seolah ada yang menarik kembali


Sontak saja, Briana buru-buru bangkit dan menyalakan lampu kamar. Tak ada apapun di sana. Iris cokelat miliknya memberanikan diri berkeliling mengamati ruangan kamar itu.


"Kok, kayaknya tadi ada orang, ya?" Briana berbicara pada dirinya sendiri.


Lalu, Briana kembali ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Tiba-tiba, ia merasakan tetes demi tetes air membasahi wajahnya. Ia lantas membuka kedua mata lentiknya. Di tengah sinar bulan yang terpancar dari luar jendela, Briana terperanjat kala melihat sosok wajah seorang anak laki-laki hadir di atas wajahnya.


"Aaaaaaaaaaaa! Setaaaaaaaan!"


Briana langsung berteriak dengan kencang dan berlari ke saklar lampu.


Klik!


Cahaya lampu kamar langsung berpendar menyinari ruang kamar kos Briana. Sosok anak laki-laki itu masih ada menghantui Briana.


"Pergi! Pergi dariku!"


Briana masih saja berteriak ketakutan.


"PERGI!"


Briana lantas meraih ponselnya dan menghubungi Rara.


"Ya, Bri?" sapa Rara dari dalam ponselnya.


"Ra! Gue didatangi hantu anak kecil. Kayaknya ini anak yang seminggu lalu tenggelam deh! Gue harus gimana, Ra?" pekik Briana.


"Ummm, kayaknya mata batin kamu pas Kak Anta buka masih ada efeknya, deh. Kamu ajak ngobrol aja, gih! Paling besok mata batin kamu ketutup lagi," ujar Rara.


"Ra, kok elu malah ngomong gitu! Tolongin gue, Ra, dia ngeliatin gue aja nih…," rengek Briana.


"Ya habisnya aku juga bingung mau bantu kayak apa. Aku bantu doa aja, deh. Kamu juga berdoa aja suara dia hilang, atau ajak ngobrol aja. Nanti lama-lama juga biasa," ucap Rara dengan entengnya.


"Tapi, Ra…."


"Udah malam, Bri. Aku nggak bisa minta anter Raja ke sana karena aku yakin dia udah tidur. Katanya tadi minum obat alergi gara-gara makan ikan cue basi. Maaf ya, Bri… beneran deh aku cuma bisa bantu doa dari sini," ucap Rara lalu mohon pamit menutup sambungan ponselnya.


"Aduh, masa gue harus tidur sama setan?! Temenan sama Rara dan keluarganya Raja bener-bener bikin gue bisa gila ini!" pekik Briana lalu meraih selimutnya.


Semalaman ia tidur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


...*****...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2