PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 73 - Hati Dikta VS Lani


__ADS_3

Bab 73 PMM


Lani malah merasa sudah mulai patah hati. Ia jadi semakin sedih lagi. Kelopak mata nan lentuk itu mulai merebak. Perlahan, bulir bening itu mengalir turun ke pipinya.


Lima belas menit sudah terlewat. Dikta yang baru saja dari vending machine kampus, melintasi ruang auditorium. Dia melihat Lani di sana. Pemuda itu tertegun seketika. Lani sedang duduk membela- kanginya, di sisi jendela di ujung kanan. Tempat yang kerap juga jadi tempatnya. Gadis itu sedang menangis tanpa suara. Perlahan, Dikta mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia menulis satu pesan singkat dan segera mengirimkannya.


Tak lama terdengar suara ringtone dari ponsel Lani. Membuat gadis itu membersit hidung lalu membuka tas dan mencari ponselnya. Ada satu pesan masuk. Sempat terbelalak karena tak menyangka kalau pesan singkat itu datang dari Dikta. Gadis itu sontak saja ternganga. Dia menatap tidak percaya.


Dengan jantung berdegup keras, dibukanya pesam itu. Isinya sangat singkat.


'Knp nangis?'


Kembali Lani tersentak. Kali ini benar-benar sangat terkejut. Seketika dia melompat berdiri. Jeep milik Dikta sama sekali tidak terlihat, tetapi pesan singkat itu membuatnya yakin kalau Dikta pasti ada di luar sana dekat dengan posisi dia berada. Dan pemuda itu bisa melihatnya.


Lani akhirnya mencoba bergerak mundur menjauhi jendela. Detak jantungnya berdegup semakin kencang. Dikta baru saja mengirim pesan kalau ia melihatnya menangis. Lebih baik cepat-cepat pergi sebelum Dikta datang ke sini dan bertanya langsung. Saat ini dirinya tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.


Lani akhirnya berbalik badan dan langsung membeku. Dikta sudah berdiri menjulang di depannya tanpa ia sadari. Pria itu langsung bertanya. Persis seperti bunyi pesan di ponselnya.


"Kenapa nangis?" tanya Dikta.


Seketika Lani langsung tergagap. Tidak mungkin menjawab pertanyaan itu apa adanya seperti yang baru ia pikirkan tadi. Masa iya dia harus mengaku sedih memikirkan Dikta dengan para wanita lain.


"Lan?" Hening sejenak lalu Dikta melanjutkan lagi ucapannya. "Oke, maaf deh. Harusnya gue nggak tanya."


Dikta lalu berdiri di depan jendela paling


kanan. Menatap ke arah area parkir. Dia tahu apa yang sedang dicari Lani. Pemuda yang bernama Boy itu mungkin. Boy terkadang memarkir sedan-nya di bawah sana. Berarti hubungan mereka masih belum jelas. Namun, lagi-lagi Dikta harus meyakinkan diri kalau itu bukan urusannya.


Langkahnya sudah surut sejak lama. Ingin sekali ia mengakui bahwa dia sangat mencintai gadis yang saat ini tengah bersamanya. Akan tetapi, hal itu tidak ada gunanya kalau sepasang mata lentik gadis cantik itu tidak lagi menatap ke arah dirinya.


Hanya akan sia- sia rasanya. Tidak ada gema yang bisa menciptakan perulangan dari batin yang bergolak. Ia masih berharap semua yang dia idamkan terwujud. Dia ingin agar tetap ada harapan meskipun beberapa persen sebelum kata "tidak" terdengar.


Diam-diam Dijta menarik napas panjang. Ia mencoba menekan rasa sakitnya sampai ke tempat terdalam. Sementara itu, sang gadis yang sempat ragu-ragu, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Dikta dan berdiri di sebelahnya.


'Mungkin ini terakhir kalinya gue sama Dikta ada di satu tempat bersama-sama, hanya berdua," keluh batin Lani.


Saat berdiri di sebelah kanan Dikta itulah, Lani melihat celah kemeja kotak-kotak pemuda itu yang dua kancing paling atasnya sengaja terbuka. Gadis itu bisa melihat ada tato di sana. Di dada kiri Dikta.


Lani jadi teringat seperti apa yang pernah dikatakan para gadis yang sering membicarakan Dikta kalau pemuda itu sekarang memiliki tato. Dengan usilnya bibir itu tercetus begitu saja.


"Kamu punya tato sekarang?" tanya Lani.


"Baru tau, ya?" Dikta balik bertanya dan menoleh ke arah Lani.

__ADS_1


"Iya, aku baru tau. Permanen apa temporer?" tanya Lani lagi.


"Permanen," sahut Dikta.


"Kamu tato gambar apa, sih?"


Dikta menoleh dan sesaat ditatapnya Lani.


"Yakin mau liat?"


Belum sempat Lani menjawab pertanyaan Dikta, pemuda itu dengan seketika membuka seluruh kancing kemejanya dan menyingkap bagian yang ada gambar tatonya. Dihadapkannya tubuhnya ke Lani.


"Gambar apa kira-kira?" tanya Dikta pada Lani.


Gadis itu memicing, dia menyipitkan kedua matanya. Ditatapnya tato Dikta dengan saksama. Bahkan kepala gadis itu sampai miring ke kiri lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi ke kanan lagi sampai dia menyerah. Gadis itu tetap tidak tahu gambar apa yang ada di dada Dikta.


"Ummm, aku nggak tau. Nggak jelas sih soalnya. Emangnya gambar apa, sih?" tanya Lani.


Dikta tersenyum tipis.


"Bukan gambar apa-apa juga, sih. Aku nggak perlu detail gambarnya mau kayak apa. Aku hanya perlu rasa sakitnya biar aku lupa sakitnya ditinggalin kamu."


Dikta masih mengucap datar seraya menatap ke halaman parkir di depannya. Seketika Lani menatap tak percaya.


Dikta tidak menjawab pertanyaan itu. Hening sejenak sampai akhirnya pandangan Dikta menuju ke liontin yang Lani gunakan.


"Kalung kamu bagus," pujinya.


Lani meneguk salivanya berat. Ia baru sadar kalau liontin yang ia gunakan berasal dari Dikta dan dia belum melepasnya sampai saat ini.


Kemudian, Dikta mengeluarkan sekotak rokok dari saku kemeja dan menarik sebatang. Disulutnya rokok itu. Hal yang membuat lagi-lagi Lani menatap tak percaya.


"Kamu ngerokok sekarang?" tanya Lani pelan.


"Baru tau lagi, ya?" Dikta mengangkat kedua alisnya dan berdecak.


Lani menjawab dengan anggukan.


"Kamu kayaknya yang paling ketinggalan berita tentang aku, ya? Oh iya, aku kan udah nggak penting buat kamu."


Dikta menggeleng-gelengkan kepala. Sejenak pemuda itu menarik napas panjang. Dia menoleh dan menatap Lani tepat di manik mata.


"Ada apa?" tanya Dikta.

__ADS_1


Sepasang mata hitamnya menatap khawatir.


"Nggak ada apa-apa. Bener, kok!" Lani menggeleng kuat-kuat.


"Nggak ada apa-apa, kenapa nangis tadi?" tanya Dikta.


Lani sudah akan menghapus air matanya,


tapi Dikta menahan geraknya.


"Ada apa?" suara Dikta melembut.


Lani menghela napas dan menundukkan kepala.


"Nilai akuntansi aku dapet D," jawabnya pelan dan asal.


Lani tidak sepenuhnya berbohong. Nilai akuntansi-nya memang menurun drastis dan ada keharusan mengulang mata kuliah yang memuakkan itu yang memang menjadi beban pikiran. Menghitung uang tak kasat mata dan menjengkelkan bagi Lani.


Sesaat kening Dikta jadi mengerut, kemudian dia tersenyum geli.


"Banyak yang pernah dapet D, apalagi matkul akuntansi. Nggak usah terlalu dipikirin. Nggak pernah tuh ada yang aku liat sampai depresi kayak kamu. Masa sih cuma gara-gara hal itu?"


Dikta makin menyelidiki Lani. Ia merasa Gadis itu berbohong.


"Iya, beneran! Aku nggak bohong!" Lani mengangguk cepat.


"Hmmmm, oke deh!"


Dikta mengangguk-angguk. Kemudian dia menghampiri jendela.


"Terus tadi kamu lagi liat apa?" tanya Dikta lagi.


Seketika itu juga, Lani jadi panik dan tergeragap. Akan tetapi, Lani kemudian malah memutuskan untuk menyerang balik.


"Lah, kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Lani.


Pertanyaan Lani sontak membuat Dikta jadi tersenyum lebar. Dia bahkan hampir tertawa.


...******...


...To be continue...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2