
Bab 8 PMM
"Kenapa nggak kamu aja yang buka, Lan? Apa karena di depan kamu cuma ada aku? Menurut kamu kurang menantang ya, soalnya cuma diliat sama satu orang? Apalagi aku, cowok kamu. Jadi nggak akan bilang ke siapa pun gimana seksinya badan kamu, gitu?" Dikta kembali membuat Lani kesal.
"Kamu kenapa, sih?" Lani balas dengan kesal.
"Beda ya, Lan, kalau yang ngeliat orang lain. Jelas akan mereka sebarkan informasi menarik tentang tubuh kamu itu. Kayak foto itu. Dengan begitu kan jadi banyak yang tau kalau kamu seksi, iya kan?" tuduh Dikta.
Pemuda itu maju selangkah. Tatapan matanya semakin menajam.
"Oh iya, kata si Reza anak gedung sebelah kalau kamu itu jago pidato sampai menang lomba pas pidato Hari Kartini. Kamu sama sekali nggak cocok jadi juaranya, Lan. Kamu justru ngerusak martabat perempuan. Kamu lebih cocok jadi fans Maria Ozawa, tau kan? Cewek-cewek smart, porno, dan licik!" Dikta tersenyum dingin.
"Gila kamu! Aku mau keluar dari sini!" pekik Lani.
"Bagian tubuh wanita terhormat yang bisa diliat mungkin cuma jari tangan dan kaki. Kalau pun bagian betis yang bisa ngeliat mungkin cuma bokap sama sodara-sodaranya. Sementara yang pernah ngeliat badannya ya nanti suaminya. Beda jauh kan sama kamu?" tuding Dikta.
"Hentikan, Ta! Hentikan!" Lani benar-benar tidak sanggup mendengar cibiran Dikta.
Dia tak percaya bahwa memang Dikta yang telah mengeluarkan kalimat-kalimat menyakitkan tadi. Setelah sekian detik hanya bisa terpana, tiba-tiba Lani kembali mengangkat tangan kanannya. Dilayangkannya satu tamparan keras ke pipi pria di hadapannya itu. Namun tamparan itu hanya membuat tubuh Dijta terdorong ke belakang sedikit.
Dikta mengusap pipinya. Pria itu lantas berbalik badan dan meraih ranselnya yang tadi dia letakkan di lantai, yang ada di dekat pintu. Dikeluarkannya sebuah kantong palstik bening. Lani bergidik ketika melihat isi dalam plastik itu. Hal itu membuat tubuh Lani seketika menegang. Dikta memiliki binatang paling menjijikkan yang Lani benci.
"Tau kan, Lan, apa ini?" Dikta menyeringai.
"Ini nggak lucu, Ta! Ini keterlaluan!" pekik Lani.
Wajah gadis itu langsung pucat. Dikta tahu pasti kalau dirinya paling jijik dengan binatang cicak yang Dikta pegang. Dengan puas, Dikta menikmati ketakutan Langen. Dikeluarkannya cicak itu dari dalam plastik. Kemudian perlahan dia mendekat, dan hal itu membuat Lani semakin pucat. Sepasang mata lentik itu menatap cicak itu, sangat ketakutan.
"Kamu boleh pake cara apa pun untuk mengelak, Lan," ucap Dikta sambil terus berjalan mendekat lalu melanjutkan ucapannya, "Tapi jangan buka baju kamu, ya!"
"Aku nggak akan buka baju!" bentak Lani.
"Yakin, nih… kamu tinggal selangkah lagi loh buat buka baju kamu itu. Apalagi itu kemeja, baju kesukaan kamu kalau ke kampus dibanding kaus, kan?!" Dikta balas membentak.
"Aku nggak suka cara kamu, Ta! Kamu menjijikkan!" pekik Lani.
__ADS_1
"Aku menjijikkan? Hei, ini bukan caraku. Ini cara kamu!" Dikta balas membentak.
Cicak itu menggeliat di telapak tangan Dikta. Cicak yang berwarna abu-abu muda, agak gemuk, lembek, dan pastinya menjijikkan untuk Lani. Binatang itu ingin melepaskan diri, tapi tak bisa karena jari Dikta masih menahannya. Dikta tahu kalau Lani takut cicak dari Raisa.
"Tahu nggak kenapa aku tahu kalau kamu takut cicak?" tanya Dikta.
Lani tak mau menjawab.
"Aku tahu dari Raisa, Lan! Coba aja aku tanya-tanya tentang kamu lebih banyak ya ke Raisa. Sayang dia keburu mati," ucap Dikta.
"Kenapa kamu nggak nyusul si Raisa aja, sih?!" pekik Lani.
Dikta hanya menyeringai.
"Sekarang, Lan! Kasih liat ke aku lebih dari yang udah diliat Tyo sama teman kamu dulu itu! Buka baju kamu!" bentak Dikta.
"Buka pake tangan kamu sendiri!" Lani balas berseru dan menantang.
"Aku bilang, buka Lan!" bentak Dikta lagi.
Namun, Lani tetap bertahan. Mati-matian dia tak mau membuka kancing kemejanya. Saat Dikta kemudian menyentuhkan cicak itu ke tangan Lani, gadis itu langsung memalingkan muka.
Dipejamkannya kedua matanya rapat-rapat.
Tubuh gadis itu sangat gemetar. Keringat dingin bahkan mengalir sedari tadi. Akan tetapi, gadis itu tetap bertahan. Bahkan setelah cicak itu benar-benar diletakkan di salah satu telapak tangannya oleh Dikta. Lani tetap berdiri tegak. Meskipun bukan lagi disangga kedua kaki, tetapi sudut antara dinding dan lemari.
Melihat itu, kemarahan Dikta memuncak. Emosi marah yang tertahan sejak tadi dan telah dipendamnya selama seminggu ini, ditambah kekalahan yang dialaminya sekarang, Dikta benar-benar ingin membuka baju Lani. Namun, gadis itu meraih cicak tersebut dan menginjaknya.
"Kenapa kamu nggak mati aja kayak gini!" pekik Lani.
Dikta tertegun. Ia tak menyangka kalau Lani bisa seberani itu. Lani meraih kunci dari Dikta dan membuka pintu rumah itu. Lani tak mau memandang Dikta. Dia hanya memandang ke depan saat berjalan. Hatinya benar-benar kacau. Lani sangat marah dan kecewa. Bahkan jauh di dalam hatinya timbul rasa dendam. Ia akan membalas perbuatan Dikta.
Sementara itu, Dikta masih termenung duduk di lantai. Ia menyesali perbuatannya. Dikta lantas melempar apa pun yang ada di dekatnya ke sembarangan arah. Pemuda itu meluapkan emosinya dengan menghancurkan benda-benda yang ada di rumah kos Tyo.
...***...
__ADS_1
Lani tak sengaja menabrak Raja yang melintas. Pemuda itu baru saja dari minimarket di seberang.
"Lan, kamu kenapa? Muka kamu sakit, ya, gara-gara nabrak aku?" tanya Raja.
Raja melihat Lani menangis setelah menabraknya.
"Ja, bisa minta tolong?" lirih Lani buka suara.
"Minta tolong apa, Lan?" Raja mengernyit.
"Bawa aku pergi jauh dari sini, Ja." Lani menarik tangan Raja ke sebuah motor bebek di samping kirinya.
"Lan, motor aku bukan yang itu. Motor aku di sebelah sana!" Raja menunjuk kekirinya dengan gerakan kepalanya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi! Ayo, bawa aku pergi dari sini, Ja!" bentak Lani seraya menangis.
"Lah, jadi cewek gini amat ya! Maksa!" sungut Raja, tetapi ia tak bisa mengelak.
Raja menghidupkan vespa miliknya. Lani duduk di kursi belakang seraya memeluk Raja.
"Lan, kayaknya nggak usah pegangan –"
"Jalan, Ja! Buruan jalan!" bentak Lani.
Raja benar-benar tak habis pikir. Kenapa ia tak bisa menolak Lani. Raja lantas menghidupkan mesin dan menyalakan motor itu.
"Lan, kita mau ke mana ini?" tanya Raja.
"Kuburan, Ja! Aku mau ke tempat sepi aja!" pinta Lani.
Raja cuma bisa menghela napas panjang. Pasalnya kuburan bukanlah tempat sepi untuknya. Banyak penampakan makhluk astral yang nantinya malah menggodanya. Bahkan lebih repot nya lagi ikut pulang dan minta tolong dibantu agar bisa kembali dengan tenang ke alamnya.
"Wah, repot ini," gumam Raja.
...*****...
__ADS_1
...To be continued, see you next chapter!...