
Bab 56 PMM
Dikta kembali dari luar negeri untuk pemulihan baik fisik dan mentalnya. Pemuda itu lantas menghubungi Tyo untuk bertemu. Dikta juga ingin meminta maaf. Pasalnya dia baru tahu kalau ibunya meminta Tyo menggantikan Dikta jika nantinya Dikta di penjara. Beruntung Raina tidak menuntut dan hanya menginginkan uang untuk ganti rugi.
Hari itu, Dikta baru tahu kalau Briana mengambil tugas sampingan di kantor ayahnya. Belakangan ini, ibunya memintanya untuk mengunjungi kantor agar kelak ketika lulus kuliah, Dikta sudah tahu bagaimana suasana bekerja di kantor, bukannya malah berkutat dengan kegiatan naik gunung ala Mapala Merah.
Ruangan kantor perusahaan ayahnya itu hanya dibatasi oleh kaca putih yang dapat memperlihatkan aktivitas setiap pekerja dari dalam. Termasuk dari arah ruang kerja ayahnya yang dapat melihat para karyawan dengan cukup jelas. Dan Dikta melihat Briana mengerjakan tugas office girl di kantor tersebut.
Sangat kontras dengan penampilannya yang berwajah blasteran, Briana malah bekerja sebagai office girl. Sedangkan yang jabatan di atasnya hanya bertampang pas-pasan. Semua Briana lakukan demi bertahan hidup setelah kehilangan pekerjaan sebelumnya.
Dikta terus memerhatikan Briana di sela-sela waktu luang kerjanya. Gadis itu terlihat begitu tekun di mata Dikta.
Ketika waktu jam makan siang datang, hampir semua pekerja keluar ruangan menuju kantin. Namun, Dikta heran karena hanya melihat Briana seorang diri di ruangan kantor itu. Seorang manajer sempat mengajak Dikta untuk makan siang, tetapi Dikta menolak dengan alasan belum lapar dan mau pergi kembali ke kampus.
Briana masih terdiam di tempat dengan kotak makan di meja kerjanya. Gadis itu terlihat menikmati nasi dengan nugget sederhana yang dibuat sendiri. Dikta langsung keluar ruangan untuk mendekati Briana. Sambil berjalan ke arahnya, Dikta sesekali memerhatikan gadis itu menikmati makanannya.
"Elu nggak ngampus, Bri?"
Dikta yang muncul tiba-tiba sampai membuat Briana tersedak.
"Elu ngapain di sini?" tanya Briana.
"Mau magang juga kayak elu," sahut Dikta asal.
"Hah? Masa, sih?" tanyanya, tetapi ia menyadari sesuatu, "jangan bilang ini perusahaan bokap elu?"
Dikta hanya tersenyum.
"Elu mau balik kampus, nggak? Ayo, bareng gue!" ajak Dikta.
"Bentar, kerja gue sampai jam satu. Setengah jam lagi lah, terus baru gue ke kampus," ucap Briana.
"Kerjaan elu di salon kenapa elu tinggal?" tanya Dikta yang akhirnya menemani Briana makan siang.
"Gue dipecat, hehehe. Mobil yang sering gue bawa itu, nggak sengaja gue tabrakin tiang listrik terus gue disuruh ganti rugi," sahut Briana.
"Elu sial amat sih jadi bule. Elu nggak mau jadi model aja?"
"Males ah gue. Yang ada gue dijadiin pecun mulu entar. Malu gue diceramahin sama Rara. Gue milih mau insyaf aja, Ta. Apalagi pas temen salon gue ada yang mati gara-gara HIV. Terus seketika gue sadar dan takut mati," ucap Briana.
Dikta menatapnya lekat, "ada bagusnya juga ya elu punya temen kayak Rara."
__ADS_1
"Ngeselin sih, tapi dia emang temen yang baik." Briana melanjutkan menghabiskan makanannya.
...***...
Malam itu Dikta yang sedang berada di depan sebuah restoran, tak sengaja melihat Tyo mengantar Lani sampai ke rumahnya. Dikta menunggu tak jauh ada di sana, menunggu dengan memperhatikan saksama. Ia tidak enak mau mengontak ke ponselnya Tyo. Dikta terlihat lega saat melihat kondisi Lani yang jauh lebih baik. Tidak seperti mantannya yang lain. Tyo langsung pamit.
Sebelum pergi, ponsel Tyo berdering sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Pemuda itu terlihat tampak marah kala menerima panggilan dari Briana tersebut.
"Lani bilang dia ketemu sama si Boy hari ini. Sahabat macem apa kamu? Nggak bisa jaga Lani. Untung nggak ada kejadian fatal dari cowok berengsek ity!" tegurnya marah.
Dikta mendengar semuanya. Namun, Tyo tidak tahu karena Dikta menggunakan mobil baru dengan kaca lebih gelap dari mobil sebelumnya. Tyo masih terdengar memarahi Briana sebelum kemudian melangkah menuju mobilnya dan pergi.
Dikta menatap tak percaya. Kenapa Tyo terlihat marah pada Briana? Tyo juga menyebut nama Boy dengan sebutan si brengsek. Dia marah karena Briana tidak menjaga Lani dengan baik. Bukannya seharusnya ke mana-mana Tyo menjaga Lani?
Dikta yang penasaran akhirnya menghubungi Briana. Dia ingin menemui Briana dan menanyakan terkait hal yang terjadi pada Lani dan Boy. Dikta menemui Briana di sebuah kafe dekat minimarket tempat Raina berada.
"Elu ngapain bawa gue ke sini? Apalagi gue rada-rada merinding ketemu cewek yang mirip Raisa?" tanya Briana.
"Gue mau tanya, ada apa yang terjadi sama Lani dan Boy, kok kayaknya si Tyo marah banget?" tanya Dikta.
"Hah. Elu dong yang harusnya tau soal Lani, kan biasanya elu tau segalanya tentang Lani. Kenapa tanya ke gue?" sahut Briana.
"Lani hampir diperkosa sama Boy, di hotel," ucap Briana.
Brak!
Secara spontan Dikta menggulingkan meja di halaman kafe dengan kencang sampai menghantam dinding tak jauh dari meja itu. Sontak saja para pelayan mendekat. Dikta tak sungkan untuk mengganti rugi perbuatannya itu.
"Elu bisa tenang, nggak? Kalau elu tenang ceritanya gue lanjut," ucap Briana.
Akhirnya Dikta mencoba tenang. Namun, ia makin geram setelah mendengarkan cerita tentang Boy dari Briana.
"Elu masih sayang kan sama Lani?" terka Briana.
Dikta hanya terdiam tak menjawab.
"Dengan elu marah-marah gini, gue makin yakin kalau elu masih sayang sama Lani." Briana tersenyum.
"Ayo, gue antar elu balik! Elu mau bungkus makanan, nggak?" tanya Dikta menawarkan.
"Halah, pake mengalihkan pembicaraan aja luh!" ledek Briana.
__ADS_1
"Udahlah sana balik!"
Dikta berseru lalu meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang jumlahnya lebih untuk pembayaran makanan mereka.
"Kalau elu bayar gue mahal gini, harusnya gue kasih servis, dong?" Briana berkelakar.
"Itu buat bayar makanan kita, sisanya buat elu jajan!" seru Dikta seraya melambaikan tangan pada Briana yang masih terduduk di teras kafe.
Briana membalas lambaian itu dan menyerukan terima kasih.
***
Di jalan, tak diduga Rara dan Raja bertemu Dikta. Dikta baru saja keluar dari sebuah minimarket sambil menenteng satu krat minuman soda. Raja segera meminta izin pada Rara untuk menghentikan kendaraan. Dia ingin menemui Dikta. Kemudian pasangan kekasih itu langsung menghampiri Dikta. Betapa terkejutnya Dikta melihat Raja dan Rara yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Ke mana aja, Ta?" sapa Raja.
"Habis pengobatan gue di Singapura. Ja, elu tau soal Lani sama Boy?" tanya Dikta memastikan.
Raja mengangguk, Rara yang belum ditanya juga mengangguk.
"Sialan juga ya itu cowok. Gue pikir dia cowok baik-baik makanya gue rela ngelepasin Lani buat dia," ucap Dikta.
"Kenapa nggak ketemu aja sama Lani? Kamu tanya sendiri sama dia," ujar Rara.
"Nggak, ah! Malas gue, Ra. Mending gue ketemu sama elu," goda Dikta.
"Heh, heh, jangan mulai deh!" Raja menarik kerah Dikta.
"Kita ngobrol di sana, Yuk!"
Dikta mengarahkan Raja dan Rara untuk berbincang di sebuah bangku taman.
Mereka juga memesan beberapa cemilan seperti sosis dan otak-otak bakar. Ada penjual kacang rebus dan jagung rebus juga yang melintas dan Raja berhentikan untuk membelinya.
"Kamu itu kangen sama Lani, tapi sok sok-an marah. Kamu marah tapi kangen juga, complicated banget hubungan kalian itu," ucap Rara seraya menyantap kacang rebus
"Masa sih gue kayak gitu?" tanya Dikta.
...******...
...To be continued, see you next chapter!...
__ADS_1