PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 39 - Mirip Raisa


__ADS_3

Bab 39 PMM


Lani akhirnya berkencan dengan Boy. Sudah satu minggu mereka menjalin hubungan. Saat itu, Lani sedang berada di apartemen Boy untuk makan siang sepulangnya dari kampus.


"Apartemen yang bagus, Boy," ucap Lani.


"Iya, makasih. Mumpung papi sama mami aku nggak di rumah, jadi aku bawa kamu ke sini," ucap Boy.


Dalam hati Lani, ia teringat Dikta yang selalu ingin membawanya bertemu orang tua Dikta, hanya saja mereka terlalu sibuk. Berbeda dengan Boy yang membawa Lani saat orang tuanya tidak ada.


Saat Lani berada di ruang tamu seraya merebahkan bokongnya ke atas sofa yang empuk, ia merasa mengantuk. Boy sedang menuju lobby dan beralasan untuk bertemu dengan pengendara ojek online yang ingin mengantar makanan.


Di saat Lani tengah mengantuk, tiba - tiba sosok hantu perempuan yang wajahnya pucat pasi itu, berada di atas tubuhnya sedang menatapnya tajam. Lani terhenyak dengan mata melotot. Ia tak bisa bernapas.


"Jauhi, Boy!" pinta hantu perempuan itu.


Lani tak bisa bernapas saat hantu itu menghimpit tubuhnya. kedua tangan Lani mencengkeram bantal sofa. Ia berusaha lepas dari hantu perempuan itu. Lalu hantu perempuan itu menghirup aroma tubuh Lani dalam - dalam.


"Apa kau tahu kalau kau perempuan tengik yang—?" Wajah hantu itu berubah menjadi sangat terkejut kala melihat wajah Lani. Ia lalu menghilang.


Lani yang ketakutan lantas bangkit dan hendak bergegas pergi. Ia keluar menuju lift. Namun, ia mendengar Boy sedang berbicara dengan seseorang di koridor dekat dengan pintu unit apartemen-nya.


"Gue udah bilang sama elu, gue bakal cari barang yang bagus buat nenek lampir itu," ucap Boy.


"Ya habisnya gimana. Si nenek lampir pemilik rumah sakit itu lagi kehabisan barang. Stok jantung dan ginjal yang baru ada, gak?" tanya seorang wanita dengan lengan bertato yang berdiri di hadapan Boy.


"Wah, sepertinya habis, Coy! Lagipula bokap gue lagi sedang berada di luar kota. Kalau udah balik juga pasti bantu cari," sahut Boy dengan suara lebih kecil agar tak terdengar oleh sekitarnya.


"Bos tuh setau gue lagi butuh sepasang ginjal, dan satu jantung. Ada yang berani bayar dua kali lipat dari biasanya, loh!" ucap wanita dengan tampilan anak punk itu.


"Kasih waktu gue satu minggu. Gue bakalan cari cowok sehat yang biasa dia mau itu. Yang pasti gue jamin masih segar dan pastinya bagus, bagaimana?"


"Nanti elu kirim barang bekas pemadat lagi. Si bos bisa marah lagi nanti," ucap wanita itu.


"Nggak akan lagi-lagi. Gue jamin, deh. Ya udah kasih waktu gue satu minggu. Nanti gue hubungan elu!" ucap Boy.


Lani bergegas masuk ke dalam lift. Dia harus segera pergi dari Boy. Paling tidak dia mendengar semuanya. Kejahatan sadis yang sedang Boy lakukan sangat menakutkan. Lani tak mau terlibat apalagi berhubungan dengan pemuda itu.


Saat berada di dalam lift, ponsel Lani berdering. Boy menghubunginya. Lani lantas beralasan kalau ibunya mencarinya sehingga ia harus pulang lebih cepat. Saat menutup sambungan ponselnya, Lani melihat sosok hantu perempuan tadi melayang di belakangnya. Sosok hantu itu menatap Lani dengan tajam di dinding lift. Lani bergegas menuju lobi dan memesan taksi. Tubuhnya gemetar dan benar-benar ketakutan.


***


Keesokan harinya, Raja berada di bengkel tempat Mas Parto, temannya Arya bekerja. Demi tambahan uang saku, Raja rela diperintah Arya untuk melakukan servis mobil milik sang kakak ipar itu.


"Minum, Ja!" Pemilik bengkel itu menyapa Raja seraya menawarinya secangkir kopi hitam hangat.

__ADS_1


"Makasih, Mas! Tau aja nih saya pengen kopi," sahut Raja.


"Sama - sama, Ja." Mas Parto lalu memeriksa kondisi mobilnya Arya.


Tak lama kemudian, datang Rangga dengan membawa motor scoopy miliknya. Ia mengalami pecah ban kala itu.


"Kamu Rangga, kan?" tanya Raja ketika Rangga duduk tak jauh di sampingnya.


"Oh, iya gue inget luh. Lu temennya kakak gue, kan?" tanyanya.


"Kakaknya Adam juga, temen sekolah kamu," sahut Raja.


"Oh iya ya, mirip pantesan."


"Ada yang mau aku tanya, nih," ucap Raja.


Namun, belum juga Rangga menjawab permintaan Raja, sosok pria bertubuh tinggi dengan perut agak buncit dan kepala dengan rambut cepak itu, memanggil Adam. Dia anak buahnya Mas Parto rupanya.


"Iya, Bang Mamat! Bentar ya, Kak, gue nyamperin Bang Mamat dulu," ucap Rangga.


Parto mendekat dan meminta Raja mengambil mobil Arya dua hari lagi. Ada suku cadang yang harus dia ganti dan dibeli untuk membetulkan mobil sedan milik Arya.


"Udah lama Mas Parto buka bengkel ini?" tanya Raja yang sengaja mengulur waktu.


"Ya, lumayan lah udah jalan dua tahun, Ja. Ummm, tapi sepi sekarang, kan jarang warga sini punya mobil jadi kebanyakan sepeda motor. Kalaupun ada mobil ya seperti mobil angkutan umum atau mobil pick up atau losbak yang masuk sini. Ini si Arya pelanggan baru saya, Ja, dia bakal bantuin saya promosi. Kamu juga, ya?" pintanya.


Raja hendak bangkit dan menghampiri Rangga, tetapi pemuda itu sudah pergi lebih dulu karena ada temannya yang datang menghampiri menggunakan sepeda motor.


"Lah, bocah uang ada di sini tadi, mana ya, Bang?" tanya Raja.


"Udah pergi die disamperin sama temennya tadi. Katanya mau buru-buru manggung," sahut Bang Udin.


"Oh, gitu." Raja lalu memutuskan untuk pamit juga.


Raja melangkah menuju ke halte yang tak jauh dari bengkel Mas Parto. Namun, ia teringat dengan minimarket dekat rumah kos Frans. Raja lantas melangkahkan kaki ke sana.


Seorang kasir perempuan bertubuh kurus dan dikuncir satu, tengah dimarahi oleh wanita bertubuh gemuk karena tak becus dalam bekerja.


"Kamu tuh ya kalau kerja yang bener! Mau kamu kalau gaji kamu saya potong terus?!" ancamnya.


"Jangan dong, Bu. Nanti saya mau makan apa?" keluhnya.


"Lagian Bu Bos, kita kan tadi udah hitung dengan benar. Emang barangnya aja kurang pas dikirim ke sini," sahut perempuan satunya yang wajahnya membuat Raja menatap tak percaya.


Frans benar, perempuan itu memang sangat mirip dengan Raisa.

__ADS_1


"Raina! Udah saya bilang jangan selalu bantuin Sheila! Paham kamu? Atau kamu mau gaji kamu ikut saya potong," ancamnya.


"Eh, jangan dong, Bu! Saya nggak lagi-lagi deh bantuin Sheila. Eh, Bu, ngomong - ngomong nih, kok Bu Titin kurusan ya, pasti diet nih?" Sosok perempuan itu berusaha mencoba menyenangkan hati wanita itu.


"Masa, sih? Saya sih emang lagi diet. Saya puasa udah seminggu nggak makan nasi, loh. Saya cuma makan buah, sayur, ya kadang bakso sama bakmi gantinya," ucap Bu Titin yang kemudian berputar - putar kagum pada bentuk tubuh dirinya sendiri. Padahal bentuk tubuhnya masih sama. Tidak akan pernah kurus.


"Uhh, cantiknya! Iya beneran deh, Bu, mukanya juga glowing banget jadi bersinar karena sering makan buah, kan?" puji Raina meskipun sebenarnya ia berbohong.


"Ah, masa sih, Na? Wah, berarti cream pemutih aku yang baru juga berhasil ya. Tau gini aku mau minta diendorse, deh! Oh iya saya lupa pakai masker penghilang stress. Saya mau pakai masker dulu, ya. Habisnya saya stres banget sama si Sheila."


Bu Titin langsung melangkah masuk ke ruang kerjanya.


"Cakep, hebat juga kamu Na, udah buat seneng bos kita," ucap Sheila.


"Cewek emang harus dibuat seperti itu, La. Kan, biar hatinya senang kita harus puji terus meskipun makin hari makin jelek hahaha," sahut Rain.


"Haha, bisa aja kamu ngatainnya," ucap Sheila.


Keduanya lantas baru sadar kalau sedang diperhatikan oleh pria tampan. Raja lantas tersenyum dan menyapa. Namun, tatapannya masih terarah pada Raina.


"Mau cari apa?" tanyanya.


"Mau makan nasi jeruk sama ayam geprek itu. Nanti tolong panasin ya, saya mau makan di sini," ucap Rasa.


Sheila langsing meraih makanan beku pesanan Raja lalu meletakkannya dalam oven. Sementara Raina masih menatapnya dengan saksama.


"Ada yang aneh sama saya?" tanya Raina.


"Wajah kamu itu familiar, mengingatkan saya sama seseorang gitu, mirip banget," ucap Raja.


"Halah! Kamu orang kesekian ribu yang mencoba merayu saya kayak gitu, basi tau!" Raina terlihat ketus, berbeda dengan sebelumnya.


Mungkin juga Raina merasa khawatir dan waspada terhadap orang asing.


"Nih, makanan elu!" ucal Sheila meletakkan kasar pesanan Raja.


"Oh iya makasih." Raja membayar pesanannya.


Tatapan Raja masih tak bisa lepas dari sosok Raina itu.


"Kamu yakin nggak punya saudara kembar?" tanya Raja seketika pada gadis yang mirip Raisa itu.


...*****...


...Bersambung dulu ya! ...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2