
Bab 33 PMM
"Aku mau pulang, Ra… tapi aku nggak tahu gimana caranya pulang." Ajeng terisak.
"Rara janji, aku akan bantu kamu pulang dengan tenang seperti Dian. Kalau wilayah gentayangan kamu cukup sekitar gedung ini aja, ya udah kamu tenang aja di sini. Jangan gangguin para mahasiswa yang mau sidang, oke?" Rara duduk di samping Ajeng.
"Aku nggak ganggu, kok. Justru aku nemenin mereka biar nggak stres atau suntuk. Tapi, siapa ya yang bunuh aku?" Ajeng memilin ujung jilbabnya.
"Kita juga lagi cari tau tentang itu. Tapi, yang jelas aku nggak nyangka, para anggota Mapala Merah rupanya menyimpan banyak misteri satu sama lain yang nggak aku sangka sebelumnya." Rara menghela napas dalam.
Raja mengulurkan tangannya pada Rara, "Kak Rio suruh kamu pulang, yuk!"
"Doa bersamanya, gimana?" tanya Rara.
"Dibatalkan sama pihak kampus. Katanya diundur malam Jumat depan sekalian doain si Dian," ujarnya.
"Ja, apa kita ke hotel aja cari Devan, siapa tahu dia gentayangan di sana?" Rara memberi ide.
"Nggak ah, di hotel setannya banyak. Nanti yang ada aku kesetanan terus ngapa-ngapain kamu lagi, hihihi." Raja malah menggoda Rara.
Plak!
Pukulan telapak tangan Rio mendarat di kepala belakang Raja.
"Gue denger omongan kotor elu itu, Ja!" seru Rio.
"Bercanda doang, Kak." Raja mengusap kepala belakangnya sementara Rara terkekeh geli.
...***...
Dikta tengah merenung seraya memandangi foto-fotonya bersama Lani. Mungkinkah ia tengah patah hati dengan gadis ini? Atau malah patah hati dengan Rara sebelum mencoba maju untuk berperang. Perang melawan patah hati adalah perang yang tidak dapat dimenangkan. Tidak dalam waktu dekat. Namun, Dikta belum tahu tentang itu.
Entah kenapa, jauh di dasar jiwanya, Dikta merasa Lani masih miliknya. Disangkalnya kenyataan, dibantahnya penolakan, tetapi tetap ditekannya kuat-kuat keinginan untuk mendekat.
Namun nyatanya, Dikta tidak bisa mendekat, karena gadis itu seperti fatamorgana. Mungkin juga seperti garis cakrawala. Tetap ada di kejauhan sana. Tetap ada dalam jarak yang sama. Namun, sulit untuk direngkuh.
Akan tetapi, apa yang terlihat dari kejauhan itu kadang kala tidak dapat menghilangkan rasa yang ada di dadanya. Rasa yang tidak dimengerti. Terkadang bentuknya sederhana, dan berusaha dihilangkannya lewat cara yang juga sederhana. Dikta kerap memukul kepalanya agar dia bisa mengerti dengan perasaan hati yang berkecamuk.
__ADS_1
"Udah ketemu si Lani di mana?" tanya Dikta pada Tyo.
Tyo biasanya akan menatap cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Dikta itu.
"Mana gue tahu. Kenapa lo tanya dia?" Tyo menghisap sebuah rokok mild yang mulai dia rasa candu.
Dikta tersenyum tipis, "aku cuma tanya."
"Kayaknya Lani baik-baik aja."
Mungkin cukup dengan kata-kata itu bisa membuatnya tenang. Bisa meredam banyak keinginan, bahkan rasa frustasi yang merasuk.
"Aku harus ketemu dia kayaknya, Yo. Aku muak banget kenapa terus begini. Seolah Lani itu obat penenang buat aku," ucapnya.
"Terus si Rara? Kemarin juga elu bilang gitu," sahut Tyo.
"Masa sih?":
Dikta masih tak mengerti. Pasalnya jika akal sehatnya sedang hilang, harus dia hindari agar sosok perempuan itu tidak tertangkap kedua matanya. Bahkan bisa saja otak gilanya akan memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang nekat. Entah kenapa ada rasa bersalah di diri Dikta, di mana mungkin saja suatu hari nanti mungkin akan dia sesali.
Hari ini, Lani telah kembali. Rasa aneh itu tidak lagi terbendung. Dikta tak menunggu lama untuk menuju Lani setelah mendengar perempuan itu telah tiba.
Dikuntitnya Dikta seperti arahan Tyo sebelum ia tiba. Tepat seperti dugaannya ketika Dikta berjalan menuju fakultas ekonomi.
Lani, yang mengira dirinya sudah bebas sepenuhnya karena Dikta hilang ingatan, kini tidak lagi selalu bersama Rara maupun Briana. Tiba-tiba, gadis itu tersentak begitu mendapati Dikta sudah berdiri di depannya. Mereka bertatapan beberapa detik. Wajah Lani langsung pucat.
"Tolong peluk aku…," pinta Dikta.
"Hah?" Lani menatap tak percaya.
"Peluk aku dengan dua tangan kamu itu. Aku ingin merasakannya se sebentar saja. Mungkin setelah aku bisa mengingatnya, aku bisa ikhlas melepas kamu." Dikta melangkah maju.
Hanya satu langkah tetapi membuat Lani ketakutan setengah mati. Seketika, yang dilakukan gadis itu adalah mundur tiga langkah. Sepasang mata lentik itu menatap Dikta dengan sorot waspada, dan sikap tubuh yang menegang penuh kewaspadaan juga.
Dikta merasa terhina ketika Lani mundur beberapa langkah. Ya, mau bagaimana lagi, jelas Lani takut dan reflek saja memundurkan langkah ketika Dikta maju. Lani tidak berhasil memerintahkan hati, pikiran, dan tubuhnya untuk lebih terbuka dan menerima kehadiran Dikta.
Penolakan Lani kali ini benar-benar menghantam Dikta layaknya kalah tanding KO di atas ring. Begitu keras hingga guncangannya terbaca jelas di kedua mata pria itu.
__ADS_1
"Ma-maaf, Ta."
Lani dan Dikta masih berdiri berhadapan. Diam kemudian berselimut keheningan dan suasana tegang. Wajah pucat pasi itu benar-benar butuh pertolongan. Dikta sudah berada di antara berharap dan tidak lagi. Sementara Lani masih berkutat memperhitungkan, seberapa fatal akibatnya kalau permintaan Dikta tadi dipenuhinya.
Raja dan Tyo sampai, memandang Lani dan Dikta dari kejauhan. Lani melirik Tyo dan Raja yang berdiri mengawasi tidak jauh. Tyo tampak mengangguk samar. Sedikit kelegaan yang terbaca di wajah Lani membuat Dikta bisa merasakan anggukan itu walaupun tidak melihatnya.
Dikta lantas memejamkan kedua matanya. Di saat bersamaan, ditariknya napas panjang lalu diembuskannya perlahan seolah penuh kelegaan yang terasa. Semalaman berpikir apakah dia tokoh baik atau tokoh jahat dalam drama kehidupannya ini.
Ketika sepasang mata Dikta yang dinaungi sepasang alis tebal itu terbuka, Lani mendadak terpana. Ini mungkin pertama kalinya Dikta memikirkan Lani melihat kondisi hatinya yang sebenarnya. Kedua mata pria itu terlihat mengkilap.
Tanpa disadari, Lani mengulurkan kedua tangannya. Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sekarang justru Dikta yang bergerak mundur. Menjauh dari jangkauan Lani. Dikta bahkan me- memalingkan wajahnya dan melangkah pergi. Di dalam hatinya, rasanya menjadi tokoh antagonis cukup lumayan juga untuk dia selami.
Tyo mengusap wajahnya. Dia.segera menyadari kesalahan Lani. Rasa sakit itu begitu gamblang diperlihatkan oleh Dikta di tengah kondisi amnesia-nya. Harusnya Lani juga bisa melihatnya. Namun, jika tidak, sama sekali bukan tugas Tyo dan Raja untuk menyingkapnya.
Dikta bahkan mengacuhkan keberadaan Raja dan Tyo. Dia berlalu menuju mobilnya yang terparkir.
"Elo nggak bisa ngeliat, Lan?" desis Tyo, dengan rasa geram yang ditekannya kuat-kuat.
"Apa sih maksudnya elu?" Lani balik bertanya.
"Dia cuma minta dipeluk, Lan!"
"Gila elu! Gue takut tau. Dia kan psycho, orangnya kayak gitu. Nanti kalau gue nggak dilepas, gimana?" tuding Lani.
"Elo bener-bener nggak bisa ngeliat, ya?" Tyo mengulangi pertanyaannya. Kedua matanya menatap Lani sampai memicing.
"Gue takut. Udah sih cuma itu aja. Gue nggak mau bahas lagi," jawabnya lemah. Lalu ditariknya napas panjang.
"Dasar cewek bodoh!" desis Tyo gemas.
Kemudian ia balik badan dan mengejar Dikta, meninggalkan Lani yang mematung di tempatnya.
Lani menatap Raja kemudian, "apa? Elu mau menghakimi gue juga?"
"Nggak, kok. Bukan gitu, Lan! Gue malah bingung sama kalian berdua." Raja lantas menghampiri Rara yang terlihat bersama Briana.
Sementara itu, Tyo masih mengejar Dikta.
__ADS_1
...******...
...To be continued, see you next chapter!...