PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 71 - Korban Baru Si Boy


__ADS_3

Bab 71 PMM


"Kita makan bakso dulu lah! Lapar aku belum sarapan, yuk!" ajak Raja.


Rara lantas menarik tangan Briana agar ikut serta. Selepas mereka makan bakso bersama di sudut pasar. Gerobak biru itu terlihat makin ramai pelanggan. Setelah mereka menyantap habis bakso dan es teh manis, Raja membawa Briana dan Rara pulang. Tiba-tiba, perut Raja melilit.


"Kamu sih makan sambal banyak-banyak," ketus Rara mengomeli Raja.


Dia teringat sambal yang Raja bubuhkan pada mangkuk baksonya cukup banyak.


"Iya habisnya tadi seger sama enak banget kalau makannya pedes. Ya udah kalau gitu aku ke toilet dulu, ya. Kalian tunggu di sini aja," pinta Raja.


"Oke, jangan lama-lama, ya!" pinta Rara.


Raja bergegas pergi ke toilet di dalam pasar yang terlihat kurang nyaman itu. Namun, daripada tak kuat menahan hajatnya, ia pun terpaksa menggunakannya.


"Duh, bau banget lagi. Hadeh… terpaksa deh," gumam Raja.


Raja lalu berjongkok di atas kloset jongkok untuk melaksanakan buang hajat. Seketika itu juga hawa dingin langsung merasuk. Membuat tengkuknya merasa merinding.


"Hmmm, kebiasaan deh. Pasti ada aja demit di dalam wc pasar gini!" gumam Raja.


Raja berusaha meraih keran air untuk menyalakannya. Tiba-tiba, sesosok tangan yang kukunya hitam membuka keran air tersebut.


"Makasih, Mbak," ucap Raja.


"Sama-sama. Kamu nggak takut sama aku?" tanya sosok hantu berdaster lusuh selutut yang berdiri di sudut kamar mandi kecil itu seraya menyisir rambut dengan jari-jari yang kukunya hitam.


"Nggak takut, Mbak. Tolong sekalian gayungnya!" pinta Raja ketika melirik air dalam ember ukuran sepuluh liter itu mulai penuh.


"Nih." Hantu wanita itu menyerahkan gayungnya pada Raja.


Wajahnya sangat pucat dengan warna hitam melingkar di sekitaran kedua matanya. Raja kembali mengamati hantu tersebut.


"Eh, jangan dilihat dong! Malu tau bukan muhrim!" ketus Raja.


"Lihat dikit doang, kok," sahutnya.


"Eh, Mbak, udah lama di sini?" tanya Raja sambil mengejan menuntaskan urusannya dalam toilet itu.


Hantu perempuan itu lalu mengangguk sambil menyisir rambut acak-acakan dengan jari jemari hitamnya itu lagi.


"Kok, bisa jadi penunggu wc ini?" tanya Raja lagi.


Hantu perempuan itu lantas menangis dengan suara melengking. Raja sampai menutup telinganya.


"Mbak, jangan nangis gitu, dong! Nanti saya siram nih pake pipis saya!" ancam Raja.


"Huhuhu, saya sedih tau! Saya dibunuh di sini saat pasar ini baru dibangun. Terus saya dikubur di dalam septik tank. Jadinya saya jadi penunggu wc. Huaaaaaa!" tangisannya makin keras.


"Idih, pantesan aja baunya sama ama emas batangan aku barusan," ucap Raja lalu terkekeh.


"Sial! Kamu bisa nggak bantuin saya bebas dari sini?" tanyanya.

__ADS_1


"Waduh, masa aku harus bilang ke Kak Rio buat cari tulang kamu di septik tank. Ya udah campur-campur kali sama tokay!" sahut Raja.


"Baru satu tahun yang lalu, kok. Ayolah bantu saya! Saya sumpek nih nongkrong di wc terus. Mana nggak bisa pergi jauh dari sini. Padahal saya juga pengen ke mall," ucapnya.


"Kamu masih inget yang bunuh kamu siapa?" tanya Raja.


"Namanya Boy. Dia ambil ginjal sama jantung saya juga, Huhuhu." Hantu perempuan itu kembali menangis.


"Hah? Namanya Boy? Ngambil ginjal kamu juga?" Raja memastikan pendengarannya.


Hantu perempuan itu mengangguk.


"Kamu masih inget nama kamu siapa?" tanya Raja.


"Nama saya Desi. Saya warga Kampung Durian Montong. Kamu bisa tolong saya, kan?" tanyanya.


"Kalau kamu masih inget semua kejadiannya, ya bisa bisa aja sih. Kalau gitu saya pamit dulu, ya. Besok saya balik lagi bawa pak polisi, kakaknya pacar saya. Semoga Kak Rio bisa menyelesaikan kasus kamu," ucap Raja.


"Tunggu, nama kamu siapa?" tanya Desi.


"Nama saya Raja."


"Makasih ya, Ja." Desi tersenyum lalu membiarkan Raja untuk pergi.


Raja keluar dari toilet lalu mencari kotak iuran pengunjung yang masuk ke toilet. Seorang pria duduk dan tertidur dengan pulas di samping kotak tersebut.


Raja meninggalkan toilet tersebut seraya meletakkan uang kertas lima ribu ke dalam kotak iuran. Hantu perempuan tadi lantas melambaikan tangannya pada Raja.


Tiba-tiba, Raja melihat Briana dan Rara tengah diganggung dua orang laki-laki yang Raja yakini sebagai preman pasar.


"Halo manis, jangan kabur lagi ya! Ayo bayar utang segera!" seru seorang pria berkepala botak dan tangan penuh tato itu.


"Gue kan udah minta waktu ke Mami Jamilah! Kenapa masih nagih aja, sih?!" keluh Briana.


Briana meminta Rara mundur perlahan. Rara lantas mencari keberadaan Raja seraya menyembunyikan tas kecilnya di balik punggungnya. Gadis itu harus waspada agar tidak diambil paksa tas dan isinya.


"Waktu elu udah habis! Makanya Mami Jamilah suruh kita nagih elu!" tukasnya.


Briana masih diam dan membawa Rara mundur perlahan.


"Heh, bayar utang lu sekarang!" seru si rambut gondrong.


Briana hanya diam dan tetap mundur.


"Wah, jangan-jangan budek ini cewek."


Tangan preman yang botak itu itu terulur ke arah Briana. Dia meminta uang pada Briana dengan penuh ancaman.


Untungnya, Raja datang menghampiri Rara dan Briana. Dia meletakkan uang kertas lima ribuan ke tangan preman tersebut.


"Wah, apa-apaan elo ini?" Preman botak itu melotot ke arah Raja.


"Kalian mau ngemis kan, Bang? Makanya saya kasih duit," ucap Raja seraya meringis.

__ADS_1


"Wah, cari mati ini bocah!" seru si botak.


"Elu pacarnya mereka, ya? Berani beraninya elu belain mereka! Mana songong lagi. Nantangin kita lagi." Preman gondrong itu menatap Raja penuh ancaman.


"Ngapain juga saya nantangin Abang, kurang kerjaan aja!" sahut Raja.


"Ya udah kalau gitu jangan ikut campur ama kita. Woi, Briana kalau gitu bayar utang Elu!" pinta preman tersebut pada Briana.


"Nanti gue bayar! Tapi nggak sekarang!" bentak Briana.


"Oke, kalau gitu data elu kita sebar biar temen-temen elu pada tau!" seru si botak.


"Berapa sih memangnya hutang dia?" tanya Rara.


"Dua puluh juta!" sahutnya.


"Heh, gue pinjem cuma sepuluh juta. Kenapa sampai dua kali lipat gitu?!" bentak Briana.


"Itu sama bunga, woi! Ditambah dengan Elu yang nunggak, makin berkembang bunga Elu. Salah sendiri pakai nunggak," cibir si gondrong.


"Sialan banget si Mami Jamilah!" keluh Briana.


"Bri, Ra, mending kita lari, deh. Kayaknya aku mending berurusan sama hantu dari pada sama preman," bisik Raja.


"Iya, Ja, aku juga takut," sahut Rara.


"Kalian aja yang lari, biar gue tanggung jawab ikut mereka," sahut Briana.


"Udah ikut lari aja! Nanti kita tolong sama Dikta, kali aja dia bisa bantu bayarin hutang kamu dulu," bisik Raja.


Preman botak tadi malah makin mendekat, kini dia mencengkeram kerah pakaian Raja.


"Elu bawa dompet, kan? Elu aja yang bayarin, gimana?" tanya preman itu.


Raja mengangguk-angguk, mengiyakan seraya melirik ke arah Rara dan Briana. Memberi kode pada mereka untuk pergi.


Preman botak itu lantas menghentikan aksinya. Dia melepas cengkraman di kerah pakaian Raja. Wajahnya terlihat ketakutan seperti melihat sesuatu yang menyeramkan.


Bukan hanya preman itu, tetapi Rara juga tampak ketakutan memandangi sosok menyeramkan yang ada di belakang tubuh Raja kini. Sosok hantu perempuan penunggu toilet tempat Raja tadi buang hajat.


"Ja, di belakang kamu," bisik Rara dengan bibir bergetar ketakutan seraya menunjuk.


"Ha-han-han–" Si preman botak terbata-bata ketakutan.


"Hansip?" ledek Raja menepis tangan preman botak itu.


"Hantuuuuuuuuu!"


Preman di hadapan Raja langsung lari menjauh sampai membuat Rara menoleh. Rekannya yang berambut gondrong akhirnya mengejar rekannya. Rupanya ada sosok hantu perempuan bernama Desi tadi muncul membantu. Preman botak itu bisa melihat sang hantu karena menyentuh Raja.


...******...


...To be continue ...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2