
Bab 49 PMM
Sosok hantu perempuan mendekat. Dia mencoba memanggil Raja. Namun, Silla menahannya.
"Tante Silla?"
"Kamu tuh ya udah sering dikasih tau bunda jangan mudah tergoda buat nolongin hantu, masih nekat aja. Untung Tante lagi patroli sekitar sini," tukasnya.
"Tapi, dia mencurigakan, Tante. Seolah dia mau menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan aku," kata Raja meyakinkan.
"Biar Tante yang akan mencoba masuk dan melihat apa yang terjadi sama dia. Jika dalam sepuluh menit Tante tak kembali, berarti Tante dalam bahaya," ucapnya.
"Kenapa bisa dalam bahaya? Tante kan makhluk gaib? Harusnya nggak bisa kelihatan, kan?" tanya Jaya.
"Ya, itu artinya ada makhluk gaib juga yang menangkap Tante. Udah kamu tunggu aja di sini," pinta Silla.
Raja menangguk. Tante Silla lantas mengikuti hantu perempuan yang dilihat Raja tadi. Pandangan pemuda itu masih menyimak ke arah rumah tempat Silla menghilang. Ia ingin segera tau apa yang terjadi di sana. Bahkan pemuda itu ingin sekali turun dari mobil dan menyusul.
"Apa gue susul aja, ya?" gumam Raja.
Sementara itu, Silla berhasil memasuki rumah di belakang minimarket. Kegelapan terlihat di dalam ruangan tersebut. Jendelanya tertutup tirai dengan rapat seolah menolak sinar matahari yang sekedar ingin mengintip.
Silla berpikir kalau tak ada siapa pun di dalam rumah sampai akhirnya ia menemukan hantu perempuan tadi menunjuk ke arah dalam. Ada sosok perempuan yang sedang memasukkan sesuatu ke dalam kotak es. Setelah semua selesai di lakukan, perempuan itu menyeret tubuh manusia lain yang dalam keadaan tak sadar, menuju ke beranda belakang. Betapa terkejutnya Silla karena ia melihat tubuh perempuan itu banyak terdapat jahitan. Dia lah tubuh dari hantu perempuan yang sedang bersamanya. Dia memasukkan tubuh perempuan itu ke dalam bagasi mobil. Lalu, ia menghubungi seseorang.
"Gue bakal antar dia ke klinik. Elu siapin tempat!" ujarnya lalu menutup sambungan ponsel itu.
Tak lama kemudian, wanita itu pergi dengan sedan hitam meninggalkan Silla dan hantu perempuan tadi.
"Aku pikir dia tulus ingin menolongku saat melahirkan. Nyatanya dia menghabisi aku," ucap hantu tersebut.
Lalu, saat Silla ingin memberitahukan pada Raja, dia melihat sesuatu yang aneh. Ada meja pemujaan di sudut ruangan. Di bagian tengah meja pemujaan itu, tergeletak selembar foto kawan-kawan Raja yang ia kenal. Bahkan ada foto Raja di sana yang dihiasi kelopak bunga mawar di sekitarnya.
"Sepertinya gadis itu membuat ritual," ucap hantu bernama Linda itu.
__ADS_1
"Ritual?" Silla menatap tak percaya.
"Iya, dia berkomat-kamit mengucapkan sesuatu yang aku juga nggak ngerti. Lantas kemudian, muncul bayangan hitam di belakang tubuh cewek tadi. Bayangan yang menyerupai seorang perempuan berpakaian kebaya zaman dulu," ucapnya.
"Apa? Jadi selain dia membunuhmu, dia juga bersekutu dengan makhluk gaib?" tanya Silla.
"Dan sepertinya, dia mau mencelakai orang-orang yang ada di foto itu," ucap Linda.
"Salah satunya ada Raja," lirih Silla.
Silla langsung keluar dan melapor pada Raja. Namun, saat Raja hendak memeriksa rumah itu kembali, Dikta sudah muncul dan memberikan satu cup machiato ukuran besar.
"Ayo, kita pulang Ja! Gue udah capek. Besok elu anter gue lagi, ya!" pinta Dikta.
"Tapi, Ta–"
"Ayolah! Gue nggak mau denger kata penolakan dari elu," ucap Dikta lalu masuk ke dalam mobil.
...***...
"Lan, elu siap-siap kayaknya bakal diculik sama Dikta lagi, nih," gumam Briana.
Lani tampak gemetar. Tyo dan Raja sigap bangkit berdiri untuk menghadang.
"Gue kan udah bilang kalau elu harus ikut gue," ucap Dikta.
Akan tetapi, semuanya terperangah. Menatap tak percaya pada penglihatan mereka karena bukan Lani yang ditarik oleh Dikta, melainkan Raja.
"Eh, mau bawa ke mana si Raja?!" seru Tyo.
"Lepasin Raja, Ta!" pinta Rara memelas.
"Tenang aja, Ra. Cowok elu aman ama gue," sahut Dikta dengan mengedipkan satu matanya pada Rara.
__ADS_1
Dikta meminta Raja masuk ke dalam jeep miliknya. Ia meminta Raja untuk mengemudi seperti kemarin.
"Gue udah bikin mantan mantan gue memaksa mereka berganti arah hidup. Menjauh dari mimpi mereka dan melupakan angan, bahkan melepas cita- cita mereka. Gue takut mereka ada yang bunuh diri, Ja. Makanya gue bawa elu karena Tyo bilang elu bisa lihat hantu. Elu bawa kakak elu buat nunjukkin hantunya Ajeng ke Lani sama Briana, tapi kenapa nggak ngajak gue sama Tyo?" tanyanya.
"Ummm, yang temen deketnya Ajeng kan para cewek-cewek itu. Makanya aku nunjukkin ke Briana sama Lani. Tapi tetep nggak ada hasil soalnya Ajeng hilang ingatan," ucap Raja.
"Kita berhenti di Jalan Cemara!" pinta Dikta.
Raja menurut. Mereka turun di sebuah rumah kecil yang ada di pelosok pinggiran kota. Salah satu mantannya Dikta yang bernama Erna. Dikta mendekat dan bertemu dengan seorang perempuan paruh baya di depan pintunya. Perempuan itu bahkan terlihat menangis. Dikta mengusap wajahnya sesekali menjambak rambutnya juga. Dikta lantas pamit dan kembali ke dalam mobil saat Raja sedang berada di sebuah warung membeli air minum.
"Dikta! Tunggu, woi!" seru Raja yang langsung bergegas masuk ke dalam mobil Dikta.
Dikta hanya diam dan melarikan Jeep-nya dengan kecepatan tinggi, menembus lenggangbya jalan tol.
"Ta, kamu kenapa, woi? Cerita aja! Jangan bawa-bawa aku gini kalau mau mati! Aku belum kawin sama Rara, woi!" seru Raja.
Dikta tak menggubris Raja. Wajahnya terpancar amarah berbalut rasa sedih. Lalu kemudian, pria berambut gondrong itu berhenti mendadak di bahu jalan. Dikta lantas turun dengan langkah terhuyung. Sesaat dia hanya berdiri diam, kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya terdengar melengking tajam.
Rasa sakit dan sesak telah membaur jadi satu. Namun, hal itu tetap tidak mampu melegakan. Terasa meremukkan tubuhnya.
"Erna mati, Ja! Dia mati gara-gara gue! Habis gue tinggalin dia sering bengong sampai akhirnya dia ketabrak mobil, Ja. Itu gara-gara gue!" pekik Dikta.
Dikta memperlihatkan sisi rapuhnya yang tidak bisa menahan air mata. Karenanya, Raja membiarkan saja tetap mengalir. Tidak perlu diredam. Tidak usah disangkal. Hanya saja, Raja semakin bingung. Sisi lemah ini kenapa sering muncul dan membuat Dikta rapuh? Padahal sebelumnya Raja sering melihat sisi jahat Dikta yang cenderung psikopat.
Namun hari itu, Raja memeluk Dikta. Membiarkannya menangis. Toh, menangis bukanlah berarti pria cengeng. Menangis dapat meredakan sakit, meskipun tidak mengubah keadaan. Meskipun sama sekali tidak menebus kesalahan. Dikta benar-benar menangis sampai terisak. Air matanya turun. Tubuhnya mulai terhuyung jatuh membentur Jeep. Perlahan, dia jatuh terduduk. Masih terisak di hadapan Raja.
"Semua udah takdir, Ta. Penyesalan emang datang di belakang kalau di depan kan namanya pendaftaran. Tapi, percuma disesali berlebihan dan terlalu berlarut, tetap nggak akan merubah keadaan. Sekarang, kamu cuma harus mencoba dan bisa mengubah diri kamu menjadi lebih baik lagi, ya," ucap Raja.
"Gue benci sama sisi kotor gue yang udah nyakitin orang. Tapi gue bener-bener nggak bisa mengontrol kalau sisi jahat gue ini muncul," kata Dikta.
"Hmmm, kayaknya kamu harus ke psikiater deh, Ta. Mumpung belum terlambat dan mumpung sisi baik kamu ini lagi sering nongol," ucap Raja.
Meskipun ia tetap berhati-hati dalam mengatakannya karena takut Dikta tiba-tiba marah.
__ADS_1
...******...
...To be continued, see you next chapter!...