
Bab 69 PMM
Raja pamit dan membawa Rangga dengan cara dibopong bersama dengan Adam. Dia akan kembali untuk mencari tahu lebih dalam tentang Dokter Salma. Apalagi hantu penunggu rumah kosong itu meminta dibawakan majalah wanita edisi terbaru. Salma memang gemar membaca.
"Kita antar dia pulang dulu, Dam," ucap Raja.
"Iya. Tapi tunggu bentar. Gue bakal rekam ini anak pingsan biar seru, hahaha." Adam dengan isengnya menangkap video saat Rangga pingsan.
Dia bahkan mencolek-colek pipi, bibir, dan hidung Rangga dengan ujung jari kakinya.
"Kapan lagi dicap jempol ama kaki gue, hihihi."
"Dam, udah lah buruan!" seru Raja.
Adam mengangguk dan menghentikan rekaman video tersebut.
"Gue bakalan cari tahu si Rangga ini juga deh. Kalau perlu gue ke rumahnya buat cari tahu. Kali aja gue nemu petunjuk soal kelompok Nyi Ageng itu," kata Adam.
"Jangan deh. Nanti bunda bisa marah kalau kita terlalu kepo dan membahayakan diri kita, Dam."
"Tapi, kalau kita nggak cari tau lebih dalam, kita nggak bisa waspada, Kak. Tenang aja, deh. Nanti gue bareng si Fasya sama Dira sama Disya," sahut Adam.
"Heh, makin marah-marah nanti bunda karena kamu melibatkan semua nya!" tegur Raja.
"Terus gimana?" Kening Adam berkerut.
"Nanti deh aku pikirin dulu enaknya gimana. Aku tanya Kak Anta dulu lebih lanjut. Kata Kak Anta dia nunggu kita di rumahnya besok sekalian minta bawain rujak sama seblak," sahut Raja.
"Yeee, aji mumpung itu si kakak!"
Mobil yang dikemudikan Raja sampai di depan rumah Rangga. Adam menepuk pipi pemuda di sampingnya itu sampai terbangun.
"Ada apa? Ada apa?" Rangga terlihat panik.
"Nggak ada apa-apa. Udah sampe rumah elu!" seru Adam.
"Hah? Masa sih? Tadi gue tuh liat hantu cewek terus gue nggak inget apa-apa lagi," sahut Rangga.
"Iya, soalnya elu pingsan! Mana berat lagi gue bopong elunya!" sungut Adam.
"Masa sih?" Rangga masih tak percaya.
__ADS_1
"Gue tau kalau elu bakalan kaga percaya makanya gue rekam. Liat nih!" Adam menunjukkan rekaman video Rangga dari ponselnya.
"Hah? Sialan luh!" Rangga mau meraih ponsel Adam, tetapi pemuda itu langsung gerak cepat menyimpannya.
"Udah sana turun! Nanti nyokap elu nyariin!" seru Adam.
"Awas ya kalau elu sebar!" ancam Rangga seraya turun dari mobil Raja.
"Tergantung kelakuan elu juga lah!" Adam tertawa penuh semangat lalu melambaikan tangan saat Raja membawa sedan hitam milik ayahnya itu melaju.
...***...
Keesokan harinya, Dikta bertemu dengan Raja di kantin kampus mereka. Pemuda yang sudah memangkas rambut gondrongnya menjadi lebih rapi itu tengah melamun.
Ada satu ruang yang kadang kala kosong di hatinya kini. Tempat di mana dia berlari saat hatinya tidak lagi mau diam. Satu tempat di mana dia bisa berharap dapat melihat kembali apa yang sekarang telah menjadi kenangan.
Dikta menatap seorang gadis yang melintas di gedung seberangnya, di lantai tiga. Lani tengah berjalan beriringan bersama Rara. Dan tak lama kemudian, para gadis itu sudah melintasi halaman depan gedung yang luas itu. Halaman yang tidak hanya menjadi area parkir untuk kendaraan rektor, para dekan, maupun dosen, tapi juga mahasiswa-mahasiswa fakultas ekonomi pastinya.
Gedung fakultas ekonomi itu hanya berjarak kurang dari dua ratus meter ke arah kantin. Ada satu ruang yang kadang kala kosong juga buat Lani. Tempat gadis itu berlari saat hatinya tidak lagi mau diam. Satu tempat di mana ia ingin menghilangkan semua tentang pemuda yang tengah bersama Raja. Padahal, jauh di lubuk hatinya meski hanya secuil, dia berharap dapat melihat kembali apa yang sekarang telah menjadi kenangan.
Raja hanya bisa menggaruk kepalanya ketika melihat Dikta dan Lani bergantian.
Disebut apa keadaan yang membuatnya bingung ini? Saat itu juga Raja melihat seluruh keberanian Dikta yang benar-benar menguap. Rara pun menyadari sampai dia meminta Lani untuk duduk.
"Kayaknya belakangan ini dia jarang masuk kampus, deh," sahut Raja.
"Briana juga," sahut Rara.
Lani dan Dikta masih saling menatap tetapi diam membisu.
Brak!
Raja menggebrak meja dengan usilnya. Alih-alih bukan hanya Lani dan Dikta yang terkejut, tetapi Rara juga bahkan memukul bahu Raja karena kesal.
"Hehehe, maaf maaf. Habisnya kalian pada bengong aja," ucap Raja.
"Briana ke mana, Ra?" tanya Dikta yang memilih bertanya pada Rara ketimbang pada Lani.
"Tadi sih katanya mau ke dokter, check up gitu," sahut Rara.
"Oh, dia masih sakit? Soalnya seminggu ini nggak masuk kerja," kata Dikta.
__ADS_1
"Kerja di mana, Ta?" tanya Rara.
"Di kantor bokap gue. Katanya mau tobat makanya keluar dari salon gelapnya. Haha, kocak tuh anak," sahut Dikta.
"Lan, kok diem aja!" Rara menyenggol siku Lani dengan sikunya.
"Ummm, lagi bingung mau makan apa," jawabnya dengan alasan palsu.
Sementara Dikta masih melihatnya lekat. Padahal biasanya dengan melihat Lani dari jauh pun sudah senang. Melihat mobilnya lewat, meskipun cuma sekian detik, juga sudah membahagiakan. Namun, kali ini dia mendengar suaranya dari dekat bahkan melihatnya dari dekat. Harusnya Dikta sudah kegirangan.
Terapi di luar negeri dengan seorang ahli jiwa, membuat Dikta yang baik dominan lebih menonjol dibandingkan dengan Dikta yang berperangai buruk. Dan pastinya Dikta yang baik sangat menyukai Lani ketimbang Dikta yang buruk yang menyukai Rara.
Namun, Dikta berusaha untuk sanggup memupus sedikit rasa rindu dan melambungkan sedikit harapan, manakala objek pencarian itu tengah berada di hadapannya.
Dikta merasa takdir untuknya kadang lucu. Ruang yang sama itu kadang juga menjadi objek pencarian bagi yang lain. Di mana keinginan bagi nya untuk bersatu. Dikta berharap pertemuan ini bisa membuat hatinya mendapatkan penawar. Untuk rasa sakit, rindu, juga mungkin saja harapan.
"Woi! Biasa aja dong ngeliatinnya!" seru Raja menyentak Dikta.
"Elu juga biasa aja dong negornya!" Dikta bersungut-sungut.
Tak lama ponselnya berdering. Tyo menghubunginya.
"Nih, si Tyo panjang umur lagi dicariin kita tau tau nelpon gue," kata Dikta seraya mengangkat sambungan ponselnya.
Saat Dikta menyapa Tyo dan mendengarkan suara sahabatnya itu dari dalam ponselnya, mendadak kemudian raut wajahnya berubah. Dikta terlihat menatap tak percaya, dan heran. Setelah itu, Dikta bangkit.
"Ada apa, Ta?" Raja menahan tangan Dikta.
"Kalian mungkin nggak akan percaya ini. Tapi Tyo bawa kabar buruk. Dia minta gue buat nemenin dia ke dokter," sahut Tyo.
"Sakit apa dia?" tanya Raja lagi.
"Elu jangan bilang-bilang, ya. Dia mau tes HIV, Ja." Dikta berbisik pada Raja dan membuat Raja terbelalak.
"Aku ikut kamu, deh." Raja meminta Dikta membawanya.
"Ada apa sama Tyo? Cerita dong!" pinta Rara.
"Nanti aja kalau waktunya tepat. Kamu pulang sama Lani aja ya, Ra," kata Raja lalu bersama Dikta menuju ke mobilnya Dikta. Meninggalkan motor Raja di parkiran kampus yang selalu aman terjaga.
...*****...
__ADS_1
...To be continue...
...See you next chapter!...