PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 51 - Kecelakaan Raina


__ADS_3

Bab 51 PMM


Dikta menaruh ponselnya di jok mobil dan keluar untuk melihat kejadian naas yang baru saja terjadi. Matanya kosong dan untuk beberapa saat dia kebingungan sampai tak bisa melakukan apa-apa. Tabrakan itu begitu mengerikan hingga wajahnya pucat pasi. Tubuh Dikta gemetar. Alter egonya berharap si jahat yang akan muncul, nyatanya tidak. Padahal Dikta yang jahat pernah menabrak seseorang.


"Ya, ampun apa yang gue lakukan? Ayolah muncul kau, muncul sekarang!" Dikta menarik-narik rambutnya sendiri ketakutan.


Dikta terlihat sangat panik melihat tubuh dan motor matic yang tergeletak dan dikerumuni para warga. Terdengar suara rintih kesakitan gadis itu yang meminta tolong, memilukan.


Beberapa orang yang melihat kejadian itu segera berlarian mendekati lokasi, dan beberapa di antaranya mencegah Dikta untuk kabur. Beberapa kendaraan yang tak jauh dari lokasi kejadian juga menepi atau melintas pelan sekedar mencari kabar berita dari kecelakaan tersebut.


Dikta begitu ketakutan hingga tak terpikir menolong Raina. Melihat banyak orang mulai berdatangan, ia kembali ke dalam mobil dengan nyaris terjatuh karena kakinya gemetaran hebat. Dua orang pria sudah menariknya.


"Jangan kabur luh atau kita gebukin elu ampe mati!" ancamnya.


"Ampun, Bang! Gue nggak akan kabur," sahut Dikta akhirnya.


la pikir perempuan yang ditabraknya itu pasti sedang di ambang maut. Dikta tahu banyak orang yang akan menyalahkannya. Padahal terlintas satu kalimat yang ada di otaknya, terngiang dari kepribadiannya yang lain.


"Lari, goblok! Jangan biarkan dirimu terlihat oleh mereka!"


Nyatanya, Dikta memasuki mobil diiringi salah satu warga yang menahannya pergi meninggalkan Raina. Dikta juga sempat melihat sekilas wajah Raina dan terbelalak tak percaya.


"Nggak, nggak mungkin itu Raisa. Nggak mungkin dia mau nuntut bales ke gue," gumamnya seraya memukul-mukul kepalanya sendiri.


Dikta melihat gadis itu tergelet tak berdaya dengan helm yang tak lepas dari kepalanya yang juga mengucurkan darah. Beberapa warga masih kebingungan untuk menyentuh sang korban karena takut mengakibatkan cidera lebih parah.

__ADS_1


Di tengah ketakutan karena melihat wajah Raisa, di hati kecil Dikta berharap gadis itu masih hidup karena ia masih bisa merasakan suara jerit tangis kesakitan gadis itu yang amat mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.


Beberapa orang sempat berteriak dengan kata-kata makian dan sumpah serapah ke arah Dikta. Beruntung dia diamankan masuk ke dalam mobil. Dikta diminta bertanggung jawab untuk mengantar korban ke rumah sakit. Dua orang akan mengikuti Dikta demi menjadi saksi akan pertanggungjawabannya.


Ada yang hanya memerhatikan dan ikut panik melihat Raina, tetapi ada pula beberapa yang mencoba menelepon ambulan juga polisi dengan ponselnya. Seorang pria tua yang tak tega melihat keadaan Raina dan merupakan seorang yang pernah menjadi tenaga medis, secara naluriah dan spontan langsung meminta beberapa orang mengangkat tubuh Raina yang terkujur kaku.


Lelaki itu memegang di bagian kepala dan tak membuka helm Raina sampai nanti di rumah sakit. Ia dibantu beberapa orang untuk membawa Raina ke tempat yang lebih aman. Pria itu merasakan sedikit napas dan rintihan Raina yang berada dalam keadaan antara sadar dan tidak.


Lalu, dibawanya tubuh Raina ke dalam mobil Dikta. Dengan sangat hati-hati tiga orang termasuk pria tua itu memasukan tubuh Raina ke dalam mobil. Pria paruh baya yang entah siapa dan darimana itu, tampaknya memiliki naluri kemanusiaan yang tinggi dan sifatnya sangat kebapakan. la rela ikut menemani gadis yang terluka parah tersebut untuk pergi secepatnya. Mereka lantas bergegas menuju ke rumah sakit. Dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya, Dikta berusaha sampai di Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat secepatnya.


"Bertahanlah Nak ... bertahan…," ucap pria patuh baya itu sangat khawatir.


Pria bernama Pak Agung itu mencoba mengorek isi tas Raina untuk mencari identitas atau barang apa pun yang mungkin bisa berguna untuk membantu menghubungi keluarganya nanti.


Tak lama kemudian, pria tua tadi menemukan beberapa kartu identitas Raina dari dalam dompetnya. la juga melihat KTP dan SIM C milik si gadis yang memampang nama dan alamat lengkap gadis tersebut, Panti Asuhan Ceria. Tiba-tiba, suara ponsel Raina berbunyi dari dalam tasnya. Si pria tua langsung sumringah dan cepat- cepat mengangkat ponsel gadis itu.


"Halo, dengan siapa saya bicara?" kata Pak Agung spontan.


"Lah, ini siapa?" Boy berseru dari dalam ponsel.


Boy seketika itu juga merasa bingung karena mendengar suara yang berbeda dari nomor Raina.


"Eh, ini nomor hape Raina, kan?" tanya Boy dari seberang sana memastikan nomor Raina lagi dengan melihat layar ponselnya. la yakin bahwa dirinya sama sekali tak salah menghubungi nomor gadis itu.


"Ya, ini memang ponsel milik seorang gadis yang kamu sebut namanya tadi. Maaf, saya orang lain yang sedang membawa gadis ini ke rumah sakit. Nak Raina mengalami kecelakaan tertabrak mobil. Kami akan membawanya ke Unit Gawat Darurat terdekat," ucap Pak Agung menjelaskan.

__ADS_1


Boy terdiam, wajahnya langsung pucat karena berita itu begitu mengejutkan hatinya. la terpaku dan tampak bingung. Dia tak menyangka setelah menunggu hampir setengah jam, ternyata Raina tak datang juga karena mengalami kecelakaan.


"Ba-bagaimana keadaan Raina, P-pak?" Suara Boy terpatah-patah dan tergagap.


"Kondisi gadis ini sangat memprihatinkan, kami sepertinya akan membawanya ke Rumah Sakit Keluarga karena lokasinya paling dekat dari tempat kecelakaan. Sebaiknya Anda langsung ke rumah sakit sana dan tolong kabari keluarganya secepatnya!" titah pria itu.


"Hah? Rumah Sakit Keluarga? Ada polisi yang udah menangani kasusnya, Pak? Tadi kecelakaannya di mana?" tanya Boy semakin panik.


Boy mencoba tetap berkepala dingin meski hatinya sangat tidak tenang. la tahu, yang harus ia lakukan secepatnya adalah menghubungi Dokter Salma dengan segera.


"Di Jalan Apel Barat, Mas. Tadi kecelakaannya di sana," tuturnya.


Boy lalu menutup telepon dan menyakinkan pria tua tadi bahwa ia akan segera menuju rumah sakit. Boy lantas menghubungi Dokter Salma.


"Sial, kamu urus motor Raina! Tante takut dia bawa barang kita dan ketauan sama polisi! Kamu harus tetap tenang ya, Boy. Ini Tante bakalan langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Raina," ucap Salma dari dalam ponsel Boy.


Suasana hati Boy dan Dokter Salma begitu kacau balau. Tidak ada yang tenang dengan kabar buruk seperti ini. Pasalnya Raina sedang membawa organ ginjal yang didapat secara ilegal dan akan digunakan pada pasien Dokter Salma yang akan dieksekusi di klinik barunya.


Raina sedang mempertaruhkan hidupnya detik itu juga, napasnya tidak normal dan tersengal-sengal. Akhirnya, mobil Dikta sampai di depan UGD. Dengan cekatan, paramedis langsung membawa Raina ke dalam ruang UGD dengan kasur roda pasien.


Selang lima belas menit kemudian, Dokter Salma telah tiba di rumah sakit. la langsung bertanya kepada resepsionis tentang pasien korban tabrakan yang bernama Raina. Dengan cepat, petugas langsung memberitahu posisi ruangan Raina.


Pada saat Dokter Salma berjalan mencari lokasi ruangan yang ditunjukan, Raina ternyata sudah masuk dalam tahap operasi besar. Sosok Dikta, Rara dan Raja sedang menunggu di sana. Dokter Salma terpaksa bersembunyi terlebih dahulu.


"Sial, kenapa harus ada si Raja, sih?" gumam Dokter Salma.

__ADS_1


...*****...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2