PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 78 - Briana Ditangkap


__ADS_3

Bab 78 PMM


Pagi itu saat sarapan bersama, Dira yang sudah siap untuk berangkat sekolah menuruni anak tangga. Di belakangnya ada Adam yang hendak mendahului, tetapi Dira menariknya dan berlari lebih dulu untuk merebut remote tv.


"Aku duluan, wleeek!" Dira meledeknya.


Adam bersungut-sungut lalu meraih ponsel untuk membalas pesan-pesan yang terlewat kala dia men-charge ponselnya. Sementara itu, Dira menyalakan televisi layar datar miliknya untuk menyimak berita terkini.


Di dapur, Bunda Dita telah menyiapkan nasi goreng dan telur dadar lalu meletakkannya di meja. Anan baru keluar dari kamarnya lalu memeluk sang istri dari belakang. Memberi kecupan selamat pagi yang manis pada sang istri.


"Harum apa ini?" tanya Anan.


"Nasi goreng buatan Bunda Dita tercantik di hatinya Yanda," sahut Dita.


"Bukan harum itu, Bunda," sahut Anan.


"Harum apa, dong? Bunda belum mandi deh perasaan," sahut Dita.


"Harum cinta dan kasih sayangnya Bunda," ucap Anan.


"Ih, Yanda bisa aja! Makin sayang deh, Bunda sama Yanda."


Anan langsung ingin memeluk dan menghujani sang istri dengan kecupan cinta, tetapi Dita menahannya. Wanita itu menunjuk Adam dan Dira yang sudah berdiri di ambang ruang makan dan dapur. Mereka bertolak pinggang sambil menatap miris pada ayah ibunya.


"Iyuuuuuhhh… masa kita mau sarapan dikasih tontonan lebay begitu, sih?" sungut Adam.


"Hehehe… nanti kalau kalian punya pacar juga kalian ngerasain begini," ucap Anan.


"Asik, kita boleh pacaran dong?" tanya Adam.


"Enggak!" Dita dan Anan berseru kompak seraya menatap tajam anak kembarnya.


"Eh, eh, nasi goreng buatan Bunda pasti paling enak," ucap Dira mengalihkan pembicaraan.


"Oh, jelas dong!" sahut Adam.


Anan dan Dita menarik kursi dan duduk di harapan menu sarapan pagi itu.


"Panggilin Kak Raja, gih!" pinta Dita pada Adam.


"Kak Rajaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Adam langsung berteriak memanggil sang kakak.


Raja segera bergegas menuruni anak tangga. Ia melihat sang bunda yang dengan bangga menunjukkan masakan paginya ala chef terkemuka di ajang pencarian bakat memasak.

__ADS_1


"Wah, pasti enak banget nih!" puji Raja.


"Ayo, cuci tangan dulu sana!" Dita berseru.


Dira tampak menekan tombol ubah channel pada remote tv. Tampak di layar kaca mengenai penemuan mayat seorang pemuda berinisial AH yang meninggal secara mengenaskan.


Raja keluar dari kamar mandi lalu menyendok nasi goreng buatan ibunya. Semua yang ada ruang makan langsung terarah ke layar televisi 32 inch yang menempel di dinding ruang makan. Mereka memang kerap menonton tv sambil menyantap hidangan.


"Eh, ada Kapten Jihan! Cantik banget, ya?" puji Dita pada seorang polisi wanita kenalannya dan Anan.


Anan mengangguk setuju tetapi langsung menggeleng ketika hentakan garpu Dita terdengar lebih kencang.


"Cantikan Bunda, kok," sahut Anan.


Tetap saja Dita masih melayangkan lirikan tajam menghunus indera penglihatan sang suami.


Raja menatap lekat pada layar televisi. Lalu terlintas di pikirannya akan sesuatu.


"Kok, itu kayak identitasnya Tyo, ya?" gumamnya.


"Ngapain si Kak Tyo ke sana?" Dira bertanya dengan mulut penuh.


"Heh, makan jangan sambil ngomong nanti keselek!" seru Dita.


Baru sedetik Dita memperingatkan, tentu saja Dira sudah tersedak dan terbatuk-batuk. Anan langsung menyodorkannya air putih dalam gelas untuk putrinya.


Pemuda bernama Aristyo Hermawan yang merupakan mahasiswa Universitas Budi Angkasa, ditemukan sudah terbujur kaku saat sang asisten rumah tangga villa hendak membersihkan rumah tersebut.


"Saat ini kami tengah menyelidiki penyebab kematian seorang pemuda yang merupakan mahasiswa Universitas Budi Angkasa, yang meninggal di villa yang ia sewa. Menurut saksi mata, korban ditemukan tewas di tangan seorang kenalan korban yang kini sudah diamankan oleh pihak berwajib. Korban ditemukan tewas dengan banyak luka tusukan dan kehilangan banyak darah," ucap Kapten Jihan selaku Kepala Polisi Sektor di layar televisi ke pada para awak media.


"Tuh kan si Tyo, masa iya Tyo meninggal!" ucap Raja mulai panik.


Ponsel Raja berdering, Rara menghubunginya. Wajahnya terlihat panik dan terdengar tak percaya. Kemudian, Raja berniat pamit pada orang tuanya. Namun, Dita melarang sebelum Raja sarapan dulu.


Raja akhirnya menggeser kursi makan lalu duduk seraya meraih piring nasi goreng dan telur itu. Kemudian, ia mengunyahnya seraya mengamati layar tv lebih dekat. Tak lupa juga seteguk demi teguk air putih untuk membasahi kerongkongannya.


"Rara bilang apa?" tanya Dita.


"Kata Kak Rio emang ditemukan mayat Tyo di villa. Dan Bunda tau nggak siapa yang diduga membunuh Tyo?"


Dita menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Briana, Bunda. Dia ada di sana saat Tyo mati," sahut Raja.

__ADS_1


Suara reporter dari chanel lain yang menampilkan berita juga masih terdengar memberitakan penemuan mayat yang sama, mayatnya Tyo. Dikemukakan di layar TV lcd 32 inch itu, pihak kepolisian mendapat laporan dari pihak sang asisten rumah tangga tentang penemuan mayat, kemudian petugas polisi sektor langsung ke Tempat Kejadian Perkara untuk menindaklanjuti laporan terkait.


Tampak Kapten Jihan masih menerangkan bahwa jasad bernama Aristyo Hermawab tersebut seorang mahasiswa yang kerap menyewa villa tersebut. Ternyata, pemuda tersebut merupakan pemilik judi online yang kerap menjadikan villa tersebut sebagai tempat melakukan kegiatan gelapnya. Namun,


Berdasarkan keterangan saksi, kedatangan seorang rekan dari korban belum diketahui motifnya. Pasalnya tertangkap tangan rekan korban bersimbah darah saat korban ditemukan tewas.


Sampai saat ini, pihak kepolisian penyidik masih mengevakuasi jenazah. Namun, hasil olah Tempat Kejadian Perkara masih dilangsungkan hari itu sampai berita tersebut ditayangkan.


Seminggu sebelumnya Kapten Jihan juga menemukan seorang korban wanita yang belum diketahui penyebab kematian wanita muda yang beralamatkan di Jalan Melati nomor tiga belas, Kota Bunga. Saat ditemukan oleh sang asisten rumah tangga villa tersebut, ia berada seorang diri di dalam kamar dan sudah tak bernyawa dalam keadaan bersimbah darah di sekitar mulutnya.


Secara kasat mata juga tidak ditemukan luka bekas kekerasan yang menyebabkan kematian. Tetapi terdapat genangang dari yang diduga korban muntah darah. Saat ditemukan jasadnya berada dalam kondisi membiru, dan tidak ditemukan beberapa obat terlarang yang tergeletak di sekitar lokasi juga senjata tajam.


Banyak warga yang menduga kalau villa tersebut menyimpan sebuah misteri dan meminta tumbal. Namun, Kapten Jihan menjelaskan pasca kejadian, jasad tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum untuk dilakukan visum.


...***...


Raja sudah berada di kantor polisi sektor dekat dengan tempat kejadian perkara di mana bersama Rara untuk mengunjungi Briana. Di sana sedang diadakan konferensi pers atas peristiwa kematian Tyo.


"Bagaimana hasil visumnya, Kapt?" tanya salah satu awak media.


Sebagai Kapolsek, Kapten Jihan mengaku hingga saat ini pihaknya sedang menunggu hasil visum tersebut untuk mengetahui penyebab kematian mahasiswa tersebut. Pihak keluarga korban sayangnya tidak bisa dihubungi terkait peristiwa itu.


"Apa benar rekan korban merupakan teman kencan yang menghabisi nyawa korban, Kapt?" tanya salah satu wartawan lagi.


"Hingga saat ini, kami tim polisi masih menunggu laporan anggota di lapangan terkait perkembangan dari kasus tersebut. Jadi, belum ada laporan pasti karena rekan korban tersebut juga belum dimintai keterangan. Kalau begitu terima kasih atas perhatiannya ya. Saya pamit undur diri dulu," ucap Kapten Jihan.


Acara konferensi pers itu pun tertutup. Raja menyapa Kapten Jihan dan meminta izin untuk menemui Briana. Wanita itu mengizinkan nya.


"Ra!" Briana bangkit dan memeluk Rara.


"Bri, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Rara.


"Gue nggak apa-apa, Ra. Elu pasti udah lihat berita di tv barusan? Gue nggak bunuh Tyo, Ra," ucap Briana.


"Iya, aku percaya. Kamu ngapain memangnya ke sana? Kenapa juga harus ketemu Tyo di sana?" tanya Rara.


"Sebenarnya gue sama Tyo sering ke sana pas kita masih jadian. Tapi, kemarin itu Tyo benar-benar butuh gue kayaknya. Dia juga kena HIV kayak gue, Ra," ucap Briana.


"Hah? Yaa Allah, Bri… kok bisa gitu, sih." Rara menatap tak percaya.


Rara menoleh pada Raja yang masih terlihat berpikir keras seraya mengingat-ingat apa yang sebenarnya ingin Tyo lakukan. Raja juga sudah menghubungi Dikta dan Lani terkait kematian Tyo dan Briana yang ditangkap polisi.


...*****...

__ADS_1


...To be continued ...


...See you next chapter!...


__ADS_2