PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 82 - Lani Sakit


__ADS_3

Bab 82 PMM


Malam itu Dikta tampak mencoba mengingat masa-masa kecil pemuda itu. Dia sampai tak menyadari kalau sang asisten rumah tangganya yang setia dan berusia senja itu datang. Ia melihat raut muka wajah Dikta dengan tatapan kasihan.


Wanita tua itu bisa memaklumi sifat jelek anak majikannya. Dengan kedua orang tua yang sibuk mengejar karir pasti menimbulkan segala ulah kenakalan yang bertujuan untuk mencari perhatian si orang tua meski tak jua berhasil.


Mbok Onah tidak tega menolak saat sang anak majikannya jadi berlari padanya sewaktu kecil. Dikta sudah terasa seperti anaknya sendiri. Dan inilah yang biasa dilakukan si Aden, panggilannya untuk Dikta. Mbok Onah tahu kalau anak majikannya itu sedang punya masalah, bingung, kalut, atau sedih.


Dikta pasti akan berkeluh kesah dan mengadu sambil membuntutinya ke mana pun ia pergi. Namun seiring perkembangan waktu, Dikta berubah. Menjadi lebih diam dan kerap memendam rasa sedihnya. Bahkan anak majikannya itu memiliki alter ego yang kerap muncul dan membahayakan.


Pada dasarnya, Mbok Nah sebenarnya lebih suka jika Dikta mengeluh saja seperti dulu. Dia rindu kala Dikta bercerita panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang pun tidak apa-apa.


Bahkan Dikta pernah bercerita sambil membantunya membantunya memasak segala, karena hasilnya malah berantakan. Wortel yang sudah dengan sangat cermat dipilihnya di pasar tadi, segar dan lebih padat, setelah dikupas oleh Dikta malah ukurannya jadi mengecil. Lebih banyak yang dikupas daripada yang akhirnya masuk panci untuk sop ayam buatannya. Namun, hal itu lebih baik ketimbang didiamkan Dikta begini.


"Den, ada yang mau diceritakan sama Mbok?" tanyanya mengejutkan Dikta.


"Nggak, Mbok. Saya nggak kenapa-napa," sahutnya.


"Udah jangan terlalu berat buat mengingat semua yang belum bisa kamu ingat. Nanti malah jadi banyak pikiran. Makan dulu, yuk!" ajaknya.


"Nanti aja, Mbok. Saya belum lapar," akunya.


"Hmmm, Mbok bawa ya makanannya ke sini, gimana?" tanya Mbok Onah.


"Ya udah," sahut Dikta akhirnya.


Album masa kecilnya kini berganti menjadi album kegiatan anggota Mapala Merah. Di mana dalam album tersebut terdapat banyak foto Lani.


...***...


Sementara itu di rumah Lani, kisah pilu si gadis juga tercipta. Mbok Ijah yang kini jadi tempat Lani mencurahkan perasaannya secara apa adanya ketimbang bercerita dengan ibunya tanpa ada yang ditutupi itu, juga merasakan kegalauan.


Mbok Ijah jadi merasa kasihan kalau melihat nona majikannya seperti ini. Sedari tadi Lani hanya meringkuk di lantai, bersandar di satu sisi lemari makan di dapurnya. Lani juga membantu Mbok Ijah memasak. Akan tetapi, Mbok Ijah melihat cara nona majikannya itu memetiki daun-daun bayam, malah berantakan. Tatapan mata Lani tertunduk dan jauh menerawang. Petikan satu demi satu petikan daun bayam membuat Mbok Ijah gemas. Tampaknya pekerjaan nona mudanya itu mungkin baru akan selesai besok siang.


"Hadeh, si Non ini malah ngerecokin aku masak. Mana sambil galau lagi. Mbok ya cerita aja," keluh Ijah.


Akan tetapi, Lani tak mengindahkannya.


Mbok Ijah sebenarnya lebih suka kalau nona majikannya itu cerita saja. Terserah mau mengeluh sisi kali sisi jadi luas persegi juga tidak apa-apa. Daripada menggalau di dapur dan menyebabkan Ijah harus membuang masakan itu dan menggantinya dengan yang baru. Apalagi jika Lani memberi bumbu, rasa masakan-masakan itu sangat tidak terdefinisi.


"Wes wes wes, Non! Udah ya nggak usah ke dapur! Non, balik aja ke kamar. Nanti kalau udah siap saya bawain makanannya, ya." Ijah lantas mengantar Lani ke kamarnya.


Namun, malam itu sang nona majikan malah jatuh sakit. Ijah tak sampai hati menyaksikan kondisi majikannya itu yang menyedihkan. Lani bahkan mulai kurang nafsu makan. Sampai akhirnya Ijah memberanikan diri dengan nekat menghubungi ponsel Dikta yang dia simpan.


"Ya, Mbok? Tumben nelpon saya. Ada apa?" tanya Dikta dari dalam ponselnya.


"Hmm… ummm… anu itu, Mas Dik … Non Lani sakit," ucap Ijah susah payah.


"Hah? Sakit?!" pekik Dikta terkejut. "Sakit apa?"

__ADS_1


"Kayaknya sih sakit liver," jawab Ijah.


"Hah? Liver?" Dikta kaget bukan main.


"Iya, Mas."


"Jangan bercanda, deh!"


"Serius, Mas. Soalnya–"


Tut tut tut….


Sambungan ponsel itu tertutup. Membuat Dikta hanya bisa berdiri mematung. Bagaimana bisa telepon di seberang sudah ditutup begitu saja? Dikta sampai tidak percaya dengan berita yang baru saja dia terima. Kenapa Lani tidak pernah cerita bahwa dia punya penyakit seserius itu, Liver? Batik Dikta benar-benar bergemuruh.


Padahal di seberang sana, Ijah tahu kalau Lani punya masalah hati. Sehingga dengan ceplosnya ia bilang kalau nona majikannya sakit liver. Tentu Ijah tak salah, karena nama medis dari hati adalah liver.


Ijah tersenyum karena tak lama kemudian, dia mendengar suara mobil yang dulu sempat sangat akrab di telinganya. Mobil jeep-nya Dikta. Sontak saja Ijah bergegas sampai berlari keluar.


"Udah lama sakitnya?" tanya Dikta tiba-tiba saat turun dari mobilnya.


Meskipun sinar lampu jalan tidak terlalu terang, Ijah bisa melihat wajah Dikta pucat dan terlihat cemas.


"Udah lama, Mas. Tapi parahnya baru hari ini," jawab Ijah.


"Kenapa nggak dibawa ke dokter?" tanya Dikta lagi.


"Gila! Masa sama anak sendiri pilih kasih. Lani kan lagi sakit parah gini, masa mau nunggu nanti-nanti!" bentak Dikta.


"Duh, gimana ya?" Ijah meringis bingung.


"Emang Mbak Lina kenapa pakai ditengok segala?" tanya Dikta.


Lina merupakan kakak perempuan dari Lani yang tinggal di Australia setelah menikah.


"Habis lahiran, Las," jawab Ijah.


"Mama papanya emang nggak tahu apa kalau anak mereka lagi sakit parah begitu? Malah bela-belain nengok bayi yang bisa entar entaran mereka tengok," ucap Dikta ketus seraya geleng-geleng kepala dengan gusar.


"Hehehe," sahut Ijah seraya menggaruk kepalanya meski tak gatal.


"Kalau gitu, biar saya yang bawa Lani ke dokter!" kata Dikta.


"Tapi, Mas … Non Lani lagi tidur," kata Ijah.


Dikta lantas menatap ke arah jendela kamar Lani yang hanya tercipta sinar remang di lantai atas.


"Aku bangunin aja!" ucap Dikta tegas.


Kemudian dia berjalan masuk rumah dan langsung menuju kamar Lani. Ijah tergopoh-gopoh membuntuti Dikta.

__ADS_1


Sang asisten rumah tangga itu jadi bingung bagaimana cara menjelaskan situasi yang sebenarnya. Akhirnya nekat dihadangnya langkah Dikta karena pemuda itu sudah sampai di depan pintu kamar sang majikan.


"Stop, Mas! Sebentar! Sebentar!" Ijah berdiri tepat di depan pintu kamar Lani.


"Ada apa lagi? Minggir!" seru Dikta.


"Sebenarnya sakitnya Non Lani nggak parah-parah amat kok. Nggak sampe harus dibawa ke dokter," ucap Ijah agak takut.


"Heh, Jah! Denger, ya, penyakit liver itu bukan penyakit sembarangan!" bentak Dikta.


"Tapi, maksud saya bukan penyakit liver itu, hehehe." Ijah kembali meringis. Dia jadi merasa bersalah.


"Maksud elu apa, sih?" tanya Dikta.


"Ungg, anu Mas. Jangan marah, ya. Non Lani kayaknya lagi banyak pikiran. Suka melamun gitu. Pokoknya sakit yang kayak gitu deh. Tadi saya udah maksa-maksa Non Lani buat makan, sampe saya jadi marah-marah. Tapi Non Lani cuma mau makan dikit, katanya nggak nafsu makan. Terus dipaksa minum obat juga nggak mau," jelas Ijah.


Sepasang mata pria di hadapan Mbok Ijah memicing. Ia tampak bingung.


"Aduh, maaf ya Mas Dik. Bukannya saya mau bohongin Mas Dik. Saya cuma mau ngasih tau kalo Non Lani lagi sakit. Ada gangguan di hatinya, gangguan perasaan yang lain. Bukan malah sakit hati atau liver beneran. Udah dua hari ini badannya panas. Tapi nggak panas-panas amat sih, Mas. Cuma anget lah. Jadi, kali aja kalau ditengokin Mas Dik biar cuma sebentar juga kali aja bisa sembuh," ucap Ijah penuh semangat.


"Hadeh… jadi sakit liver tadi maksudnya sakit hati, gitu?" tanya Dikta.


"Tapi bukan sakit hati marah-marah kayak orang balas dendam, ya," ucap Ijah meringis.


Ijah lantas membuka pintu kamar sang majikan dengan perlahan. Dia lalu bergeser ke samping, memberi jalan pada Dikta untuk masuk. Kamar Lani tampak remang karena cahaya yang berasal dari lampu jalan, yang masuk melalui pintu teras atas yang dibuka lebar-lebar. Sementara lampu utama di kamar Lani tidak dinyalakan.


"Kenapa lampunya nggak dinyalain, Jah?" tanya Dikta dengan suara pelan.


"Non Lani yang nyuruh, Mas."


"Terus itu, kenapa pintu berandanya dibuka semua begitu? Angin malam itu nggak bagus nanti Lani malah masuk angin. Apalagi dia lagi sakit gitu!" keluh Dikta.


"Non Lani yang nyuruh, Mas. Dia maunya begitu. Katanya bulan lagi bagus bagusnya, jadi dia mau tidur sambil ngeliat bulan," imbuhnya.


"Hah? Ngaco si Lani," ucap Dikta lalu berdecak.


Perlahan, pemuda itu melangkah masuk. Ijah langsung balik badan untuk pergi. Dia mau menutup pintu kamar Lani, tetapi Dikta melarang.


"Nggak usah ditutup pintunya," ucap Dikta saat dilihatnya Ijah akan meraih hendel pintu.


ljah mengangguk lalu membatalkan niatnya. Tanpa berkata apa- apa lagi, ia meninggalkan Dikta dan Lani. Lalu perempuan itu segera berjalan menuruni tangga.


Dikta tersentak kala melihat sebuah buku agenda di atas meja milik Lani yang membuatnya tercuri perhatiannya. Dikta yang penasaran lantas mendekati buku dari tersebut.


...*****...


...To be continue ...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2