PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 85 - Hilang


__ADS_3

Bab 85 PMM


Di dalam kantor, Arya sedang mengikuti jalannya rapat dengan komisaris setempat seraya mempelajari tentang proyek kerjasama yang baru.


Akan tetapi entah kenapa Arya selalu memandang layar ponselnya. Wajah sang istri tampak cantik di layar ponsel itu. Arya bahkan sampai teringat peperangan cintanya semalam dengan istrinya itu. Anta begitu menggemaskan sampai meminta tiga kali peperangan melawan Arya.


Entah karena bawaan bayi atau gangguan hormon pada Anta yang membuat hasrat cinta istrinya itu timbul sampai menggodanya berkali - kali. Namun, Arya yang gengsi yang sebenarnya merasa tubuhnya letih itu gengsi tak mau mengakui. Arya malah terus meladeni permainan Anta semalam suntuk.


Tiba - tiba, Arya tak sengaja menyenggol cangkir di hadapannya itu sampai jatuh ke lantai dan pecah. Perasaan Arya malah langsung kacau seperti ada kesedihan yang akan menghadangnya nanti.


"Maaf semuanya, saya nggak sengaja jatuhkan cangkir ini," ucap Arya yang bangkit berdiri dan meminta maaf pada semua yang hadir di ruangan itu. 


Arya lantas memanggil petugas kebersihan kantor untuk membersihkan bekas pecahan cangkir itu.


"Duh semoga aja nggak ada hal buruk yang akan terjadi. Kok, perasaan aku nggak enak banget, ya," gumam Arya.


Tiba - tiba, ponsel Anan, yang tengah berada di ruang rapat bersama Arya, berdering. Raut wajah pria itu langsung panik dan menoleh ke arah Arya. Pria itu terpaksa membubarkan pertemuan bisnis itu karena mendapat kabar penculikan Anta dari Dita yang panik.


Anan langsung menarik lengan Anta dan memberikan informasi tersebut pada menantunya itu. Sontak saja Anta langsung panik.


"Aku harus cari Anta sekarang, Yanda!" seru Arya yang bahkan sudah menitikkan air matanya saking paniknya.


Firasatnya barusan benar, perasaannya tak enak saat cangkir tadi jatuh ke lantai itu juga pertanda. Kesedihan langsung melanda pria itu. Ia sangat ketakutan jika sampai harus kehilangan Anta.


"Kamu mau cari ke mana, Ya? Toh, kita nggak tau si Anta dibawa ke mana. Kamu hubungi polisi dan lebih baik kita samperin bunda dulu, lalu kita menuju kantor pihak berwajib untuk serahkan semuanya pada pihak berwajib sambil cari petunjuk buat cari Anta," ucap Anan mencoba menenangkan Arya.


"Tapi, Yanda ….."


"Yanda juga panik, Ya! Tapi Yanda mencoba untuk tenang dulu. Kita berdoa sama Tuhan dan serahkan semuanya sama pihak berwajib. Kamu mau muter ke manapun kalau nggak tentu arah dan tujuan ya sama aja bohong, ya kan? Ayo kita samperin bunda!" ajak Anan.


Sesampainya di parkiran, Anan meraih kunci mobil milik Arya.

__ADS_1


"Biar Yanda aja yang bawa mobilnya. Yanda takut kalau kamu masih kalut mikirin Anta dan nggak konsen nyetir," ucap Anan saat meraih kunci mobil yang ada di tangan Arya sebelum masuk ke dalam mobil miliknya.


Anan lalu melajukan mobilnya menuju kantor pihak berwajib sebelum ia pulang menemui Dita.


...***...


Di sebuah mobil sedan hitam, Anta terbangun setelah mendengar suara pintu mobil terbuka. Ia berpura-pura masih terpejam. Anta terkejut ketika sayup-sayup ia mendapati Dokter Salma yang berdiri di ambang pintu. 


Tapi penampilan Salma sungguh berbeda. Dia mengubah penampilan seperti Karina, sosok yang mendiami tubuh Salma. Jelas saja Anta terpaku lama sebelum akhirnya menampar wajah sendiri untuk meyakinkan diri bahwa ia benar-benar sedang melihat perempuan yang selama ini menghilang tanpa jejak.


Raisa dan pria botak itu datang untuk menjalankan perintah mengantarkan Anta ke rumah tersebut. Setelah mengatakan hal itu, Karina meminta anak buahnya untuk bergegas membawa Anta ke dalam. Raisa merasa Karina sedang menyembunyikan sesuatu karena tak menceritakan secara detail kenapa dia memintanya menculik Anta.


Pak Botak bergegas membawa Anta ke tempat Karina berada. Rupanya beliau sudah menyiapkan kamar untuk Anta. Ia meminta si botak untuk membaringkan Anta di atas ranjang. Ia berdiri di samping jendela kamar, menatap ke arah taman. Si botak membungkuk, memberi hormat sebelum akhirnya pergi.


Karina menyebutkan nama sebuah tempat, "Hutan Larangan, ambil perempuan satunya dari sana!"


"Baik, Nyai Ratu," sahut si botak.


Mobil mulai melaju menembus kegelapan malam, menelusuri jalan di antara pepohonan yang terlihat di kanan-kiri bahu jalan. Tanpa terasa satu jam sudah berlalu, Raisa mulai bertanya-tanya, ia baru saja menyadari kalau tak pernah melihat wilayah itu sebelumnya. 


"Setelah belokan ini, kita akan masuk ke jalan setapak yang menuju hutan," ucap si Botak.


Raisa menoleh dan mencoba meyakinkan diri apakah tidak salah dengar, jalan setapak menuju dalam hutan. Tepat setelah belokan, Si Botak menginjak rem karena sebuah ranting pohon jatuh mengejutkan.


Raisa melongok keluar untuk memastikan apakah ada jalan menuju hutan. Rupanya jalan itu benar-benar ada. Pak Botak mulai melaju pelan masuk ke hutan yang gelap. Jalanan ini dibuat secara serampangan sepertinya karena beberapa kali pak botak harus memaksa mesin karena jalur yang terus-menerus naik. 


Suara binatang juga terdengar di sepanjang jalan membuat Raisa semakin penasaran ke mana tujuan mereka sebenarnya. Dari cahaya lampu mobil, perempuan itu dapat melihat jalanan yang ada di depannya. Jalanan yang tersembunyi di antara pepohonan tinggi dan semak belukar. Jalanan yang mereka tempuh tampaknya semakin tidak layak untuk dilewati.


Akhirnya Raisa dapat melihat sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Perempuan itu terkejut saat melihatnya, tidak pernah tahu ada yang seperti ini di tengah hutan belantara. Si Botak lalu memarkirkan mobil sebelum melangkah turun membuka pintu mobil diikuti Raisa. Lalu, keduanya berjalan menuju rumah tersebut. 


"Tempat apa ini, Pak?" tanya Raisa.

__ADS_1


"Rumah jagal," jawabnya.


"Loh, bukannya rumah jagal itu yang di belakang rumah Pak Johan? Rumah kosong  berhantu itu?" tanya Raisa.


"Sesekali memang itu dipakai. Kalau dapat korban dari kota. Tapi, rata-rata Nyai Ratu dapat korban dari warga pelosok sini," ucapnya.


"Terus kita mau ngapain ke rumah jagal?" tanya Raisa lagi.


"Nyai Ratu meminta kita membawa perempuan yang baru datang kemarin," jawabnya. 


Raisa memang belum tahu kalau Lani juga diculik dan disandera oleh Karina. Raisa lalu mengikuti Pak Botak berjalan di sebuah lorong panjang tempat dia memperhatikan detail-detail kayu solid yang disusun sedemikian rupa sampai menjadi tempat seluar biasa ini.


Si Botak lantas memberi perintah kepada Raisa untuk menunggu di tempat ini sementara dia berjalan menuju anak tangga di sebuah lorong panjang. Raisa jadi tidak tahu apa yang harus dia lakukan selama Si Botak meninggalkannya. 


Raisa akhirnya berkeliling melihat-lihat tempat ini saat tanpa sengaja dis hampir saja menabrak tubuh lelaki tua yang berdiri di belakangnya. Lelaki tua itu melayangkan senyuman. Raisa lalu pergi lagi untuk melihat foto serta lukisan-lukisan mengerikan yang dipajang di sepanjang dinding.


Raisa mengamati lukisan hingga ada sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Foto itu menunjukkan tujuh manusia tergabung menjadi satu menjadi satu tubuh. Raisa sempat bergidik ketika mengetahuinya. 


"Ayo kita kembali!" seru si Botak seraya menarik paksa lengan Lani yang tampak teler.


"Dia mabuk, ya?" tanya Raisa.


"Hmmmm." 


Lani memicingkan mata menatap Raisa. Setengah sadar ia berusaha mengamati Raisa.


"Raisa?" tanya Lani.


...******...


...To be continue ...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2