PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 45 - Dokter Salma


__ADS_3

Bab 45 PMM


Malam itu, Raja sampai di rumah Rara membawa sepeda motor vespa matic miliknya yang selesai dibetulkan dari bengkel. Raja menceritakan apa yang dia dapatkan dari klinik baru tempat Boy berada.


"Lani harus diperingatkan, Ja." Rara meletakkan secangkir kopi good dat pada kekasihnya itu di atas meja.


"Nah, makanya itu Ra. Paling nggak kamu lah yang kasih tahu si Lani. Lagian kata si Tyo, Lani kayaknya bucin banget sama Boy," sahut Raja.


Sedetik kemudian secara mendadak, Raja dan Rara melihat sekilas sosok perempuan berpakaian minim itu berjalan sambil merangkul sosok pocong berwajah merah.


"Astagfirullahalazim, itu hantu nge-date sama pocong, gitu?" Rara tak mau menatapnya, ia hanya menunduk.


"Jangan-jangan ketempelan kali tuh cewek ama itu pocong?" Raja masih mengamati.


"Mana aku tahu, Ja," sahut Rara.


"Hadeh, semua cowok sama aja, tukang selingkuh," celetuk sosok kuntilanak bernama Sisi itu.


Sisi baru saja muncul di samping Raja mengejutkan.


"Astagfirullah! Untung aku nggak punya riwayat penyakit jantung, nih setan tau-tau muncul aja di samping kayak gini," tukas Raja.


"Tau nih, mentang-mentang semua setan muncul aja nakutin," keluh Rara.


"Emang aku nyeremin, ya?" tanya Sisi dengan polosnya.


"Iya lah! Pake nanya lagi! Kalau udah jadi hantu itu ya serem. Apalagi kamu pacaran sama si pocong yang nyereminnya paling paling legendaris di Indonesia tau nggak," sungut Raja.


"Tapi dia itu baik, pengertian, suka dengerin aku curhat. Terus kalau aku pengen makan apa pun dibeliin tau," sahut Sisi.


Hantu kuntilanak muda itu mendekat pada penjual bakso ketika gerobaknya melintas.


"Bang, bakso lima mangkuk ya, sambalnya yang banyak," pinta Sisi.


Sontak saja tukang bakso tersebut langsung terlihat lari terbirit - birit seraya kesusahan mendorong gerobak dagangannya.


"Tuh kan… aku mau bakso, Ja!" pekik Sisi.


"Hadeh, ini kuntilanak yang matinya terlalu dini lebay banget kayak gini, nih." Raja sampai menepuk dahinya sendiri.


Tukang bakso tadi hampir saja menabrak mobil yang Tyo kendarai. Pria itu memang ingin menemui Raja dan Rara kebetulan. Tyo turun dari mobil.


"Pak, kalau dagang yang bener, dong! Nanti kalau ketabrak gimana?!" bentaknya.


"Maaf, Mas. Tadi saya digangguin," akunya.


"Diganggu siapa? Setan?" terka Tyo.


"Lha iya, Mas. Masa tadi ada perempuan beli bakso sama saya taunya dia manggil doang. Terus taunya dia kuntilanak di pohon mangga itu!" tunjuknya ke arah rumah Rara.

__ADS_1


"Oh, itu mah rumah temen saya. Hmm, perasaan biasa aja. Bapak aja kali ketakutan lihat setannya," ucap Tyo.


"Ya, enggak biasa, Mas." Si tukang bakso itu lalu melangkah pergi meninggalkan Tyo.


Kemudian, Tyo menuju ke rumah Rara. Di sana, Raja telah menunggunya karena sebelumnya Tyo sudah mengiriminya pesan singkat untuk bertemu.


...***...


"Gue ngerasa si Lani dipelet sama Boy, Ra. Susah banget buat dia jauhin si Boy," ucap Tyo.


"Hmmm, ya mungkin aja si Lani lagi bucin," sahut Rara.


"Tapi, kali ini gue setuju ama Tyo. Gue ngerasa si Boy bukan cowok baik-baik." Raja menimpali.


"Elu tahu sesuatu tentang dia, Ja?" tanya Tyo.


"Ummm, aku belum pasti sih. Cuma takut salah tangkap aja. Nanti kalau ada perkembangan lebih lanjut pasti aku kabari," sahut Raja.


Susi mengamati sosok Tyo dengan penuh kekaguman. Dia duduk di lantai, di samping kursi Tyo.


"Mirip banget dia sama mantan aku dulu. Duh, ganteng banget ini cowok," ucap Sisi.


Ponsel Tyo berdering. Dikta menghubunginya. Akhirnya, Tyo pamit undur diri dari rumah Rara.


"Heh, heh, mau ke mana?" Raja menahan Sisi agar tak mengikuti Tyo.


"Nggak bisa apa aku ngikutin dia?" tanyanya memelas.


"Eh, Si, coba cerita kenapa kamu bisa meninggal?" tanya Rara.


Sisi lantas menatap ke arah Rara dengan wajah sendu lalu menangis.


"Lha kenapa? Kamu kok nangis? Aku salah ucap, ya?" tanya Rara.


"Huaaaaaa…." Si kuntilanak muda itu malah semakin menangis kencang.


"Sisi kok tambah nangis, sih? Ayo cerita aja nanti aku dengerin," ucap Rara.


"Iya, Si. Cerita aja nggak apa-apa." Raja mulai melunak.


"Ya udah, dengarkan curhat aku, ya," pinta Sisi.


Rara dan Raja menyimak kemudian.


"Saat itu setahun yang lalu, Aku sedang hamil anak pertama. Usia kandunganku beranjak tujuh bulan," ucapnya.


"Kamu nikah muda?" tanya Rara.


"Iya, pas lulus SMP aku nikah. Pacaran kita kebablasan," sahut Rara.

__ADS_1


"Yah, pantesan. Lha, terus gimana lagi ceritanya?" tanya Raja.


"Huhuhu aku mau melahirkan pas tujuh bulan tapi nggak ketolong. Tapi, pas aku meninggal aku lihat suami aku terima uang dari dokter itu," ucapnya sambil menangis.


"Maksudnya? Suami kamu jual bayi kamu, gitu?" tanya Rara.


"Iya, dia jual bayi aku buat si dokter sialan itu! Mungkin ini yang bikin aku gentayangan karena aku masih dendam sama dia," ucap Sisi.


"Sama suami kamu?" tanya Rara.


"Sama dokter itu. Kalau suami aku, udah aku bikin mati dia ditabrak kereta. Aku tutup kupingnya pas dia pulang sekolah. Enak banget dia bisa melanjutkan hidupnya sekolah sedangkan aku diumpetin sampai melahirkan. Itu pun ternyata dia menjual bayi aku dan sengaja membuatku mati," keluh Sisi.


Rara dan Raja mulai mundur. Hantu kuntilanak yang polos dan lugu ini ternyata mampu menghabisi nyawa suaminya sendiri.


"Kenapa pada mundur? Takut, ya?" tanya Sisi.


Raja dan Rara mengangguk.


"Aku cuma bunuh dia doang, kok. Terus sama dokter perempuan yang nyebelin ini nanti, yang udah buat aku gentayangan karena dendam." Sisi terlihat menggebu-gebu.


"Kalau perempuan mati pas lagi hamil kenapa rata-rata jadi kuntilanak ya, Ja?" bisik Rara.


"Ditambah dengan dendam kesumat. Kekuatannya buat menyakiti manusia bisa berkali lipat dan bahkan bisa membunuh," bisik Raja.


"Kenapa pada ngeliatin aku begitu? Aku jelek ya?" Sisi mengusap air matanya sampai bagian bawahnya tambah menghitam.


"Eh, kata siapa kamu jelek? Kamu cantik, kok!" seru Raja.


"Lebih cantik dari Rara?" tanya Sisi.


Raja melihat ke arah Rara yang akhirnya meminta Raja mengangguk.


"Iya, lebih cantik kamu sama Rara," kata Raja akhirnya.


"Huaaa... kamu so sweet banget Raja sampai bilang aku lebih cantik di depan Rara," ucap Sisi yang mencoba mendekat dan menyenderkan kepalanya di bahu Raja.


"Cukup ya, kalau gini caranya aku berani jambak-jambakkan sama kuntilanak!" sungut Rara.


"Eh, udah udah. Aku penasaran sama Sisi. Kamu masih inget dokter perempuan yang ambil bayi kamu, nggak?" tanya Raja.


"Masih. Namanya kalau nggak salah, Dokter Salma," sahut Sisi.


"Hah? Dokter Salma? Jangan-jangan ini temennya Kak Anta yang baru buka klinik kemarin," gumam Raja.


"Kamu kenal, Ja?" tanya Rara.


"Nggak kenal, sih. Tapi siapa tahu dia dokter yang sama," kata Raja.


"Kalau begitu, antar aku ketemu sama si dokter sialan itu!" sungut Sisi.

__ADS_1


...******...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2