
Bab 64 PMM
"Heh, nggak usah ngintip-ngintip! Siapa kamu?" tanya Raja yang langsung menuju ke kamar mandi.
Akan tetapi, hantu perempuan itu sudah menghilang.
"Kenapa, Ja?" tanya Rara.
"Ada hantu perempuan yang ngintip tadi," jawabnya.
"Tante Key, bukan?" bisik Rara.
"Bukan kayaknya." Raja menggeleng.
"Kalian lihat hantu, ya? Jangan-jangan itu hantu yang kemarin neror gue. Dia pengen gue jadi bonekanya. Terus dia bikin gue ngerasa bersalah banget," ucap Briana.
"Hantu perempuan yang neror kamu?" tanya Rara.
Briana kembali mengangguk lagi.
"Hantu cewek dari rumah kosong itu," sahut Briana lalu menceritakan kisahnya setelah melewati rumah kosong di belakang rumah Pak Johan.
"Rumah kosong yang sama tempat kita lihat cewek mirip Dokter Salma," kata Raja.
"Terus?" Rara mengernyit.
"Kamu mau ikut aku ke sana, nggak?" Raja menawarkan.
"Ah, ngaco kamu! Nanti bunda kamu marah tau," sahut Rara.
"Tapi itu jalan satu-satunya buat kita tau tentang rumah itu," ucapnya.
Rara menatap Raja lekat lalu berucap, "aku takut, Ja."
"Ya udah kalau gitu biar aku aja minta anterin Om Lee," kata Raja lagi.
"Duh, perasaan aku nggak enak tau. Biarin aja deh, nggak usah korek korek lebih dalam lagi," pinta Rara.
Raja terdiam lalu mengangguk. Namun, di dalam hatinya Raja tetap bersikeras. Dia akan mengunjungi rumah kosong tersebut dan mencari tahu tentang penampakan perempuan yang mirip Dokter Salma dan juga hantu perempuan yang meneror Briana.
...***...
Malam itu, Raja bermimpi kalau dia ditendang masuk ke dalam tanah berlubang oleh sesosok perempuan. Sosok itu lantas menyekop tanah dan membuang ke arah Raja. Pemuda itu merasa dikubur hidup-hidup di tengah malam pada hutan yang senyap.
"Heh, siapa kamu? Mau apa kamu?" pekik Raja.
Sosok perempuan yang wajahnya belum bisa Raja kenali itu tak menjawab. Ia tetap melemparkan tanah pada Raja dengan sekopnya. Raja mencoba bangkit dari kubur sambil meminta tolong, tetapi sampai di atas tak ada siapa siapa. Sosok perempuan tadi pun juga tak ada.
__ADS_1
Tubuhnya terlihat penuh tanah yang bersatu dengan keringat. Raja lalu mencoba berlari di tengah hutan sambil berteriak meminta tolong. Tak dia temui siapa pun, kecuali suara-suara asing hewan malam.
Terdengar bisikan yang meminta Raja untuk kembali. Setelah berhasil keluar dari hutan, Raja malah tiba di keramaian kota. Raja benar-benar merasa kebingungan. Lalu, dia tetap berjalan sampai pemuda itu melihat seseorang muncul.
"Bri? Briana!" pekik Raja.
Sosok perempuan itu menoleh pada Raja lalu melayangkan senyum. Sosok menyerupai Briana itu lalu datang mendekat. Sebuah permintaan yang aneh tercetus dari Briana.
"Hai, tolong beliin aku bakso?" pintanya seraya menunjuk gerobak bakso warna biru yang tiba-tiba muncul di seberang Raja.
"Hah? Minta bakso?" Raja memastikan lagi kalau Briana memang meminta tolong untuk dibelikan sebungkus sate.
"Iya," sahutnya mengangguk.
Raja yang masih bingung, lalu tetap menerima perintah Briana. Dia membelikan temannya bakso di seberang dari tempat dia berdiri. Ketika sampai di sana, seorang perempuan paruh baya yang menutup sebagian wajahnya dengan kerudung selendang langsung begitu cepatnya memberikan pesanan tanpa Raja minta lebih dulu.
"Kok, tahu Bu saya mau pesen bakso?" tanya Raja seraya menerima mangkuk bakso yang agak panas itu.
"Iya, dong. Kan kamu nyamperin gerobak saya. Berarti kamu mau beli bakso. Yuk, dimakan di depan saya, ya."
"Lah?"
"Udah makan aja. Biar saya tahu rasa bakso saya seperti apa," kata wanita misterius itu.
"Tapi ini buat temen saya, Bu," jawab Raja.
"Lah? Makin nggak enak aja perasaan ku ini," lirih Raja.
Meski ragu dan bimbang, entah kenapa Raja malah duduk dan menerima tawaran si penjual bakso. Akan tetapi, ketika Raja memakan bakso uratnya, giginya langsung rontok semua. Namun, tak ada rasa sakit yang ia rasakan.
Raja semakin terkejut ketika wanita si penjual bakso itu membuka selendang yang menutupi wajahnya. Tak ada wajah di sana yang terbentuk.
"Astagfirullah! Bener kan setan ini mah yang jualan," sungut Raja.
Raja makin tersentak ketika sosok si penjual tadi malah datang dengan menenteng sebuah golok. Ia mengarahkannya pada Raja.
Jelas saja, pemuda itu langsung ketakutan dan berlari mencari Briana untuk meminta bantuan.
Belum sempat dia bertemu dengan Briana, Raja merasa ada sesuatu yang memenuhi mulut dan tenggorokannya. Raja bahkan sampai tak bisa bernapas, apalagi bicara. Mulutnya penuh dengan rambut.
Raja menarik rambut yang semakin panjang itu sampai berhasil keluar semua. Kini, Raja malah memuntahkan gumpalan darah. Tubuhnya terasa dingin dan kaku.
Lalu, datang banyak orang yang lantas mengerumuni Raja. Pemuda itu sudah terkapar di tanah, menatap tak percaya pada wajah-wajah yang ia kenal tersebut. Wajah, Briana, Raisa, Ajeng, dan Devan bahkan menertawainya.
"Sudah saatnya kamu mati!" hardik mereka satu persatu.
Raja mencoba merangkak mundur dan berusaha menyelamatkan diri tetapi tak bisa dia lakukan. Mereka memegangi kaki dan tangan Raja.
__ADS_1
"Kamu harus mati! Kamu harus mati!"
Suara mereka terus terngiang-ngiang. Bahkan mereka mulai menarik tangan dan kaki Raja sampai pemuda itu berteriak kesakitan.
"Aaaaaa, lepaskan aku! Lepaskan aku!" pekik Raja.
"Kamu harus mati! Kamu harus mati!" Semuanya masih menarik tangan dan kaki Raja seolah ingin membelah tubuh pemuda itu menjadi empat bagian.
Tiba-tiba, cahaya yang terang menyilaukan berpendar. Para sosok itu menghilang dan Raja merasa ada yang mengguncang bahunya.
"Bunda?"
Raja langsung memeluk Dita yang bergegas merasa ada yang aneh pada Raja. Peluh keringat bercucuran di dahi pemuda itu. Raja terbangun dari mimpi selamanya tadi dan merasa kepalanya sangat pusing. Pinggangnya juga terasa sakit, tangan dan kakinya juga terasa sakit.
"Sepertinya aku mimpi buruk, Bunda. Tapi rasanya sakit semua," kata Raja.
"Yang penting sekarang kamu nggak apa-apa kan, Ja?" tanya Dita yang yang mendengar Raja terus berteriak tadi dab terbangun karena sosok pocong mengetuk kaca jendelanya dengan kepala.
Anan juga ikut hadir di kamar Raja dan bergegas menyisir seisi kamar putranya itu.
"Ketemu, Yanda?" tanya Dita.
Anan merogoh kolong ranjang Raja dan menyorotkan senter. Tak ada apa-apa di sana. Sampai akhirnya, ia mulai curiga dengan isi tas Raja.
"Ada apa ini?" tanya Raja.
Anan dan Dita masih belum menjawab. Anan masih memeriksa dengan saksama lalu mendapatkan sebuah boneka rajut yang aneh di sana.
"Ketemu," ucap Anan seraya memperlihatkan boneka itu pada Dita.
"Jadi benar kata pocong rumah sebelah itu. Dia bilang lihat cahaya hitam jatuh di dekat kamar kamu. Dia bilang itu teluh," ucap Dita.
"Pocong gebetan Tante Silla?" tanya Raja.
"Iya." Dita mengangguk.
"Hmmmm, aku emang mimpi aneh, Bunda. Badan aku ditarik-tarik sampai mau copot semua," ucap Raja.
"Siapa ya kira-kira yang berani ngelakuin ini ke anak kita, Bun?" tanya Anan.
Dita hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Tak lama kemudian, terdengar suara azan subuh berkumandang.
"Sekarang kita salat subuh dulu dan memohon perlindungan," ucap Dita.
...******...
...To be continue ...
__ADS_1
...See you next chapter!...