PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 24 - Menolong Lani


__ADS_3

Bab 24 PMM


"Lan, aku mau kamu berpose cantik, seksi, pokoknya menggoda buat aku, ya?" pinta Dikta.


Pemuda itu meraih kamera digital dari laci meja lalu kembali menghampiri Lani. Dirapikannya rambut Lani dengan satu tangan, kemudian dimintanya perempuan itu untuk tersenyum.


"Lan, aku minta senyum loh!" paksa Dikta.


"I-iya, ini senyum!" Lani benar-benar ingin menangis sebenarnya, hanya saja dia begitu ketakutan karena terintimidasi oleh Dikta.


"Lan, ayolah senyum jangan kayak orang mau nangis gitu," keluh Dikta lalu diletakkannya kamera di atas meja.


Dikta memeluk Lani sesaat seraya mengusap-usap punggung gadis itu.


"Buka baju, ya?" pinta Dikta.


Lani makin terisak. Ditahannya kancing kemeja yang ia kenakan.


"Kok, kayaknya ketakutan bener, sih?" tanya Dikta seraya meraih pisau cutter di laci meja komputernya itu.


"Lan, ini tajam loh. Kamu nggak mau kan kalau aku sayat-sayat pipi mulus kamu itu," ancam Dikta.


"Ta… jangan kayak gini…." Lani memelas.


"Ayolah, Lan! Kamu pakai tanktop juga kan? Cuma buka kemeja aja, kok. Nggak lebih! Atau mau aku koyak-koyak aja baju kamu itu?" Dikta tersenyum menyeringai.


Dengan tangan gemetar, Lani kemudian membuka kancing kemeja satu persatu.


"Nah, gitu dong! Yuk, senyum yang manis!" pinta Dikta.


Lani masih menyisakan isak tangisnya saat Dikta membidikkan kamera ke arah Lani.


"Lan… senyum jangan nangis!" Dikta mulai membentak.


Setengah mati Lani berusaha memenuhi permintaan pemuda yang menurut Lani sakit jiwa itu.


Tiba-tiba, terdengar suara rusuh di lantai dasar rumah Dikta.


"Saya mau ketemu Dikta, Mbok!" seru Tyo.


"Maaf, Mas, Den Dikta nya nggak ada," jawab Mbok Nah mencoba menahan.


"Mbok, saya bisa cium bau badannya Dikta. Jadi, Mbok jangan bohong!" Tyo makin berseru.

__ADS_1


"Kayak doggi pelacak aja bisa ngendus baunya Dikta," bisik Raja.


"Hush, udah elu ikut saran gue aja! Elu alihkan pembokat si Dikta ini. Gue bakalan langsung naik ke atas ke kamarnya!" titah Tyo.


Raja mengangguk menanggapi. Raja langsung menarik tangan Mbok Nah menuju dapur sementara Tyo berlari ke kamar Dikta.


Tyo tertegun di ambang pintu ketika melihat kondisi Lani. Tyo amat terkejut. Dikta menyerahkan kemeja pada Lani.


"Pakai, Lan! Aku nggak mau tubuh kamu dilihat sama Tyo lagi!" seru Dikta.


Lani terlihat pucat pasi dan sangat ketakutan tetapi gadis itu tetap tampak pasrah. Sementara Dikta terlihat begitu puas dan bangga. Rambut gondrongnya dibiarkan terurai berantakan. Tyo mengernyit kala melihat Dikta bertelanjang dada.


"Elu apain si Lani?" tuduh Tyo.


"Gue cuma foto-foto, kok." Dikte tersenyum menyeringai seraya mengecek hasil jepretannya tadi.


Tatapan Lani pada Tyo, tampak seperti tatapan meminta tolong. Dikta tahu akan hal itu sampai tertawa geli di dalam hatinya.


"Elu pasti nggak nyangka kan gue kayak gini," ucapnya pada Tyo sambil menunjuk Lani.


Raja terlihat menyusul dan menatap heran pada Dikta. Mbok Nah datang menyusul dan menatap tak mengerti. Reaksi Mbok Nah malah membuat situasi kembali berantakan bagi Dikta. Dikta langsung meminta Lani ke sudut ruangan. Dikta yakin sebentar lagi Lani akan kabur.


"Mbok, bisa beliin pizza buat kita? Mbok naik ojek aja, nih uangnya!" Dikta menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan pada Mbok Nah.


"Sekarang kita lanjutin foto berdua ya, Lan. Mumpung ada Raja sama Tyo," ucap Dikta seraya meraih kamera digitalnya dari meja.


"Lani, kamu janji bakal nurut, kan? Ayo, senyum!" tukas Dikta.


Lani lagi-lagi tersenyum secara terpaksa.


"Lan, yang bener dong! Jangan sampai si Raja sama Tyo ngira kalau abis difoto kamu bakalan aku bunuh." Dikta mengusap-usap kepala Lani kemudian merapikan rambut gadis itu.


Susah payah Lani memaksakan diri untuk tersenyum. Dikta melanjutkan mengambil foto dengan meminta Raja yang memotret mereka. Lani meremas kesepuluh jarinya kuat-kuat saat Dikta menghampirinya, lalu duduk rapat di belakangnya.


Pemuda itu memaksakan diri untuk memangku Lani. Gadis itu sampai menggigit bibir, menahan risih ketika Dikta melingkarkan kedua tangan dan menarik dirinya ke dalam pelukan. Lani tersentak dan merasakan agak jijik ketika dada yang basah milik Dikta itu terasa dan penuh keringat itu.


Ketakutan dan ketegangan serta senyum yang dipaksakan di wajah Lani tak bisa dihindari. Meskipun mereka berpose layaknya pasangan yang mesra.


Raja yang baru pertama kalinya menyaksikan kalau Dikta ternyata bisa sangat-sangat posesif, menjadi lebih curiga. Mungkin saja kecurigaan Briana benar karena nyatanya sosok Dikta menjadi cenderung psikopat. Kali ini Raja tidak sanggup lagi menyembunyikan keterkejutannya.


Ketika sadar make up di wajah Lani sudah luntur karena keringat juga air mata yang dihapus berkali- kali, Dikta meminta gadis itu untuk berdandan. Dan pemuda itu memerhatikannya dengan serius. Lani selalu tampak cantik di matanya. Tyo mendesis geram. Dihampirinya Raja..


"Gue bakal alihkan Dikta, elu nanti bawa Lani keluar kamar lalu gue akan kunci pintunya, ya," bisik Tyo.

__ADS_1


Dikta mendengarnya dan malah tertawa. Tawa yang benar-benar geli. Setelah itu dia tampak lebih tenang. Dikta melepaskan pelukannya dan hanya meminta Lani duduk tidak jauh darinya.


"Elo kalau mau bisik-bisik jangan kedengeran gue juga kali!" Dikta tampak menertawakan kebodohan Tyo.


Namun tiba-tiba, dengan gerakan cepat dan seketika, Tyo mencekal kedua lengan sahabatnya itu dan mendorongnya ke dinding.


"Raja! Bawa Lani pergi!" serunya.


Seketika pintu terbanting terbuka dan Raja menerjang masuk.


"Bawa Lani pergi! Cepet!" pinta Tyo.


Dikta menggeram marah dan berusaha


melepaskan diri dari cekalan Tyo.


"Raja denger gue! Kalo sampe lo bawa dia keluar dari sini, gue akan–"


"Diem, luh!" bentak Tyo. "Lo udah kelewatan, Ta!" seruny.


Raja cepat menghampiri Lani dan meraih satu tangannya, berusaha menariknya agar berdiri. Akan tetapi, gadis itu sudah menjadi patung hidup. Tidak bereaksi dengan perubahan situasi yang telah terjadi di kamar Dikta kala itu.


Lani hanya bisa berharap kalau semuanya saat itu hanya mimpi buruk. Ini benar-benar menyeramkan, begitu batin Lani. Lani seakan merasa terikat, tak mungkin lagi bisa lari. Tak mungkin lagi bisa pergi dari Dikta.


Hal itu membuat terasa lumpuh. "Cepet berdiri!" bentak Raja tanpa sadar.


Lani menggeleng. "Nggak! Gue nggak mau pergi dari sini. Percuma Ja!" isak Lani.


"Ckckck! Baru gini aja kamu udah lemot," ucap Raja.


Pemuda itu sampai berdecak tak sabar. Terpaksa ditariknya Lani sampai berdiri, lalu tak sengaja dipeluknya Lani dengan satu tangan. Melihat itu kontan Dikta mengamuk.


"Ngapain elu peluk cewek gue!" pekik Dikta sangat Jengkel atas tindakan Raja.


"Sumpah nggak sengaja!" sahut Raja.


Lani malah menantang. Ia memeluk Raja dari samping.


"Rajaaaaaaaaa!" Dikta berseru seraya menatap Raja penuh amarah.


...******...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2