PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 61 - Hantu Rumah Kosong


__ADS_3

Bab 61 PMM


Makan malam bersama di rumah, Adam memohon pada Raja untuk tidak menceritakan petualangan uji nyalinya ke pada Dita. Raja setuju, tetapi tentu saja dengan syarat. Segala yang berhubungan dengan jasa antar makanan di restoran ayahnya, akan dilakukan oleh Adam. Untuk itu, pemuda tersebut menghentikan kegiatan latihan musiknya sementara waktu. Sampai Raja berhenti mengerjainya.


Ketukan di pintu berbunyi, rupanya Anta mampir untuk memberikan siomay buatannya pada keluarga tercinta. Raja membuka pintunya. Sontak saja, Raja langsung membicarakan sosok Salma yang dia lihat di rumah kosong belakang rumah Pak Johan.


"Bentar deh, Ja. Kalau kamu lihat Dokter Salma di rumah Pak Johan, terus kenapa kamu lihat hantu yang mirip dia?" Anta mengernyit.


"Itu dia, Kak. Mana si Boy nggak mau buka mulut soal keterlibatan Dokter Salma tentang penjualan organ manusia itu," sahut Raja.


"Hmmmm, tapi ada saksi si Sisi, kan?"


"Kak, mentang-mentang hamil jangan rada oon banget lah! Masa iya hantu disuruh bersaksi di persidangan?!"


Raja melenguh seraya menyandarkan diri ke sofa.


"Sembarangan luh ngatain bini gue oon!" Arya menoyor kepala Raja sampai mengaduh.


"Ya lagian nyebelin! Masa hantu diajak sidang jadi saksi?! Yang ada nanti kita dibilang gila!" sungut Raja.


"Bener juga, sih. Kalau gitu coba aja temui si hantu rumah kosong itu. Tanyain dia siapanya si Salma. Terus kenapa dia bisa ada di rumah kosong itu," ucap Arya yang langsung menggeser Anta dan membuat sang istri bersandar ke padanya seraya memeluknya.


"Oh iya tuh bener juga, Ja. Kamu temui aja hantu perempuan rumah kosong itu," ucap Anta.


Raja lantas menatap keduanya tajam.

__ADS_1


"Ngapa luh?!" seru Arya.


"Bisa nggak jangan mesra-mesraan gitu? Emangnya kalian pikir aku nggak pengen apa meluk Rara begitu?!"


Raja bersungut-sungut seraya bangkit dan berkacak pinggang.


Anta dan Arya sontak saja menertawai polah adiknya itu. Raja lantas naik ke lantai dua menuju ke kamarnya dan menghubungi Rara. Dia meminta Rara untuk kembali ke rumah kosong tersebut ketika esok hari.


...***...


Aura di sekitar jalan menuju kos tempat Briana tinggal sekarang memang terasa agak berbeda. Suasana jalan nya begitu sepi, tanpa ada lalu lalang kendaraan maupun orang-orang yang melintas.


"Gila ini sepi banget jalannya. Pantesan tempat kos baru gue murah. Lingkungannya kayak gini kali ya nggak laku," gumamnya seraya melangkah cepat di sisi pinggir jalan yang ditumbuhi pohon-pohon besar.


Pohon-pohon itu mungkin sangat menyejukkan jika di siang hari yang terik. Namun, jika malam seperti itu tentu saja menambah aura mistis yang begitu kental terasa. Briana melirik arloji yang menunjukkan pukul sebelas malam. Kalau dia tak butuh uang untuk menutupi hutang ayahnya, dia tak akan mengambil lembur di kantor ayahnya Dikta.


Briana kembali menghela napas saat melewati jalan itu malam hari. Ia tak pernah menyangka akan seperti ini rasanya. Perempuan muda itu meyakinkan diri dengan memandang ke depan tanpa menoleh ke manapun lagi. Hal itu dia lakukan demi mengurangi rasa takut yang mulai ia rasakan. Sampai suatu ketika secara tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.


“Briana… Briana…."


Tiba-tiba terdengar suara lirih memanggil Briana dari arah belakang. Rasa takut itu seolah semakin menyebar ke seluruh tubuh.


“Siapa, ya?” tanya Briana sambil menoleh ke belakang.


Dan teryata tidak ada siapa siapa di sana. Pikiran perempuan itu mulai melayang ke mana-mana tanpa bisa mengontrolnya. Namun, Briana mencoba untuk bersikap tenang sambil meneruskan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Meskipun begitu, ia masih bingung siapa yang memanggilnya. Dan kini, Briana malah merasa kalau ada yang sedang mengawasi dari belakang.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Briana tiba di sebuah jalan yang berada di depan sebuah rumah kosong yang cukup besar. Cat putih yang lusuh itu memperlihat dinding yang retak dan banyak sarang laba-laba di area depan rumahnya. Apalagi suasana sangat gelap ditambah lampu yang hidup, mati, hidup, mati, yang langsung membuat bulu kuduk berdiri semua.


"Oh, jangan-jangan ini rumah kosong yang viral waktu itu, ya?" gumamnya.


Menurut kabar burung yang pernah Briana dengar, sebelum rumah itu kosong ada seorang remaja perempuan yanh membunuh ayah dan ibunya sendiri waktu tidur. Ia melakukannya dengan cara menusuk menggunakan pisau dapur berkali-kali. Lalu kemudian, anak itu menggantung dirinya sendiri di depan mayat ayah dan ibunya setelah melakukan semua itu.


Sejenak langkah Briana memang terhenti. Sampai akhirnya ia mendengar suara rintih perempuan.


"Tolong… tolong….”


Briana berusaha menyimak dan yakin kalau suara tersebut terdengar dari dalam rumah angker itu. Seketika itu juga tangan Briana mulai gemetaran tak terkendali. Bahkan ia berusaha menghubungi Rara, tetapi tangannya gemetar. Dengan meyakinkan hati, Briana mengabaikan kembali suara rintihan perempuan itu dan memilih untuk tetap melangkah.


“Toloong aku….”


Suara itu terdengar lirih, kembali tertangkap oleh kedua gendang telinga Briana. Suara yang seolah memendam rasa sakit yang begitu mendalam.


Sontak saja Briana memilih lari. Namun, saking panik nya, Briana terantuk sesuatu yang membuatnya mengaduh.


"Awww! Duh, sial” kata Briana.


Perempuan panik dan lari terburu-buru itu tersandung sesuatu yang membuatnya jatuh tersungkur itu. Kedua matanya mulai mencari-cari apa yang membuatnya terjatuh. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah boneka bayi yang sudah terlihat lusuh.


Bagian kepalanya juga hampir terlepas dari tubuhnya. Boneka itulah yang membuat Briana terjatuh. Briana semakin ketakutan yang menjadi jadi. Dia melihat apa yang membuatnya terjatuh itu dengan bergidik ngeri. Tanpa pikir panjang lagi, Briana langsung meninggalkan boneka itu dan terus berlari menuju kos yang mulai terlihat.


...*****...

__ADS_1


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2