
Bab 40 PMM
"Maaf ya, saya udah coba sabar sama kamu. Jangan mentang-mentang kamu cakep, jadi seenaknya aja godain perempuan!" sahutnya ketus.
Jaya segera mengeluarkan ponselnya. Dia mencari foto-foto anak Mapala Merah yang di dalamnya terdapat foto Raisa. Lalu dia tunjukkan foto Raisa itu pada perempuan di hadapannya.
"Nih, mirip kan?" tunjuk Raja.
Raina dan Sheila menatap layar ponsel Raja dan mengamatinya dengan saksama.
"Mirip, Na, ama elu!" bisik Sheila.
"Iya sih mirip. Tapi kayaknya cakupan gue." Raina menyodorkan ponsel itu ke pemiliknya.
"Kamu punya kembaran, kan?" tanya Raja lagi.
"Mana saya tahu! Gue udah hidup sendirian dari kecil di panti asuhan bareng Sheila. Gini deh, gue udah sabar ya dari tadi, gue udah malas pake bahasa sopan sama elu. Sekarang pergi dari tempat ini atau gue panggilan polisi ke sini, gimana?" ancam Raina.
"Eh, tunggu dulu dong! Dih, jutek banget luh!" sungut Raja lantas melangkah keluar menuju kursi yang ada di depan minimarket seraya mengamati sosok Raina.
Raja ingin memastikan juga, sosok perempuan itu berbeda atau masih sama dengan Raisa. Namun semakin diamati, sosok perempuan itu memang berbeda dengan cara Raisa berbicara.
***
Raja bertemu Rara dan Briana di kampus. Dia membawa Anta bersamanya.
"Kenalin itu kakaknya Raja," kata Rara pada Briana.
"Cantik ya kakaknya Raja. Pasti jadi rebutan, kayak Raja," sahut Briana.
"Kamu gak lagi mikir buat ngerebut Raja dari aku, kan?" Rara mulai menyelidiki.
"Hahaha, tenang aja, Ra. Gue rasa juga Raja nggak mudah buat tertarik sama perempuan lain selain pacarnya. Gue yakin Raja setia, kok." Briana merangkul Rara yang langsung sumringah.
"Kenapa Lani nggak datang?" tanya Raja mendekat.
"Lagi di jalan. Nggak lama lagi juga datang, kok," jawab Rara.
Gadis itu lalu mencium punggung tangan milik Anta. Briana juga ikut serta seraya memperkenalkan diri. Tak lama kemudian, muncul Lani yang baru turun dari taksi online. Ia datang menyapa dan memperkenalkan diri pada Anta. Sempat agak lama Anta menjabat tangan Lani karena aura yang gelap sangat terasa. Namun, Anta tak dapat melihat apa pun kenangan yang berbau mistis dari gadis itu.
Raja lalu membawa semua perempuan itu ke gedung fakultas teknik komputer, yang terdapat perpustakaan tempat Ajeng kerap terlihat bergentayangan.
"Elu tadi bilang apa, kita mau ketemu Ajeng?" tanya Lani pada Rara.
Rara mengangguk.
"Hantunya Ajeng, Lan." Briana menimpali.
"Masa, sih? Mereka mau sulap apa gimana?" Lani masih merasa tak percaya.
"Udah kita lihat aja nanti," ucap Briana.
Anta melirik ke arah kantin kampus Rara dan Raja saat melintas.
"Lumayan banyak penampakan ya, Kak?" bisik Rara.
__ADS_1
"Sebenernya sih Kak Anta fokus sama makanannya hehehe. Kayaknya itu bakso, bakmi, batagor, siomay, dimsum, es jus buah, terus apalagi itu … ummm macaroni panggang enak banget!" Anta sampai mengusap bibirnya.
"Hmmmm, salah nanya aku. Aku pikir bakal bahas hantu taunya makanan," lirih Rara.
"Ada yang janji loh, Ra, mau beliin makanan apa aja yang Kak Anta mau," kata Anta sambil melirik ke arah Raja.
"Iye iye, duitnya udah ada kok buat traktir Kak Anta sepuasnya," sahut Raja menimpali.
"Bagus, dong! Alhamdulillah!" Anta tersenyum kegirangan lalu melangkah lebih dulu menuju gedung fakultas teknik. Sesekali ia melambai pada beberapa hantu yang melintas tak jauh darinya.
"Uang dari mana, Ja? Yanda apa bunda kamu yang kaus uang tambahan buat traktir Kak Anta?" bisik Rara pada Raja.
"Dari suaminya, lah! Aku bilang kalau Kak Anta ngidam makanan di kampus aku ke Kak Arya. Ya udah deh aku dikasih duit sama dia hehehe. Baik banget kan kakak iparku itu," jawab Raja.
"Hadeh… pantes semangat banget pas Kak Anta minta traktir. Taunya ada aja akal kamu." Rara mencubit pinggang Raja dengan gemas.
Di belakang keduanya, tampak Lani dan Briana yang iri melihat kemesraan keduanya.
"Eh, si Boy gimana?" tanya Briana.
"Jangan ngomongin dia, deh. Dia tuh lebih sakit jiwa dibanding Dikta," sungut Lani.
"Kok, bisa?" Briana mencoba mencari tahu dari Lani.
"Kapan-kapan aja gue ceritain kalau gue lagi mood," sahut Lani.
Tak lama kemudian, Raja mempersilakan Briana dan Lani untuk duduk di dekat perpustakaan lantai lima.
"Oke, sekarang pegang tangan Anta!" pinta Anta.
Briana dan Lani sontak menjerit histeris. Begitu juga dengan Ajeng.
"Lah, jadi main jerit-jeritan gini!" Raja menutup kedua lubang telinganya dengan telapak tangan.
Begitu juga dengan Anta dan Rara.
"Heh, heh, heh! Udahan jeritnya!" Anta akhirnya menepuk tangannya berkali-kali agar mereka berhenti berteriak.
"Mereka siapa, sih? Kok takut sama gue?" tanya Ajeng.
"Lah, kamu tuh setan, Jeng! Wajar kalau pada takut!" sahut Raja.
"Oh iya iya, gue lupa." Ajeng tersenyum.
"Ja-jadi, jadi Ajeng gentayangan?" Briana menatap tak percaya.
"Dia pasti mau cari tahu siapa yang bunuh dia, ya?" Lani terlihat pucat pasi.
Ajeng mengangguk, mengiyakan.
"Bukan gue yang bunuh elu, Jeng!" Briana langsung berlutut di depan Ajeng.
Lani juga ikut serta, "bukan gue juga yang bunuh elu, sahabatku Ajeng!"
Ajeng menggaruk kepalanya sampai memperlihatkan noda darah makin melebar di jilbabnya. Briana dan Lani mundur seketika karena takut.
__ADS_1
"Gue juga nggak tahu siapa yang bunuh gue soalnya otak gue kececer jadi lupa, hehehe." Ajeng sampai meringis.
"Nah, tau kan kalau dia Jadi hantu yang hilang ingatan? Jadi, mari bantu Ajeng buat ingat semuanya biar pembunuhnya cepet ketemu. Nanti kalau udah ketemu, aku yakin Ajeng bakal pergi dengan tenang," ucap Raja.
Lani dan Briana akhirnya mengangguk. Setelah mereka pamit dari Ajeng, Anta kembali menagih janji untuk makan siang di kantin yang ada di kampus Raja.
Saat keluar dari gedung fakultas teknik komputer, Raja tak sengaja menabrak Pak Adrian.
"Maaf, Pak, maaf saya nggak sengaja," kata Raja seraya menunduk.
"Tak apa-apa, Ja." Pak Adrian lantas berlalu meninggalkan Raja.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya Raja.
"Kok, aku nggak bisa lihat bayangan Pak Adrian itu, ya?" tanya Raja dalam hati.
Tiba-tiba, sosok yang menggunakan jubah hitam dengan tudung menutupi kepalanya terlihat. Sosok itu mengikuti Pak Adrian. Raja kembali memastikan lagi penglihatannya.
"Kenapa, Ja?" tanya Anta menepuk bahu adiknya.
"Nggak ada bayangannya Pak Adrian di cermin."
Raja hendak bergegas menghampiri Pak Adrian, tetapi Anta menahannya.
"Ingat, Ja, kita emang bisa nolong hantu atau nolong manusia dari kejaran hantu. Tapi, kita nggak bisa mencegah manusia dari takdir kematiannya. Bunda kan udah sering mengingatkan itu. Jangan campuri urusannya malaikat maut," kata Anta mengingatkan.
"Tapi, Kak–"
"Ja… nurut sama Kak Anta! Jangan, ya!" pinta Anta memohon.
Akhirnya Raja menurut
...***...
Sepulangnya dari kampus, Lani meminta tumpangan pada Raja alih-alih memesan taksi online untuk pulang. Sementara Briana langsung pergi menuju ke tempat kerjanya yang freelance.
"Sudah sampai, Bu, sesuai aplikasi ya. Tapi maaf cuma bisa sampai depan gerbang ini saja," ucap Raja seolah menjadi sopir taksi online di mobil Arya tersebut.
"Iya, Ja, nggak apa-apa. Makasih banyak ya semuanya, daaaaaah!" Lani lantas membuka pintu mobil alu turun.
Ada mobil taksi online yang melaju lurus melewati mobil Raja menuju perempatan jalan raya. Di dalamnya, Raja masih melihat sosok berjubah hitam itu ada di dalam mobil, tepat di samping penumpang pria yang Raja kenal.
"Pak Adrian?" Raja menatap tak percaya.
"Ada apa, Ja?" Kini gantian Rara yang penasaran.
"Itu Pal Adrian, Ra. Di sampingnya ada orang yang pakai baju jubah hitam di dalam mobil itu. Aku juga nggak bisa lihat bayangan dia di cermin tadi, " kata Raja mulai panik dan ingin menyusul mobil taksi yang digunakan Pak Adrian.
"Ja, tadi Kak Anta bilang apa, jangan campuran urusan malaikat pencabutan nyawa!" seru Anta.
"Tapi, Kak–"
Brak!
...*******...
__ADS_1
^^^Bersambung dulu ya, see you next chapter!^^^