PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 77 - Kematian Mengerikan


__ADS_3

Bab 77 PMM


Suster Ella menutup pintu kamar Boy yang terus berteriak minta tolong dan menguncinya. Lalu, mulailah keributan terjadi. Pasien-pasien yang ada di kamar lain ikut membuat kegaduhan yang sama dan berteriak. Suster Ella yang biasanya sudah terbiasa menghadap hal tersebut malah menjadi panik. Ia segera bergegas meminta bantuan suster lain atau penjaga rumah sakit dan juga dokter jaga.


Namun, seiring langkahnya menuju ke tempat dokter jaga, Suster Ella merasakan kengerian yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Suhu udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi lebih dingin dari biasanya. Apalagi ditambah dengan lampu - lampiran sepanjang lorong yang ada di langit-langit, mati hidup mati hidup dengan sendirinya. 


Akan tetapi, kegaduhan di lorong tersebut mendadak berhenti. Hening kemudian di sekitarnya. Dan yang paling membuat suster ini penasaran adalah, tak ada lagi suara yang dirinya dengar di tengah lorong panjang rumah sakit jiwa ini. 


"Kok, jadi sepi, ya?" gumamnya.


Rasa penasaran yang menyeruak malah membuat Suster Ella kembali dan mendekat. Ia menuju ke salah satu pintu yang ada di sampingnya, tak ada pergerakan sama sekali dari pasien-pasien yang tadi membuat kegaduhan.


Suster Ella melongok lubang yang ada di pintu kamar yang biasa dipakai untuk melihat aktifitas dari para pasien sakit jiwa. Tiba-tiba saja Suster Ella tersentak, kala melihat wajah si pasien pria tua yang langsung datang kepadanya sambil berteriak.


"Tolong saya! Iblis itu datang! Iblis itu datang!" serunya.


Suster Ella lantas terheran dengan perubahan sikap yang rupanya terjadi kepada semua pasien di lorong rumah sakit jiwa itu. Tidak hanya pasien bapak tua itu saja, tetapi kini semua pasien meminta tolong dan menunjuk ke arah yang sama, mengarah pada satu pintu di mana Boy berada.


"Tolong! Tolong lepaskan aku! Iblis itu akan datang!" pekik pasien lainnya.


Suster Ella kini yakin kalau para pasien itu menunjuk ruangan tempat Boy dirawat. Dengan langkah cepat, Suster Ella berlari menuju ke kamar Boy. Kembali lagi ia merasa bulu kuduknya kembali meremang. Dia harus mencari tahu apa penyebab dari segala kejanggalan ini. 


Tangannya gemetar hebat kala mencari kunci yang tepat untuk kamar di mana Boy berada. Suster Ella mulai panik. Pada  akhirnya ia dapat membuka pintu tersebut. Seketika suara berderit dari pintu yang terbuka terdengar menggema sampai ke seluruh ruangan. 


Akan tetapi, Suster Ella malah terdiam. Dia tak tahu apa yang terjadi ketika dia melihat sesosok bayangan hitam keluar dari kamar Boy menuju jendela dan menghilang. 


Lalu, tubuh Boy yang tengah meringkuk di sudut kamar itu meraung-raung kesakitan. Pemuda itu lalu memuntahkan gumpalan darah yang menghitam. Beberapa kelabang besar lantas keluar dari lubang-lubang yang ada dari tubuh Boy. Bahkan ada yang memaksa keluar dari rongga matanya.


Pemuda itu berteriak kesakitan sampai akhirnya tak bernyawa di hadapan Suster Ella. Sang suster hanya bisa melangkah mundur perlahan sampai membentur dinding. Punggungnya merosot sampai bokongnya menyentuh lantai. 


Pandangannya masih melotot dengan mulut menganga karena tak percaya dengan apa yang dia lihat dari tubuh Boy yang mulai berlubang dikerubuti kelabang berukuran lebih besar dari kelabang pada umumnya. Jiwa Suster Ella lantas terguncang kemudian.

__ADS_1


Jauh dari rumah sakit, Karina yang berada di tubuh Salma menepuk bahu seorang gadis berambut panjang sepunggung itu. Ia tersenyum bangga dengan perempuan muda yang cantik itu.


"Bagus, Nak. Kita sudah tak membutuhkan Boy lagi. Dia bisa membahayakan kita nantinya. Tetap kembangkan ilmu teluhmu ini," ucap Karina.


"Baik, Kanjeng Ratu." Gadis yang berwajah serupa Raisa itu tersenyum bangga.


"Kau tahu kan siapa selanjutnya?" tanya Karina menoleh ke arah gadis itu sebelum melangkah keluar kamar tersebut.


...***...


Pagi itu, Tyo berada di sebuah villa. Dia meminta Briana untuk menemuinya. Pemuda itu sangat marah dan ingin melampiaskan kemarahannya pada Briana. Namun, Tyo mengirim pesan cinta penuh kelembutan yang memberitahukan Briana kalau ia merindukannya. Pemuda itu sedang berbohong. Bahkan ia sampai nekat ingin menghabisi Briana kalau perlu.


Sinar matahari telah berhasil menembus sempoyongan dan membuka gorden itu. Pegunungan Salak yang dikelilingi tumbuhan hijau itu menjulang terlukis di hadapannya. Tyo berdiri di beranda lantai dua villa tersebut.


Salah seorang warga berjalan santai membawa cangkul. Sesekali ia menoleh pada Tyo dan tersenyum lalu pergi lagi. Ada juga seorang wanita paruh baya tengahenyapu halaman. Kemudian wanita itu berhenti melakukan pekerjaannya ketika ada penjual buah yang menjajakan hasil kebunnya dengan senyum ramah. 


Pagi ini bukannya merasa damai, Tyo justru melihat dua bocah kecil yang bermain di halaman sebuah taman kanak-kanak yang tengah libur. Dua bocah laki-laki itu memakai baju yang sangat kumal dan tubuh mereka sangat kurus. 


Sesekali Tyo memeriksa arloji miliknya di tangan kiri. Dia pun menggerutu kala Briana belum juga hadir di sana. Namun, tak lama kemudian suara ketukan di pintu terdengar. Tyo tersenyum seraya melangkah membuka pintu rumah villa itu.


"Elu kemana aja sih, Bri?" Tyo yang membuk pintu lebar menyambut Briana tiba-tiba terbelalak kala mendapati sosok itu bukanlah sosok yang ia tunggu.


"Raisa?!" pekik Tyo.


"Halo, pengkhianat!" 


"Nggak mungkin! Elu bukan Raisa! Raisa udah mati!" seru Tyo.


"Menurut luh, Yo?" Gadis itu langsung menancapkan pisau lipat miliknya ke perut Tyo.


Mendorong tubuh pemuda itu sampai jatuh tersungkur. Aliran merah segar nan anyir mengucur mengotori tangan si perempuan yang tertawa dengan puasnya. Bukan cuma sekali tusuk, tetapi berkali-kali ia menusuk dada dan perut Tyo.

__ADS_1


"Kali ini elu nggak akan bisa selamat lagi, Tyo Sayang," lirih sang perempuan di telinga Tyo.


"Ra-raisa…." 


Kata terakhir yang bisa diucapkan Tyo sebelum akhirnya ia mengembuskan napas terakhirnya menjadi tak bernyawa.


"Ya, gue emang Raisa." Perempuan itu lantas mengangkat tubuh Tyo dan membuat pria itu duduk di atas sofa. Pisau lipat itu masih menancap di dada kiri Tyo.


Raisa kemudian pergi meninggalkan pemuda itu begitu saja di dalam villa tersebut. Tak lama kemudian, Briana datang mengetuk pintu villa tempat Tyo menunggunya. 


Briana tersentak kala hendak mengetuk pintu. Jelas saja kalau pintu tersebut tidak terkunci dan dalam keadaan tidak tertutup. Ada celah yang ketika Briana mendorongnya membuat daun pintu itu terbuka semakin lebar.


Sepasang kaki ramping itu melangkah masuk seraya memanggil nama Tyo. Betapa terkejutnya Briana kala mendapati tubuh pemuda itu tak bernyawa duduk di atas sofa dengan berlumuran darah.


Briana menyentuh leher Tyo yang sudah tak memiliki denyut. Bodohnya lagi, Briana tak sengaja meninggalkan sidik jari pada pisau lipat yang masih menancap di dada pria muda itu.


"Neng siapa ya ada di rumah ini– aaaaaaaaaaaaa!" 


Seorang wanita paruh baya yang kerap membersihkan villa, sangat terguncang ketika mendapati Briana berhadapan dengan Tyo yang sudah tak bernyawa.


Wanita paruh baya itu langsung berlari keluar rumah dan dengan panik meminta tolong.


"B-b-bukan saya yang bunuh dia, Bu!" Briana berusaha mengejar wanita paruh baya tadi.


Namun, wanita tua itu sudah ketakutan dan mendorong Briana menjauh. Bahkan didorongnya kuat-kuat sampai Briana jatuh tersungkur. Beberapa warga berdatangan dan menahan Briana. Wanita paruh baya tadi juga menuduh Briana lah yang sudah membunuh Tyo.


...******...


...To be continue ...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2