
Bab 50 PMM
Sudah menjelang fajar. Langit gelap di timur mulai menjingga, saat Dikta akhirnya mampu sedikit berdamai dengan dirinya. Menerawang cakrawala dari beranda teras kamarnya.
Drip merah itu hia asap seiring dengan kepulan asap yang tercipta dari vape di tangannya. Hari ini pukul delapan pagi, jadwalnya bertemu seorang psikiater yang akan mendengarkan sesi curhatnya.
Diraihnya ponsel di atas meja. Lalu diaktifkannya kembali, banyak panggilan tak terjawab dari Tyo. Lalu, ditekannya nama Tyo di daftar kontak. Begitu Tyo mengangkat telepon, Dikta langsung bicara bahkan sebelum Tyo sempat membuka mulut.
"Lepasin Lani, Yo! Kalau elu mau ambil aja!" Dikta seolah tahu apa yang sedang diinginkan Tyo.
Sosok sahabatnya tercengang. Sesaat Tyo sampai tidak bisa bicara. Lalu, akhirnya tersadar.
"Bisa ... diulang lagi elu bilang apa?" tanya Tyo yang kemudian dengan sangat hati-hati berucap dan mendengarkan jawaban Dikta.
Dikta terdengar mengertakkan gerahamnya kuat-kuat. Perlahan kedua matanya menutup. Pria itu sepenuhnya sadar dan tidak tengah mabuk. Dikta benar-benar sedang merasa sedang melangkah menuju kekosongan.
"Gue udah lepasin Lani. Elu ambil aja," ucap Dikta kemudian.
Suaranya terdengar berat dan susah payah. Di seberang sana, Tyo tengah tertegun. Beberapa detik kesenyapan mulai mendominasi. Tyo masih menunggu apa ada lanjutan lagi yang ingin Dikta bicarakan. Namun, sahabatnya itu sudah tidak ingin bicara lagi. Akhirnya Tyo menghela napas. Napas yang berat dan panjang lalu berkata, "Oke, kalau itu mau lu, Ta."
"Ketemu siang ini di Club Jimbon," ucap Dikta lalu sambungan ponsel itu tertutup.
...***...
Tyo tak menyangka kalau Dikta berada di sebuah club house yang memiliki studio tatoo.
"Elu mau pasang tatoo?" tanya Tyo.
"Menurut elu gue mau pasang behel, gitu? Ya, gue bawa elu ke sini karena gue mau tatoo -in badan gue, lah!" sahut Dikta.
"Nah, gitu dong! Rambut gondrong, badan gede, anak gunung lagi, jadi tambah keren kalau bertatoo," seru Tyo.
"Hmmm…." Dikta mengangguk.
__ADS_1
Seorang pria bertubuh gemuk dan besar dengan rambut gondrong, meminta Dikta untuk duduk.
"Bang, gue mau dong ditatoo yang nggak bayar ada, nggak?" canda Tyo.
"Boleeeh. Tapi pake tinta printer. Mau elo?"
Ocehan pria itu sukses membuat Dikta dan Tyo tertawa. Dikta melepas kancing-kancing kemejanya lalu dilemparnya kemeja itu begitu saja ke wajah Tyo.
"Sompret, luh!" Tyo melempar kemeja Dikta ke sudut ruangan. Kemudian dia berjalan menuju kursi di sudut yang lain dan menjatuhkan diri di sana.
"Elu mau nato di mana?" tanya Bang Zul.
"Di dada kanan aja," sahut Dikta.
"Objeknya apa?" tanyanya lagi.
"Terserah elo aja, dah! Pokoknya gambar yang susah juga nggak apa," sahut Dikta.
Bang Zul si pemilik jasa pembuatan tato, mengerutkan kening mendengar kalimat itu.
"Biar mereka nebak aja sendiri gambar apaan di dada gue. Udahlah kerjain aja! Gue bikin tato bukan untuk diliat orang, gue cuma ngerasain sakitnya aja. Tolong bikin gambar yang paling rumit." Selepas Dikta mengoceh ia memejamkan matanya.
"Udeh kerjain aja, Bang Zul! Dia emang rada-rada orangnya!" sahut Tyo.
Dikta mulai memejamkan mata saat jarum mulai menusuk-nusuk dada kanannya. Sesekali ia berteriak karena sakit tetapi lama kelamaan dia tahan. Namun sejujurnya, kalau bisa Dikta ingin merasakan yang jauh lebih sakit dari ini. Agar bisa mengurangi rasa bersalahnya pada semua mantan-mantannya, sedikit saja.
Tyo tidak banyak berkomentar saat mereka mengetahui di dada Dikta sudah bertato. Apalagi Dikta mulai merokok bukan hanya menggunakan alat vape, tetapi rokok tembakau juga. Di membiarkannya. Setidaknya itu bentuk pelarian yang risikonya cukup minimalis dan hanya menimpa yang bersangkutan di samping narkoba atau minuman keras.
...***...
Siang itu, Dikta masih berada di jalan tikus menuju sebuah tempat dimana ia berjanji untuk bertemu Raja dan Rara di sebuah kafe dekat minimarket tempat perempuan yang mirip Raisa berada.
Awalnya ia pikir jalan tikus yang ia tempuh itu akan membuatnya bisa sampai lebih cepat ke tempat tujuan, tetapi ternyata jalan itu juga justru malah menjadi pilihan banyak orang untuk dilewati.
__ADS_1
Dikta menyalakan ponsel dan menggunakan GPS-nya untuk menunjukkan jalan alternatif lain yang bisa ia lewati. Akhirnya, dia memutuskan untuk melewati jalan menuju taman kota. Mobil pun melaju dengan cepat.
Namun tiba-tiba seseorang kembali menelepon Dikta. Terlihat nama Nia yang langsung muncul bersama nyala layar ponsel disertai getaran vibrator dan ringtone musik klasik yang cukup keras.
Tyo memberikan nomor ponselnya pada seorang gadis cantik dari kampus lain yang dimintanya menjadi pelipur lara Dikta. Sementara Tyo akan mendekati Lani. Dan sudah satu minggu ini, Nia kerap menelepon Dikta.
Nia pasti hanya ingin memastikan kedatangan Dikta ke sebuah hotel yang baru ia sambangi. Nia tinggal di Australia, dan hati itu Nia mampir ke Jakarta untuk bertemu Dikta. Dengan sedikit malas dan pikiran kalut saat sedang dalam perjalanan itu, Dikta pun mengangkat teleponnya.
"Dikta, kamu jadi datang atau enggak?" tanya Nia.
"Gue mau ketemu temen gue dulu. Elu anteng aja di situ!" serunya.
Nia terdengar mengeluh kecewa. Tetapi, ia tetap mengajak Dikta mengobrol dan mencoba merayu agar pria itu mau datang menemuinya. Semakin lama ia malah makin menggoda Dikta dengan kalimat-kalimat panas.
Suara Nia juga dibuat-buat seseksi mungkin. Kadang disertai gumaman, *******, dan nada-nada genit yang membuat hasrat dalam dada Dikta bergemuruh nantinya. Sampai akhirnya Dikta tidak fokus pada kendali stir mobilnya.
Tanpa disadarinya, dari arah lain sosok Raina sudah berada di jalan yang sama tak jauh dari mobil Dikta. Rania yang mengendarai scopy, datang dari arah yang berseberangan dengan mobil Dikta. Kedua kendaraan itu terlihat menyerupai segi kerucut yang mengarah pada satu titik.
Saat Raina siap berbelok ke kanan, Dikta justru bersiap belok ke kiri. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh pembatas jalan yang mereka lewati. Saat Dikta berbelok ke kiri, di saat itu pula Dikta terbelalak menatap tak percaya. Ia tersentak kala melihat scopy hitam melewati bibir mobilnya. Dikta lantas tak dapat mengendalikan stir mobilnya hingga menerjang motor matic yang sedang dikendarai Raina.
Gadis itu sendiri pun terlambat menyadari kedatangan mobil Dikta karena keasikan mendengarkan musik dari earphone hingga akhirnya gadis itu kehilangan kontrol dan tertabrak bibir mobil Dikta.
"****!" pekik Dikta.
Dalam waktu sepersekian detik keduanya sempat shock namun kecelakaan maut itu tak dapat dihindari lagi. Terdengar suara benturan yang sangat keras.
Motor yang dikendarai Raina, melayang terpental lebih dari sepuluh meter jauhnya diikuti suara jeritan gadis itu. Kejadian itu berlalu begitu cepat dan tragis. Dikta tidak mendapatkan luka apa pun saat ia menginjak rem mobilnya meskipun ia tahu bahwa itu sudah terlambat.
Dikta membuka matanya lebar-lebar ke sekelilingnya dan ia dapat melihat tak jauh dari mobil Jeep-nya, sebuah motor scopy milik seorang gadis rusak cukup parah karena tabrakan itu. Raina terpental beberapa meter dari motornya dengan darah yang mengalir pada kaki dan beberapa bagian tubuhnya.
Wajah gadis itu terlindung oleh helm yang ia gunakan. Dikta begitu terkejut tak percaya sampai gemetar kala memegang telepon genggamnya. Ia lantas menghubungi Raja dengan nada panik. Raja tidak mengerti apa yang terjadi pada Dikta, tetapi ia cukup peka mendengar suara-suara berisik dari orang-orang yang berkerumun di sekitar Dikta.
"Ja, gue … gue nabrak orang."
__ADS_1
...******...
...To be continued, see you next chapter!...