
Bab 63 PMM
Briana terbangun di kamar perawatannya. Gadis itu menatap ke arah langit-langit dan tiba-tiba saja ingin menangis. Sosok misterius yang ia lihat tadi muncul di sudut ruangan. Hantu perempuan itu menyeringai.
"Mau menjadi boneka ku?" tanyanya.
"Pergi! Pergi! Gue nggak mau deket elu, pergi!" pekik Briana.
Hantu perempuan itu mengulurkan tangannya ke kepala Briana dan mulai menunjukkan kejadian sebelum kematiannya. Kejadian saat hantu perempuan itu membunuh semua korban yang meninggal di sekitarnya.
Rupanya hantu perempuan itu memiliki gangguan kejiwaan dan digunakan oleh Dokter Salma untuk menghabisi korban-korbannya. Sampai akhirnya hantu perempuan bernama Diana itu dihakimi oleh massa karena ketahuan ingin menghabisi seorang pemuda yang rupanya jago bela diri. Sempat tak bisa bernapas, sosok Diana melepaskan Briana.
"Bukankah itu menyenangkan?" tanyanya seraya melotot dan tersenyum menyeringai.
"Dasar gila! Sakit elo!" seru Briana penuh amarah.
"Kau juga pernah melakukan hal yang sama, kan? Dan kini … jadilah boneka ku. Balaskan semua dendamku!" Sosos Diana lalu menerjang Briana dan membuatnya tergeletak di lantai.
Hantu Diana masuk ke dalam tubuh Briana. Lalu bangkit berdiri menuju wastafel di samping pintu kamar mandi. Diana menatap cermin wastafel dan tersenyum senang kala bayangan di cermin itu adalah wajah cantik Briana. Diana lantas tertawa menyeringai.
"Elu pembunuh Diana! Elu pembunuh! Lepasin gue!"
Sosok dalam cermin itu terus berteriak sampai membuat Diana kesal.
"Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh! Kamu yang pembunuh!" Diana lantas meninju cermin di wastafel tersebut.
Kaca cermin itu jatuh berserakan di lantai.
Sosok Diana lantas menangis penuh dengan penyesalan dan kesedihan. Diana menunjukkan cuplikan saat Briana mendorong Raisa saat di atas bukit.
Namun, saat itu Raisa terantuk batu dan tak sadarkan diri. Akan tetapi, Briana juga bingung kenapa Raisa ada di bawah jurang. Dia ingin mengaku, tetapi terlalu takut jika nantinya dia yang disalahkan dan terbukti membunuh Raisa.
Sosok Diana lantas keluar dari dalam tubuh Briana dan membuat perempuan itu terisak. Diana malah memberi semangat pada Briana untuk segera mengakhiri hidupnya daripada harus hidup dalam bayang-bayang bersalah karena telah menghilangkan nyawa sahabatnya sendiri.
"Apa iya Raisa mati karena gue?" isak Briana.
"Kalau aku jadi kamu lebih baik aku mati," ucap Diana.
__ADS_1
Ia ingin Briana menjadi temannya menjadi hantu nanti. Briana lantas meraih salah satu potongan cermin yang ujungnya terasa sangat tajam. Tangannya gemetar kala meraihnya. Mungkinkah dia sudah merasa bersalah dan ingin menghabisi nyawanya sendiri atau malah Briana sudah menjadi boneka nya hantu Diana karena merasa sedang dikendalikan?
Briana duduk di atas ranjangnya seraya menangis dan memegangi potongan cermin tersebut. Sempat berpikir untuk berhenti, tetapi tangan Briana itu langsung terarah tak terkendali. Lalu, ia menyayat pergelangan tangannya sendiri.
"Anak pintar," bisik Diana.
Briana pasrah, ia berbaring dan membiarkan tangan kanannya menggantung. Mungkin benar dia sudah membunuh Raisa dan inilah jalan nya untuk menebus kesalahannya. Darah segar mengucur setetes demi setetes di lantai.
Raja dan Rara sampai di depan pintu perawatan Briana. Rara juga membawakan cemilan, buah, dan juga minuman untuk temannya itu. Saat menurunkan gagang pintu kamar perawatan Briana, pintu itu terkunci.
"Kok, pintunya kekunci, Ja?" tanya Rara.
"Masa, sih?" Raja mencoba membuka pintu kamar tersebut.
Mendadak kemudian, dari kaca yang berada di bagian tengah pintu, Rara tersentak ketika melihat sosok hantu Diana berada di samping ranjang Briana sedang menari tetapi kakinya tak menapak lantai.
"Ja, ada hantu di kamar Briana! Terus, kenapa tangan Briana berdarah?" pekik Rara mulai panik saat mengintip dari kaca jendela kecil yang ada di tengah pintu tersebut.
"Hah?! Apa jangan-jangan Briana bunuh diri?"
Raja menoleh pada Rara.
Gadis itu langsung panik begitu juga dengan Raja. Tanpa pikir panjang lagi, Raja mendobrak pintu kamar tersebut seraya membaca ayat kursi. Hantu Diana tersentak dan langsung menghilang ketakutan karena aura yang dimiliki Raja.
Rara memanggil para suster untuk menolong Briana. Ia menceritakan kejadian yang menimpa Briana kala itu.
"Ja … kenapa elu nolong gue?" Briana masih setengah sadar tetapi suaranya mulai melemah.
"Kamu ngapain sih bunuh diri begini? Masa iya kamu selemah ini, Bri?!" seru Raja.
Briana menyentuh pipi pemuda itu seraya tersenyum. Perlahan-lahan, ia pun menutup mata tak sadarkan diri.
"Bri, aku mohon sadarlah! Ayolah, jangan seperti ini, Bri!" pekik Raja.
Pemuda itu terus berusaha untuk membuat Briana tersadar. Raja tentu saja ingin Briana tetap hidup.
"Kamu harus kuat, Bri, kamu harus kuat! Jangan mati, Bri!" pekik Rara yang kembali ke kamar perawatan Briana.
__ADS_1
"Suster, tolong teman saya!" Raja dan Rara berteriak bergantian memanggil suster sampai akhirnya ada yang datang.
Dua orang suster dan satu dokter haga datang. Kini, Briana sudah ditangani oleh dokter dan dinyatakan telah lewat dari fase kritis.
...***...
Dua jam berlalu, Raja dan Rara masih ada untuk menemani Briana. Lani juga sudah hadir bersama Tyo. Mereka tentu saja tak menyangka jika Briana mau menghilangkan nyawanya sendiri dengan nekat. Tiba-tiba, Briana membuka mata perlahan. Ia lalu terisak ketika mendapati Lani dan Rara di dekatnya.
"Maafin gue, ya. Gue terlalu takut untuk ngomong ini. Tapi, hantu ini bikin gue inget sama kesalahan terbesar yang pernah gue lakuin," isak Briana.
"Hantu? Hantu perempuan, ya, Bri?" tanya Rara seraya menyebutkan ciri-ciri hantu yang ia lihat melayang sambil menari di samping ranjang Briana.
"Gue juga bingung harus cerita dari mana. Tapi, malam itu ... gue udah nyakitin Raisa, hiks hiks." Briana kembali terisak.
Rara memeluknya dan meminta Briana untuk tenang sampai ia merasa tenang kembali.
"Elu yang bunuh Raisa, Bri?" selidik Lani dengan hati-hati.
"Nggak, Lan. Gue nggak sengaja dorong dia jatuh pas kita ribut. Tapi gue yakin Raisa cuma pingsan deket batu itu. kepalanya agak berdarah karena dorongan aku terlalu kuat. Tapi gue berani sumpah kalau bukan gue yang dorong dia ke jurang," aku Briana menjelaskan.
"Harusnya kamu cerita ini semua ke kakak aku," ucap Rara.
"Gue terlalu takut disalahkan, Ra. Emang nyatanya gue bikin Raisa terluka," ucap Briana terisak.
Raja sampai menjambak rambutnya sendiri karena kesal.
"Terus dengan cara kamu bunuh diri gini semua masalah kelar? Raisa bakal balik lagi, gitu?" tuding Raja.
Briana menjawab dengan anggukan.
"Kamu salah, Bri! Semuanya jadi makin rumit," ucap Raja.
"Nah, itu dia Ja. Terus gue pasti bakal dijadiin pelaku juga atas pembunuhan Ajeng dan Devan. Gue jelas-jelas nggak tahu." Briana masih mencoba menjelaskan pada teman-temannya.
"Gini aja deh–" ucapan Raja terhenti ketika melihat sosok hantu perempuan mengintip dari dalam kamar mandi.
...******...
__ADS_1
...To be continue ...