
Bab 80 PMM
Sosok perempuan yang tengah diikuti Raja, menuju parkiran rumah sakit. Perempuan yang mirip Raisa itu menuju ke arah mobil taksi yang berjejer di seberang rumah sakit.
"Kak, aku mau ikuti dia dulu. Kakak balik antar Briana sama Rara. Nanti aku kabari," ujar Raja.
"Kamu yakin mau ikuti dia sendirian, Ja?" tanya Rio khawatir.
"Siapa bilang aku bakal sendiri? Aku bakal minta Tante Silla atau Om Lee buat nemenin," sahut Raja.
"Hah? Si … oh ya aku paham. Para temen gaib kamu itu, kan?"
Raja menjawab dengan anggukan seraya melayangkan senyum.
"Aku berangkat, Kak." Raja mencium punggung tangan Rio seraya mengucap salam, "assalamualaikum."
"Walaikumsalam," jawab Rio lalu tersadar beberapa pengunjung yang melintas melihatnya.
"Duh, pada nyangkain yang nggak nggak, nih!" gumam Rio yang bergegas menemui Rara dan Briana.
Setelah memusatkan diri untuk memanggil Tante Silla dan Om Lee, pemuda itu memastikan taksi burung biru yang Raja pesan mengikuti taksi Raisa.
"Kenapa sih harus bareng dia!" sungut Silla kala melihat Lee.
"Aku cuma ngikutin perintah Raja, ya. Bukan berarti aku pengen ketemu kamu. Jangan ge er!" sahut Lee.
Raja hanya diam tak mau menanggapi. Ia takut sang sopir mengiranya gila..
"Dasar tukang selingkuh! Udah berapa kuntilanak sama genderuwo yang kamu ghosting, hah? Mentang-mentang makhluk gaib seenaknya aja mainin perasaan hantu-hantu lainnya!" sungut Silla.
"Loh, kamu sendiri juga sering gonta-ganti pacar! Sampai hantu muka rata aja kamu pacarin!" Gantian Lee bersungut-sungut.
"Aku nggak mandang fisik ya. Yang jelas dia lebih baik dari kamu meski aku bingung mau cium dia sebelah mana," sahut Silla.
Kali ini Raja tak dapat menahan tawanya sampai sang sopir melihatnya.
"Kenapa, Dek?" tanya pria paruh baya itu.
"Anu, Pak … saya dapat pesan wa lucu banget sumpah," sahut Raja berbohong.
__ADS_1
Padahal ia sedang memberikan posisinya kepada Rio melalui GPS ponselnya.
"Oh, gitu. Jangan suka ketawa sendirian, nanti dibilang orang stres loh," ujarnya seraya terkekeh.
"Iya, Pak."
Raja hanya bisa melirik Silla dan Lee di kursi belakang. Kedua makhluk gaib itu saling melayangkan cibiran dan masih meributkan pasangan mereka masing-masing setelah keduanya berpisah. Tak lama kemudian, Raja melihat taksi yang ditumpangi Raisa berhenti di sebuah kebun pisang.
Sosok itu memasuki kebun pisang tersebut seraya membawa kantong plastik warna hitam. Raja lalu turun dari taksi. Kemudian pemuda itu mengendap-endap mengikuti Raisa.
Raja mengikuti perempuan muda itu menuju kebun kosong di belakang sebuah sekolah. Dia meminta Lee dan Silla untuk menyisir sekitar kebun untuk memastikan keadaan. Pemuda itu masih bingung dengan pergerakan sang wanita muda yang hanya melangkah mengikuti jalan setapak tanpa menoleh lagi ke kanan dan kiri.
Tiba-tiba, angin berembus lebih kencang sampai menampar wajah pemuda itu ketika mengikuti Raisa. Raja terkesiap saat ada sosok bayangan hitam yang muncul dari undakan. Dedaunan kering terlihat berpusar di sekitarnya itu tampak menjadi pembuka jalan untuk Raisa.
Wajah dan tangan wanita muda itu tampak pucat diterangi cahaya matahari yang mengintip dengan cahaya memudar karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Raja sampai menelan ludah, lalu dia merasa sulit berkata-kata saat ia bersembunyi. Pemuda itu memutuskan untuk menelungkup bersembunyi di balik salah satu bukit gundukan tanah rendah. Sosok wanita yang dilihatnya itu melangkahkan kakinya, pelan dan berat di jalan berkerikil.
'Itu cewek mau ke mana, ya? Apa yang dia lakukan di tempat kayak gini?’ batin Raja saat berkecamuk melihat Raisa ditemani sosok bayangan hitam tersebut.
Raja berusaha mendekat, ia merayap di sela bukit gundukan tanah dengan posisi telungkup. Ia berusaha tak memikirkan apakah sosok itu bisa melihatnya dalam kabut. Ia hanya harus menunduk dan terus bergerak mendekat. Rasa penasaran yang amat besar membawa pemuda itu ingin melihat lebih jauh.
Raja akhirnya sampai di sebuah sumur tua dekat dengan jalur masuk ke sebuah rumah tua yang terbuat dari bilik kayu dan bambu. Dari sana, sepertinya ia bisa mengawasi sosok yang mendekati Raisa tanpa diketahui. Ia duduk dan melongok dekat tepi sumur.
"Janin ini berusia lima belas minggu. Dokter Salma yang mendapatkannya barusan," jawab Raisa.
"Hmmm, kelihatannya lezat." Sosok bayangan hitam itu kini menyerupai seorang wanita berambut panjang yang duduk di bibir sumur.
Raisa menyerahkannya kantong plastik hitam yang berisi janin bayi itu ke sosok penunggu sumur.
"Malam ini, gue akan mengirimkan teluh pada Briana. Kau harus hadir membantu gue," ucapnya.
"Bukankah dia sudah kau beri penyakit? Apa itu masih kurang? Biarkan dia mati perlahan saja," ujarnya.
"Itu terlalu lama. Gue rasa dia masih bisa bertahan cukup lama. Apalagi banyak yang sayang sama dia," sungut Raisa.
"Kau iri, ya? Kau bertukar jiwa dengan Raina kembaran mu untuk masuk ke keluarga Hermanto. Lalu kau bunuh dia di bukit itu. Padahal Raina sudah hilang ingatan dan nyaman hidup di panti asuhan. Kau benar-benar manusia yang licik, ya. Tapi aku sangat suka itu hahaha," ucap sosok iblis wanita itu.
"Hmmmm, Dokter Salma memintaku mengirimkan banyak tumbal dari anak-anak Mapala Merah. Jadi, membunuh Raina adalah jalan terbukanya teror di Mapala Merah. Ya, anggap aja gue lagi kirim balasan buat mereka yang curang itu," ucap Raisa.
__ADS_1
"Lalu, kau akan tetap membantu kebangkitan Nyi Ageng?" tanyanya.
"Tentu saja. Hmmm, jangan-jangan elu bakal nggak gabung sama Nyi Ageng?" tuding Raisa.
"Aku akan selalu mendukungmu karena aku mengabdi ke padamu. Itu pun selama kau penuhi syarat-syarat menggunakan kekuatanku untuk teluh. Kalau kamu berubah pikiran mau keluar dari sekte Nyi Ageng, ya tentu saja aku ikut juga," jawabnya.
"Ya udah kalau gitu. Oke, Demita, kalau gitu aku pulang dulu. Jangan lupa bantu gue nanti malam," ucap Raisa lalu pergi.
Raja buru-buru bersembunyi menjauh ketika Raisa pergi. Ia tak habis pikir ternyata sosok perempuan yang dia duga Raina, kembarannya Raisa dan dia pikir sedang menuntut balas atas kematian Raisa, malah Raisa itu sendiri.
Sosok jin wanita bernama Demita masuk ke dalam rumah tua itu seraya membawa janin bayi yang akan dia santap. Raja mendekat dengan berjongkok perlahan mendekat. Angin dingin kini berkesiur di sekitarnya. Pintu rumah dan jendela reot itu mengerang dan berderit. Daun-daun terdengar kemeresak. Hampir terlihat arus dingin itu menyusun di sela bukit bagaikan makhluk hidup, meraba setiap cabang, setiap batu kerikil, setiap helai rumput mencari mangsa.
Punggung Raja langsung terasa dingin ketika angin menyusup menyentuhnya. Angin dingin tersebut menyentuh kaki, lengan, dan belakang lehernya seakan mencoba mengenalinya. Pemuda itu memejamkan mata kuat-kuat dan berusaha menahan napas. Dalam sekejap angin lenyap. Daun-daun jatuh perlahan ke rumput, hanya ada satu suara.
Krak!
Raja tak sengaja menginjak ranting kecil di kakinya dan menimbulkan suara.
“Aduh, pake nginjek ranting segala, sih. Habis ini aku pasti ketauan, deh," gumam Raja.
Namun, saat Raja mencoba mengintip kembali tempat sosok Jin Demita tadi, sosok itu telah hilang. Tak ada sosok siapa pun di sana.
“Lho, si demitnya kok hilang?” Raja menatap tak percaya.
Kedua bola mata pemuda itu merotasikan diri menelisik ke sekeliling sampai ia dikejutkan oleh sosok hantu wanita berwajah pucat dengan mata merah.
"Mau apa kamu di sini?!" seru Jin Demita.
"Hai! Apa kabar, Mbak Dedemit?!" Raja mundur perlahan mencari keberadaan Lee dan Silla yang malah tak muncul.
"Namaku Demita! Bukan dedemit!" serunya.
"Sama aja, Mbak! Sama-sama kaum dedemit," ucap Raja yang masih berusaha menghindar dan berharap Silla atau Lee datang membantu.
"Dasar kurang ajar! Aku bunuh kamu!"
Hantu wanita itu mengulurkan kedua tangannya untuk mencekik leher Raja.
...******...
__ADS_1
...To be continue…...
...See you next chapter!...