PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 22 - Lani yang Pasrah


__ADS_3

Bab 22 PMM


Dikta meraih ponsel Lani. Dengan sikap dan nada suara yang tetap tenang, pemuda itu menjawab panggilan beruntun itu. Ponsel milik Dikta sendiri sudah dia nonaktifkan sejak tadi saat Tyo menghubunginya berulang-ulang. Paling juga Tyo memberondongnya dengan pertanyaan yang sama.


"Hai, Bri! Cari Lani? Ada nuh sama gue. Ini sekarang lagi gue peluk," ucap Dikta.


"Lepasin dia, Ta! Dia takut sama elu!" seru Briana.


"Nggak, kok… Kata siapa? Dia baik-baik aja sama gue. Kenapa emangnya, sih?" Dikta tertawa kecil.


"Kasih teleponnya ke Lani!" seru Briana dari dalam ponsel itu.


"Mau ngomong apa, sih? Maaf banget nih kayaknya dia lagi nggak pengen ngomong sama elu, deh. Ngomong aja sama gue, sama aja kok!" pinta Dikta.


"Ta, jangan gila! Lepasin Lani!" teriak Dikta.


Pembicaraan Dikta dan Briana mulai memanas sampai suara pemuda itu sempat meninggi.


"Yang sopan kalo ngomong sama gue, Bri!" titah Dikta.


"Pleasee, biarin Lani pergi jangan elu apa-apain kayak Ajeng!" seru Briana.


"Jangan bikin gue marah ya, Bri! Lani aman sama gue. Tadi udah gue bilang, kan? Gue nggak akan apa- apain kalau dia nurut sama gue!" Sesaat Dikta tertawa geli.


"Brengsek! Anjiiiing elu, Ta!" pekik Briana.


"Gue saranin jangan sotoy! Jangan suka memcampuri urusan orang juga!" Dikta memutus pembicaraan.


Kemudian pemuda itu menundukkan kepalanya sedikit.


"Sejak kapan kamu sama Briana deket dan saling melindungi? Sejak ada Rara, ya? Emang keren si Rara. Kalau kamu nggak ada di dunia ini, pasti aku kejar dia," ucap Dikta.


"Hmmmm."


Lani hanya melontarkan ucapan tersebut.

__ADS_1


"Si Rara kirim wa, nih. Katanya dia, kamu lagi aku apain? Hahaha kocak, ya? Bener-bener nggak sopan temen-teman kamu ini," ucap Dikta.


Lani mengeluh dalam hati. Paling tidak Briana dan Rara harusnya paham kalau dia sedang disandera.


"Eh, si Tyo juga nih nanya posisi kita di mana. Aku bilang aja, di hatimu … eyaaaaak!" Dikta tertawa.


Lani merasa tak ada yang lucu. Pemuda itu semakin aneh. Dia membalas semua pesan yang masuk untuk Lani sambil tertawa geli.


Tyo juga tidak bertanya apa-apa lagi selain apakah Lani ada bersama Dikta. Tyo sangat tahu jika dalam situasi


seperti ini, percuma mengajak bicara dan menceramahi Dikta panjang kali lebar. Hal yang akan meluas tersebut, hanya akan memperkeruh keadaan.


Sementara itu, Raja yang begitu cemas memikirkan nasib Lani, tanpa sadar dia berbicara dengan kalimat-kalimat dan intonasi suara seperti seorang polisi yang sedang membujuk buronan yang mengancam akan menembak sandera agar menyerah dan menerima tebusan.


"Tolong ya, Anda pikirkan baik-baik! Jangan sakiti Lani! Nanti berat, biar aku saja yang sakit," ucap Raja yang sukses membuat Dikta terbahak-bahak


"Ngomong apa sih lu, Ja?" tanya Dikta.


"Dikta yang ganteng, tolong lepasin Lani. Nanti kita jalan-jalan ke Dufan sambil makan es krim. Atau kita pergi ke wahana waterboom yang baru, gimana?" bujuk Raja seperti seorang ibu yang sedang membujuk anaknya yang tengah ngambek.


"Dengerin nih si Raja kocak juga," ucap Dikta seraya mengaktifkan loud speaker agar mereka bisa mendengarkan bersama.


Lani pun mendengar kalimat-kalimat Raja yang diucapkan dengan nada membujuk itu. Gadis itu juga hampir tertawa ketika Raja mengatakan kalau cinta itu tidak bisa dipaksa. Tak akan ada hati yang bisa dikekang. Meskipun nantinya Dikta berhasil mempertahankan Lani, semua itu akan menjadi sia-sia saja. Dikta hanya akan berhasil mempertahankan tubuh Lani. Tetapi, sama sekali tidak mendapatkan hati, perasaan cinta, apalagi kasih sayang Lani. Hal itu hanya akan menghancurkan kedua belah pihak.


"Menjijikkan banget! Elu baca di artikel mana, Ja?" tanya Dikta.


"Di hape Rara, dari psikolog Ibu Ambarwati," sahut Raja.


Lani jadi ingin tertawa mendengar polosnya Raja. Pantas saja sedari tadi Dikta juga tertawa terbahak-bahak.


"Ja, tenang aja kalau sama gue cinta bisa dipaksa kok. Nggak bakal berat " ucap Dikta kalem lalu melanjutkan, "asal tau aja, ya, gue punya banyak cara untuk memaksa, Nggak peduli dia cinta apa nggak cinta!"


"Tapi, Dikta–"


Tut tut tut tut…

__ADS_1


Lagi-lagi, Dikta langsung memutuskan pembicaraan.


"Aku matiin aja ya, hape kamu?" bisik Dikta di telinga Lani.


Dikta lantas menonaktifkan ponsel Lani.


"Mengganggu sekali mereka itu. Mana kocak-kocak lagi," ucap Dikta.


Lani hanya diam tidak menjawab, karena memang tidak ada gunanya juga. Toh, apa pun yang Dikta tanyakan padanya tetap akan dijawab sendiri. Rasanya bukan sebuah permintaan persetujuan. Dan memang tak lama kemudian Dikta yang sudah menonaktifkan ponsel Lani, lalu memasukkannya ke saku celana. Toh, meskipun pemiliknya nanti berkata tidak, Dikta tetap akan melakukan yang dia mau.


Mendadak suasana jadi terasa begitu hening. Kesenian tersebut sangat mencekam dan menimbulkan ketakutan. Lani tetap berusaha keras mengusir bayangan-bayangan mengerikan dari pikirannya. Dikta kembali membenamkan wajah Lani di dada bidangnya.


Lani lagi-lagi menurut. Dia berharap kepasrahannya itu bisa mencegah yang terburuk terjadi. Sikap Dikta perlahan melunak. Pemuda itu lalu menundukkan kepala. Diciumnya puncak kepala Lani penuh kasih sayang.


Kemudian, Dikta mulai menengadahkan wajah Lani. Dikta mencium dahi gadis itu, lalu berlanjut ke kedua kelopak mata yang masih terasa basah itu. Lalu, Dikta juga mencium kedua pipi Lani, ujung hidung bangir gadis itu. Dan yang terakhir tentu saja bibir tipis milik Lani.


Dikta membelai punggung gadis itu saat memagut dan *******. Lalu kemudian, dia eratkan pelukannya, erat dan semakin erat. Pelukan yang terasa menyesakkan Lani dan membuatnya sulit bernapas. Namun, lama kelamaan Lani merasakan pelukan pemuda itu menjadi terasa hangat dan nyaman.


Kalau saja pria ini tidak sakit jiwa, pasti dirinya akan sangat bahagia mendapatkan pemuda seperti Dikta. Hati Lani sangat sedih. Dikta lalu melepas pelukannya dan menggandeng tangan Lani.


Pada akhirnya, keduanya menuruni anak tangga dan kembali ke dunia kampus. Sorot mata yang melihat mereka pastinya berpikir kalau Lani dan Dikta kembali bersama.


Mereka terlihat seperti pasangan yang berbahagia. Dikta menampilkan wajah lelaki yang tampak begitu cerah penuh cinta. Apalagi dia berjalan seraya merangkul Lani.


Padahal wajah pucat gadis itu tidak terlihat ceria. Namun, Dikta meminta Lani untuk tersenyum agar tak terlihat sedang sedih juga.


Ternyata, pemandangan Dikta merangkul atau memeluk kekasihnya adalah pemandangan yang sudah sangat biasa. Pemuda itu memang kerap memperlihat kemesraan sepasang kekasih di depan umum.


Sehingga, tidak ada satu pun orang yang akan mengira bahwa sebelumnya ada prosesi panjang dan menakutkan yang terjadi sebelumnya. Gadis yang sedang dirangkulnya tersebut terpaksa. Mungkin selalu terpaksa jika sedang bersamanya.


Lani memang tak pernah dalam kondisi sukarela, apalagi cinta pada Dikta ketika mereka menjalin hubungan percintaan. Dan pada akhirnya Lani pasrah. Dia putus asa setelah gagal melarikan diri dari Dikta. Lani hanya ingin bertahan hidup.


...******...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2