PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 48 - Ikut Terjebak di Masa Lalu Dikta


__ADS_3

Bab 48 PMM


Weni menyeringai ke arah Dikta.


"Elo panik, kan?"


Raja mencengkeram bahu Dikta, "Ayo, Ta! Kita cari Lusi!"


"Kalian nggak usah panik dulu. Gue mau cerita nih kalau gue juga pingin banget seandainya gue nanti udah nikah, trus punya anak cowok, gue namain anak gue Raja," ucap Weni.


"Hah? Nama aku, dong?" Raja menunjuk dirinya sendiri.


"Eh, nama elu Raja? Tapi, anak gue nggak ada hubungannya ama elu. Meskipun orang bakalan ribut nanya apa hubungannya sama elu nanti, gue berhak untuk nggak ngomong apa-apa, kan?"


Lagi-lagi, Weni tersenyum sinis. Dikta merasa dirinya dipojokkan. Dia masih mengingat jelas semuanya. Kencan yang bersama Lusi tak akan menghasilkan bayi seperti itu.


"Tapi itu bukan anak gue!" serunya.


"Siapa juga yang bilang itu anak elu?! Gue nggak bilang itu anak elu, kok." Weni geleng kepala. Membuat Raja dan Dikta terhenyak.


"Kecuali kalau gue bilang ada kata 'junior'-nya di belakang nama Diktaa. Baru deh elu boleh panik terus bikin klarifikasi. Eh, tapi untuk orang yang terkenal playboy seantero kampus kayak elo, kayaknya mending bikin konferensi pers." Weni menahan tawanya lalu melanjutkan lagi.


"Eh, eh, tapi kayaknya nggak usah eku klarifikasi. Bener, deh. Elu cukup panik aja kayak tadi. Soalnya rang nggak akan percaya." Weni tak bisa lagi menahan tawanya.


Kedua rahang Dikta dan Raja mengatup keras. Susah payah ditahannya detak jantung yang mulai cepat dan darah mengalir panas yang bergolak marah di dalam tubuh Dikta. Kemudian dia berdiri dan menjulangkan tubuhnya di atas Weni yang duduk di teras itu. Ditatapnya Weni i dengan sepasang mata membara.


"Ta, Ta, udah jangan emosi," kata Raja mencoba menahan Dikta.


"Elo denger, ya … Sekali lagi gue tegaskan sama elo kalau anak itu bukan anak gue!" bentak Dikta.


Masih menahan marah, Dikta meninggalkan tempat itu. Raja menyusul di belakangnya. Namun langkahnya terasa goyah dan sesekali berhenti. Dikta memukul dinding yang ia temui. Kenyataan yang dia hadapi kali ini ternyata, salah satu mantannya memilih meninggalkan bangku kuliah dan menikah muda karena telah menjadi seorang ibu. Hal itu benar-benar membuatnya kalut.


Weni mengikuti kepergian Dikta dan Raja itu dengan kedua matanya. Bayi itu memang bukan anaknya Dikta. Namun, Weni hanya ingin Dikta tahu kalau Lusi ternyata sangat mencintai Dikta. Si playboy tengik sialan itu. Bahkan ketika akhirnya ditinggalkan oleh Dikta, Lusi sangat kacau. Kuliahnya berantakan, dan dia memutuskan untuk menerima lamaran pertama yang datang padanya hanya untuk melupakan Dikta.


***


"Kita pulang ya, Ta?" tanya Raja.


"Nggak, Ja. Gue masih mau ke rumah Yuni," jawabnya.

__ADS_1


"Hah? Dia mantannya kamu juga?" tanyanya setengah percaya.


Dikta mengangguk lagi.


"Astagfirullah, ada berapa sih mantan elu?" Raja menatap sinis pada Dikta.


"Gue nggak tahu. Ini mah yang gue inget-inget aja," sahutnya.


Butuh waktu cukup lama bagi Raja untuk menormalkan kembali hati dan emosinya ketika mendengar penuturan Dikta. Dia harus menemani pria rambut gondrong itu untuk kembali menelusuri masa lalunya.


Sampai di sebuah rumah bergaya kuno bahkan masih ada sumur tua yang terlihat di belakang rumahnya, orang pertama yang Dikta temui langsung kalap begitu melihatnya. Gadis bertubuh mungil dengan rambut pendek khas pramugari.


"Ngapain elu dateng ke sini!? Pergi sana! Pergiiiiiii!" Tubuh Dikta disentak keras-keras ke belakang.


Dikta sampai harus meraih ambang pintu agar tidak jatuh.


"Yun, gue ke sini cuma mau minta maaf," ucap Dikta.


"Hah? Minta maaf? Sekarang?! Baru sekarang elu datang ke sini mau minta maaf!? Asal elu tahu, ya, gue hampir aja diperkosa gara- gara elo!" bentak Yuni.


"Apa!?" Dikta terperangah menatap tak percaya, "Apa lo bilang, Yun?!"


"Gue hampir diperkosa, tau! Dan itu smeua karena elu. Alasannya karena gue mantan elu, Ta. Dia pikir kalau cewek yang pernah jalan sama elu pasti udah nggak bener. Pasti udah rusak. Pasti udah habis diapa-apain sama elu dan Devan! Dan Tomi macarin gue karena alasan itu. Karena buat dia gue itu sampah orang, jadi nggak perlu dijaga!" Yuni terisak.


"Tapi gue bukan Devan, Yun," sahut Dikta.


"Gue trauma pokoknya sama cowok!" seru Yuni.


Dikta tersentak. Begitu juga dengan Raja.


"Siapa cowok itu?" tanya Dikta.


"Percuma elu tanya sekarang. Udah lama kejadiannya. Basi tau!" seru Yuni.


"Kenapa waktu itu elu nggak cari gue, Yun?" tanya Dikta dengan suara tercekat.


"Buat apa? Biar gue keliatan kayak cewek putus asa, gitu? Elu mau orang sekampus tau keadaan gue? Elu mau mereka nganggep gue cewek murahan yang ngejar-ngejar elo sampe frustasi, sementara elo santai dan duduk dengan sombongnya di Jeep gede lo itu? Iya gitu?" tuding Yuni.


"Ta-tapi–"

__ADS_1


"Tapi apa? Elu bangga kan pastinya kalau ada cewek yang jadi segitu gilanya gara-gara elu tinggalin. Iya kan?!" bentak Yuni.


"Tapi, Yun–"


"Gue tahu kalau elu punya cewek lain. Elu jalan sama Lani. Gue nggak mau cewek lo yang baru itu bisa menghina gue!" Bentaknya.


Dikta bahkan sudah lupa siapa gadis setelah Yuni sampai gadis itu menyebutkan nama Lani. Namun hanya


sampai di situ. Dikta bahkan tidak tahu apakah pantas memohon untuk diampuni.


"Kalau seandainya kita jalan lagi, elu masih mau, nggak?" tanya Dikta pelan, tetapi permintaan itu sungguh-sungguh.


Yuni mulai naik pita setelah sempat terperanjat.


"Pergi elu dari sini! Pergi!" bentaknya.


"Yun, gue serius...."


"PERGI!!"


Yuni menjerit histeris. Pintu di depan Dikta kemudian dibanting keras-keras.


Raja mengajak Dikta pulang. Namun, ia menangkap sosok berjaket dengan tudung hitam masuk ke dalam mobil taksi biru. Sang sopir lalu melajukan mobil itu menjauh dari rumah Yuni.


"Siapa itu, Ta? Apa dia sedang memantau kita?" tanya Raja.


Raja merasa ada sesuatu yang buruk yang ia rasakan. Ada aura kegelapan sangat terasa di sekitarnya terutama di tubuh Dikta.


Keduanya akhirnya pergi. Namun, tak berapa lama kemudian, Dikta meminta Raja menghentikan mobil di depan minimarket. Di tempat itulah, Raja bertemu Raina. Raja takut Dikta belum siap jika melihat sosok yang mirip Raisa.


"Ja, gue mau beli kopi di kafe depan. Elu tunggu sini, ya!" pinta Dikta.


Raja baru sadar ternyata Dikta hanya ingin mampir di kafe dua ruko setelah minimarket tersebut. Raja mengangguk mengiyakan. Namun, ketika Dikta sudah pergi menuju kafe, Raja melihat sosok perempuan melintas dan sempat menatapnya seolah mengajak Raja untuk mengikutinya.


Raja tahu kalau sosok itu bukan manusia. Namun, rasa penasaran lah yang membuatnya memutuskan turun dari dalam mobil Dikta dan mengikuti sosok perempuan berwajah pucat dan rambut panjang sepunggung.


...******...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2