PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 36 - Hantu Gosong


__ADS_3

Bab 36 PMM


Satpam itu kembali menyalakan puntung rokoknya, dan lagi-lagi sosok bertangan gosong itu mematikannya. Raja sampai tak bisa menahan tawa dan akhirnya saling tatap dengan hantu bertubuh gosong itu. Sosok hantu itu tersenyum memperlihatkan giginya yang masih kelihatan dan juga bola matanya yang masih terlihat berwarna putih.


"He, kenapa juga sampai bertatapan gini?" Raja menundukkan wajah nya di samping Rara.


"Ayo, balik ke kamarnya Tyo, Ja!" ajak Rara.


Raja mengangguk. Dia segera membayar dua porsi nasi goreng pada si penjual lalu bergegas pergi. Raja menggandeng tangan Rara agar berjalan lebih cepat.


Si penjual nasi goreng lantas bertanya pada satpam tadi saat dia sedang membersihkan bagian belakang kedai miliknya. Gelas kopi milik satpam tadi juga dia angkat. Pria itu mengendus-endus. Ia mencium kurang sedap seperti bau gosong daging terbakar menyengat.


"Kenapa elu? Mau ngatain gue bau ketek, ya?" tuduhnya.


"Bukan, Bang. Nyium bau gosong, nggak?" tanyanya.


Sang penjaga keamanan rumah sakit tadi juga ikut mengendus sekitarnya. Satpam itu bahkan sudah berhadapan dengan bagian perut si hantu gosong.


"Ho oh, bau gosong, Bray! Kompor elu masih nyala kali!" serunya.


Si penjual nasi goreng tadi lantas menuju ke bagian belakangnya. Ia sedikit heran karena sebelumnya telah mengecek dapur dan tidak ada yang memanggang apa pun. Makin lama aroma gosong tercium semakin tajam. Penjual nasi goreng kemudian memanggil satpam tadi untuk mengecek bersama-sama.


Mereka melihat ke setiap sudut ruangan untuk mengecek sumber bau. Tiba-tiba, suara wajan jatuh terdengar. Saat kedua pria itu bergegas memeriksa keadaan, mereka malah melihat di ujung tungku tempat si penjual memasak, sesosok perempuan yang tubuhnya gosong semua tengah meringis.


"Hehehe, maaf Pak, nggak sengaja kesenggol," katanya.


Satpam dan si penjual nasi goreng tadi saling bertatapan. Keduanya saling yakin kalau bau gosong yang diciumnya berasal dari sosok yang sedang berdiri di samping tungku itu.


"WUAAAAAAAAAAAA!!!"


Sontak saja kedua pria itu berlari dan meninggalkan kedai nasi goreng dalam keadaan setengah berantakan. Diketahui ternyata hantu gosong tadi merupakan korban musibah kebakaran hebat di pabrik petasan yang menyebabkan beberapa karyawan di sana tewas seketika.


Saat Rara dan Raja keluar dari pintu tangga darurat, sosok gantu gosong tadi ternyata juga mengikuti Raja dan Rara. Hantu itu tersenyum meringis seraya melambaikan tangan.


"Aku tahu kalian bisa melihatku."


Raja dan Rara menghentikan langkahnya.


"Kayaknya kita udah nggak bisa menghindar, Ra," ucap Raja.


...***...


Pukul satu siang, Raja dan Rara menuju ke sebuah salon wanita yang ditunjukkan hantu gosong bernama Rohaya, yang dipanggil Yaya.

__ADS_1


"Ini salonnya," ucap Yaya.


"Terus, apa pemilik salon percaya kalau kita ke sini gara-gara Tasya, Ja? Terus apa dia mau dandanin dia yang –"


"Yang apa? Dia selalu bisa membuat pelanggannya cantik!" Yaya berseru


"Udah ikut aja mau dia," bisik Raja.


Seorang pria gemulai yang memakai pakaian mini dan seksi menyambut kedatangan Raja dan Rara.


"Halo, selamat datang di Salon Happy Family, ceriakan keluarga hari ini, yuuuuuu!" sapa waria bernama Lusi itu.


"Halo, Bang– eh Tante!" sapa Rara.


"Mana calon pengantinnya? Oh, jangan-jangan kalian pengantin muda itu, ya?" tanyanya.


Raja lalu menunjuk ke arah Anta yang baru sampai diantar oleh Adam.


"Dih, amit-amit jabang bayi! Bisa-bisanya si Raja bawa Anta ke tempat kayak gini. Mana bentuknya kayak gitu lagi," keluh Anta.


Sementara Adam sudah tak bisa menahan tawanya.


"Wuihhh, cantik ya calon pengantinnya! Tapi, suaminya muda banget," seru Wanda si pemilik salon.


"Eh, bukan saya calon pengantinnya, Om!" Adam langsung mengibaskan tangannya.


"Panggil Tante, dong!" seru Wanda.


"Oke, Tante!" sahut Adam.


Tiba-tiba, ada seorang pengendara sepeda yang mengebut melintasi trotoar dan mengejutkan Wanda.


"Eh, ayam, ayam!" pekik Wanda lalu berteriak dengan suara berat laki-laki, "WOI, GUE SUNATIN ELU YA!"


Raja dan yang lainnya kompak menatap Wanda dengan perasaan terkejut.


"Ehm, ehm. Eggak apa-apa kok. Suka kelepasan gini kalau kodam saya lagi dateng. Suara om om nya langsung keluar, hehehe," ucapnya dengan nada suara yang kembali ditekan seperti suara wanita.


Rara melihat beberapa brosur yang ditujukan untuk calon pengantin. Dia gambar itu ada foto wanita yang mendapat pijatan dengan lulur pengantin di sekujur tubuhnya. Rara mengamati promo menarik tersebut yang akan dilanjutkan dengan mandi susu di sebuah bath tub yang penuh dengan mahkota bunga mawar merah dan kuning di atasnya. Tiba - tiba, sosok hantu gosong tadi melintas.


"Saya mau begini," ucapnya.


"Perasaan ada bau gosong tapi nggak lagi masak," gumam si Wanda.

__ADS_1


Anta lantas menjelaskan maksud kedatangannya ke sana. Sosok saja Wanda langsung tertawa tak percaya. Sampai akhirnya, Anta menunjukkan hantu gosong itu di hadapan Wanda.


"Waaaaaaaaaaaaaaa!"


Sontak saja Wanda tak sadarkan diri kemudian.


"Aku bilang apa, dia takut kan?!" seru Adam.


Hantu gosong itu malah menangis di lantai. Sementara Rara dan Anta masih mencoba menjaga jarak dan menahan napas karena bau gosong bercampur anyir darah yang menyeruak.


"Angkat dia ke sofa, Ja, Dam!" titah Anta pada adik-adiknya.


Rara mencari minyak kayu putih. Namun, ia mendengar ada yang sedang berbincang di ruang sebelah.


"Kayaknya ada pelanggan lain selain kita," ucap Rara seraya menyerahkan minyak kayu putih pada Anta.


Di sebelah ruangan terdengar dua orang perempuan muda yang sedang mencoba pakaian pengantin. Keduanya berbincang seru dan terdengar heboh. Bahkan mereka malah asik mengumbar aib.


"Jadi, elu udah hamil, Fan?" tanya gadis berambut pendek dan ikal seraya meraba perut kawannya itu, ia menelitinya dengan saksama.


"Hahahah menurut elu, Cun?" Jawab teman satunya seraya membusungkan perutnya.


Perempuan itu terlihat bangga memamerkan perut buncitnya.


"Wah, keren banget! Pantesan video elu viral di sekolah."


"Nah, ini hasilnya dari viral itu. Jadinya kan Pak Edo ditinggalin sama istrinya terus mau nikahin gue, hehehe." Pengantin muda itu begitu bangga menunjukkan aibnya.


Rara sampai menoleh ke arah Anta yang sudah menatap jijik sedari tadi ke arah dua perempuan yang baru saja keluar dari fitting room.


"Eh, ada tamu lain selain kita," bisik si rambut ikal.


Si pengantin muda bernama Fani itu mulai merasa aneh. Dia mencium aroma busuk bangkai di sekitarnya sampai membuatnya mual. Wanda mulai tersadar seraya memijat kepalanya yang pusing.


"Eh, Fani! Gimana, jadi pakai baju yang itu?" tanyanya spontan.


Wanda tak mau kehilangan pelanggan kali ini sampai menanyakan baju mana yang mau dipakai oleh Fani. Namun, aroma busuk itu makin menguar. Apalagi ketika perempuan si pengantin muda dan rekannya tadi mencium gaunnya.


"Kita nggak jadi pesen di sini, deh, Tante Wanda. Kapan-kapan aja nanti aku balik lagi. Itu juga kalau aku minat," ucap Fani yang buru-buru melepas gaunnya di dalam ruang ganti.


Dua perempuan muda centil tadi bahkan menggoda Raja dan Adam dengan tatapan genitnya. Sonta saja Rara menarik Raja agar menghindar.


"Puas kalian?! Puas kalian udah bikin saya rugi?!" Wanda .embentak Rara dan Raja seketika.

__ADS_1


...*****...


^^^To be continued, see you next chapter!^^^


__ADS_2