PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 30 - Hantu Lily


__ADS_3

Bab 30 PMM


Lily hanya tertawa. Kembali dia menunjuk layar laptop. Menunjuk ke arah bunga lily sebagai background.


Seorang teman Frans yang baru bertemu Pak Rian melintas. Dia menyapa Frans, "sendirian aja luh! Udah ketemu Pak Rian?" tanyanya.


"Aku disuruhnya ganti judul tesis lagi, bro! Malas kali aku! Ini aja si Lily yang nemenin aku terus," sahut Frans nenunjuk Lily.


Rekan Frans tampak bingung. Lalu ia pamit pergi lebih dulu. Frans mulai merutuk. Pasalnya, teman-temannya yang lain mendapat perhatian lebih dengan dibantu dalam pengerjaan jurnal kelulusan selain tesis. Sementara Frans, jangankan membuat jurnal, nasib tugas akhirnya saja masih tampak gelap.


Frans mendesah frustrasi, lalu merenggangkan otot dan mulai berdiri.


"Aku bosan jika harus berdiam diri lebih lama lagi," gumam Frans.


Sekarang giliran gadis itu yang mulai bicara, menanggapi kisah kehidupan yang selalu Frans bicarakan. Telinga setianya mencerna setiap kosakata yang terlontar dari gadis itu, tetapi tidak dengan sepasang kaki yang tidak bisa diam dengan mondar-mandir di depan Lily.


Satu jam telah berlalu begitu saja. Lily benar- benar sukarela menemani Frans untuk menunggu Pak Rian sampai selesai mengajar. Frans melirik arloji di tangannya. Sang dosen yang ia tunggu seharusnya akan selesai mengajar dalam tiga puluh menit lagi.


"Baiklah, aku harus mencoba bersabar sedikit lagi," gumamnya lalu menoleh pada Lily, "Aku mau ke situ sebentar," pamitnya pada Lily sambil menunjuk ruang sidang.


"Oke." Lily mengangguk.


Ketika Frans menjauh dari bangku panjang di depan ruang dosen, Lily malah membuntutinya. Saat Frans menoleh, ia malah tersenyum. Dari jarak kurang dari satu meter di depan ruang sidang, Frans bisa mendengar suara Pak Rian dan para mahasiswanya.


Frans menoleh pada Lily seraya berbisik, "Tuh, berisik banget, ya?"


Lily mengangguk, setelah itu gadis di belakang Frans tadi buka suara, "Frans, aku ke toilet dulu, ya." Gadis itu menunjuk ujung koridor, tempat toilet untuk mahasiswa wanita berada..


"Oke." Frans mengangguk.


Mereka pun berjalan berlawanan arah. Frans kembali duduk di bangku kosong di depan ruang dosen, sementara Lily masuk ke dalam toilet perempuan untuk menyelesaikan hajatnya.


Lagi-lagi Frans mendesah berat. Ingin rasanya ia membunuh waktu dengan hal berguna. Biasanya, Frans akan membaca artikel atau membaca jurnal yang memiliki tema sama dengan judul tesisnya yang baru, sebagai contoh. Namun, pria itu benar-benar sedang kehilangan fokus sekarang.


Sambil menunggu Lily kembali, Frans malah meraih ponselnya dan mulai membuka laman sosial media miliknya. Pemuda itu melihat laman sosial media milik Raja dan Rara. Selebaran menggelar doa bersama sudah mereka letakkan di dalam feed-nya.


Penasaran dengan sosial media Raja, Frans men-scroll ke bawah layar ponselnya sampai jarinya terhenti kala melihat sosok gadis yang mirip dengan Lily dan gadis yang menjaga minimarket dekat kampusnya.


"Kenapa mereka sangat mirip begini," gumam Frans.


Frans tersentak kala melihat tetes demi tetes darah membasahi layar ponselnya.


"Sepertinya itu aku," ucap Lily Menunjuk layar ponsel.


Sontak, bulu kuduk Frans meremang. Bokongnya bergeser. Tangan pemuda itu tampak bergetar. Sosok Lily kini berwajah pucat. Dari dahinya tampak mengeluarkan darah. Tangan dan kakinya juga tak lagi lurus seperti patah tulangnya.

__ADS_1


"Ka-kamu, kamu setan kan?!" Frans menunjuk dengan gemetar.


"Apa iya aku setan? Aku sendiri saja tak tahu siapa aku," lirihnya seraya menunduk.


Tanpa perlu aba-aba lagi, Frans segera berlari keluar dari gedung tersebut. Dia bahkan sampai menabrak Raja di parkirian.


"Kenapa, Kak?" tanya Raja ikut panik.


"A-aku, aku ketemu hantu, Ja!" pekiknya.


...***...


Setelah mendengar penuturan Frans, Raja lantas membawa Rara menuju gedung fakultas teknik informasinya. Sementara Frans memilih pergi karena masih shock.


"Kita ke tempat gedung Frans tadi!" ajak Raja.


"Mau ngapain, Ja?" tanya Rara.


"Aku harus ketemu hantu cewek yang namanya Lily itu. Frans digodain sama dia," sahut Raja.


"Lily?"


"Frans bilang dia mirip sama Ajeng. Makanya aku mau ketemu," ucap Raja.


"Ya udah kalau kamu takut. Kamu tunggu di pos satpam aja deh, atau tunggu di situ," pinta Raja.


"Oke."


Rara menuju kursi kayu yang ada di bawah pohon rindang. Ia duduk di sebuah kursi kayu sementara Raja berjalan menuju ke dalam gedung tersebut menemui hantu tadi.


Sosok Dikta datang mengejutkan Rara.


"Aku boleh duduk di sini?" tanyanya.


Rara menoleh ke arah Dikta seraya tersenyum, "boleh."


"Kamu sendirian aja?" tanya laki-laki itu.


"Lagi nunggu Raja dia ada keperluan di dalam sana sebentar," sahut Rara seraya membenarkan kunciran rambutnya.


"Ra, udah ketemu Lani?" tanya pemuda itu yang entah kenapa terlihat gugup ketika melihat kecantikan Rara.


"Belum," jawab Rara datar


"Ummm gitu. Kamu mau minum?" tanyanya lagim

__ADS_1


"Boleh." Rara melayangkan senyumannya pada Dikta.


"Mau minum apa? Teh botol apa air putih?" tanya Dikta lagi.


"Air putih mineral aja, Ta."


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu di sini biar aku ambilkan dulu ya," ucap Dikta.


"Sekalian teh kotak buat Raja," pinta Rara.


Namun, pemuda itu malah tetap duduk di samping Rara dan hanya memandangi paras ayu di sampingnya itu. Briana yang melintas, sempat mengamati gelagat Dikta yang menunjukkan kalau ia sangat menyukai Rara. Briana lalu menghampirinya.


"Ta, liat si Tyo?" tanya Briana.


"Nggak! Aku nggak tahu," jawab Dikta.


"Oh gitu. Elu mau beli minum, kan? Gue titip teh botol ya?" pintanya lagi yang terlihat sengaja menjauhkan Dikta dari Rara.


"Emang kamu nggak bisa ambil sendiri?!" Dikta lalu bangkit berdiri dan pergi menuju vending machine di area kantin kampus.


"Si Dikta giliran gue yang minta beliin jutek, eh giliran beli minum buat elu semangat banget." Briana yang terlihat sinis menatap Dikta lalu duduk di samping Rara.


Tak lama kemudian Dikta datang dan meminta Briana bangkit agar dia bisa duduk di samping Rara lagi. Dikta menyerahkan dua teh kotak ke arah Rara dengan tangan gemetar.


"Kan tadi aku minta air putih, kok jadi teh kotak?" tanya Rara.


"Oh iya. Maaf ya kalau aku lupa," ucap Dikta.


"Ya udah nggak apa-apa." Rara lalu meraih teh kotak dari tangan Dikta.


Namun, ada sesuatu yang membuat gadis itu mengarah pada gelang di tangan pemuda itu.


"Kayaknya pernah lihat gelang itu, tapi di mana, ya?" gumam Rara.


"Eh, gelang elu mirip punya Lani," celetuk Briana.


"Masa, sih? Kayaknya ini gelang pasangan. Berarti Lani pakai gelang kayak gini, dong?" tanya Dikta.


"Tapi, kayaknya sekarang nggak deh," sahut Briana.


Raut wajah Dikt memperlihatkan kekecewaan yang tersirat.


...*****...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2