PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 68 - Pembantaian Keluarga Narayan


__ADS_3

Bab 68 - Pembantaian Keluarga Narayan


"Malam itu hujan deras. Suara petir juga terdengar menyeramkan. Ayahku sedang duduk bersama ibuku dan juga dua adik kembarku membicarakan pernikahanku dengan Johan. Kami menikmati makan malam bersama. Kami tertawa bersama-sama, bersenda gurau saling berbagi cerita dan semangat mereka tentang persiapan pernikahan ku." Salma Narayan berbicara di hadapan Raja dan Adam yang menyimaknya.


"Lalu kemudian?" tanya Raja.


"Ayahku pikir pernikahanku dan Johan dapat mengubah status keluarga yang selama ini selalu berada di dalam tekanan sekte sesat Nyi Ageng. Ayah memilih keluar dari perkumpulan jahat itu. Lalu, kami akan menumpang hidup pada Johan. Pernikahan ini akan mengubah keluargaku. Ayahnya Johan, Adi Kusuma, sudah berjanji anak menikahkan anak sulung yang ia ajukan sebagai menantu dari keluargaku. Ayahnya Johan harus memilih aku karena ayahku sudah menuntaskan tugas yang selama ini Tuan Adi berikan kepada dirinya. Ia harus menepati janji."


Ingatan Salma Narayan kembali ke sepuluh tahun lalu, di malam pembantaiannya. Angin berembus lebih kencang dari biasanya, tanpa mereka sadari salah satu adik kembarnya yang baru dari kamar mandi, berjalan gontai menuju ke arah jendela rumah mereka.


Tuan Narayan dan istrinya menyadari sesuatu yang tiba-tiba melintas di kepalanya. la menoleh ke arah putra bungsunya yang sedang berdiri di ambang kaca jendela dan melihat ke luar.


"Ayah, siapa mereka?" Adik bungsu Salma menunjuk-nunjuk sesuatu di luar rumah.


Sadar ada yang salah, sang ayah bertanya kepada putra kecilnya yang berusia lima tahun itu, "Adek lihat apa?"


Anak kecil yang usianya tak lebih dari lima tahun itu menunjuk sesuatu di luar rumah. la seperti ingin mengatakan sesuatu kepada ayahnya, tetapi keterbatasan bahasa membuat anak itu hanya dapat menunjuk seraya tersenyum menunjukkan satu gigi yang sudah mulai tumbuh.


Tuan Narayan dan istrinya lantas bangkit.


Apa yang dilihat putra bungsunya membuat mereka merasa semakin penasaran. Salma juga bangkit dari tempat duduk lalu berjalan mendekati adiknya, yang kini menggebrak-gebrak kaca pintu sembari bergumam.


Saat Salma dan ayah ibunya tepat berdiri di belakang anak kecil itu, merema melihat apa yang adiknya juga lihat. Rombongan manusia bertudung hitam yang wajahnya bahkan tak terlihat, tengah berdiri di seberang rumahnya. Salma memperkirakan ada sepuluh orang yang berpakaian aneh dan misterius tengah menatap ke arah rumahnya, rumah pemberian Tuan Adi Kusuma.


Ttersadar bahwa putranya bukan melihat hal yang baik untuk dirinya, bahkan keluarganya. Tuan Narayan terdiam sesaat dalam sorot mata melotot, menyaksikan apa yang dia lihat. la mulai gemetar.


"Yah, siapa mereka?" tanya Salma.


Sadar bahaya apa yang sedang mengintai rumahnya, Tuan Narayan segera mengangkat tubuh putranya dan menjauhkannya dari jendela. Ia memberikan anak itu kepada istrinya. Pria berusia lima puluh tahun itu, lantas berteriak memperingatkan seluruh anggota keluarganya untuk berkumpul dalam satu ruangan. Ketegangan terasa saat tiba-tiba lampu di dalam rumah berkedip-kedip membuat seisi keluarga Narayan panik.


Suara telepon rumahnya berdering. Dengan cepat Tuan Narayan berlari dan mengangkat gagang telepon. Salma melihat ayahnya membentak dan memaki dengan geram. Dia belum pernah melihat Ayahnya semarah itu.

__ADS_1


Seseorang menyentuh bahu Tuan Narayan. Ia menoleh dan mendapati salah satu anak kembar yang satunya menatap dirinya dengan pandangan kosong.


"A-ayah, ini gatal, ini sakit," katanya dengan suara parau.


Tuan Narayan melihat ada yang salah. Pipi anaknya mengelupas dan terdapat koreng di pipi sebelah kanan anaknya.


Darah terus keluar ketika si kecil menggaruknya. Tak lama berselang, satu per satu anggota keluarga Narayan juga mengalami luka misterius yang sama yanh muncul di tubuh mereka. Namun, tidak dengan Salma.


Jeritan panik sang istri dan kedua putra kembarnya semakin tak terelakkan. Salma mulai berteriak dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Ayahnya malah semakin bingung, semua terjadi secara mendadak. la tak mengerti bagaimana hal ini tiba-tiba bisa menimpa


keluarganya.


Tuan Narayan baru menyadari bahwa di telapak tangannya muncul luka kareng misterius yang sama. Semakin lama semakin banyak koreng memenuhi tubuh anggota keluarga Narayan yang mulai berteriak, menjerit histeris. Mereka menangis merintih menahan sakit yang disebabkan luka gatal, perih, dan panas seperti terbakar di tubuhnya. Tidak berhenti di situ, mereka juga merasakan rasa gatal luar biasa di sekujur tubuh, beberapa dari mereka mulai mencakar-cakar wajah.


Salma menciba menghubungi keluarga Johan, menghubungi polisi, bahkan pihak rumah sakit, tetapi sambungan teleponnya tertutup. Ponselnya juga tak berfungsi. Salma melihat dengan nata kepala sendiri, menjadi saksi di malam pembantaian keluarganya. Satu per satu dari mereka tumbang. Jeritan memekakkan telinga terdengar bersahut-sahutan.


Salma lantas berpikir akan meminta tolong pada warga sekitar. Namun, saat dia membuka pintu rumahnya, sosok wanita berwajah menyeramkan dan tak memiliki kulit wajah, muncul di hadapannya bersama seorang pria yang Salma kenal.


Pria itu hanya tersenyum menyeringai.


"Aku siap mengambil tubuhnya. Lakukan ritual pengambilan jiwa sekarang!" titah perempuan di sampingnya.


"Baik, Karina!" sahut Johan.


...***...


"Sejak saat itu, wanita iblis itu mengambil tubuhku. Rumah ini juga dijadikan rumah jagal, tepatnya di bawah tanah yang tersambung dengan rumah Johan yang lama. Aku disekap di sini dan dijadikan penghuni rumah kosong dan disebarkan rumor untuk menakuti orang agar tak ada yang berani masuk ke sini," ucap Salma.


"Jadi, keluarga kamu ditumbalkan, begitu?" tanya Raja.


"Aku rasa karena ayahku ingin keluar dari sekte sesat Nyi Ageng. Kami dibantai dengan dalih sebagai peringatan pada anggota yang lainnya agar tak berani berkhianat atau keluar dari perkumpulan mereka," ucap Salma menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi, bukankah Nyi Ageng udah Kak Raja bantai sama Kak Anta juga waktu itu kayaknya gue pernah denger ceritanya, deh?" sahut Adam.


"Kalau masih aja ada anggota yang tersisa dan berhasil membangkitkan lagi, sama aja, Dam. Nyi Ageng bisa bangkit lagi kayak Ratu Masako itu," kata Raja.


"Bunda sama Yanda harus tahu tentang ini," kata Adam.


"Yang Kak Raja takutin, Dokter Salma gadungan itu sengaja ngajak Kak Anta temenan supaya dia bisa ngincer Kak Anta." Raja mulai mencari ponselnya.


Dia akan menghubungi Anta dan memastikan keselamatan kakaknya itu. Biar bagaimanapun sosok Nyi Ageng akan terus memburu Anta sebagai media terbaiknya untuk bangkit ke dunia.


Tiba-tiba, Adam menunjuk lembaran terakhir pada jurnal milik Salma yang masih ia pegang dan amati.


"Ini bukannya temen lu di Mapala Merah, Kak?" tanya Adam.


Pemuda itu menunjuk salah satu wanita muda yang Raja kenal pastinya.


"Raisa?"


"Di sini juga ada tulisan "siap memberikan para anggota Mapala Merah" tuh Kak!" tunjuk Adam pada tulisan di paling bawah pada lembaran profil Raisa.


"Dia anggota terbaru yang aku temukan pada jurnal ayahku. Lalu aku tempel di situ. Apa kalian kenal?" tanya Salma.


"Dia kakaknya anak muda yang kamu injak tadi." Raja menunjuk Rangga.


"Wah, jangan-jangan anak itu juga anggota sekte sesat itu," ucap Salma dengan geram dan hendak menghampiri Rangga.


Akan tetapi, Raja menahan tangannya dan berkata, "Tapi, Raisa udah mati."


...*******...


...To be continue ...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2