PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 70 - Akhirnya Bertemu Briana


__ADS_3

Bab 70 PMM


Awalnya Tyo malu ketika melihat Dikta datang bersama Raja. Namun, sepertinya dia juga tak bisa menyembunyikan hal buruk tersebut dari sahabatnya itu.


"Elu dapat dari mana tuh virus?" tanya Dikta.


"Gue tes dulu, nanti kalau ketauan gue positif baru gue kasih tau gue dapat dari mana. Kalau seandainya gue positif, apa kalian masih mau temenan ama gue?" tanya Tyo.


"Kenapa harus nggak mau! Tenang aja, Yo!" sahut Raja.


"Iya, tenang aja!" sahut Dikta.


Sesampainya mereka di rumah sakit, Tyo diantar oleh Dikta dan Raja bertemu Dokter Andi. Dia menjelaskan kalau tes HIV adalah suatu prosedur medis yang dapat mendeteksi virus HIV di dalam tubuh. Secara umum, tes HIV dilakukan dengan cara pemeriksaan darah. Salah satu pemeriksaan HIV atau AIDS yang umum dilakukan adalah tes antibodi. Tes antibodi ini dilakukan dengan mendeteksi antibodi HIV dalam darah yang dibentuk oleh sistem imunitas tubuh sebagai upaya melawan virus berbahaya tersebut.


Raja juga mengamati brosur rumah sakit dengan saksama saat dokter itu menjelaskan. Tes HIV adalah pemeriksaan kesehatan yang penting untuk dilakukan oleh setiap orang. Pasalnya, penularan penyakit ini dapat terjadi dengan mudah melalui kontak cairan tubuh penderitanya. Karena itulah, dokter biasanya akan menganjurkan pemeriksaan HIV setiap tiga atau enam bulan sekali untuk orang yang sudah aktif secara seksual.


"Jadi, apa Anda Anda semua sudah pernah melakukan hubungan seksual tanpa pengaman?" tanya Dokter Andi.


"Saya belum pernah ya, Dok!" Raja langsung mengangkat tangan kanannya ke atas.


"Ummmm, gue lupa," sahut Dikta ketika Raja meliriknya.


Namun, Tyo menunduk.


"Cewek yang kasih tau gue kalau dia kena HIV, pernah tidur ama gue," lirih Tyo.


"Hmmm, baiklah kalau begitu. Sebaiknya Anda berdua mengikuti tes ini," ujar dokter tersebut menunjuk ke arah Tyo dan Dikta.


Dokter Andi menganjurkan untuk melakukan tes antibodi-antigen atau Ab-Ag test, yang merupakan kombinasi pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi protein p24 atau antigen pembawa virus HIV. Serta antibodi HIV-1 atau HIV-2 di dalam darah pasien.


Tes ini dinilai lebih akurat dan bisa dijadikan sebagai pemeriksaan dini dari penyakit HIV atau AIDS karena antigen akan muncul lebih cepat daripada antibodi, yaitu sekitar dua sampai enam minggu setelah terinfeksi.


Setelah menunggu selama dua jam sambil berbincang di kafe, hasil tes darah Dikta dan Tyo keluar. Dokter Andi mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam ruangannya.


Ada raut wajah penuh kelegaan yang terpancar dari Dikta ketika melihat hasil tes darahnya negatif. Namun, tidak dengan Tyo. Wajah murung, kelam, dan penuh kesedihan langsung terpancar.


"Saya harap Anda mengikuti pengobatan lebih lanjut," ucap Dokter Andi.


"Pengobatan? Memangnya ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, Dok?!" Tyo tak bisa lagi menahan tangisnya dan juga kegeraman yang terasa.

__ADS_1


Raja menepuk bahu sahabatnya dan berusaha menenangkan. Begitu juga dengan Dikta.


"Kita bakal bantu elu buat berobat, Yo," ucap Dikta.


"Saya harap Anda berhenti merokok dan mulai konsumsi makanan sehat. Jauhi orang yang lagi flu atau batuk karena daya imun tubuh Anda pasti berkurang. Pokoknya ikuti pengobatan, ya," pinta Dokter Andi.


Setelah itu Tyo dan lainnya pamit. Mereka masuk ke dalam mobil jeep milik Dikta.


"Elu mau tau orang sialan yang udah nularin gue?" Tyo membuka suara setelah hening cukup lama.


"Siapa?" tanya Dikta seraya fokus menyetir.


"Briana. Sialan kan tuh cewek," sungut Tyo.


...***...


Malam itu, Raja dan Adam berkumpul di rumah Anta. Mereka membicarakan mengenai Dokter Salma yang ternyata bukan Salma itu sendiri.


"Lalu, siapa si pemilik tubuh Salma itu, ya?" tanya Anta seraya menyantap rujak yang dibawa Raja dan Adam.


"Dia pasti kenal sama Kak Anta, sama kita juga," sahut Raja.


"Oh, aku inget juga. Aku pernah ketemu dia pas KKN di Desa Sejuk. Duh, namanya … Karina kalau nggak salah," sahut Raja.


"Nah, iya bener. Kak Anta inget banget namanya Karina. Coba besok Kak Anta mau check up ke Dokter Salma. Nanti Kak Anta pancing pancing dia mau ngaku apa nggak," sahut Anta.


"Tapi, kalau dia malah membahayakan Kak Anta, gimana?" tanya Raja.


"Kak Anta ke sana sama Arya, kok. Kalian tenang aja. Jangan buat bunda khawatir dulu, ya. Kasian bunda nanti kalau banyak pikiran gara-gara iblis cewek ini. Nggak si Masako nggak si Nyai Ageng. Rese banget tuh para iblis," kata Anta dengan geram.


"Asal jangan tambah Suku Ro aja muncul lagi, Kak," ucap Raja.


"Suku apaan, Kak? Sukro? Temennya pilus garuda kali?" celetuk Adam.


"Bukan makanan! Ini suku isinya setan semua kayak kanibal pula, hiiii amit-amit deh!" sahut Raja.


"Iya, ih! Astagfirullah amit-amit jabang bayi!" Anta mengusap perutnya berkali-kali.


***

__ADS_1


Pagi itu sepulang kampus, Raja dan Rara menyusuri jalanan ke arah rumah Briana. Mereka ingin mengikuti Briana karena gadis itu kerap menghilang. Raja memberitahukan pada Rara perihal penyakit yang diderita Tyo dan didapatkan dari Briana.


Mereka melewati sebuah jalanan yang sedikit macet karena ada pasar di depannya. Apalagi di hari Senin seperti ini. Sopir angkot terus berteriak agar para pelajar bergegas menaiki angkotnya.


Mereka akhirnya sampai di sebuah pasar. Terlihat Briana masuk ke dalam pasar tersebut. Raja mengajak Rara untuk turun setelah memarkir mobilnya.


"Ja, nanti makan bakso di situ, yuk! Kayaknya enak deh tempatnya juga ramai!" ajak Rara.


"Iya, iya, tapi kita ikuti Briana dulu," sahut Raja.


Namun, Raja kehilangan jejak Briana. Dia lantas mengajak Rara untuk memasuki pasar lebih dalam.


"Elu pada ngikutin gue?!" Briana menyentak Rara dan Raja.


"Eh, Briana! Makin cakep aja, sih!" Raja berusaha memuji.


"Iya ya, Briana makin cakep." Rara menimpali.


"Nggak usah banyak bacot, deh. Kalian ngapain ngikutin gue?" tanyanya mulai ketus.


"Kita cuma disuruh bunda ke pasar buat beli bakso itu. Terus berhubung tadi kayaknya ngeliat kamu makanya mau aku cari dan ajak makan bakso," ucap Raja berbohong.


"Jauh amat cari baksonya! Udah deh nggak usah banyak omong! Ada apa elu cari gue?" bentak Briana.


"Oke, oke. Ini tentang Tyo dan juga tentang kamu. Kita udah tau semuanya, penyakit kamu, Bri," ucap Raja dengan memelankan nada suaranya.


"Sialan Tyo! Nggak tau malu itu orang pake bahas penyakit malu-maluin gini!" sungut Briana.


"Bri, kenapa menghindari kita, sih? Kamu masih punya kita kalau butuh bantuan. Kenapa menghindari kita?" Rara berucap.


"Halah! Kalian nggak takut sama gue? Kalian nggak takut ketularan gue?" tantang Briana.


"Emangnya dengan cara kita ngobrol begini, aku sama Raja bakal ketularan, gitu?" Rara balik bersungut-sungut menatap Briana di hadapannya.


...*****...


...To be continue ...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2