PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 34 - Tyo Ditusuk


__ADS_3

Bab 34 PMM


"Sori, Ta," bisik Tyo lirih, begitu berhasil menyejajari langkah Dikta.


Pria berambut gondrong sepunggung itu langsung menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya ke hadapan Tyo.


"Elu yang udah bikin Lani takut ama gue, kan? Gue cuma mau tanya baik-baik dan mastiin perasaan gue ke dia. Elu yang udah kasih isyarat sama dia, kan, buat jauhin gue?!" tanyanya tajam.


"Bukan gitu. Tadi gue refleks aja, kok, karena gue liat dia bener-bener ketakutan. Kasian tau, Ta!" sahut Tyo.


"Lo kira gue nggak bisa ngeliat dia ketakutan? Gue paham lah. Elu harus paham juga kalau elu ada di posisi gue!" Dikta mendorong bahu Tyo.


"Gue bener-bener minta maaf," ucap Tyo pelan dan dengan nada sungguh-sungguh.


Kedua rahang Dikta tampak mengeras.


"Bagus gue lupa ingatan. Mungkin gue aslinya malah villain terburuk di hidup kalian," desisnya.


Kedua matanya menatap Tyo dengan penuh kobaran api emosi.


Tyo mendadak gemetar dan mundur dua langkah. Dikta tersenyum menyeringai. Kemudian Dikta memilih berlalu. Tyo hanya bisa menatap kepergian rekan sejawatnya itu dengan rasa bersalah.


...***...


Malam harinya Tyo menelepon Dikta. Ia kembali meminta maaf untuk kejadian hari ini.


"Udahlah, nggak apa-apa. Nggak usah dibahas lagi," ucap Dikta dengan nada berat dari dalam ponselnya.


"Gue kepikiran, Ta… Kalau elu masih penasaran dan belom bisa ngelepas Lani, gue bisa bilang ke dia buat nemuin elu," ucap Tyo.


"Nggak akan ada yang bisa nahan itu cewek kalau emang dia bener-bener mau pergi dari gue. Mungkin emang belum saatnya gue inget semuanya. Daripada pas gue inget malah bikin hidup elu semua ketakutan. Biarin aja. Biar pelan-pelan aja gue ingetnya," ucap Dikta.


"Serius, Ta?" Tyo berucap tak percaya.


Dikta tidak menjawab. Padahal Tyo menunggu cukup lama jawaban Dikta lagi. Sampai kemudian didengarnya Dikta menghela napas. Panjang dan berat. Diikuti suara yang terdengar letih.


"Gue mau tidur dulu." Dikta menutupi sambungan ponselnya.

__ADS_1


Helaan napas tercetus dari bibir Tyo yang terdengar letih itu. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu rumah kos-nya terdengar.


"Bentar!" sahut Tyo saat suara ketukan di daun pintu itu untuk ketiga kalinya terdengar.


Dengan langkah malas, Tyo meletakkan ponselnya. Sempat terantuk sandal jepit yang berserakan, Tyo kembali menstabilkan posisi berdirinya. Pemuda itu berjalan menuju ruang tamu.


Tyo mencoba mengintip dari jendela, akan tetapi sosok itu tidak terlihat jelas. Mungkin karena di luar gelap. Tyo ternyata lupa mengganti bahkan teras rumah kos-nya. Apalagi ditambah dengan suasana hujan lebat yang tercipta malam itu.


"Siapa sih? Kok, nggak kelihatan gini?" gumamnya.


Ketukan terdengar makin keras dan membuat emosi Tyo mulai meluap. Dibukanya daun pintu itu sambil mengumpat saat dia memutar kunci.


"Eh, ****** berisik amat lu bertamu malam-malam ke rumah gue?" Tangannya mendorong pintu dengan perlahan.


Saat itu, tubuhnya langsung berhadapan dengan sang tamu. Sosok bermasker dengan mantel hujan warha hitam itu tampak berdiri di depannya. Sosok itu menggenggam sebilah pisau yang berkilauan ditimpa sinar lampu ruang tamu.


"Gila! Siapa elu?!" pekik Tyo sangat kaget.


Dengan bergegas tangannya menarik daun pintu agar menutup kembali. Sayangnya, Tyo terlambat melakukan itu.


Tiba-tiba saja, ujung pisau yang dibawa sosok misterius itu sudah melukai lengan Tyo dengan gerakan cepat tanpa sempat ia cegah atau dia.hindari. Tyo mulai panik mengingat posisinya sudah terjebak. Ia bahkan tak bisa berpikir untuk menghindar karena memang sulit untuk menghindar.


Merasa perih dan kesakitan, Tyo menggenggam lengannya yang mulai meneteskan darah ke lantai. Pemuda itu merasa tubuhnya sangat lemas. la kehilangan tenaganya seketika. Sayup-sayup, Tyo mencoba menerka wajah di balik masker tersebut. Sayangnya, pandangan pemuda itu mulai rabun.


Rasa takut yang begitu mencekam mulai menyerangnya. Ditatapnya sosok bermantel itu dengan sorot memohon ampunan. Tyo pastinya belum mau mati. Apalagi jika sosok itu adalah si pembunuh berantai yang terus menuntut agar semua anggota Mapala Merah tewas.


Tyo berusaha menarik masker di wajah sosok misterius itu. Namun, sosok itu terus melawan.


"Siapa elo? Ngaku luh jangan jadi pengecut!" seru Tyo dengan nada berseru tetapi terdengar kepanikan di sana.


Sosok misterius itu hanya bersiul. Sosok itu bahkan tidak mengacuhkan pertanyaan Tyo. Sebagai gantinya, tangan itu kembali menghunuskan pisau ke tubuh Tyo. Berkali-kali tanpa ampun.


"Arrgghh! Ampun! Ampun! Ampuni gue!"


Tyo menjerit sejadi-jadinya, tetapi suaranya teredam oleh gemuruh petir yang menggelegar. Pemuda itu terus menjerit sebelum akhirnya tubuhnya merosot menuruni dinding. Meninggalkan genangan darah pada lantai. Darah segar yang diiringi rintihan.


...***...

__ADS_1


Raja dan Rara dalam perjalanan menuju rumah Tyo untuk mencari alamat Lani. Pasalnya setelah datang ke kampus, sosok Lani kembali menghilang dan pindah dari tempat kos yang Briana tahu. Entah Briana berbohong atau tidak. Yang jelas Rara ingin mempertemukan hantunya Ajeng dengan Lani dan Briana atas bantuannya Anta nantinya.


Hujan tak lagi lebat seperti sebelumnya. Hanya menyisakan rintik gerimis. Tiba-tiba, ban mobil yang dikendarai Raja mengalami kempis sehingga Raja harus mencari bengkel terdekat. Padahal tinggal satu kilometer lagi sampai di rumah kos Tyo.


"Aku mau ke minimarket itu dulu, ya. Mau beli minum. Kamu mau minum apa, Ja?" tanya Rara.


"Kopi aja, deh." Raja mengulas senyum tampannya.


Rara menunjukkan gestur oke. Dia menuju ke minimarket yang ada di seberang bengkel. Gadis itu tak sengaja bertabrakan dengan Rangga, adik dari Raisa.


"Sori sori, gue nggak ngeliat." Rangga menunduk sesaat pada Rara.


"Iya nggak apa-apa." Rara mengamati Rangga dengan saksama. Ia mencoba mengingat wajah yang pernah dia jumpai itu.


Sementara Rangga menarik penutup kepala mantel hujannya yang berwarna hitam itu. Menaiki motornya yang diparkir depan minimarket, lalu memakai helm. Rangga lantas melajukan motornya dengan kencang.


"Oh iya, dia itu adiknya Raisa! Mau ngapain dia ke daerah ini, ya?" gumam Rara.


Tak lama kemudian, gadis itu kembali dari minimarket dengan membawa minuman dingin serta cemilan chiki taro dalam plastik ramah lingkungan dari mini market.


"Tadi aku lihat adiknya Raisa," ucap Rara menyerahkan minuman kopi dalam kemasan botol ke Raja.


"Si Rangga? Mau ngapain dia ke daerah ini. Jauh amat mainnya," kata Raja.


Rara hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya. Mendadak kemudian, tatapan gadis itu menyipit. Sesuatu yang melintas di kejauhan membuatnya tertarik.


"Kamu lihat apa?" Raja menoleh ke arah yang sedang diamati Rara.


"Itu kayaknya si Dikta ya, Ja?" lirih Rara.


Tak lama Raja mengangguk membenarkan. Pasalnya mobil jeep warna hijau army memang milik Dikta. Ditambah dari jendela pengemudi itu terlihat sosok pria dengan rambut dikuncir kuda, tampak fokus menyetir.


"Dari mana si Dikta, ya?" gumam Raja.


...*****...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2