
Bab 55 PMM
Boy pergi ke sebuah desa untuk mencari mangsa atas perintah Dokter Salma. Malam itu, ia bertemu dengan Vivi, biduan desa yang mau diajaknya bermalam di sebuah villa yang ia sewa.
"Mas, kamar mandi di mana? Badan aku lengket semua, bau asem juga, nih?" tanya Vivi.
"Ada di deket dapur sebelah kiri," ucap Boy.
"Mas, mau nemenin saya, nggak?" Vivi menggoda Boy yang padahal tengah menyiapkan suntikan bius untuk Vivi.
Boy lalu tertawa. Pria itu mengikuti langkah Vivi menuju kamar mandi. Tanpa ragu lagi pria hidung belang itu memuaskan hasrat terlarang mereka dan melampiaskannya pada tubuh sang biduan.
Vivi sampai lemas dan berbaring lelah di dalam rendaman air bath tub. Sementara Boy menyiapkan suntikan berisi obat bius yang akan membuat tubuh wanita itu mati rasa dan tak dapat bergerak karena menjadi kaku.
Vivi tersentak saat jarum suntik itu masuk ke lengan atas bagian kanan saat Boy mengalirkan obat bius tersebut ke dalam tubuhnya. Boy menyeringai saat menahan tubuh Vivi agar tidak bergerak karena wanita itu mulai meronta - ronta.
Tubuh Vivi lantas melunak dan lemas kala reaksi obat itu sudah terasa mengalir dalam tubuhnya. Boy mengangkat tubuh wanita itu lalu membaringkan di atas ranjang yang sudah dialasi plastik. Boy lalu menghubungi Raina untuk membantunya.
Vivi hanya bisa menangis menitikkan air matanya karena ia tak bisa menggerakkan tubuhnya untuk kabur.
"Cup cup, sayang, jangan nangis dong! Kalau nangis terus, nanti cantiknya hilang," ucap Boy menyeka buliran bening yang jatuh ke telinga dan atas ranjang itu.
Vivi balas menatap Boy dengan tatapan geram nan tajam.
"Biasa aja dong ngeliatin akunya! Tadi aja kamu merem melek, masa sekarang melotot, hahaha!" Boy menghinanya.
Pria itu mulai menyiapkan alat bedah di tangannya itu. Boy mulai mengeksekusi tubuh Vivi.
"Cantik sekali," cicit Boy saat melihat tubuh wanita yang tergeletak itu sudah menganga.
Raina datang seraya bersiul. Ia lalu melangkah menuju dvd player untuk memperdengarkan musik kesukaannya. Lagu Linkin Park berjudul Faint mengiringi kegilaan yang mereka buat itu terhadap tubuh Vivi.
Diiringi dengan gemuruh petir dan hujan deras pula di luar rumah, Boy dan Raina menghayati perbuatan keji mereka sambil bernyanyi dan sesekali menganggukan kepala mendengarkan musik rock tersebut.
...***...
__ADS_1
Di kampus Briana dan Lani.
"Elu belum liat si Boy, Lan?" tanya Briana.
"Bodo amat lah. Gue harap dia mati ditelan bumi!" serunya.
"Eh, elu sadar nggak kalau udah seminggu kita juga nggak lihat Dikta sama Tyo?" tanya Briana.
"Masa, sih? Kalau Dikta sih gue bodo amat. Tapi kayaknya kalau Tyo … apa waktu itu dia mau pamit pergi, ya?" gumam Lani.
Perut Lani berbunyi, menandakan para cacing di dalam perut kempisnya itu mulai memberontak kala rasa lapar menyeruak.
"Bri, antar gur yuk ke soto mie yang waktu itu," rengek Lani.
"Ah, males ah! Jauh dari kampus tau! Mana panas gini. Nanti sore aja apa pulang kuliah aja," sahut Briana.
"Gue maunya sekarang! Ayo dong, Bri…." Lani makin merengek.
"Lah, gue lagi fotokopi tugas ini," ucap Briana.
"Tapi nanti si Asep mau nyalin tugas gue, gimana dong?" Briana masih mencoba menahan Lani.
"Suruh dia nyalin ke sini!" seru Lani.
"Ya udah bentar. Gue mau telpon si Asep dulu," ucap Briana lalu menghubungi Asep melalui ponselnya, sementara Lani menunggu di dekat gerbang kampus.
Rara menepuk bahu Lani membuatnya terkejut.
"Maaf ya udah bikin kamu kaget," ucap Rara.
"Ra, makan soto mie, yuk!" ajak Lani.
"Ummm, gimana ya, aku baru makan tau."
"Udah makan aja nggak pake nasi. Kelas kita juga masih setengah jam lagi," ucap Lani.
__ADS_1
Rara akhirnya mengangguk. Namun, ia sempat terkejut kala melihat sosok perempuan yang sama yang pernah ia lihat menghantuinya di dekat parkiran kampus. Kali ini, sosok hantu wanita itu mendekat dan mencengkeram tangan Rara. Sontak saja, Rara terkejut dan hendak berteriak, tetapi lidahnya kelu tak dapat mengeluarkan suara.
"Aku tahu kau dapat melihatku," ucapnya pada Rara.
"Ra, elu kenapa?" tanya Lani mulai panik.
Ia melihat wajah Rara pucat pasi dengan mata terbelalak tetapi mulutnya hanya mangap-mangap seperti ikan mas koki di akuarim ayahnya.
"Wah, ni anak kayaknya lihat setan, nih," ucap Briana kala mendekati Rara dan Lani.
Briana dan Lani lantas mengguncang-guncang bahunya Rara. Sampai akhirnya, gadis itu bisa terbebas juga dari sosok hantu dengan rambut pendek seleher.
Rara menoleh ke arah Lani dan Briana. Lalu ia kembali menoleh ke hantu perempuan tadi, akan tetapi saat ia menoleh pada sosok hantu perempuan tadi, sosok hantu itu sudah menghilang. Rara menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan hantu wanita itu.
"Ra, elu cari siapa?" tanya Lani.
"Elu kesambet, ya?" Briana ganti bertanya.
"Tadi itu, tadi itu, ada perempuan di sini, Lan, Bri" sahut Rara menunjuk ke arah depannya.
"Setan, ya?" tanya Lani dan Briana bersamaan.
"Kayaknya iya," sahut Rara.
"Ya elah si Rara! Udah ah, masih siang jangan ngomongin hantu mulu!" sahut Lani.
"Tau nih, masa ada hantu berani nongol siang - siang gini?" sahut Briana.
"Nyatanya emang nongol, Bri," lirih Lani.
"Iya juga, ya. Udah ah yuk kita makan soto! Gue jadi merinding disko gini!" seru Briana.
...******...
...To be continued see you next chapter!...
__ADS_1