
Bab 26 PMM
Dikta dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga oleh Raja dan Tyo. Briana dan Rara sudah sampai di rumah Dikta. Mereka berusaha menenangkan Lani yang masih gemetar. Tyo meminta semuanya untuk mengaku di depan polisi penyidik kalau Dikta mengalami kecelakaan dan terjatuh dari tangga.
Namun, tak semudah itu untuk membuat Rio percaya. Saat makan malam pun, Rio tetap menginterogasi adiknya perihal kecelakaan yang menimpa Dikta.
"Kamu nggak bisa bohong dari aku, Ra. Cerita aja kenapa Dikta bisa jatoh?" selidik Rio.
"Ummm, tapi emang kecelakaan, Kak! Bahkan kalau mau diusut yang salah itu emang Dikta. Dia culik Lani dan bahkan mau apa-apain Lani. Terus mereka ribut di tangga. Tapi Lani nggak sengaja nepis Dikta dan buat dia kedorong. Apa salah kalau Lani cuma membela diri?" ucap Rara.
"Kalau keluarga Dikta buat tuntutan, gimana? Raja bisa dipenjara loh sama Lani dan Tyo," tutur Rio.
"Kak, harusnya Kakak juga selidiki Dikta. Tadinya aku pikir Lani yang bisa dijadikan tersangka pembunuhan Raisa dan Ajeng, tapi makin ke sini dan lihat langsung gimana psyco nya seorang Dikta, aku jadi curiga sama dia. Dan yang aku denger dari Raja, Dikta itu pernah sengaja nabrak temennya pas SMA. Coba kakak selidiki dia lebih lanjut," tukas Rara.
"Bisa nggak makannya pada anteng? Bahas mau jalan-jalan gitu, apa tanyain kabar si Yuri ini," ucap Ryujin seraya meletakkan putri kecilnya yang berusia dua tahun itu duduk di kursi bayi.
Rio dan Rara bertatapan sejenak lalu mengangguk. Keduanya melukiskan senyum yang lebar lalu mulai menggoda anak perempuan kecil yang menggemaskan itu.
***
Di rumah sakit tempat Dikta dirawat. Lani dan Raja masih menunggu untuk mengetahui perkembangan Dikta setelah tak sadarkan diri selama tiga hari. Orang tua Dikta bahkan belum datang untuk melihat kondisi anaknya. Hanya Mbok Nah yang setiap hari datang. Hari itu, Tyo sedang dimintai keterangan oleh Rio kala Mbok Nah datang.
"Orang tuanya kapan datang, Mbok?" tanya Raja.
"Nggak akan dateng, Den. Bisnis lebih penting dari pada anaknya. Suami istri gila kerja, yang penting mereka kasih uang ke Den Dikta. Itulah yang buat Den Dikta arogan dan sombong karena apa pun bisa dia beli," ucap Mbok Nah.
"Mbok, cctv rumah nyala, kan? Bisa buat bukti kalau Dikta emang nyulik Lani dan saya sama Tyo cuma mencoba membebaskan dia," ucap Raja.
"Dirusak sama Den Dikta pas malamnya. Mbok juga nggak ngerti kenapa," sahutnya seraya menatap Dikta dan membersihkan wajah sang majikan.
Dikta lantas tersadar. Perlahan dia membuka kedua matanya.
"Ah, syukurlah Den Dikta udah sadar. Mbok pikir kalau Aden nggak akan selamat kali ini!" seru perempuan itu bernada rendah, tetapi jelas tersirat rasa senang dan syukur. Mbok Nah bahkan sudah menangis sesenggukan.
Dikta mengamati wajah Mbok Nah dengan kebingungan. Dia juga melirik ke arah Lani yang bersembunyi di belakang Rara. Dikta juga melihat wajah Raja dan Rara dengan saksama.
__ADS_1
"Hai, Ta! Akhirnya elu sadar juga," sapa Tyo yang baru datang ke kamar perawatan Dikta setelah memberi keterangan pada polisi.
Dikta tampak masih berusaha untuk mencerna keadaan, tetapi satu hal yang jelas dia rasakan ketika tubuhnya tidak sesakit tadi.
Dikta mengamati sebuah infus tertancap di punggung tangan. Lalu, kembali lagi mengamati orang-orang di hadapannya dengan heran kala seorang suster datang dan memberikan suntikan obat penghilang rasa sakit sehingga rasanya tak sesakit tadi. Perlahan tetapi pasti, pemuda itu mencoba mengingat keras dan terlempar pada peristiwa terakhir yang dia alami. Namun, dia tak bisa mengingatnya.
"Hai, Ta!" sapa Tyo. Raja juga melambaik tangannya.
Dikta menatap Tyo lekat-lekat. Pemuda itu berdeham pelan, sebelum berupaya membuka bibirnya yang terasa menempel erat satu sama lain.
"Kalian siapa?" tanya Dikta seketika mengejutkan semua yang ada di kamar perawatannya tersebut.
"Nama elu Dikta, elu nggak inget?" tanya Tyo.
Dikta menggeleng. Dia bahkan memijit kepalanya yang berdenyut hebat.
"Aaarrghhh! Kenapa ini sakit banget!" pekik Dikta.
"Apa dia hilang ingatan? Amnesia gitu?" bisik Lani pada Rara.
"Dikta, coba ada yang masih kamu inget nggak?" tanya Tyo seraya menunjuk ke arah Raja dan yang lainnya.
"Aku nggak inget sama kalian, sumpah aku bingung banget," sahut Dikta seraya memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
"Aku? Elu ngomong aku?" Tyo menatap tak percaya.
Tyo hanya memandang Tyo dan lainnya dengan datar tetapi dalam hati dia saat penasaran dengan sosok pria dan perempuan ini.
"Kamu nggak kenal aku?" Lani menunjuk dirinya sendiri.
Dikta mencoba mengingatnya dan akhirnya menggeleng, "aku nggak inget," sahut Dikta.
Lani menatap tak percaya. Bahkan Tyo juga sampai memeriksa lubang telinganya takut ada kotoran yang menyumbat untuk memastikan.
"Elu nggak inget sama Lani?" tanya Rara meyakinkan pendengarannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Tyo menatapnya sangat heran.
Dikta malah masih menancapkan netranya pada wajah cantik milik Rara. Jauh di dalam hatinya, lagi-lagi dia berpikir kalau seseorang yang cantik itu adalah kekasihnya.
"Dia siapa? Apa dia pacarku?" tanya Dikta menunjuk Rara.
Sontak saja Raja langsung berdiri di hadapan Rara, "dia pacar aku."
"Sepertinya yang aku ingat dia pacar aku," sahut Dikta.
Kedua tangan Raja mengepal, tetapi Tyo langsung menarik tangan Raja, "ikut gue!"
Keduanya menuju ke luar kamar.
"Itu orang amnesia menyebalkan banget, ya?" keluh Raja.
"Ja, kata Pak Rio besar kemungkinan pembunuh berantai anak-anak Mapala Merah itu dia. Tapi, kalau Dikta hilang ingatan gini malah ribet urusannya. Polisi jadi nggak bisa minta keterangan dari dia," ucap Tyo.
"Ya, terus gimana dong?" Raja mengernyit.
"Biar aja dia anggap si Rara itu pacarnya. Paling nggak dia nggak akan membahayakan Lani atau gue atau juga elu sama Rara. Nah, kita manfaatkan hilang ingatan si Dikta dengan kirim Rara buat jadi mata-mata dan cari tahu tentang Dikta, gimana?" Tyo memberi saran.
"Gila! Nanti kalau si Rara yang diapa-apain, gimana?" Raja mulai meradang.
"Nggak lah. Setiap Rara sama Dikta, kita pantau dari jauh. Terutama elu. Elu harus berada di dekat Rara. Yang penting Rara cari petunjuk semacam bukti keterlibatan Dikta tentang kematian temen-temen kita."
Raja diam sejenak dan akhirnya menuruti idenya Tyo. Mereka lalu kembali ke kamar Dikta.
Sosok Dikta masih mematrikan maniknya pada wajah Rara. Ia yakin kalau gadis cantik itu adalah seseorang yang menyelamatkan nyawanya, yang sejak tadi bergerak mengambilkan air untuknya.
Suara Rara bahkan mengalun merdu. Padahal sedari tadi Rara malah meyakinkan Dikta kalau kekasih pria itu adalah Lani. Namun, tentu saja hal tersebut malah menyenangkan untuk Lani. Dia akhirnya bebas dari Dikta.
Lani malah membiarkan Dikta hanyut dalam rasa ketertarikan teramat sangat terhadap Rara. Bagi Dikta, wajah Rara tampak dipahat dengan sempurna dan dia benar-benar memiliki kilatan mata yang menawan. Dikta benar-benar jatuh cinta pada Rara.
...*****...
__ADS_1
...To be continued, see you next chapter!...