PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 83 - Pengakuan Lani


__ADS_3

Bab 83 PMM


Dikta membuka lembaran buku catatan harian milik Lani yang membuatnya terkejut. Ada foto yang sama yang ternyata sama dengan miliknya. Foto ketika para anggota Mapala Merah berkumpul bersama dalam sebuah kegiatan. Tetapi, wajah Raisa, Devan, Ajeng, Briana, Tyo sudah diberi tanda silang merah. Hanya wajahnya dan Lani yang belum ditandai.


"Kenapa Lani punya buku kayak gue, ya?" gumam Dikta.


Dikta berdiri dengan tubuh membeku. Tanpa sadar dia mengambil tempat terjauh di ruangan itu seraya mengamati buku diary tersebut. Namun, pandangannya beralih ke Lani. Gadis inilah pusat rasa sakitnya. Namun, ia juga bingung kenapa dia langsung ke sini begitu mendapatkan telepon tadi. Dikta bahkan tak sempat berpikir panjang lagi karena ia begitu merasa khawatir


Jam dinding berlari menuju menit demi menit. Dikta masih membeku dalam diam. Tidak bergerak sekali pun. Buku diary itu ia letakkan kembali. Toh, Lani juga belum terjaga. Jari jemari nya merapat saling menahan agar tidak bergerak.


Hanya sepasang mata dengan iris hitam yang dia biarkan lekat menatap seseorang yang sangat ingin dipeluknya kala itu. Amat sangat ingin dipeluknya.


Ketika rasa sakit di dadanya tidak juga mereda, Dikta akhirnya menyerah pada keinginan hatinya untuk mendekat. Sesaat ditariknya napas dalam dan panjang-panjang.


Dikta akhirnya bergerak meninggalkan tempatnya mematung tadi. Dinyalakannya lampu kamar. Kemudian dia melangkah ke pintu teras beranda kamar Lani dan menutupnya. Saat itulah, saat dia membalikkan badan, dia melihat apa yang dipeluk Lani dalam tidurnya.


Boneka teddy bear yang pernah dia berikan pada Lani masih di sana. Dia pikir Lani sudah membakarnya. Dikta menatap terpana tak percaya. Benar-benar tidak percaya. Tadinya dia mengira boneka teddy bear itu akan langsung lenyap begitu Lani menerimanya. Kan, Lani tak pernah menyukainya secara nyata. Boneka itu pasti akan dibuang atau diberikan ke orang lain, bahkan bisa jadi dibakar.


"Jangan ge er lu, Ta," gumam Dikta pada diri sendiri.


Namun detik berikutnya, harapan yang melambung itu terempas. Lani memang penyuka boneka teddy yang fanatik. Mungkin boneka itu dipeluk sama sekali bukan karena alasan Dikta yang memberikannya. Akan tetapi karena dia cinta boneka teddy itu dan menambah koleksinya.


Dikta kembali tersenyum pahit. Menyadari alasan koleksi boneka Lani lah yang paling mungkin masuk akal. Akhirnya pemuda itu hanya berdiri diam kembali.


"Hmmm, gue nggak ngerti kenapa gue bisa sayang banget sama elu, Lan," gumam Dikta.


Masih ditatapnya wajah cantik nan ayu dengan mata tertutup itu. Hanya bisa seperti itu tak bisa berharap lebih. Dikta hanya bisa memeluk Lani dengan tatapan. Di tempat terdekat yang rasanya juga paling jauh. Hatinya malah terasa perih mengiris.


Lani tiba-tiba bergerak dalam tidurnya. Membuat Dikta seketika mundur menjauhi tempat tidur gadis itu. Saat itulah uraian rambut Lani tersibak, memperlihatkan sesuatu yang berkilau di telinga kanannya. Lagi-lagi, anting pemberian Dikta dan liontin di leher Lani masih melekat pada tubuhnya.


Dikta lantas terpaku. Sesaat tidak yakin dengan pemandangan itu. Perlahan dia mendekat untuk memastikan lagi, lalu membungkukkan tubuhnya. Dengan hati-hati, disibaknya uraian rambut Lani sampai benar-benar terbuka. Tepat sekali membuat Dikta terpana. Itu anting yang sama seperti pemberiannya.


Tubuh Dikta lantas menegak. Namun, ia membeku dan menatap tak percaya. Berapa lama sudah Lani memakai anting dan liontin lemberiannya itu?


Ruangan kamar Lani jadi terasa gerah setelah pintu teras ditutup membuat Lani jadi gelisah dalam tidurnya. Pendingin ruangan juga tidak dinyalakan. Lani terdengar mengigau pelan, lalu mengubah posisi.

__ADS_1


Dikta langsung bergerak mundur menjauhi tempat tidur. Kembali gadis itu mengubah posisi, sambil mengeluh panas. Kemudian gadis itu akhirnya membuka mata. Lani mendengus kesal karena lampu kamarnya menyala dan pintu teras telah ditutup.


"Ini pasti gara-gara Mbok Ijah. Ijaaaaah...," panggilnya dengan suara serak.


Gadis itu mulai terjaga.


"Kok lampunya dinyalain, sih? Pintu terasnya juga kenapa ditutup gitu, sih? Dibilangin bulan lagi bagus-bagusnya, juga. Ih, nyebelin nih si Ijah!" sungutnya.


Dengan gerakan terhuyung, Lani bergerak bangun dari posisi tidurnya. Sesaat dia berhenti karena kepala nya terasa sangat sakit. Dengan gerakan lambat dia lalu menggeser tubuh ke arah tepi tempat tidur.


Saat itulah Lani menyadari ada seseorang di kamarnya. Seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya. Dia mendongak dan terpana seketika. Sepasang matanya menatap terbelalak tak menyangka. Lani benar-benar tidak percaya bahwa yang sekarang ini sedang berdiri tidak jauh darinya, yang juga tengah menatapnya, adalah Dikta.


Satu tangannya yang berada di tepi tempat tidur tanpa sadar mencengkeram tepi itu kuat- kuat. Membuat bagian yang tertekan melesak ke dalam. Lani sampai jatuh terjungkal dengan posisi kepala lebih dulu. Seketika Dikta bergerak maju untuk menolong. Dengan tubuh membungkuk, diulurkannya tangan kirinya dan ditangkapnya tubuh Lani sebelum kepala gadis itu membentur lantai.


"Duh, kalau lagi nggak kuat, nggak usah maksa buat bangun!" desis Dikta.


Lani menatap Dikta tak percaya. Dia memastikan lagi kalau memang Dikta yang benar tepat berada di atas wajahnya.


"Dikta? Kok, kamu bisa ada di sini?" tanyanya tergagap.


Pada akhirnya, Dikta menjatuhkan diri ke lantai dengan posisi tubuh Lani berada di atasnya. Dikta mengerang pelan saat punggungnya membentur lantai yang keras.


"Duh, sakit juga ya."


Dikaitkannya kaki kanannya ke salah satu kaki besi tempat tidur. Dengan cara itu ditegakkannya kembali punggungnya.


"Kok kamu bisa di sini, sih?" Lani tak peduli dengan jatuhnya Dikta, dia malah mengulang pertanyaannya.


Suaranya terdengar menohok. Namun, bukannya menjawab, Dikta justru mengajukan pertanyaannya sendiri.


"Udah berapa lama kamu pake anting sama kalung dari aku?" bisiknya.


Lani mendadak terkesiap. Tangannya bergerak cepat untuk menutupi, tetapi Dikta lebih cepat lagi. Pemuda itu menahan gerakan tangan Lani.


"Udah berapa lama, hayo?" tanya Dikta lagi.

__ADS_1


Kini, Ada ketegangan dalam suara Dikt. Membuat Lani menelan ludahnya berat. Bibir gadis itu mencoba bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Dikta hanya menggeleng pelan. Sepasang matanya menyipit redup.


"Kok, nggak dijawab?" tanya Dikta lagi.


"Nggak apa-apa, kok. Aku lagi pengen pakai aja," sahut Lani menjawab pelan.


Dikta menundukkan kepalanya. Ditatapnya gadis yang meringkuk di antara kedua kakinya. Lalu dipeluknya dengan lengan kiri dan disangganya di dada kiri. Ditatapnya Lani tepat di manik mata.


"Bener kamu nggak apa-apa?" tanya Dikta.


Lani sampai tertegun. Sepasang matanya terpaku di dua bola mata Dikta. Pemuda itu menangkap ketakutan di sepasang mata itu. Terbaca sangat jelas. Namun setelah begitu banyak yang terjadi selama ini, dia membutuhkan satu kepastian bahwa dirinya memang benar-benar diinginkan oleh Lani.


"Tolong akui saja. Sekali aja, Lan," pinta Dikta dengan perlahan.


Lani sontak melepaskan diri dari pelukan Dikta. Dia tegakkan punggungnya. Sorot mata dan bahasa tubuhnya membuat Dikta menunggu dengan ketegangan yang memuncak.


Lani tidak mengatakan apa-apa. Namun, dengan tersipu dan malu, gadis itu mengulurkan kedua tangannya dan memeluk leher Dikta. Tubuh pemuda sempat tersentak ke belakang. Sama sekali tidak menduga. Ada senyum tipis yang terlukis di wajah pemuda itu.


Meskipun tetap tidak terkatakan juga. Namun biarlah, tak apa-apa buat Dikta. Sekarang, dipeluknya Lani. Kali ini dengan kedua lengannya.


"Dasar gadis bodoh!" bisik Dikta.


Diusap-usapnya punggung gadis ity dalam pelukannya. Hening tercipta seolah waktu sengaja berhenti untuk membiarkan pasangan itu terlena sesaat. Sampai kemudian Lani mengucapkan kata-kata yang membuat Dikta terkejut.


"Anting ini nggak pernah aku lepas," ucapnya lalu melanjutkan ucapannya, "aku berdiri di balik jendela auditorium itu juga udah lama. Abis aku cuma bisa ngeliat kamu dari sana."


Dikta langsung terperangah. Belaiannya di punggung Lani seketika terhenti. Dia mengurai pelukannya, tetapi Lani menolak memisahkan diri. Kedua tangan Lani yang memeluk leher Dikta malah menguat, karena gadis itu sengaja menyembunyikan wajah malunya di sana.


Akhirnya Dikta menghentikan usahanya untuk bisa melihat wajah Lani. Dipeluknya gadis itu kembali. Kali ini dengan perasaan yang benar- benar terasa lega. Dengan hati yang benar terasa ringan tak ada beban untuk menjauh seperti sebelumnya. Kemudian, disadarinya tubuh Lani terasa demam, meskipun tidak terlalu tinggi.


"Kamu sakit apa, sih?" tanya Dikta.


...******...


...To be continue ...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2