PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 37 - Menolong Yaya dan Wanda


__ADS_3

Bab 37 PMM


Kedua perempuan itu tampak ketakutan dan pergi. Wanda terduduk lemas dan minta dikipasi oleh Adam.


"Loh, kok gue?" tanya Adam.


"Udah turutin aja!" seru Anta dan Raja bersamaan.


"Iya, iya, mentang-mentang tuaan jadi semena-mena sama adeknya, huuuu!" Dengan berat hati Adam meraih majalah lalu mengipasi wajah Wanda.


Anta menjelaskan duduk perkara kedatangannya ke salon tersebut. Sesekali dia juga menenangkan.


"Udah sebulan ini baju saya katanya bau bangkai. Eh, ditambah suruh ngerias setan, mana gosong lagi! Gimana coba nanti pas di foto kan nggak ada cakep-cakepnya?!" Wanda mengeluh.


"Kok, bisa bajunya bau ******?" tanya Raja.


"Mana aku tahu, Ganteng!" Wanda mencolek dagunya Raja.


Sontak saja Raja bergidik geli penuh kengerian.


"Anta tahu, pasti ada yang mau jatuhin usaha salon kamu. Dulu juga pernah pas Anta mau nikah, fitting baju di tempat yang baju pengantinnya bau busuk. Semua baju saya bau bangkai gitu," kata Anta.


"Terus, cara menghilangkannya gimana? Ke dukun gitu? Aku nggak punya uang, Cyin!" sahutnya yang meminta Adam lebih kencang lagi kipasnya.


Akhirnya, Adam yang kesal meraih kipas angin yang diletakkan di sudut ruangan lalu mengarahkan arah putaran angin nya pada Wanda.


"Aduh, geblek banget sih! Kekencengan tau! Lagian udah ada AC malah nyalain kipas. Ini tuh cadangan kalau AC rusak tau!" sungut Wanda.


"Nah, itu tau kalau udah ada AC. Ngapa minta dikipasin, huuu!" Adam ganti bersungut-sungut.


"Nggak usah ke dukun. Bentar, ya, Anta mau cari setannya!" ucap Anta.


"Kak, ini setannya!" Raja dan Rara menunjuk ke arah Yaya.


"Bukan setan yang itu," sahut Anta.


"Duh, setan mana lagi ini yang dateng ke sini? Di sini salon manusia, bukan hantu!" ketusnya seraya panik dan mulai menangis.


"Sebentar makanya sabar dulu. U.mm, rasanya Anta jadi tahu." Anta lalu melangkah ke arah sudut salon.


Ia mengulurkan tangan kanannya untuk menyibak sebuay gorden yang menjuntai sepanjang dua meter dari langit-langit ruangan menuju ke lantai ubin marmer itu.


"Sepuluh gelombang kanan, sebulab gelombang kiri! Langsung deh, ciluuuukkkk baaaaaaa!" Anta mengejutkan sosok pocong yang berdiri bersembunyi di balik tirai.


Sontak saja Rara tersentak dan berteriak lalu menuju ke pelukan Raja. Sementara Yaya yang juga terkejut hendak menuju ke pelukan Adam. Namun, Adam sudah sigap dengan meraih standing kipas angin sebagai tamengnya.


"Ada apa lagi ini?!" pekik Wanda.


"Begini, Tante Wanda, bukan sulap bukan sihir, tapi kami semua dapat melihatnya," ucap Raja.


"Melihat apa?" tanya Wanda tak mengerti.

__ADS_1


"Siap-siap, kalian pegangin takut si tantenya pingsan," ucap Anta.


Raja dan Adam bergegas menuju ke belakang punggung Wanda.


"Halo, Cong! Anta mau tanya, ngapain kamu ada di sini?" tanya Anta di hadapan sosok pocong itu.


Sosok itu hanya diam bahkan melotot memperlihatkan bola matanya yang merah. Anta yang gemas jadi ikut melotot. Sampai keduanya saling melotot lebih tajam. Anta yang gemas akhirnya menarik ikatan tali pocong tersebut.


"Pegel tau mataku! Hayo, kamu ngaku sama Anta, kamu ngapain di sini? Jangan-jangan kamu yang buat tempat ini nggak laku dan bikin baju-baju di sini bau bangkai, ya?" tuduh Anta.


Sosok wanita pemberani itu menarik pucuk ikatan di atas kepala pocong itu sampai jatuh ke arah depan.


"Dia bicara dengan siapa, sih?" tanya Wanda.


"Sama pocong, mau liat?" tantang Raja.


"Hah, pocong?!" pekik Wanda.


"Ja, sini bantuin Kak Anta! Kita bakar dia sekarang!" seru Anta memanggil Raja.


"Oke, Kak. Kalau perlu kita siksa dulu aja lah biar seru," sahut Raja penuh ancaman kala menghampiri.


"Ampun, ampun! Jangan bakar saya! Saya cuma disuruh," ucap sosok pocong itu mengakui.


"Siapa yang nyuruh kamu?" tanya Anta.


"Pemilik salon baru yang ada di ujung jalan itu, namanya Isabella adalah kisah cinta dua dunia … mengapa–"


"Astagfirullah, aku ngerti sekarang. Jadi ada salon baru yang ngerasa kesaing, terus kirim pocong itu buat menghancurkan bisnisnya Tante Wanda?" tanya Rara.


"Betul sekali!" sahut Anta.


Wangi langsung terlihat geram, "ini pasti ulah Isabela, kan? Dia emang niat banget mau jadi sayangan saya dari dulu. Ih, masih saja aku tuh tak percaya sama sikap baik dia," ucap Wanda.


Anta terpaksa menunjukkan sosok menyeramkan itu pada Wanda yang sampai terduduk lemas. Anta menjelaskan pembicaraan dengan sosok pocong itu.


"Ja-jadi, jadi dia dikirim ke sini untuk membuat saya rugi?" tanya Wanda.


"Iya, tentu saja. Pengirimnya pemilik salon di ujung jalan sana. Anta curiga ada sesuatu di pot tanaman di depan itu soalnya dulu juga pernah kejadian kayak gitu," ucal Anta yang meminta izin untuk mengacak-acak pot kembang.


Anta lantas menuju ke bagian pot tanaman yang ada di depan salon. Ucapan Anta terbukti kala dia menemukan tali pocong yang dipendam di dalam tanah pot tersebut.


"Ih, apa itu?!" pekik Wanda.


"Itu tali pocong, Tante," bisik Raja.


Anta lalu meminta Raja untuk membakar tali pocong tersebut. Sontak saja pocong tadi kepanasan dan berteriak. Sosok itu akhirnya menghilang menjadi abu yang berterbangan bersama debu.


"Aku nggak akan tinggal diam. Si isabela harus aku balas!" Wanda bersiap untuk menyerang ke salon Isabella.


"Eit, tadi janjinya apa? Ayo, riasin Mbak Yaya!" pinta Raja.

__ADS_1


"Ta-tapi, itu setan mau bayar aku pakai apa? Pakai kemenyan? Apa pakai bunga kantil?" tanya Wanda.


"Aku punya tabungan deposito yang bisa kamu cairkan. Nanti aku kasih tau pinnya. Kamu ambil secukupnya lalu sisanya berikan pada ibuku," ucap Yaya.


"Tuh, dapat duit. Kapan lagi punya kesempatan nyalonin hantu gosong, Tante. Ini tantang tersendiri loh," ucap Raja meyakinkan.


"Bener, tuh! Kapan lagi Tante. Kulitnya eksotik, loh." Adam menimpali.


Rara dan Anta berusaha menahan tawa mereka.


"Eksotik gimana, orang hangus gitu! Nanti salah-salah pas tutulin bedak di muka dia malah kulitnya ngelupas, hiiiyyyy!" Wanda mulai ketakutan.


"Kita bantuin, deh. Kasian kan dia juga mau mati dengan tenang," tukas Raja.


"Ada gitu mati dengan tenang, bukannya hidup dengan tenang," sahut Adam.


Raja langsung menarik ujung bibir adiknya agar diam.


Pada akhirnya hantu Yaya sukses didandani oleh Winda.


"Duh, cantiknya!" puji Anta.


Tetapi, Anta langsung berbalik badan dengan mengucap amit-amit jabang bayi sambil mengusap perutnya kala melihat Yaya.


"Iya, cantik banget!" sahut Rara.


Yaya berputar-putar dengan gaunnya di depan cermin. Padahal dia tak dapat melihat bayangannya sendiri.


"Dah, sekarang kamu maju deh nikahin dia ke KUA, Dam!" Raja mendorong bahu Adam.


"Idih, ogah! Elu aja sono! Nanti Rara gue yang nikahin juga gue siap!" sahut Adam.


Tanpa perlu waktu sedetik pun, serangan jitak di kepala Adam langsung mendarat dari tangan Raja.


"Sakit, Kak!" rengek Adam.


"Odipus complex, luh! Demen lu ya ama Rara?" Raja kembali menyerang Adam.


Hantu Yaya lantas menangis. Dia lupa siapa calon suaminya.


"Kita makan dulu, ya?" pinta Anta mengajak Rara.


"Terus itu gimana, Kak?" tanya Rara.


"Biar aja! Nanti juga si Yaya ngilang sendiri. Terus itu cecunguk dua juga entar diem sendiri. Yuk, ah! Kak Anta laper mau mie ayam bakso, tambah siomay, tambah es kelapa, tambah es doger kayaknya juga enak," kata Anta seraya merangkul Rara.


"Ummm… Kalau urusan makanan Kak Anta porsinya banyak banget ya," lirih Rara.


...******...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2