PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 47 - Raja Jadi Terlibat


__ADS_3

Bab 47 PMM


"Pindah ke mana? Elu tanya dia pindah ke mana? Ke mana aja elu! Si Tutik udah balik ke kampungnya yang ada di tengah hutan Kalimantan sana! Baru tau elu?" hardik Irma.


Dikta sempat mundur selangkah karena terkejut akan semprotan amarah yang Irma buat.


"Tutik balik ke kampungnya? Kapan, Ma?" tanya Dikta.


"Begitu lo tinggalin dia!" jawab Irma dengan telak, membuat tubuh Dikta menegang.


"Maksudnya?" Dikta mengernyit.


"Masih elu tanya maksudnya?!" Irma malah melotot.


"Gue bener-bener nggak ngerti. Gue pikir si Tutik lagi mulai nyusun skripsi, kan?" sahut Dikta.


"Gini, ya. Gue tahu kalau elu pacaran sama dia, iya kan? Nah, kalau elu mau putus, ya bilang dong! Jangan elu gantung si Tutik kayak pengecut aja elu. Lu sadar nggak sih kalau setahun lalu elu pergi begitu aja. Nggak ngomong apa-apa ke dia, hah?" bentak Irma lagi.


"Kami nggak pacaran, kok!" bantah Dikta tajam.


"Oh, ya? Nggak pacaran kata elu? Lah, terus kenapa dulu elu suka ngajak dia jalan? Elu bahkan beliin dia barang-barang. Elu jemput dia di kampus gue. Bantuin ngerjain tugas yang dia nggak bisa. Dan gue juga tahu kalau elu sering ngajak dia malam mingguan. Elu juga pernah beberapa gandeng tangan dia. Kayak gitu bukan pacaran, ya?" tuding Irma seraya melayangkan tatapan sinis.


Dikta mulai panik. Apalagi Irma semakin menatapnya dengan tajam dan dingin, lalu perempuan itu geleng- geleng kepala serta berdecak.


"Biarpun kita beda kampus, tapi gue tahu dari Iwan kalau elu playboy kelas kakap di kampus elu. Dan gue nggak nyangka kalau elu orangnya tega banget, ya? Tutik yang polosnya kebangetan gitu masih elu mainin." Irma kembali berdecak menghina Dikta.


Pria di hadapannya itu menghela napas lalu kemudian bertanya, "Ada nomor telepon Tutik yang bisa gue hubungin?"


Irma lantas saja terbelalak. Dia menatap tak percaya.


"Elo tuh bego apa sengaja mau menghina, ya!? Dia itu tinggalnya di kampung di tengah hutan. Mana ada pesawat telepon, listrik aja pasti gue rasa kadang hidup kadang mati. Dia tuh bisa ke Jakarta karena orang tuanya jual kebun sawit. Buat mewujudkan cita-cita si Tutik kuliah di Jakarta. Makanya dia cuma ambil D3, sama kursus-kursus. Terus kalau udah lulus, dan dapet kerjaan, dia mau bantu orang tuanya di kampung sana buat beli kebun sawitnya balik. Keluarganya rela hidup susah di kampung demi Tutik. Tapi, pas tuh anak sampai sini, dia malah ketemu cowok brengsek kayak elu. Tega banget kan elu!" sungut Irma.


Dikta kembali tertunduk sesaat. "Ada alamat yang bisa gue samperin nggak buat ketemu dia?" tanyanya kemudian.


Suaranya berubah lebih lembut dan mulai pelan. Irma belum menjawab.

__ADS_1


"Kalau nggak bisa gue telepon, paling nggak gue bisa kirim surat buat dia. Bisa, kan?" tanya Dikta lagi dengan tatapan memelas.


"Oh, gue rasa kalau elu mau ngirim surat sih bisa," jawab Irma langsung.


"Mana alamatnya?" pinta Dikta.


"Syaratnya itu ya asal tukang pos nya selamet sampe tujuan. Gue takut aja tuh tukang pos keburu dimakan macan, atau diinjek gajah liar!" tukas Irma menahan tawa lalu masuk ke dalam rumah kontrakannya yang berbeda dengan yang dulu.


"Sial luh!"


Dikta tampak menggerutu saat menuju ke mobilnya. Di sana, ia termenung di belakang setir cukup lama. Hampir satu jam Jeep-nya terparkir di halaman minimarket sampai beberapa pegawai menegurnya untuk pindah. Akhirnya, Dikta sampai di tepi jalan yang lengang. Menepikan kendaraanya dan kembali termenung.


Kenyataan tentang Tutik benar-benar memukulnya. Timbul pemikiran dari seseorang yang baik hati. Meskipun kadang seseorang yang bersifat psycopath muncul dari dalam dirinya yang kerap memiliki kepribadian ganda itu.


Dikta berpikir kalau Tutik pasti punya banyak impian dan harapan yang menyertai kepergiannya ke ibukota. Tempat semua orang dari desa terpencil merasa akan meraih mimpi dan sukses. Mimpi dari orangtua, saudara-saudara, keluarga besar, teman-teman, bahkan mungkin seisi desa.


Terlebih untuk kedua orangtuanya. Anak gadis mereka yang merantau ke ibukota untuk meneruskan pendidikan, pasti sangat berharap lebih. Hebat sekali seorang Dikta mampu menghancurkan impian dari Tutik. Semua impian dan harapan gadis itu hancur di tangannya. Dan baru saat ini dia tahu, setelah lebih dari satu tahun berlalu.


Bersama tarikan napas berat, Dikta menjatuhkan kepalanya ke atas setir. Jari jemarinya mencengkeram benda itu kuat-kuat. Sampai semua jari-jarinya terasa sangat sakit. Namun, rasa bersalah itu tetap tidak bisa teratasi. Sampai akhirnya ia lajukan mobil Jeep tersebut dan menabrak gerobak tukang bakso.


Raja yang sedang melintas langsung menyelamatkan Dikta dari amukan warga. Setelah mengganti kerugian yang disebabkan oleh Dikta, Raja menemani Dikta pulang ke rumahnya menggunakan mobil jeep-nya Dikta. Sementara motor vespa matic miliknya, ia titip di sebuah bengkel yang pemiliknya sudah Raja kenal.


"Kamu lagi galau gitu udah di rumah aja nenangin pikiran!" pinta Raja.


"Gue makin nggak tenang kalau belum ngelakuin ini," ucap Dikta.


Pemuda itu lantas menceritakan keinginannya untuk memperbaiki diri dan meminta maaf pada semua mantannya yang masih bisa ia ingat. Dengan terpaksa setelah mendengarkan penuturan Dikta, Raja menemani pemuda itu akhirnya.


...***...


"Ini rumahnya siapa?" tanya Raja.


"Ini rumah kos-nya Lusi," sahut Dikta lalu turun dari mobilnya dan disusul Raja.


Seorang gadis berambut cepak menyambut Dikta dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Elu bener-bener nggak tau atau pura-pura nggak tau tentang Lusi?" tanyanya setelah menjelaskan kalau Lusi telah berhenti kuliah.


"Serius, Wen, gue nggak tau tentang Lusi. Kenapa Lusi nggak nerusin kuliah?" tanya Dikta.


Weni, sahabat Lusi yang salah satu mantan dari Dikta, menatap pria berambut gondrong di depannya dengan ekspresi datar.


"Dia nggak nerusin kuliah karena harus nikah," akunya.


Dikta terperangah lalu bertanya, "Kenapa dia harus cepet- cepet nikah? Bukannya dia baru semester empat?"


Kening Weni sedikit mengerut mendengar itu.


"Kayaknya elo deh yang paling tau, kenapa dia harus cepet-cepet nikah," jawabnya datar.


Dikta sempat tersentak sesaat namun kemudian kembali normal.


"Sumpah, Wen, justru gue baru tau sekarang kalau dia udah merit. Dia nggak bilang sama sekali. Apalagi ngundang gue!" sahut Dikta.


"Mana gue tahu alasan dia nggak ngundang elu! Emangnya elu berharap dia ngundang elu, gitu?" ucapnya sengit.


"Ya emang apa salahnya dia ngundang gue?" tanya Dikta.


Sesaat sepasang mata gadis itu jadi menyipit. Kemudian Weni bangkit berdiri dan berjalan ke dalam kamar kos-nya di lantai dua itu. Raja masih tak mengerti seraya tetap mengamati. Dia jadi menyesal sampai bisa terjebak dengan keinginan Dikta tersebut. Tak lama, Weni kembali dengan selembar foto di tangan. Diserahkannya foto itu ppada Dikta.


"Umur anaknya baru dua bulan," ucap Weni.


Dikta menatap foto di tangannya. Tubuhnya terasa meringan ditambah dengan kesadarannya yang ikut melayang. Di tangannya ada foto seorang bayi mungil. Bayi yang sangat lucu.


"Tebak siapa namanya?" tanya Weni.


Perlahan Dikta mengangkat kepala dengan tangan gemetar. Dikta mulai panik sampai tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Weni malah tersenyum sinis.


"Namanya Diktaa. Cuma beda tipis sama nama elu yang Dikta. Cuma nama anaknya double huruf a," ucap Weni.


Dikta sontak saja pucat pasi. Weni yang menyaksikan hal itu malah tersenyum sinis. Raja mendekat dan berusaha menenangkan Dikta. Sesekali Raja melirik foto bayi yang ada di tangan Dikta.

__ADS_1


...******...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2