PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 65 - Raja Mulai Diteror


__ADS_3

Bab 65 PMM


Selepas salat subuh, Dita menyiapkan sarapan nasi goreng untuk keluarganya. Sementara itu, Raja tengah bersiap dan membersihkan tubuhnya dulu.


Raja sempat melihat di bagian pinggangnya ada luka seperti terkena sabetan pisau atau senjata tajam lainnya. Bagaimana bisa dia terkena senjata tajam itu sedangkan semalam dia hanya bermimpi kedua tangan dan kakinya ditarik?


"Ini kena apa, ya?" gumam Raja.


Namun, pada akhirnya dia berusaha untuk tak mengindahkannya. Raja bergegas menuju meja makan untuk sarapan bersama ibunya.


Hari itu, saat di kampus, Raja menyembunyikan perihal mimpinya pada Rara. Dia takut sang kekasih ikut khawatir akan keadaannya. Namun, keanehan mulai terjadi di sore hari. Raja kembali bermimpi kala dia tak sengaja tertidur di sofa.


Raja bermimpi melihat beberapa sudut ruangan rumah yang sedang dia tempati menjadi sarang serangga. Setiap sudutnya ada saja yang mengerubungi. Mulai dari kecoa, semut, cacing, ulat, kaki seribu, sampai kelabang. Setiap kali dibersihkan selalu saja semakin banyak.


Berhadapan dengan hantu mungkin Raja masih kuat, tetapi jika berhadapan dengan para makhluk berkaki banyak, tentu saja ia merasa ketakutan dan menjadi waswas sebab takut tidurnya nanti diganggu oleh para serangga itu. Takut para serangga itu akan menyerangnya.


Para serangga itu semakin bertambah banyak. Membuatnya merasa takut tanpa sebab dan berpikir lebih menyeramkan tentang binatang-binatang itu. Para serangga itu akan menyerang serta membunuh dia secara keroyokan. Dan hal itu membuat Raja kembali berteriak.


"Woi, bangun Kak! Mimpi apa luh, Kak?" tanya Adam yang mengguncang bahu Raja sampai membuat pemuda itu terkejut dan berteriak ketika bangun.


"Adam! Duh, ngagetin aku aja," ucap Raja.


"Lah elu barusan teriak-teriak, Kak! Gue pikir elu kenapa kenapa," kata Adam.


"Astagfirullahaladzim, aku mimpi buruk, Dam," ucap Raja.


"Pantesan mimpi buruk. Kata bunda kan nggak boleh tidur habis asar! Nggak baik!" ucap Adam.


"Iya, iya." Raja merespon dengan anggukan.


"Eh, elu mau ikut gue ke rumah kosong, nggak?" tanya Adam.


"Aku juga niatnya mau ke sana, tapi sama Rara dilarang," jawab Raja.


"Ya, jangan bilang-bilang lah! Si Rangga masih penasaran sama itu rumah makanya nantangin gu ke sana," tukas Adam.


"Oke, kalau gitu. Kapan emangnya?" tanya Raja.

__ADS_1


"Besok, malam jumat!" Adam tersenyum seraya mengangkat alisnya.


Tiba-tiba suara Dira memanggil Raja terdengar.


"Kaaaaaaaaakk dicariin sama Kak Rara!" serunya.


"Rara ke rumah?" tanya Raja.


"Coba cek hape Kakak! Dia nelponin hape kakak katanya nggak bisa," kata Dira.


Benar saja saat Raja memeriksa ponsel miliknya ternyata mengalami low battery. Pemuda itu lalu mengisi daya ponselnya dan menyalakan ponselnya itu. Benar saja, ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Rara.


"Kalian pada ngomongin apa, sih?" Dira terlihat penasaran.


"Ada deh, urusan laki-laki! Cewek kayak elu jangan kepo, wleeeeek!" Adam menjulurkan lidahnya.


Sepasang anak kembar itu saling serang saat Raja bergegas menuju kamarnya.


Di sebuah rumah kos seberang tempat Briana tinggal, seorang perempuan sedang melakukan ritual gaib. Ada foto Raja yang terletak di dalam sebuah baskom tanah liat ditutupi plastik transparan dengan rapat. Di sekitar foto itu terdapat banyak serangga yang menggeliat ke sana kemari saling serang.


...***...


Pasca dirawat Briana mengalami demam bahkan tubuhnya mulai menguning. Rara dan Raja mengira dia juga memiliki riwayat gangguan liver karena pola makannya yang tidak sehat.


Briana baru bisa keluar dari rumah sakit setelah rawat inap selama seminggu. Akan tetapi, kesembuhannya itu malah membawa berita lain yang begitu membuatnya takut.


Saat datang kembali untuk check up, Dokter Andi mengajaknya berbicara secara empat mata sedangkan Lani dan Rara, yang menemaninya menunggu di luar. Dokter yang bernama Andi itu duduk berhadapan dengan Briana. Wajahnya tampak sangat serius.


"Ada masalah dengan kesehatan saya lagi, Dok?" tanya Briana mulai heran.


"Maaf kalau saya hanya ingin berbicara empat mata sama kamu. Ya, tentu saja karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda. Jelas ini tentang kesehatan Anda dan memang harus saya sampaikan secara langsung tanpa perantara dan sebaiknya berdua saja," ujarnya.


"Apa hal ini sesuatu yang harus dirahasiakan juga? Kenapa temen-teman saya nggak boleh masuk ikut ke sini?" tanya Briana lagi.


"Mungkin ini yang terbaik buat semuanya. Dengan begini, saya hanya ingin membuat Anda lebih siap mendengar beritanya dan kalau Anda ingin menyampaikannya pada keluarga Amda atau siapapun, maka itu keputusan Anda sendiri." Dokter Andi mulai terlihat serius seraya meraih sebuah amplop panjang dan mulai mengeluarkan secarik kertas.


"Berita tentang saya? Maksudnya berita tentang penyakit saya?" Briana mulai waswas dan merasakan akan ada hal buruk yang ia akan dengar.

__ADS_1


"Ya, Nona Briana. Saya harap Anda siap untuk ini." Dokter Andi sempat menghela napas panjang sebelum mulai menjelaskan.


Dengan setengah penasaran juga takut, Briana mulai mendapatkan beberapa pertanyaan sebelum Dokter Andi memberi tahukan tentang penyakitnya itu.


"Apa Anda pemakai narkoba jenis jarum suntik?" Dokter Andi langsung menyentak Briana.


Meski sedikit ragu karena ketahuan pernah memakai obat-obatan terlarang, Briana pun akhirnya menjawab.


"Ummm … sepertinya tidak, Dok. Saya memang pernah memakai narkoba tapi tidak memakai jarum suntik," jawab Briana dengan wajah agak takut.


"Maaf kalau menyinggung kehidupan pribadi Anda sebelumnya. Menurut kartu identitas Nona Briana, Anda belum menikah. Tapi … apa Anda pernah berhubungan di luar nikah? Ya, semacam melakukan hubungan layaknya suami istri yang bebas atau teman tidur asing untuk bermalam?" Dokter Andi terlihat mengatur kata-katanya agar tak menyinggung perasaan Briana.


"Sa-saya?"


Bulir keringat mulai mengucur. Briana sering melakukannya dengan Devan. Ia bahkan pernah melakukannya dengan Tyo. Tunggu dulu, bukan hanya dua orang itu, Briana pernah melakukannya dengan orang lain dan bahkan ia diuntungkan sebagai ayam kampus demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup.


Briana akhirnya mengangguk.


"Sa-saya, saya memang pernah melakukannya. Tapi, kenapa alasannya Dok? Boleh saya tau kenapa dokter bertanya seperti itu sama saya?" Briana menjadi semakin penasaran.


Dokter Andi kembali menghela napas panjang. Ia lalu menyerahkan secarik kertas yang berisi laporan hasil pemeriksaan darah Briana.


"Sewaktu anda masuk rumah sakit kemarin, kami mengambil sampel darah Anda. Tapi ada yang membuat kami terkejut. Sel darahmu tampaknya telah tercemar virus HIV dan bisa kami pastikan anda positif terjangkit virus itu," lanjut Dokter Andi.


Penuturannya langsung membuat seluruh tubuh Briana bergetar hebat. Perempuan cantik itu begitu shock mendengar kalimat tentang virus HIV. Kedua tangannya terlihat gemetaran saat mengamati secarik kertas yang dokter berikan ke padanya.


"Dok … apa Dokter yakin?" tanya Briana lagi dengan ucapan yang terpotong-potong dan suara yang bergetar pula.


"Ya, Nona Briana. Ini surat hasil penelitian darah Anda."


Briana memastikan lagi kalau terlihat jelas tulisan di lembaran kertas itu yang memvonis dirinya mengidap virus Human Immunodeficiency Virus.


...*****...


...To be continue ...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2