PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 59 - Bertemu Dokter Salma


__ADS_3

Bab 59 PMM


Dikta turun dan membiarkan pintu terbuka. Hawa gunung yang dingin langsung menusuk kulit. Pria itu duduk bersila di atas rumput yang tepat berada di bibir lereng. Aliran suara air sungao yang mengalir, benar-benar terdengar menenangkan. Dikta juga memikmati suara serangga-serangga hutan dan aroma hutan pinus yang terasa menyejukkan dan damai.


Tak lama kemudian, Lani mengikutinya. Keduanya duduk berdampingan. Namun, suasana yang tercipta di antara keduanya tetap diam. Sampai kemudian Dikta menoleh dan meng- ulangi pertanyaannya.


"Ada apa sih, Lan? Cerita aja! Aku nggak gigit, kok."


Lani kemudian menggeleng dan akhirnya buka suara, "aku bingung aja, Ta."


Dikta mengembalikan tatapannya ke kejauhan dan tidak mencoba bertanya lagi. Kembali keheningan tercipta untuk waktu yang cukup lama.


Dikta lantas meraba-raba saku kemejanya mencari sesuatu dari dalam saku kemejanya.


"Cari apa?" tanya Lani.


"Rokok."


Dikta lupa membawa rokoknya. Tertinggal di dasbor mobilnya tadi. Dikta yang melihat Lani di jalan sedang menyetir sambil menangis, Dikta mengikuti mobil Lani dari belakang. Pemuda itu langsung mencari kepastian dengan mengikuti mobil Lani.


Ketika kepastian itu diperolehnya dengan mendapati mobil Lani yang hampir mengalami kecelakaan, seketika itu juga Dikta menepikan mobil. Tak lama kemudian dia mendapati dirinya langsung turun begitu saja meninggalkan mobilnya di jalan tadi. Dikta akhirnya menemukan sesuatu dengan merogoh salah satu kantong celana jins yang ia gunakan. Pemuda itu lantas mengeluarkan sebutir permen kopi. Lani mengamatinya.


"Hmmm, lumayan lah kembalian dari fotokopi," kata Dikta.


Hal itu seolah menjelaskan alasan kenapa dia cuma punya satu butir permen.


"Ooooooo," respon Lani.


"Nggak apa-apa kan kalau kita sharing?" tanya Dikta lagi.


"Hah? Ng, nggak usah deh!" Lani menggeleng.


Gelengan yang tampak ragu dan membuat Dikta jadi tersenyum tipis.


"Nggak deh apa? Nggak deh nggak apa-apa kalau kita sharing? Atau nggak deh buat nggak mau?" Dikta tertawa kecil.


Lani tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya seraya menengadahkan telapak tangannya ke arah Dikta.


"Minta."


Dikta jadi tersenyum geli. Digigitnya permen kopi itu sampai pecah jadi dua, kemudian dia buka bungkusnya. Tepat terbagi dua. Lalu, ia jatuhkannya separuh permen itu ke telapak tangan Lani. Pemuda itu mendapat separuhnya lagi ke telapak tangannya sendiri. Keduanya tersenyum, lalu mengulum potongan permen itu dalam diam.


Secara spontan, Dikta malah mengulurkan tangan kirinya dan meraih Lani ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat, meskipun hanya sesaat. Lalu diciumnya kening gadis itu penuh kelembutan. Lani tersentak, tepi raganya tak mau menolak. Saat itu, Dikta menatapnya dengan senyum yang malah memperlihatkan kesedihan.


"Ummm, maaf Ta, maaf dada aku sakit, nih," lirih Lani akhirnya.


Dikta melepaskan pelukannya lalu bangkit berdiri.

__ADS_1


"Ayo kita pulang aja, Lan! Lagian juga udaranya udah semakin dingin," ucap Dikta.


Lani tidak bereaksi. Gadis itu masih terkesima dengan pelukan tadi. Meskipun hanya sesaat, tetapi dia bisa merasakan kalau pelukan itu dilakukan Dikta dengan seluruh perasaan. Lani merasa kalau pelukan itu terasa berbeda. Bukan seperti pelukan terpaksa yang dulu sering dia rasakan saat mereka masih bersama.


Dikta mengulurkan tangannya lagi.


"Ayo kita pulang, Lan! Kamu udah kedinginan. Kamu nggak cocok sama angin malam gini nanti kamu pilek. Badan kamu juga udah menggigil. Kita juga nggak bawa jaket. Lagian kalau dipeluk pasti kamu juga nggak mau, kan?" Dikta mengeluh dibalik ocehannya.


Wajah Lani langsung bersemu merah. Diterimanya uluran tangan itu. Dikta menariknya sampai berdiri, dan langsung melepaskan genggamannya. Mereka berjalan menuju mobil dalam diam sampai memasuki mobil tersebut.


Sebelum memutar kunci menyalakan mobil tersebut, Dikta kembali menatap Lani. Ada kesedihan di kedua mata dan suaranya ketika kemudian dia bicara.


"Lan, lupain aja pelukan tadi. Maaf ya kalau aku nggak bisa nahan diri."


Lani lantas mengangguk. Namun, harus dia akui kalau di dalam hatinya dia merasa sedih. Lalu, Dikta membawa mobil Lani kembali pulang tepat pukul tiga dini hari. Padahal Lani pikir mereka akan menunggu sampai matahari terbit. Dan nyatanya setelah pelukan tadi, Dikta malah salah tingkah dan memilih untuk membawa Lani pulang.


...***...


Siang itu, Raja membawa Rara ke sebuah rumah atas perintah Bunda Dita dan Yanda Anan. Rumah tersebut milik Pak Johan. Pria itu memesan lima puluh nasi kotak dari restoran milik Anan.


"Harusnya kan Kak Arya yang antar ini pesanan. Kenapa harus aku, sih?" Raja mengeluh.


"Kak Arya kan sibuk juga di restoran. Eh, kamu udah tau belum kalau Boy sekarang buronan Kak Rio?" tanya Rara.


Raja menggeleng.


"Udah nggak heran, sih. Semoga aja dia cepet ketangkep. Eh, Ra, kamu udah bilang ke Kak Rio soal Dokter Salma?" tanya Raja.


"Nggak ada bukti yang jelas, Ja. Lagian itu semua kan katanya Sisi si hantu kuntilanak itu," tukas Rara.


"Iya juga, sih."


Raja dan Rara telah sampai di depan pagar rumah Pak Johan. Diketuk-ketuknya gagang kunci yang berada pada sisi dalam pagar. Belum sempat kunci pagar itu terbuka penuh, Raja dan Rara, langsung disambut oleh gonggongan anjing pitbull milik Pak Johan.


"Astagfirullah!" pekik Raja.


Anjing itu bahkan berlari mendekati Raja, dan melanjutkan gonggongannya dari balik pagar. Sontak saja, Raja dan Rara langsung dibuatnya kaget sampai mundur beberapa langkah secara tiba-tiba karenanya. Saking terkejutnya, Raja dan Rara bahkan sampai jatuh terjerembab ke aspal.


"Kampret sialan! Kurang ajar, luh!" pekik Raja dengan kesal.


"Anjing, Ja, bukan kampret." Rara bangkit berdiri seraya menepuk bokongnya yang kotor karena tanah permukaan aspal.


Raja juga bangkit. Bahkan ia melanjutkan merutuk anjing tersebut dengan sebutan setan sialan. Jantungnya serasa mau copot dari dudukannya karena anjing besar itu terus menyalak.


"Dasar anjing nggak tau diri! Beraninya gonggong dari dalam. Sini kalau berani keluar!" seru Raja seraya seolah menantang hewan itu dengan meninju.


"Emang kalau dia dikeluarkan dari pagar itu, kamu berani?" Rara menahan tawanya.

__ADS_1


"Ya elah sama anjing begitu doang mah, Ra … mana aku berani!" seru Raja yang masih melotot kepada pitbull yang masih terus menggonggong itu.


"Heh, bisa diam nggak! Kita bukan orang jahat tau!" seru Raja pada hewan tersebut.


"Ja, masa kamu ngomong sama anjing, sih?" bisik Rara.


"Habisnya nih anjing kaga tau diri! Bikin fitnah aja. Kita kan bukan maling! Dasar anjing!" gerutu Raja.


"Ya, jangan bilang gitu, Ja. Untung aja pagarnya masih kekunci. Coba kalo nggak, terus pagarnya kebuka, bisa gawat nih nanti dia kejar-kejar kita," ucap Rara menenangkan Raja.


Seorang tukang kebun terlihat menghampiri anjing pitbull tersebut.


"Tom, kamu ngapain di sini?" tanyanya pada pitbull yang terus saja menggonggong di hadapan Raja dan Rara.


"Pak, itu adeknya suruh diam dulu. Kayak lagi ngegong-gongin maling aja. Saya kan cuma mau anter makanan," ucap Raja.


"Dia bukan adek saya, Mas! Sembaranga aja! Nanti saya lepas nih si Tom," ancamnya.


"Eh, eh, jangan gitu dong. Bapak ganteng. Saya dari catering The Anan's mau anter nasi kotak pesenan Pak Johan," ucap Raja.


"Oh gitu. Tom, udah udah ya. Jangan nakal dong, Sayang. Ayo, balik kandang!" ajak si tukang kebun.


Pitbull itu seketika diam dan menurut.


"Tuh kan sodaraan makanya tuh si Tom nurut," ucap Raja.


"Raja, jangan bilang gitu!" bisik Rara.


Ya wajar saja jika si anjing tersebut langsung diam begitu mendapat perintah dari si tukang kebun, karena pria itu yang merawat pitbull tersbut. Anjing itu berlari-lari kecil mengikuti si tukang kebun.


"Kok, kita nggak dibukain pagar, sih? Malah ngurusin adeknya dulu," sungut Raja.


"Raja! Yang sopan dong!" Rara menarik daun telinga Raja karena gemas.


Tak lama kemudian, terdengar suara jeritan seorang wanita.


"Aaaaaa! Togaaaaaaar! Saya udah bilang berkali-kali kalau si Tom arusnya dirante. Terus kalau perlu mending dia dikurung di kandang aja seharian! Jangan dibiarin lepas kayak gini!" semprot wanita itu pada tukang kebun.


"Maaf, Bu, ini baru mau saya kandangin


Dia bahkan menepuk dadanya sendiri. Lalu, wanita yang mengenal Raja itu menoleh pada Raja dan Rara.


"Kalian ngapain di sini?" tanyanya seraya menatap ke arah Raja.


"Loh, itu kan Dokter Salma," ucap Raja.


...******...

__ADS_1


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2