PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 72 - Tak Bisa Menghindar


__ADS_3

Bab 72 PMM


"Huh, badan gede taunya penakut!" cibir Raja.


Pemuda itu lalu tersenyum pada sosok hantu perempuan penunggu toilet tadi.


"Dompet kamu jatuh di kamar mandi, tapi saya nggak bisa ambil benda itu buat bawa ke sini. Makanya saya kasih tau aja," ucap hantu itu pada Raja.


Raja langsung memeriksa kembali saku celana memastikan dompetnya masih ada atau tidak. Ternyata benar ucapan hantu itu.


"Eh iya, dompet aku nggak ada. Ra, Bri, aku ke toilet dulu ya buat ambil dompet," ucap raja.


"Aku ikut, Ja. Aku takut ketemu preman lagi," sahut Rara seraya menarik tangan Briana yang masih menatap heran pada mereka.


"Kamu nggak takut sama dia?" tanya Raja menunjuk Desi.


"Takut, sih … tapi kayaknya aku lebih takut ketemu preman dari pada ketemu hantu," ucap Rara.


Setelah sampai di toilet pasar, Raja segera masuk ke bilik toiletnya tadi. Dompet yang ia cari terjatuh di dekat kloset.


"Astaga! Jorok banget, sih! Siapa nih yang abis berak nggak disiram?!" protes Raja.


"Kamu yang terakhir ninggalin emas batangan di sini, kan. Terus kamu nyiramnya enggak bersih sih, kurang banyak airnya. Makanya masih ada emas batangan yang ngintip," sahut hantu perempuan itu.


"Hehe, iya juga ya."


Raja sampai tersipu malu mendengarnya apalagi hantu itu persis mengatakan hal menjijikkan itu di hadapan Rara. Gadis itu langsung tertawa sampai menjauh karena merasa menghirup bau tak sedap dari dalam toilet.


"Yah, tengsin deh aku mana di depan dua cewek cakep lagi," gerutu Raja seraya menggaruk kepalanya.


"Ih, Raja jorok banget!" cibir Rara.


Setelah membersihkan toilet, Raja lantas mengenalkan Desi pada Rara dan Briana. Namun, sosok Desi tak bisa terlihat oleh Briana seperti preman tadi melihatnya.


"Mungkin kita beda frekuensi makanya dia nggak bisa lihat aku," ucap Desi.

__ADS_1


"Kayak gelombang radio aja nyamain frekuensi." Raja terkekeh.


Lalu, Desi menceritakan perihal kematiannya karena ulah Boy dan dikubur dalam septik tank untuk menghilangkan jejak. Rara menatap Desi miris meskipun tak mau dekat-dekat. Bau tinja dari tubuh Desi cukup menyengat dan membuatnya mual ketika mendekat.


"Kalau gitu kita kasih tau Kak Rio sekarang. Biar kakak ku bisa urus dan evakuasi sisa-sisa jasadnya," ucap Rara.


"Ih, aku nggak bisa bayangin kalau kakak kamu sama anak buahnya sewa sedot tinja buat … hih, mending nggak usah dibayangkan. Kamu telpon Kak Rio, gih, buat kasih tau! Terus kita ketemu Dikta buat bantu Briana," ucap Raja.


...***...


Sore itu, di akhir jadwal kuliahnya Lani, di ruang auditorium rektorat yang saat itu kosong, Dikta berdiri di dekat jendela paling kanan. Di tempatnya biasa mengintai sang gadis.


Dengan sabar Dikta tetap berdiri di tempatnya. Dengan sabar sepasang matanya terus mencari, tetapi hatinya berharap dalam rasa ketidaksabaran. Sampai tiba-tiba didengarnya seseorang berlari menuju pintu dan tak lama didengarnya hendel pintu ditarik dari luar.


Dikta dengan segera berlari ke balik dinding yang memiliki celah dan menyembunyikan diri di sana. Sedetik kemudian didengarnya pintu terbuka. Orang itu melangkah masuk, lalu menutup pintu.


Dikta mendengar suara kursi diseret menuju dekat barisan jendela. Lalu hening. Tidak lagi terdengar sedikit pun suara. Dikta menarik napas panjang kalau bisa tak ada suara yang tercipta dari deru napasnya.


Rasa kesal dengan kedatangan pengganggu ini yang telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk bisa melihat Lani, tetapi dia juga terjebak di dalam koridor tersebut. Saraf otaknya ingin melangkah pergi. Namun, sepasang kaku berotot kekar itu enggan untuk melangkah menjauh.


"Good luck ya buat presentasi iklannya! Mudah-mudahan hasil buatan elu diterima, Ra." Lani tersenyum manis menyemangati sahabatnya itu.


"Aku takut malu-maluin nih, Lan. Apalagi bukan aku aja yang ikut lomba mewakili majalah kampus," sahut Rara.


"Tenang aja, sih! Gue yakin elu bisa. Eh, udah ketemu Briana?" tanya Lani.


"Ummm, udah sih. Tapi kayaknya aku nggak berhak ngomong tentang keadaan Bri. Biar dia sendiri aja yang ngomong ke kamu," tukas Rara.


"Ada apa, sih? Kayaknya makin mencurigakan. Gue janji deh nggak akan


bilang siapa-siapa. Makin lama gue pikirin, Briana sama Tyo itu mengkhawatirkan loh." Lani berdecak.


"Dikta yang harusnya kamu pikirin." Rara terkekeh.


"Nggak lah. Nggak akan gue pikirin. Ih, malu-maluin maksud gue aja. Lagian Dikta sekarang udah jadi beda. Kata Raja lho. Oke deh kalau gitu gue duluan ya. Sekali lagi, good luck buat presentasinya." Lani memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kamu pulangnya gimana, Lan? Hari ini Briana nggak masuk," tanya Rara sambil membalas pelukan itu.


"Nebeng motornya si Alvin sampe terminal kali, ya. Ya udah deh dadaaahh Rara!" Lani melambaikan tangannya.


"Daaah! Hati-hati, ya!" seru Rara yang langsung menghubungi Raja untuk mengantarnya.


Kedua gadis itu lantas berpisah. Lani bukannya tidak mau menemani. Kalau dipikir-pikir nanti Lani malah mengganggu Rara dan Raja. Toh, Raja bukanlah objek untuk dinikmati bersama-sama. Meskipun Lani sempat memiliki rasa untuk Raja, meski hanya sedikit saja, tapi perasaan Raja hanya untuk Rara semata, hanya milik Rara sendiri. Jadi biarkan Rara me- nikmatinya sendiri juga.


"Lan, dipanggil Pak Arif!" seru Alvin.


"Oh iya iya, dia mau minta tugas gue. Eh, Vin, nanti gue nebeng sampai terminal, ya?" pinta Lani.


Terlihat ada keraguan pada wajah Alvin, tetapi pada akhirnya ia tetap mengangguk. Lani langsung berlari ke gedung rektorat. Melangkah ke ruang auditoriumnya. Selalu, rasa gelisah yang mencekam langsung menyambut begitu dia sampai di ruangan itu.


Sosok Pak Arif tengah berdiri dan bersiap untuk pergi. Lani segera menyerahkan kepingan compat disk yang berisi tugasnya. Setelah dosen tersebut pergi, dtariknya sebuah kursi ke dinding dekat jendela paling kanan, Lani ingin duduk sejenak setelah lelah berlari.


Ia ingat di tempat itu juga dia biasa mengintai. Yang dia tidak tahu, tempat itu baru saja ditinggalkan seseorang. Lani butuh kursi, karena sesekali ia dapat melihat jeep milik Dikta yang kerap terparkir di halamannya.


Kadang jeep itu muncul di waktu yang tidak tentu. Bisa setengah jam lagi, atau satu jam, bahkan bisa dua jam kemudian. Kadang malah tidak muncul sama sekali. Namun, Lani tidak peduli. Kenapa juga dia harus peduli?


Lani bahkan mendengar kabar dan udah tahu tentang Jeep Dikta yang selalu penuh penumpang. Tentang para gadis kampus yang mengelilinginya. Tinggal menunggu waktu saja, salah satu dari gadis kampus itu akan menjadi penumpang tetap Jeep milik Dikta.


Terbersit pemikiran kalau gadis kampus yang dipilih Dikta nanti akan menyingkirkannya, sekaligus menyingkirkan gadis-gadis lain dari kampus ini yang dekat dengan Dikta. Akhirnya Lani memaksanya berhenti mengintai. Dan berhenti mencari jeep itu.


Mendadak ia merasa sedih.


"Kenapa juga gue mesti mikirin kayak tadi?" keluh Lani lirih.


Akan tetapi, saraf-saraf otak apalagi hatinya, menolak untuk berhenti. Karena hal itu memang akan terjadi. Jadi anggap saja sebagai latihan untuk mempersiapkan diri jika pada akhirnya dia dan Dikta harus berpisah untuk selamanya.


"Aduh! Kenapa gue mikir kayak gitu, sih" keluhnya lagi.


...******...


...To be continue ...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2