
Bab 25 PMM
Tyo semakin kewalahan menghadapi amukan Dikta. Dia menahannya mati-matian.
"Cepet keluar! Tutup pintunya, kunci dari luar!" pekik Tyo.
Raja lalu menarik Lani menuju ke parkiran tempat motornya Tyo diletakkan. Karena terburu-buru, Tyo dah Raja memutuskan untuk satu motor ke rumah Dikta. Namun setelah sampai di parkiran, Raja baru teringat kalau kunci motor ada di saku celana milik Tyo.
"Kuncinya sama Tyo!" seru Raja.
Pemuda itu menimpa Lani menunggu di parkiran rumah Dikta. Raja akan bergegas meminta kunci pada Tyo. Namun sesampainya di kamar Dikta, Raja melihat Tyo sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Saat Raja hendak berbalik arah, tiba-tiba saja ia dipukul dari belakang.
Bug!
Raja lantas tak sadarkan diri kemudian. Dikta tersenyum menyeringai dengan tongkat kasti di tangan.
"Dua tumbang! Yes, skor dua kosong." Dikta tertawa puas.
Sementara itu, Lani mulai khawatir karena Raja tak kunjung kembali. Gadis itu nekat masuk ke dalam rumah Dikta lagi. Ia mengendap-endap mencari Raja. Suasana rumah Dikta malah tampak sepi.
Entah kenapa tak ada keributan suara teriakan Tyo, Dikta, maupun Raja dari lantai dua. Akhirnya, Lani mengendap-endap menaiki anak tangga. Ia hendak memeriksa keadaan yang menimpa Raja dan Tyo.
Kedua mata Lani tampak terbelalak saat melihat Raja dan Tyo terbaring di lantai. Lani langsung menghampiri dan membangunkan keduanya. Sosok Raja tampak tersadar dan memegangi punggungnya yang sakit. Tyo juga akhirnya terjaga sambil memegangi kepalanya.
"Dikta mana?" tanya Tyo pada Lani dan Raja.
"Gue nggak liat dia pas ke sini cari kalian, sepi banget," sahut Lani.
"Kunci motor kamu mana, Tyo? Sini aku mau anter Lani pergi!" pinta Raja.
Tiba-tiba, Dikta muncul dengan tongkat baseball di tangannya.
"Kalian cari gue?" ucapnya lalu berdecak.
"Sial!" pekik Tyo.
Raja langsung menarik kaki Dikta sampai menjatuhkan pemuda itu. Tyo dengan sigap memegangi pria itu.
"Mana kuncinya, Yo?!" seru Raja.
__ADS_1
"Di kantong celana gue. Cepetan! Biar gue yang tahan dia! Duh, elu kenapa sih tenaganya gede banget?!" sungut Tyo seraya memegangi Dikta layaknya pegulat dari acara televisi.
Raja menghampiri Tyo yang tubuhnya sendiri sedang menekan Dikta ke lantai kuat-kuat.
"Mau lo bawa ke mana dia!?" geram Dikta pada Raja.
Raja melayangkan senyum smirk.
"Kamu nggak akan pernah tahu ke mana aku akan bawa dia!" jawab Raja sambil merogoh kunci di salah satu saku kantong celana jeans yang Tyo kenakan.
Raja berhasil menemukan kunci motor Tyo. Lalu, diperlihatkannya benda kecil itu pada Dikta dengan ekspresi mengejek. Jelas saja emosi dalam diri Dikta langsung meningkat.
"Ja, tinggalin Lani! Gue kasih peringatan yang terakhir sama elu, Ja!" seru Dikta penuh ancaman.
"Elu yang harusnya mau gue kasih peringatan! Elu harusnya ke dokter jiwa sana! Dasar psikopat sinting! Sakit jiwa elu, Ta!" pekik Tyo.
Sontak saja, Raja dan Lani ikut terperangah sama seperti wajah yang dilukiskan Dikta. Meski hanya sesaat saja. Lalu, detik berikutnya Dikta menggeram dan berteriak dengan suara menggelegar.
Disentaknya tubuh Tyo yang sejak tadi menekannya kuat-kuat. Dipukulnya Tyo kuat-kuat, sampai terlempar dan jatuh terjerembab.
"Elu bilang gue sakit jiwa? Oke, gue tunjukkin gimana gue bisa sangat gila," ucap Dikta.
Secepat kilat Tyo kembali berdiri dan meraih tubuh Dikta yang sudah hampir mencapai Raja dan Lani. Lalu, Tyo mendorongnya kembali ke dinding. Dan sekali lagi ditekannya tubuh prianitu kuat-kuat. Tak perduli dengan tenaganya yang mulai habis. Ia mengerahkan seluruh tenaganya demi menahan Dikta.
Raja yang masih melongok lantas tersentak. Ia akhirnya terpaksa menarik Lani sampai berdiri dan merangkulnya. Lani benar-benar lemas ketakutan. Gadis itu bahkan sedari tadi hanya bisa duduk terdiam, menatap ruang kosong di depannya, ruang tempat dirinya tadi hampir saja dirudapaksa oleh Dikta.
Melihat Raja merangkul Lani, hal itu menyebabkan amukan Dikta semakin menjadi. Tyo yang memang sudah benar-benar mengenal Dikta, tahu bahwa untuk menaklukkan sahabatnya itu kadang diperlukan tindakan yang di luar nalar dan mungkin juga ekstrim.
"Bisa diem nggak, Ta!" pekik Tyo.
Namun, Dikta tidak mengacuhkan.
"Apa elu mau gue gigit, hah?" ancam Tyo.
Ternyata pemuda itu benar- benar membuktikan ancamannya. Digigitnya sebelah pipi Dikta dan hampir menyentuh sudut bibir. Seketika pemberontakan Dikta terhenti.
"Elu ngapain gue? Sakit bego!" pekik Dikta.
Ditatapnya Tyo dengan shock. Raja terperangah di ambang pintu, sama shocknya. Sementara Lani sepertinya sudah tidak sanggup lagi untuk menampung kejadian menggemparkan yang ada di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Ya Allah, Tyo kenapa elu sampai kayak gitu?" pekik Raja menatap tak percaya.
"Isss, setan alas elu semua!" Dikta
balas berseru.
"Elu mau gue gigit lagi?" ancam Tyo.
"Habis elu sama gue kali ini, Yo!" ancam Dikta.
"Cepet pergi sana! Apa lagi yang lo liat? Mau gue gigit juga?" goda Tyo di tengah kepanikan itu.
Raja jadi tersadar. Secara bergegas, dibawanya Lani keluar, dan dikuncinya pintu kamar Dikta dari luar meskipun Tyo masih ada di dalamnya. Namun, bukan Dikta namanya jika dia tidak bertindak nekat.
Senyum merekah terlukis di wajah Dikta. Pemuda itu mengikuti kepergian Raja dan Lani dengan tubuh menegang. Kesepuluh jarinya mengepal keras dan sepasang matanya terus mengikuti sampai kedua orang itu benar-benar hilang dibalik pintu.
Tyo sampai menghela napas panjang lalu melepaskan cekalannya. "Sori, Ta!" bisiknya pelan.
Sesaat Dikta masih berdiri mematung, dan akhirnya tersadar dengan apa yang dia butuhkan. Lalu, dengan cepat pemuda itu menyambar kunci mobil dan berlari ke pintu. Kembali lagi Tyo menahannya lebih kuat.
Lani hampir saja naik motor yang akan dikendarai Raja. Namun, ia tak tega jika meninggalkan Tyo pada pembunuh berdarah diri seperti Dikta.
"Kita harus menyelamatkan Tyo, Ja!" titah Lani.
"Tapi, Lan‐"
Gadis itu kembali masuk ke dalam. Kali ini, Lani meraih guci kecil di lemari pajangan milik mamanya Dikta. Lani tak bisa lagi memendam kemarahannya. Dilihatnya Dikta dan Tyo yang tampak bergulat di lantai depan kamar Dikta.
Lani dengan berani memukulkan guci tersebut ke kepala Dikta. Sontak saja pria itu berteriak kesakitan. Kepalanya mengeluarkan darah. Lani mulai panik karena berhasil melukai Dikta.
"Lan, apa yang kamu lakuin ke aku," lirih Dikta seraya memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
"Kamu jahat, Ta!" seru Lani.
Dikta menyeringai. Dia akan menghampiri dan mendapatkan Lani kala itu juga. Lani mulai panik dan hendak menuruni anak tangga. Dikta mengejarnya dan berusaha menarik tangan Lani. Namun, gadis itu mencoba menepis dan kecelakaan itu terjadi.
Sosok Dikta jatuh dari anak tangga di lantai dua dan menghantam meja tamu yang mewah itu. Dikta tak sadarkan diri kemudian.
"Duhh, terus gimana ini?" pekik Lani mulai panik.
__ADS_1
...******...
...To be continued See you next chapter!...