
Bab 74 PMM
"Kok, ketawa sih?" tanya Lani.
"Kenapa pakai ditanya lagi. Udah jelas aku ke sini karena lihat kamu. Coba kalau aku nekat ke rumah kamu terus mau nyulik kamu, belum tentu kamu bisa selamat, kan?" Dikta kembali tertawa.
Seketika wajah gadis itu memucat. Dikta jadi semakin tertawa melihat wajah pucat pasi dan tegang itu. Tawa yang tidak pasti maknanya.
"Takut kan, Lan? Makanya aku pilih ngerokok. Karena merokok tidak menghilangkan kesadaran!" sahut Dikta.
"Kamu tuh suka banget nyakitin diri! Udah pakai tato, sekarang jug ngerokok. Nanti cepet mati, loh," ucap Lani.
Pemuda itu tertawa lalu menghisap rokoknya dengan tarikan panjang dan mengembuskan asapnya kuat-kuat. Dengan rokok masih terselip di bibir, dikancingkannya kembali kemejanya.
"Aku duluan ya, Lan," katanya kemudian.
Lani tersentak. Ia pikir Dikta akan nekat memaksanya pergi. Namun, dengan mudahnya dia berkata pergi. Entah kenapa Lani malah merasa sedih. Gadis itu merasakan kebersamaan yang sebenarnya tak mau ia akhirnya itu berakhir juga. Akan tetapi, Lani tahu kalau rasanya tidak mungkin mencegah pemuda itu pergi.
"Daaah Dikta," ucap Lani seraya melayangkan senyum kikuk.
Dikta membalas tersenyum lalu balik badan dan melangkah menuju pintu. Namun, pemuda itu mendadak berhenti, pemuda itu balik badan dan kembali menghampiri Lani.
"Kamu mau tau kenapa aku nyakitin diri?" tanya Dikta pelan. Ekspresi wajahnya sekarang begitu serius.
Lani tidak langsung menjawab. Dia masih terkejut karena Dikta tiba-tiba kembali.
"Ke-kenapa emangnya?" tanya Lani yang kemudian menjawab dengan gagap.
Dikta tidak ingin langsung menjawab. Dia malah maju selangkah demi selangkan dan menatap Lani lurus-lurus. Gadis itu bisa menangkap ada kesedihan yang samar di kedua bola mata hitam itu.
"Aku cari segala macam bentuk hal yang menyakitkan untuk pelarian ku, Lan. Karena apa? Karena aku nggak mau kamu nanti jadi sasaran!" tukas Dikta.
__ADS_1
Lani menatap tak percaya. Pendengarannya juga tersentak.
"Ngerti sekarang?" lanjut Dikta.
Suaranya semakin pelan, tetapi tetap ada ketegasan di sana.
"Ma-maaf, Ta…." Lani menunduk.
Namun, ia merasa ada jemari yang menangkup wajahnya. Lalu tak dapat ia tepis, bibir yang masih terasa aroma rokok kretek itu telah memagutnya. ********** lebih dalam sampai Lani tak bisa meraup oksigen di sekitarnya.
Raut wajah Lani mendadak terlihat tegang. Dikta lantas melepasnya membuat Lani menarik napas panjang. Meraup oksigen sepuasnya setelah tadi sempat kehilangan. Lani benci situasi ini. Tetapi, ia tak bisa menolaknya.
"Aku cinta kamu, Lan. Sekarang, dan nudah-mudahan sampai nanti." Dikta tersenyum.
Lani kembali terperangah lagi. Kali ini amat sangat tersentak. Dikta mengulurkan tangan kirinya. Sesaat dibelainya pipi kanan Lani. Gadis itu berpikir kalau Dikta akan memberikan kecupan lagi, tetapi kemudian pria itu malah balik badan dan melangkah keluar. Meninggalkan Lani begitu saja dan kali ini dia tidak lagi kembali.
"Ya ampun, perasaan apa ini? Haruskah gue tahan dia supaya jangan pergi? Duh, Lani elu jangan bego-bego banget dong jadi cewek. Elu tuh cinta sama Dikta!" Batin Lani terus memarahi.
Akan tetapi, gadis itu hanya bisa terduduk lemas di lantai dingin tersebut.
Rio berhasil mengevakuasi jenazah Desi yang diceritakan Rara dan Raja. Namun, lagi-lagi tak ada pengakuan dari Boy. Bahkan pemuda itu tampak kecanduan obat-obatan terlarang sampai membuatnya sakau karena telah jauh dari benda terlarang itu.
Boy juga berperilaku seperti orang yang tak waras. Sehingga, pihak kepolisian terpaksa meletakkan Boy di salah satu rumah sakit jiwa untuk merehabilitasi kejiwaan dan kecanduan pemuda itu.
Satu minggu berlalu ketika Boy sudah berada di rumah sakit jiwa. Rio mengajak Rara dan Raja untuk melihat kondisi Boy. Saat itu menurut suster, Boy tak kunjung melahap habis makanan yang tersaji di atas sendok, meski sang suter dengan senang hati menyuapi dirinya.
Boy hanya meringis, sesekali ia melotot kala melihat ke tempat suster itu sedang duduk. Si suster sudah terbiasa dengan tatapan penyandang sakit jitu itu. Ia tak bergeming, tak juga merasakan takut. Ia sudah terbiasa mendapatkan intimidasi seperti tatapan milik Boy.
Pengalaman seorang suster yang sudah bekerja puluhan tahun itu sudah membuat hatinya tangguh, sehingga hal remeh seperti tawa misterius atau pandangan melotot atau nakal dari orang-orang yang sakit dalam kejiwaannya tersebut, tentu saja tak menggoyahkan dirinya sedikit pun.
Setelah selesai, ia kembali ke tempat kerjanya. Seorang penjaga lantas mengunci kamar tempat Boy berada. Kenapa Boy berada di kamar pengasingan dan tidak tercampur dengan pasien lainnya? Tepat dua hari lalu, Boy mengamuk dan menyakiti salah satu pasien dengan membenturkan kepala pria berusia lima puluh tahun itu sampai menembus kaca jendela.
__ADS_1
"Sampai separah itu kah Boy? Atau dia sedang berpura-pura?" tanya Raja.
"Itu juga sedang saya dalami, Ja. Perempuan yang kamu bilang mirip Raisa itu juga sudah menghilang. Tapi saya suruh orang buat cari dia. Yang jelas kalau kata kamu Raina adalah Raisa yang bertukar jiwa, berarti ada titik terang dari masalah kematian para anggota Mapala Merah yang akan terjawab," jelas Rio.
"Tapi, Kak, untuk mencari Raina itu harus cari tahu dari si Boy ini, kan?" Raja menoleh pada Rio.
"Tentu saja," ucap Rio mengangguk.
"Kalau Boy terus kayak gini, gimana? Kenapa nggak dibikin takut aja, diancam gitu, Kak. Siapa tahu dia emang pura-pura," kata Rara.
"Udah, Ra. Kondisi kejiwaan Rio juga udah dites, emang dia udah kena gangguan jiwa kayak gini," sahut Rio.
"Ya udah lah, mudah-mudahan ada perkembangan lebih lanjut kita bisa menemukan Raina," ucap Raja.
Ketika Raja, Rara, dan Rio meninggalkan ruangan tempat Boy dirawat. Suster tadi melintas di depan ruangan tersebut. Namun hari ini terasa ada yang janggal di dasar hatinya. Sejak melewati kamar nomor 313 itu, ia merasa bulu kuduknya terus meremang.
Entah kenapa sejak kunjungan Raja hari itu malah membuat Boy semakin brutal. Bahkan ia sampai harus diberi suntikan obat penenang. Suster yang bernama Ella itu juga merasakan setiap hari rasa ngeri itu kian bertambah ketika melintasi kamar Boy.
"Kenapa aku kalau lewat kamar tiga satu tiga bawaannya merinding diskon gitu ya, Vin?" tanya Ella pada Suster Vina rekannya.
"Perasan kamu aja kali! Seharusnya kita tahu nggak ada yang perlu ditakuti. Kamu inget kan ada seorang wanita gila yang sudah melakukan kejahatan brutal dengan membakar rumah-rumah orang?" tanya Vina.
Ella mengangguk.
"Nah, dia juga suka ngamuk. Tapi, kita biasa aja kan nggak takut-takut amat. Bahkan dia bilang yang ngebakar rumah warga di kampungnya itu setan. Dan dia ngaku diikuti sama setan. Kita biasa aja, kan?" tanya Vina lagi.
"Iya sih, Vin. Tapi, kenapa sama anak cowok ini aku takut banget, ya?"
"Perasaan kamu aja, say! Namanya juga berhadapan dengan orang gila!" sahut Vina lalu terkekeh.
...******...
__ADS_1
...To be continue ...
...See you next chapter!...