PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 42 - Menjaga Lani


__ADS_3

Bab 42 PMM


Dikta menjemput Tyo di rumah sakit setelah dinyatakan pulih oleh dokter. Rio sempat mengawasi dari parkiran bersama rekannya.


"Sepertinya dia tidak mencurigakan, Kapt. Mereka masih berteman baik. Apa iya pria itu yang mencoba menghabisi nyawa temannya sendiri?" tanya Bono rekannya Rio.


"Hmmm, justru musuh terbaikmu adalah orang terdekat," sahut Rio.


"Iya juga, sih."


"Pokoknya kamu tetep awasi aja si Dikta ini," pinta Rio.


"Kalau si Rangga?" tanya Bono.


"Itu urusan Ridwan yang ngawasi," jawab Rio.


Mobil Dikta melaju. Pemuda itu membawa Tyo ke sebuah kafe. Mereka saling berbincang di sana. Apalagi penggalan-penggalan memori tentang mantan-mantannya Dikta melintas. Rasa bersalah itu begitu mengganggunya. Dan Dikta ingin Tyo membantunya.


Bahkan, Dikta ingin Tyo membantunya menjaga Lani. Terutama dari Boy. Dikta merasa ada yang salah dan tak baik ketika ia melihat Boy bersama Lani.


"Kenapa nggak elu aja yang ngawasin Lani, kenapa harus gue," tanya Tyo.


"Nggak bisa, Yo. Gue nggak bisa berada deket sama Lani dan Boy. Kalau elu kan bisa ngedeket ke mereka. Gue mohon ya bantuin gue jagain Lani," pinta Dikta.


"Kalau elu masih suka, masih sayang, ajak balik aja sana!" seru Tyo.


"Mana mungkin Lani mau. Lagian perasaan gue cuma ngegalau aja karena salah gue ke mantan-mantan gue banyak. Nah, urusan sama Lani gue kasih ke elu. Kali aja setelah semua perasaan bersalah gue lenyap ini, gue malah bisa deketin Rara," ucap Dikta.


"Dari kemarin kemarin juga niat elo ngedekati Rara, tapi nyatanya elu selalu kembali mikirin Lani. Itu artinya Lani selalu ada di hati elu, Ta!" ucap Tyo.


"I don't know, maybe yes, or maybe no!" sahut Dikta.


***


Di kampus.


Lani sama sekali tidak tahu bahwa Tyo mengawasinya. Tentu saja Tyo melaksanakan permintaan Dikta. Namun, lama-lama Tyo merasa dia memang ingin melakukannya meskipun Dikta tidak meminta. Tyo ingin menjauhkan Lani dari si Boy sialan itu.


Begitu melihat Lani sudah seperti kuda liar yang dilepaskan dari kandang, karena telah lepas dari dekapan Dikta, Tyo yang tadinya hanya berniat untuk mengawasi dari jauh langsung berubah pikiran. Tyo merasa sangat penasaran. Dia ingin tahu tipe pria yang sedang ditaksir Lani. Pagi itu, Tyo mengawali kemunculannya dengan langsung mengomentari penampilan Lani.


"Wuih, lipstik baru tuh, iya kan?" tanya Tyo seraya tersenyum menggoda.


"Ini liptin tau bukan lipstik. Kalau yang ini lipbalm," ucap Lani.


"Sok tau!" sungut Tyo.


"Lah, emang gue tahu. Gue kan cewek, ya tau alat make up lah!" Lani mendengus kesal.


"Oh gitu. Eh, kayaknya bajunya juga baru. Tapi mirip daster emak-emak, cuma ada tapinya."

__ADS_1


"Tapi apa?" Lani memerhatikan dress baby doll di atas lutut yang ia kenakan.


"Daster elu kurang panjang!" sahut Tyo.


"Apa? Daster? Gue tadi bilang ini baby doll. Ya ampun!" seru Lani mulai tertekan.


"Oh, gitu.…" Tyo mengangguk-angguk.


"Udah deh. Kalau elu nggak tau sama fashion cewek, nggak usah komen-tar! Mending elu cari aja Briana sana!" seru Lani.


"Gue nggak tanya dia, Kok! Gue cari elu!" jawab Tyo pendek.


"Hah?" Lani mengernyit.


"Kuliah pertama kelar jam berapa elo?" tanya Tyo.


"Jam sepuluh. Kenapa?"


"Gue mau ngobrol aja," kembali Tyo hanya menjawab pendek, kemudian pergi.


"Mulai gila kayaknya tuh orang kelamaan di rumah sakit." Sesaat Lani menatap Tyo bingung, lalu meneruskan langkahnya memasuki gedung fakultas ekonomi.


Boy menjegat langkah Lani. Gadis itu mulai ketakutan.


"Hai, Lan! Minum ini!" Boy menyerahkan satu botol tumbler pada Lani.


"Ayo minum aja. Itu jus apel buatan aku," sahut Boy.


"Anak pintar! Nanti pulang sekolah kita jalan, ya?" tanya Boy.


Lani menjawab dengan anggukan kepala. Boy lantas dengan berani mengecup dahi Lani.


"Wah, sialan si Boy. Lihat aja, gue bakal pisahin elu berdua," gumam Tyo.


Pria itu bertekad akan melangkah ke


arah yang lebih serius dalam mengganggu hubungan Lani dan Boy. Pemuda itu akan memastikan diri untuk menjadi duri dalam daging.


Duri yang sungguh sangat susah dienyahkan pastinya. Tyo sudah bertekad kalau kemunculannya akan menjadi penghalang bagi hubungan Lani dan Boy yang terlihat syahdu, indah, dan penuh tebaran cinta. Tyo akan pastikan hubungan mereka akan langsung rusak parah.


Siang itu, dengan santai nya Tyo menghampiri Lani dan Boy yang sedang duduk berhadapan di kantin. Tyo langsung duduk rapat di sebelah Lani.


Dengan perasaan kesal, Lani terpaksa mengenalkan Tyo pada Boy, "Boy, ini Tyo. Tyo ini Boy!"


Tyo menyambut uluran tangan Boy. Ia menjabatnya dengan tatap mata yang tajam bak anak panah penuh racun dan siap menancap di bola mata Boy. Tyo memaksakan senyum yang terlihat jelas tidak tulus. Melihat itu, kening Boy jadi sedikit mengerut.


"Elu kenapa, sih!" Bisik Lani ketus pada Tyo.


"Jangan judes judes amat sih? Nanti malem gue mau ke tempat elu," ucap Tyo.

__ADS_1


"Mau ngapain? Briana lagi shift malam, mana bisa dia nginep di rumah gue," sahut Lani.


"Gue perlu sama elo. Bukan sama Briana. Sampai jumpa nanti malam, ya!" Tyo mengacak-acak rambut Lani.


Setelah tersenyum kaku pada Boy, Tyo lalu pergi.


"Ummm, sepertinya kamu akrab banget sama dia," ucap Boy begitu Tyo sudah pergi.


Lani melayangkan senyum kikuk, karena merasa tidak enak pada Boy.


"Dia mantannya teman aku, kok. Mantannya Briana," ucap Lani.


"Oh gitu? Kayaknya sekarang dia suka deh sama kamu?" tanya Boy karena mulai merasakan sesuatu yang ganjil.


"Hahaha, ngaco kamu!"


...***...


Seminggu berlalu, di sela-sela kencan-kencan antara Boy dan Lani berikutnya, selalu ada Tyo yang benar-benar jadi perusak suasana. Tyo akan muncul tiba-tiba menganggu mereka. Bahkan siang itu, Tyo meraih sepotong kue yang sedang dimakan Lani tanpa bertanya. Atau meneguk habis es teh manis atau minuman lainnya milik Lani. Terkadang juga Tyo ikut nimbrung membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak penting dan tak nyambung.


Tyo bahkan pernah muncul lalu menyikat habis bubur ayam di piring Lanu. Sambil mengunyah, dia memberikan penjelasan untuk kedua orang yang wajah ternganga di dekatnya, Lani dan Boy tentunya.


"Enak banget ini bubur. Lan. Sumpah gue laper banget. Elu tau kan kalau cowok lagi laper kayak gini? Tuh cowok biasanya suka gampang naik darah. Makanya aku harus buru-buru makan." Tyo memberi alasan palsu.


"Haha, garing luh!" sungut Lani.


"Eh, gue punya kejutan." Kali lain, Tyo mengeluarkan sebotol kecil minyak angin cap kapak dari dalam tasnya.


Tyo lalu mengulurkan botol itu ke Lani disertai satu permintaan yang membuat dua orang yang diganggunya itu lagi-lagi terperanjat tak percaya.


"Kejutan apaan kayak gini?" tanya Lani.


"Gue kayaknya masuk angin nih, Lan. Tolong kerokin gue, dong."


"Kerokin!? Elu pikir gue kayak tukang pijet keliling gitu?" Lani hampir memekik.


"Ya udah elu aja sekalian elu pijit gue," pinta Tyo.


"Hah? Elo pikir gue tukang pijet, apa? Gue ini calon sarjana, tau!" Lani kini lantang berseru.


"Pijetin sekali ini doang, sih. Sama kerok bagian sini!" Tyo menunjuk tengkuknya.


"Apaan sih, Yo!"


"Ayolah, Lan… Soalnya dari tadi gue kepingin muntah."


"Hah? Jangan-jangan elu hamil kali," sahut Lani.


Tyo kontan tertawa terbahak-bahak. Sementara Lani hanya bisa menatapnya semakin kesal. Begitu juga dengan Boy yang hanya bisa terdiam dengan wajah dingin menatap Tyo.

__ADS_1


...*****...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2