PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 53 - Efek Air Zam Zam


__ADS_3

Bab 53 PMM


Seminggu berlalu, Rara dan Raja mulai penasaran tentang Raina. Apalagi menurut Silla, di rumah kontrakan Raina terdapat meja pemujaan ditambah dengan foto-foto mereka yang terpampang mengerikan.


Belum lagi hantu perempuan bernama Linda yang gentayangan di sekitar rumah kontrakan tersebut. Linda bahkan kerap menangis kesepian. Membuat siapa pun warga yang lewat jadi merinding ketakutan, bahkan berlari ketika mendengar tangisan memilukan dan menyayat Linda.


Namun, semua akan sia-sia jika hanya mengandalkan Raina. Pasalnya gadis itu mengaku mengalami hilang ingatan dan tidak bisa menceritakan apa pun yang sedang ditanyakan Raja dan Rara.


Maka sore itu, Rara dan Raja bergerak menuju ke Panti Asuhan Ceria, tempat alamat di mana tertera pada KTP milik Raina Larasati. Seorang wanita berusia lima puluh tahun yang memakai jilbab warna hijau muda, senada dengan warna dasar gamisnya yang bermotif bunga itu, menyambut kedatangan Raja dan Rara.


"Hmmm, kalau soal apa Raina punya kembaran, saya kurang tahu, ya. Sejak Rai berusia lima belas tahun, dia memilih hidup sendiri katanya sumpek di panti kepenuhan," ucap Bu Tiwi.


"Oh gitu, Bu." Raja menanggapi dengan mengangguk.


"Kenapa nggak tanya aja ke orangtua kembarannya Raina?" tanya Bu Tiwi.


"Udah pernah, Bu, tapi mamanya kayak ketakutan gitu," ucap Rara.


"Oh iya, ibu baru ingat. Rai emang pernah bilang kalau dia menemukan keluarganya. Tapi, waktu dia dapat kerjaan di Kota Bandung," ucap Bu Tiwi.


"Loh, keluarga kandungnya nggak tinggal di kota ini?" tanya Rara.


"Setau Ibu nggak, deh. Mungkin Raisa itu bukan anak kandung dari orangtuanya yang tinggal di kota ini. Ya, mungkin aja orangtua kandung mereka ada di Bandung," ucap Bu Tiwi.


"Oh, pantes mamanya Rangga tutup mulut. Dia takut kali ketauan kalau Raisa anak adopsi," cicit Raja.


"Benar juga, ya. Jadi, kita harus cari tahu alamat orang tua Raina yang di Bandung itu," ucap Rara.


"Sebenarnya ini ranah pribadi ya, jadi Ibu nggak bisa ikut campur. Tapi, kalau nanti ibu bisa cari tahu alamat tempat Raina kerja waktu itu, nanti Ibu kasih tahu kalian," ucapnya.


"Baik, Bu Tiwi. Terima kasih banyak," ucap Raja.


"Sama-sama, Ja. Saya ngelakuin ini buat balas budi sama bunda kamu." Bu Tiwi tersenyum hangat pada Raja dan Rara.


...***...


Hari itu, Tyo memandangi Lani yang ada di hadapannya. Tugasnya dari Dikta dalam menjaga Lani akhirnya selesai. Akan tetapi, Tyo justru menemukan dirinya diserang kepanikan, karena menjaga Lani adalah satu- satunya alasan baginya untuk menghibur diri.


Tyo harus mengakui dengan menatap Lani dan bicara padanya sangat menyenangkan dan membuatnya bahagia. Sehingga, kala Dikta memintanya untuk berhenti, hal itu membuatnya sedih dan satu-satunya alasan itu direnggut dari tangannya.

__ADS_1


"Lan, jaga diri baik-baik, ya. Kalau nanti elu pulang malem sendirian, telepon Raja, Rara, atau Briana. Nggak mungkin juga elu nelpon Dikta, kan?" ucap Tyo.


"Terus kenapa nantinya?" Dahi Lani mengerut.


"Nanti biar mereka yang jemput. Pokoknya jangan pulang sendirian!"


"Ini pesen buat gue?" tanya Lani.


Dia bisa merasakan kegelisahan yang teramat terlihat dalam suara Tyo.


"Ya iyalah. Siapa lagi? Briana maksudnya?" Tyo malah melotot dongkol.


"Ooooh… ya kali gitu buat Briana." Lani mengangguk-angguk, lalu melanjutkan perkataannya, "Makasih ya."


"Semoga si Boy itu emang orang yang lo cari selama ini. Oh ya, tolong sampein ke dia, gue minta maaf udah bikin hubungan kalian keganggu yang kemarin kemarin itu," ucap Tyo.


"Kok, kayak elu mau pergi jauh aja dari gue?" tanya Lani seraya tersenyum manis.


Tyo hanya diam dan melayangkan senyum.


"Jadi, lo nggak akan ganggu hubungan gue sama Boy lagi, kan?" tanya Lani lagu.


Lani segera menghubungi Boy dan mengajaknya bertemu. Sesaat Rara dah Briana menghampiri. Rara membawa air zam zam yang tadi dia terima dari Bu Handoko. Rara sempat mampir ke sana karena Ryujin memintanya mengantar kue. Lalu, Rara diberikan bingkisan oleh-oleh dari Mekah karena Bu Handoko baru saja menunaikan ibadah haji.


"Eh, kalian pada minum air zam zam ini, nih. Biar sehat wal afiat, terus ini kurma dan kismisnya dimakanin," ucap Rara.


Briana dan Lani menurut. Mereka menyantap cemilan khas Mekah Madinah itu seraya berbincang di kantin. Lani juga menceritakan kebahagiaannya karena setelah Dikta pergi, kini Tyo juga pergi membebaskannya. Dia tak akan mengganggu hubungan Lani dan Boy lagi.


Tak lama kemudian, ponsel Lani berdering. Boy menghubunginya dan mengajaknya berkencan. Malam itu, pelet yang Boy gunakan untuk Lani mendadak hilang, luntur dan tak tersisa. Lani yang selalu menganggap Boy manis dan sempurna itu seolah melepaskan topeng kepalsuannya dengan begitu gamblang.


Setelah jeda hubungan yang memakan waktu lebih dari seminggu, hanya berkomunikasi lewat pesan whatsapp dan telepon, Lani terkejut ketika mendapati Boy tak semanis biasanya. Senyum dan tatapan mata pria itu, yang biasanya begitu menggetarkan, juga kata-kata lembutnya yang melenakan, semuanya mendadak hilang.


"Ada apa?" tanya Lani hati-hati.


"Mana bodyguard kamu itu?" ledek Boy


"Maksud kamu?" Lani bingung menjawab.


Akhirnya gadis itu hanya mengangkat bahu lalu bertanya seraya mengernyit dahi pada Boy, "Ada apa sih? Kok mendadak kamu jadi lain begini?"

__ADS_1


Boy tidak langsung menjawab. Hanya diraihnya tangan Lani dan digandengnya menuju tempat mobilnya diparkir.


"Ikut aku! Aku mau bawa kamu bersenang-senang!" ajak Boy.


Sedan hitam yang dikemudikan Boy, kemudian meninggalkan gerbang kampus. Civic hitam itu menyusuri jalan raya dan berhenti di depan sebuah hotel.


"Ngapain ke sini?" tanya Lani heran ketika memasuki lobby hotel tersebut.


"Ngapain?" Boy menoleh lalu tertawa.


"Iya, mau ngapain?" tanya Lani lagi.


"Kamu pasti lagi pura-pura bego, kan?" Boy tertawa lebih keras.


"Aku beneran nggak ngerti deh, Boy," sahut Lani.


"Jangan pura-pura bego, deh. Kita lakuin apa yang sering kamu lakuin sama Dikta!" serunya.


Lani ternganga.


"Ayolah jangan naif. Kamu biasa kan "ML" sama Dikta?"


"Kamu nggak serius kan ngomong gitu?" Lani menatap tak percaya.


Boy mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.


"Kamu naif apa bego, sih? Kamu itu bekas pacarnya Dikta. Aku yakin kamu tuh sampah, murahan, dan pasti udah dirusak sama Dikta kayak mantannya yang lain!" seru Boy.


Kembali Lani ternganga, menatap tak percaya.


"Apa maksud kamu dengan cewek rusak? Sampah? Sumpah ya, Boy, aku nggak pernah ngapa-ngapain sama dia!" tegas Lani.


"Udahlah, nggak usah pura-pura! Semua orang di kampus itu tau sama reputasinya Dikta. Semua cewek yang pernah jalan sama dia, dari sebelum jadi pacar sampai sesudahnya udah pasti beda. Lagipula kamu juga jalan sama temennya Dikta si Tyo itu. Masa sih kalian juga nggak ngapa-ngapain? Bullshit banget hari gini zaman now gitu," ledek Boy.


"Nggak semua mantan Dikta kayak gitu!" bentak Lani dengan nada tinggi, "Aku nggak begitu, ya. Aku nggak sehina yang kamu bilang dan aku nggak ada hubungan apa-apa sama Tyo!"


...******...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2