
Bab 75 PMM
Boy bermimpi di atas ranjangnya. Kisah masa kecilnya yang tragis ditampilkan dengan jelas di alam bawah sadarnya itu.
"Boy, ayo bangun! Nanti ayahmu keburu pulang!" seru seorang wanita berusia dua puluh lima tahun bernama Rina.
Adik ibunya yang kini merawatnya setelah ibunya meninggal dunia saat melahirkan Boy. Usia Rina saat itu beranjak dewasa, lima belas tahun tepatnya. Rina merawat Boy sepenuh hati dan menganggapnya seperti anak sendiri. Bocah laki-laki berusia sepuluh tahun itu terbangun dan mengubah posisinya menjadi duduk seraya mengucek kedua matanya.
"Aku akan pergi ke kota dulu ya, Boy. Katakan itu kalau ayahmu tanya," ucapnya.
"Bibi nggak akan ninggalin aku, kan?" tanya Boy.
"Kalau niat Bibi mau ninggalin kamu, udah dari dulu Bibi lakuin," kata Rina seraya mengusap kepala Boy.
Rina lantas menyiapkan tas dan dompet rajut buatannya yang akan dia jual ke pasar di kota.
"Baik, Bi. Hati-hati, ya." Boy tersenyum kala menatap sang bibi menganggukkan kepala.
Boy menatap iba kepergian sang bibi. Di usia beliau wanita itu, ia harus merawat Boy dan menjaganya agar tetap waras dari kebiadaban sang ayah yang pemabuk dan penjudi itu.
Bibi Rina harus rela tak sekolah. Dia bahkan rela menghadapi kebringasan sang ayah karena menjadi sasaran nafsu bejat pria bernama Tommy itu. Pria itu bangkrut karena kerap berjudi dan suka mabuk-mabukan sampai harus pindah ke sebuah desa di pinggiran ibukota.
Bibi Rina juga tidak bisa berbuat banyak ketika menjadi labuhan nafsu Tommy. Dengan terpaksa Rina akan melayaninya. Dia tak bisa berbuat banyak. Niat kabur pun urung dilakukan karena tak tahu harus pergi ke mana. Bahkan Rina pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, dia tak tega jika harus meninggalkan Boy. Oleh karena itu, Rina bertahan walau beban yang ditanggungnya begitu besar.
Musim berganti musim sampai Boy berusia tiga belas tahun kala itu. Kala hal menyeramkan di hidupnya terjadi. Ia tumbuh dengan perlakuan kasar dan keras sang ayah. Tommy merupakan ayah yang kejam bahkan tak pernah mengajak Boy bermain seperti ayah dan anak lainnya.
Alih alih tersenyum, Tommy malah kerap memukuli Boy. Batang rotan, pukulan kasur, bahkan alu yang terbuat dari kayu kerap menjadi saksi bisu atas kekejaman Tommy terhadap Boy. Apalagi jika sedang mabuk. Setiap Rina berusaha melindungi Boy, saat itulah ia kerap dijadikan pelampiasan nafsu dari Tommy yang bahkan dilakukan di depan anaknya sendiri.
Sejatinya Boy menatap penuh amarah perlakuan sang ayah kepada bibinya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menangis meratapi kejamnya hidup dalam belenggu sang ayah.
__ADS_1
Sang bibi menangis meronta-ronta bahkan meminta pertolongan pada Boy. Di atas tawa sang ayah, Boy sebenarnya dibayangi perasaan dendam, marah, dan segala kegelisahan yang sudah membumbung dan siap untuk meledak.
Dia menyaksikan seorang wanita yang dengan tulus dan sabar membesarkannya seorang diri, malah harus menderita di tangan ayah kandungnya. Boy hanya bisa menatap ke arah tangannya yang lebam dan terlihat beberapa bekas gigitannya sendiri ketika menahan tangis dan sakit serta meredam amarah. Anak muda belia itu hanya bisa menggigit pergelangan tangannya itu untuk menahan emosinya.
Seperti biasa ia tidak dapat membantah karena jika ia membantah hukuman lebih berat akan datang kepadanya lebih kejam. Bahkan Boy akan dikurung dan tak akan mendapat jatah makan dan minum. Sungguh seorang ayah yang menyebalkan dan biadab.
Sampai malam kejam itu datang, saat ayahnya pulang dengan sebotol anggur merah di tangan. Ia meminta Bibi Rina melakukan pertunjukan bejat dengan melucuti pakaiannya sendiri. Namun, Boy mulai tak tahan. Ia melawan ayahnya sendiri.
Akan tetapi perjuangan Boy sia-sia. Ia malah dihajar balik oleh sang ayah yang bertubuh lebih besar dan kekar itu. Tommy malah menyuruh putranya sendiri untuk melucuti pakaian sang bibi. Bahkan Tommy meminta putranya untuk menyetubuhi Rina, orang yang sudah merawat Boy sejak bayi dan dengan tulus.
Entah setan apa yang merasuk pada diri Boy, ia menuruti perintah sang ayah. Rina tak kuasa menahan perasaan sakit dalam jiwanya. Ia benar-benar tak menyangka malam kejam biadab itu akan hadir dalam hidupnya. Malam terburuk dan membuatnya mengutuk Boy. Wanita itu menyesal telah merawat anak kurang ajar itu.
Setelah kejadian kejam yang biadab itu, Boy merasakan kegelisahan yang mendalam. Seorang wanita yang susah payah membesarkannya, harus melayani nafsu dari anak laki-laki yang dibesarkan dengan keringatnya sang bibi yang hidup dalam penderitaan.
Rina yang sangat terguncang malam itu, merasa tidak ada harapan. Ia merasa benar-benar tak bisa bertahan lagi untuk hidup. Rina putus asa dan gelap mata. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menggantung tubuhnya di pohon manggis yang ada di halaman belakang rumahnya.
"Bibiiiiiiiii!" Boy berteriak ketika melihat jasad bibinya.
"Apa-apaan sih ini?!" Tommy membentak putranya.
"Bibi Rina, Yah! Lihat bibi gantung diri!" seru Boy seraya menangis.
Boy bersimpuh di jasad bibinya. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Tommy mulai mendekati tubuh Rina yang tergantung itu, perlahan ia meraba jari-jari di kaki si perempuan itu. Lalu, ia berusaha menggerak-gerakan tubuh Rina untuk memastikan kalau Rina sudah tewas.
"Udah mati dia. Turunin dia dan bawa masuk! Taro atas ranjang!" titah Tommy pada putranya.
Tommy memaksa Boy untuk menurunkan wanita itu seorang diri. Dengan berlinang air mata, Tommy berusaha sekuat tenaga melepaskan ikatan yang mencekik leher sang bibi. Lalu, ia membopong tubuh Rina dengan susah payah dan membaringkan jasad wanita itu di atas dipan. Ia membersihkan liur yang keluar dari mulut sang bibi. Kemudian ia membersihkan sekujur tubuh bibinya itu dengan handuk basah.
"Minggir luh!"
__ADS_1
Tiba-tiba Tommy mendorong Boy yang sedang membersihkan tubuh Rina begitu saja, sehingga anak muda itu tersungkur.
"Pergi luh dari sini!" seru Tommy.
"Ayah mau apa?" Boy masih berusaha bertahan.
"Udah sana elu pergi aja!" Boy membentaknya untuk segera keluar dari kamar.
Boy akhirnya setengah hati menuruti perkataan sang ayah. Meskipun dengan langkah berat, ia terpaksa berjalan keluar kamar. Namun, Boy sangat terkejut ketika sang ayah akan meniduri jasad sang bibi.
Benar saja, Tommy masih menatap tubuh Rina yang tak memakai sehelai benang pun itu. Semakin dalam ia tatap malah semakin dalam hasratnya muncul. Perlahan ia melepas satu per satu pakaian yang ada di tubuhnya.
Tommy benar-benar hilang akal dan kewarasan saat menikmati tubuh Rina untuk terakhir kalinya. Dari luar kamar, Boy yang mendengar ******* membabi buta sang ayah akhirnya membuat Boy tak kuat lagi menahan segala emosinya.
Boy yang melihat perilaku biadab sang ayah itu tidak terima jika seorang yang sangat dia cintai itu diperlakukan sebegitu buruknya. Boy lantas masuk dan meraih vas bunga di atas meja kamar Rina. Anak muda itu lalu memukulkannya ke kepala sang ayah. Dengan segala emosinya itu, seluruh upaya dikerahkan Boy untuk menghabisi ayahnya sendiri.
Ia mendorong sang ayah sampai wajah Tommy menghantam cermin dan berserakan. Namun, Tommy juga memberikan perlawanan yang kuat, ia mendorong Boy ke sudut ruangan. Pria itu kemudian sebisanya melayangkan hujanan pukulan di sekujur tubuh Boy.
Akan tetapi, setan yang sudah merasuk dalam tubuh Boy membuatnya tak menyerah dengan menangkis pukulan-pukulan si ayah. Boy lalu berbalik unggul ketika ia menendang sekuat mungkin ******** sang ayah.
"Aaaarrggh! Bocah sialan!" pekik Tommy kala tersungkur sambil memegangi ***********.
Boy menatap sang ayah dengan geram. Ia lalu mengambil pecahan cermin yang berserak di lantai. Ia menusuk-nusukkan ke perut sang ayah. Tommy meronta-ronta kesakitan. Namun, Boy tak peduli. Ia menyayat nadi di leher ayahnya sendiri. Dalam sisa bulir bening yang sudah tertahan di kantung matanya itu, Boy tertawa puas saat menyaksikan sakaratul maut sang ayah.
Boy makin kehilangan kewarasannya. Ia lantas mengambil alu yang biasa dipakai Tommy untuk memukulinya. Dengan sisa- sisa tenaga miliknya, Boy memukulkan kayu besar itu ke bagian ******** sang ayah berkali-kali sampai hancur.
Boy menyadari kalau dirinya sangat kotor dan bersimbah darah. Anak muda itu mulai ketakutan dan tak ingin terjebak salam kurungan penjara. Boy lantas melarikan diri sejauh mungkin sampai ia bertemu dengan Karina.
...******...
__ADS_1
...To be continue ...
...See you next chapter!...