
Bab 31 PMM
Raja menemui sosok hantu yang sempat membuat takut Frans. Tak ada tanda-tanda penampakan sosok itu, akhirnya Raja menuju ke perpustakaan karena Frans sempat ditemani waktu menggunakan laptop perpustakaan.
Saking sunyinya, debum buku terjatuh pun terasa nyaring. Namun Raja masih bergeming di sudut ruangan seraya berpura-pura mengamati beberapa buku.
Namanya perpustakaan pasti ada rak-rak berisi buku penuh debu atau mulai bernoda.
Pak Budi si penjaga perpustakaan tak punya firasat buruk di tengah kesendiriannya, jadi tak pernah takut dengan hal-hal yang berbau mistis. Ya, mungkin juga karena dia terlalu lama sendiri. Bahkan pria berumur empat puluh tahun itu sudah dijuluki perjaka tua karena sudah terlalu lama sendiri.
Sehingga, Pak Budi tak masalah jika di perpustakaan ada orang yang menemani atau tidak. Kalau pun tidak ada yang menemani sama sekali, dia tak peduli.
"Tumben main ke perpus," sapa Pak Budi pada Raja yang baru itu terlihat lagi.
"Eh, ada Pak Budi. Biasa lah Pak, saya mau cari buku titipan adik saya," ucap Raja berbohong.
"Kartu anggota kamu udah habis masa keaktifannya loh, Ja," ujarnya memperingatkan.
"Oh, tenang Pak. Nanti sekalian perpanjang," sahut Raja.
"Sip kalau gitu silakan!"
Raja menuju ke sudut ruangan untuk mencari sosok perempuan bernama Lily tadi.
Tiba-tiba, seorang hantu perempuan penunggu perpustakaan muncul. Ia mengira kalau Pak Budi sedang duduk sendirian. Mungkin karena hasrat menggoda Pak Budi, sosok perempuan manis berwajah pucat itu lantas duduk di depannya. Dia bertanya kepada Budi.
“Pak Budi! Layanan peminjaman masih buka, nggak?”
"Sepuluh menit lagi tutup, Mbak. Cuma sampai jam lima sore,” jawab Pak Budi, menghentikan ketikannya.
"Hmmm, tau gitu dari tadi aja aku muncul," gumam perempuan itu.
"Loh, bukannya kamu emang selalu ke sini setiap saya mau pulang?" tanya pria berkumis tipis itu
Namun, dia selalu suka jika wanita ini datang karena cantik. Siapa tahu ada kesempatan dijadikan jodoh. Lumayan, pikir Pak Budi.
“Waduh, jangan tutup dulu ya, Pak." Hantu perempuan itu lantas melirik ke arah Raja.
Dia mendekat kemudian.
“Hai, tumben ada yang ke sini di jam segini selain aku," sapanya.
"Hmmm." Raja masih celingak celinguk mengamati ruangan.
Hantu perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba, salah satu buku yang tebal jatuh menimpa kaki Raja padahal tidak ada angin yang bertiup dan tidak ada yang menyentuh.
"Jangan iseng deh, Mbak," lirih Raja.
Hantu perempuan itu hanya tertawa kecil sambil memainkan ujung rambutnya.
__ADS_1
Raja menunduk, berniat mengambil buku tersebut. Tiba-tiba, Hantu perempuan itu meniupkan udara di tengkuj Raja. Seketika bulu kuduknya meremang.
Raja mulai melihat ada keanehan. Sepasang kaki pucat itu tampak melayang. Raja mendongakkan kepala, perempuan di depannya masih melihatnya sambil tersenyum.
“Mau cari siapa, Mas?” tiba-tiba si hantu perempuan itu bertanya.
"Hmmmm, kayaknya kamu suka ganggu ya di sini? Iseng banget, sih!" umpat Raja.
“Biasanya kalau saya tanya mau ke mana, mau cari siapa, pasti bilangnya mau pulang karena udah malam," tukasnya.
"Lalu?" Raja mengernyit.
“Ya pastinya bukan karena sudah malam. Tapi, karena sudah tahu siapa saya, hihihi," timpalnya.
Senyum yang manis yang mulai terlihat seperti seringai itu terlukis di parasnya.
Tiba-tiba, suara seseorang menabrak meja terdengar. Pak Budi langsung lari mengibrit. Dia berlari menuruni tangga sambil terengah-engah. Raja buru-buru melihatnya. Sosok wanita berhijab yang ia cari muncul di depan meja Pak Budi.
"Ajeng?" Raja memanggil.
Perempuan itu menoleh, "Kamu kenal aku?" tanyanya.
"Loh, dia mah namanya Lily bukan Ajeng," ucap hantu wanita di samping Raja.
"Namanya Ajeng. Coba deh lihat ini." Raja menunjukkan foto Ajeng di layar ponselnya.
"Loh, iya mirip kamu, Ly. Jadi nama kamu Ajeng bukan Lily!" sahutnya.
"Oh iya kali ya. Aku kan hilang ingatan dan terjebak di gedung ini," ucapnya.
"Kok, bisa kejebak di sini, ya? Kamu kan jatuh dan meninggal di gedung depan?" tanya Raja.
Ajeng mengangkat bahunya.
"Terus nama kamu siapa? Kok bisa jadi hantu penunggu perpustakaan?" Raja beralih pada hantu perempuan di sampingnya tadi.
"Namaku Dian. Aku mati di sini. Aku ingat banget itu, kalau aku dikubur di sini sebelum ruang ini jadi perpustakaan pas masih direnovasi," ucapnya.
"Astagfirullah, tragis amat matinya," gumam Raja.
"Eh, kamu bisa cerita kenapa aku meninggal dan mungkin aja kamu tahu kenapa aku masih gentayangan?" tanya Ajeng.
"Sebentar ya, aku mau nelpon pacar aku dulu supaya nggak salah paham. Aku minta dia ke sini bawa teh kotak. Mau nggak?" Raja menawarkan.
Sontak saja, Ajeng dan Dian bertatapan lalu berjingkrak-jingkrak kegirangan. Pasalnya, mereka sangat senang bertemu manusia yang pemberani seperti Raja dan juga rela membawakan makanan atau minuman untuk mereka.
Tak lama kemudian setelah Raja menceritakan perihal kematian Ajeng, sosok Rara datang seraya membawakan kedua hantu itu makanan dan minuman yang mereka minta.
Tadinya, Rara mau memeluk Ajeng. Namun, hal itu tak jadi dia lakukan karena bau busuk yang menyeruak dari tubuh hantu perempuan itu.
__ADS_1
"Tau nggak, aku pikir namanya Lily. Habisnya dia suka banget lihat gambar bunga Lily di laptop. Eh, taunya namanya Ajeng," ucap Dian.
"Buruan makannya! Nanti kalau Pak Budi balik dia bakal ngelarang kita makan pizza!" titah Raja.
"Oh iya juga ya. Ah, paling juga nanti dia nyuruh satpam buat kunci ruang perpus ini," ucap Dian.
"Rara sama Raja tau nggak siapa yang dorong aku?" tanya Ajeng.
Keduanya kompak menggelengkan kepala.
"Justru kita mau tanya ke kamu mengenai orang yang dorong kamu jatuh," sahut Raja.
"Duh, kira-kira siapa ya yang tega ngelakuin itu ke aku?" gumam Ajeng sambil mengaduk-aduk saus di atas pizza miliknya.
"Makanya kalau punya otak sering-sering buat belajar biar nggak gampang hilang ingatan," celetuk Dian.
"Aku kan nggak punya otak makanya aku lupa semua kejadian karena memoriku hilang, hehehe." Ajeng membuka jilbabnya dan menunjukkan tempurung kepala yang berongga tanpa ada otak itu.
"Astagfirullah! Aku lagi makan ini!" pekik Raja.
Sementara itu Rara sudah menuju wastafel untuk muntah.
"Tutup jilbab kamu! Bikin eneg aja, nih!" Dian buru-buru menutup kepala Ajeng.
"Kamu ketemu sama Raisa, nggak?" tanya Raja.
"Raisa itu siapa?" Ajeng balik bertanya.
"Ja, dia kan hilang ingatan," sahut Rara.
"Oh iya ya." Raja kembali mengeluarkan ponsel. Namun, ia ingat sesuatu. Sebaiknya ia mengeluarkan selebran.
"Ini ada Raisa, ada foto kamu, dan juga Devan." Raja menunjuk satu-satu selebaran doa bersama itu.
Ajeng menggelengkan kepala tanda belum pernah melihat Raisa di sekitaran tempat dia bergentayangan.
"Tadi ini siapa kata kamu?" Dian menunjuk foto Devan.
"Ini Devan, pacarnya Raisa yang pernah selingkuh sama Ajeng dan juga Briana, yang tadi aku ceritain ke Ajeng barusan," jawab Raja.
"Sialan tuh cowok pacarnya banyak. Tapi, dia yang udah bikin aku mati tau!" pekik Dian penuh kesal dan amarah.
Rara dan Raja kembali saling tatap tak menyangka.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1