PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 67 - Hantu Penunggu Rumah Kosong


__ADS_3

Bab 67 PMM


"Iya, Mbak! Entar gue kirim!" teriak Rangga.


Sambungan ponsel itu dia tutup. Rangga menoleh pada Adam dan Raja.


"Di mana ada yang bunuh diri?" tanya Adam.


"Dih, emang elu nggak tau kalau di a


Apartemen Hijau ada cewek bunuh diri gara-gara video bokep dia kesebar?" tanya Rangga.


Adam menggeleng, Raja juga.


"Ah, nggak up to date luh! Gue bahkan punya videonya pas tuh cewek terjun bebas. Tapi nggak di hape ini. Entar deh fue kasih," sahut Rangga kemudian beralih ke peralatan merekam yang dia letakkan dalam tas.


Raja dan Adam masih memandang anak muda itu dengan sorot mata yang membuat Rangga mulai merasa tidak nyaman.


"Apaan sih, elu pada! Lu kagak ada kerjaan lain, apa? Ayo, katanya mau ke rumah itu. Kita berburu setan malam ini!" ajak Rangga.


Raja akhirnya tersenyum, sembari berujar kepada Rangga, "jangan sampai ngompol, ya!"


"Sialan! Elu kali Bang yang ngompol!" seru Rangga.


Raja dan Adam saling menatap dan mengangguk.


"Om Lee datang nggak, Kak?" bisik Raja.


"Harusnya sih dateng." Raja lalu turun dari mobil dan diikuti dua pemuda di belakangnya.


Mereka memasuki rumah dua lantai yang jendela belakangnya juga sudah banyak yang pecah. Cat dinding kusam mengelupas bahkan berlumut. Benar juga apa yang dikatakan Raja. Pintu pagar di halaman belakang dapat dibuka dan dimasuki dengan mudah.


Mereka mengamati sekeliling. Rangga tetap saja merekam gambar tetapi berjanji tidak akan menyorot ke arah Raja dan Adam. Sesekali juga Rangga berbicara sendiri seolah sedang melakukan tur di tempat mistis.


Raja berhasil membuka pintu masuk di bagian belakang yang dekat dapur itu. Hawa pengap dan suasana yang membuat bulu kuduk meremang sangat terasa. Banyak debu menutupi furniture yang bentuknya sudah tak utuh itu.


Namun, Adam menghentikan langlahnya dan tak kunjung pergi ketika berada di rak buku yang sebagian dimakan rayap. Ada buku jurnal yang terlihat masih utuh. Tiba-tiba saja, pandangannya tertuju pada sebuah jurnal yang tergeletak di atas meja di rak buku tersebut.


Sementara Raja masih mengamati sekitar dan Rangga masih asik merekam gambar. Tanpa sepengetahuan Raja, Adam meraih jurnal itu. Ia membuka lembar demi lembar yang ada di dalamnya.


Di dalam buku itu, Adam banyak menemukan sobekan dari kertas koran-koran tua yang di tempel layaknya tugas kliping anak SMA. Jurnal siapa yang menyimpan potongan berita-berita tua ini? Adam mencoba mengamati lagi untuk mencari tahu pemiliknya.

__ADS_1


Semua berita yang ada di dalam jurnal di tulis sekitar tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an. Adam kembali membuka lembar jurnal sampai terhenti pada salah satu halaman dengan headline "Orang-Orang Kaya Raya Yang Ditemukan Tewas Secara Misterius" tertulis banyak di headline potongan surat kabar itu.


Tak hanya itu, pada lembaran lain ditulis juga, "Pembantaian Satu Keluarga Secara Misterius" yang semakin membuat Adam tertarik dengan jurnal cokelat tersebut.


Raja menepuk bahu adiknya setelah menyadari tak ada Adam yang mengikutinya sedari tadi. Sontak saja Adam terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan buku jurnal di tangannya.


"Apa itu, Dam?" tanya Raja.


"Lihat deh, Kak. Di antara buku-buku tua yang rusak ini, cuma jurnal ini yang masih utuh bisa dibaca," ucap Adam.


Raja meraihnya, lalu mereka terus membuka lembaran demi lembaran semakin jauh. Banyak simbol aneh beserta gambar-gambar yang dicoret-coret menggunakan pena secara acak. Raja terhenti pada sebuah gambar surat kabar yang memperlihatkan pembantaian Keluarga Narayan.


"Ini bukannya wajah Dokter Salma?" Raja mengernyit.


"Dokter Salma siapa, Kak?" tanya Adam.


"Dokter yang temennya Kak Anta itu, yang terlibat perdagangan organ manusia ilegal. Terus Kak Raja liat ada penampakan cewek yang mukanya mirip dia," bisik Raja.


Adam terdiam sejenak, pikirannya menerawang jauh. la seperti pernah mendengar rumor tentang rumah kosong ini.


"Rumah ini rumah milik Keluarga Narayan, Kak. Keluarga di sini tewas dibantai secara misterius. Tapi, kasusnya gaib. Nggak ada orang mencurigakan yang tertangkap kamera cctv. Gue denger juga mereka lagi makan malam terus mati gitu aja secara misterius," bisik Adam.


"Mungkin mereka kembar," sahut Adam.


"Tapi, foto keluarga ini nunjukkin kalau si Salma nggak kembar," sahut Raja lagi.


Raja dan Adam kembali, membaca coretan-coretan di jurnal tersebut, kemudian mereka tersentak saat menemukan sosok Rangga sedang melihat ke arah mereka dengan sorot mata sengit.


"Pergi dari rumah ini!" serunya.


"Rangga! Elu kenapa?" tanya Adam mencoba mendekat.


"Pergi dari rumah ini!" Rangga terus membentak.


Di tangannya ada sesuatu yang aneh. Bukan kamera go pro seperti yang tadi Rangga pegang, tetapi pisau dapur yang sebagian berkarat.


"Rangga! Buang itu pisau!" seru Raja.


"Anak ini kurang ajar! Dia harus mati!" ucapnya.


"Kayaknya dia bukan Rangga, Kak. Gue rasa si Rangga kesurupan," ucap Adam.

__ADS_1


"Kayaknya gitu," sahut Raja lalu mencoba mendekati Rangga.


"Siapa kamu? Bisa-bisanya kamu masuk ke tubuh anak itu?" Raja mencoba mengalihkan perhatian sosok Rangga.


Sementara Adam akan berusaha mengambil pisau dapur itu dari tangan Rangga.


"Namaku Salma. Aku pemilik buku jurnal itu," ucapnya.


"Pemilik buku ini? Elu udah mati ngumpulin kliping ini?" Adam menatap aneh dan heran pada hantu yang merasuki tubuh Rangga itu.


"Memangnya nggak boleh? Ada tuyul yang suka membantu saya mengumpulkan koran," sahutnya.


"Tunggu, kalau kamu Salma yang asli, lalu siapa Dokter Salma yang memiliki wajah mirip kamu?" tanya Raja.


"Itu memang tubuh aku. Dia menukar jiwa kami," sahutnya.


"Dia?" tanya Raja lagi.


"Iya, wanita yang kamu sebut Dokter Salma itu," sahutnya.


"Coba kita cerita cerita sini, aku mau denger," kata Raja meyakinkan.


"Hmmm, sepertinya kalian orang baik. Apa jangan-jangan kalian manusia-manusia tampan yang sering aku dengar dari para kuntilanak itu, ya?" tanya Salma.


"Kuntilanaknya punya pemimpin, kan? Ratu Silla namanya. Itu sih tante kesayangan kita ya, Kak?" sahut Adam.


"Bener banget," kata Raja menimpali.


"Oh, Ratu Kuntilanak yang namanya Silla itu. Ummm, oke baiklah aku akan ngobrol sama kalian. Tapi, aku lepaskan tubuh anak bodoh ini. Seenaknya saja dia sombong dan menantang aku muncul. Dan yang paling menyebalkan lagi, dia pipisin lukisan aku yang di kamar!" Salma menunjuk kamarnya di lantai dua.


Sosok hantu perempuan itu lantas keluar dari tubuh Rangga. Pemuda itu tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai penuh debu itu. Salma bahkan memukul pipi Rangga dengan ujung kakinya.


"Huuuuu, cowok lemah kayak gini aja belagu!" sungut Salma.


Hantu perempuan itu lantas mengajak Raja dan Adam berbincang di sebuah ruang makan. Tempat di mana ia tewas bersama keluarga dan tubuhnya diambil untuk dimiliki oleh seorang perempuan penyembah sekte sesat Nyi Ageng.


...******...


...To be continue ...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2