PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 54 - Si Brengsek!


__ADS_3

Bab 54 PMM


"Oh, ya? Gimana caranya supaya aku bisa tau? Buktiin dong ke aku, supaya aku yakin kalau kamu emang belum pernah ngapa-ngapain atau diapa-apain sama Dikta atau Tyo. Ayolah, Lan… aku bawa kamu ke hotel mahal, loh, bukan murahan. Harusnya kamu bangga kalau aku nggak bawa kamu ke tempat murahan," ucap Boy mulai kurang ajar.


Lani benar-benar merasa seperti dipukul dengan palu besar tepat di wajahnya. Matanya sampai memicing menatap tak percaya ketika Boy dengan mudahnya berucap dan menatapnya dengan senyum menantang serta kedua alis terangkat tinggi. Setelah beberapa saat terperangah, tidak yakin ini memang kejadian nyata, akhirnya Lani meng- angguk.


"Oke kalau gitu. Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Ada yang mau aku kerjain." Lani tersenyum menyeringai.


"Oke deh sayangku. Aku pasti akan tunggu kamu," ucap Boy dengan senyum lebar.


Pria itu bahkan sudah menyiapkan ponselnya untuk merekam adegan panas yang akan dia buat bersama Lani nanti. Lalu, Boy akan menjualnya dan menyebarkannya di sosial media.


Masih dengan sepasang mata yang menatap Boy lurus-lurus, Lani menuju ke mobil milik Boy yang terparkir di halaman hotel. Dengan tangis yang sudah sampai di pangkal tenggorokan, dan setengah mati ditahannya agar tidak pecah keluar, gadis itu berjalan cepat ke arah pos sekuriti yang berada tidak jauh dari situ.


"Pak, pinjem tongkatnya, ya!" pinta Lani.


"Buat apa, Neng?" tanya si pemilik.


Tanpa menjelaskan lagi, disambarnya sebatang tongkat yang tergeletak di meja. Petugas sekuriti pemilik tongkat itu sontak berteriak dan mengejar Lani yang berlari keluar pos sambil membawa tongkatnya.


Akan tetapi, petugas keamanan hotel itu berhenti ketika dilihatnya Lani dengan penuh emosi memecahkan kaca sebuah sedan civic hitam milik Boy. Si pemilik sedan hanya bisa terperangah seraya berlari keluar dari mobilnya.


Lani menghentikan aksinya setelah seluruh kaca mobil Boy retak parah dan aksinya itu jadi perhatian pengunjung sekitar. Ditatapnya Boy dengan sepasang mata yang memperlihatkan kemarahan.


"Gue udah ingat sesuatu yang coba gue inget setengah mati pas gue ketemu sama elu. Elu itu lebih sampah dari gue! Laporin aja gue ke polisi! Tapi, gue bakalan buka tentang bisnis kotor elu itu! Gue tahu kalau elu dagang organ manusia ilegal, ya kan?!" ancam Lani seraya mengacungkan tongkat satpam itu ke arah Boy.


Dia sudah bersiap akan meninggalkan tempat itu saat mendadak disadarinya ada begitu banyak orang di sekitar.


"APA LIAT-LIAT!? HAH!?"


Dibentaknya kerumunan pengunjung yang mulai mendekat, bahkan sudah ada yang merekam aksi gilanya.


Kemudian, Lani balik badan dan meninggalkan tempat itu. Ketika melewati petugas sekuriti hotel tadi, Lani mengembalikan tongkat itu.


"Makasih, Pak."


Lani mengucapkan terima kasih dengan suara serak. Lalu, meninggalkan si petugas yang masih terpana menatapnya. Di depan hotel, dihentikannya taksi pertama yang lewat. Tangisnya langsung pecah begitu masuk ke dalamnya dan menutup pintu.


"Mau ke mana, Neng?" tanya si sopir taksi dengan suara pelan.


"Pulang, Pak!" bentak Lani langsung.


"Iya. Pulangnya ke mana?" tanya bapak sopir taksi itu dengan sabar, sambil mengulurkan sekotak tisu.


"Makasih, Pak."


Lani menerima kotak tisu itu lalu menyebutkan alamat rumahnya sambil terisak dengan suara mulai melunak. Sepanjang jalan, gadis itu terus menangis. Kalau saja Tyo ada bersamanya saat ini. Atau kalau saja ada Dikta.


Lani tersentak mendengar suara hatinya yang tercetus tiba-tiba itu. Mendadak sesuatu disadarinya. Berhubungan tertekan dengan Dikta, bahkan di bawah paksaan dan tekanan, dirinya tidak pernah jatuh sampai ke situasi mengenaskan seperti tadi. Lani baru sadar bahwa Dikta jauh lebih baik memperlakukannya dibandingkan dengan Boy si brengsek itu.


...***...


Keesokan harinya, Lani bertemu Briana dan Rara di kampus. Ia langsung saja menceritakan nasib sialnya pada para sahabatnya itu di gedung teknik komputer tempat Ajeng gentayangan.


"Sialan si Boy! Gue nggak nyangka!" Briana geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Asli! Aku juga nggak nyangka. Padahal kayaknya dia sayang banget sama Lani," sahut Rara.


"Itu dia, Ra! Kan kampret banget itu cowok!" Lani membersit hidung pada selembar tisu, lalu menggela napas panjang-panjang.


"Omongannya nyakitin banget," sahut Ajeng mulai berani menimpali.


"Bener, Jeng! Gue sampe pingin bayar orang buat bunuh dia!" seru Lani.


"Yang sabar ya, Lan," sahut Rara seraya memberikan tisu lagi pada Lani.


Briana mendengarkan pembicaraan sambil menulis pesan whatsapp pada Tyo. Dia ingin tahu apa Tyo tahu tentang perkembangan terbaru ini tentang Lani dan Boy. Briana hanya tahu kalau selama ini Tyo lah yang bertugas menguntit Lani dan menjaganya ke mana-mana.


Mobil kijang Tyo mendadak muncul tak lama kemudian dan langsung berhenti di sebelah avanza yang dikendarai Briana. Pria itu melompat turun dan berjalan menuju sisi mobil tempat Lani duduk. Dibukanya pintu.


"Ada apa?" tanyanya langsung.


Lani yang terkejut dengan kedatangan Tyo sampai menjawab terbata-bata.


"Ng-nggak, nggak ada apa-apa, kok." Lani menggeleng.


Sejenak Tyo menatapnya, lalu mengulurkan tangan, "Ayo ikut gue!"


Ditariknya Lani turun dari mobil. Sesaat Tyo menatap Briana yang juga kaget melihat kedatangannya yang seketika itu juga sampai. Tyo lalu menutup pintu dan membawa Lani masuk ke mobilnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Lani.


"Udah, ikut aja!" jawab Tyo pendek.


Tyo lantas membawa kendaraannya meninggalkan kampus menuju pinggiran Jakarta. Ia lalu menghentikan mobil di tepi sebuah danau. Tyo membuka pintu dan turun.


"Mau es kelapa, Lan?" tanyanya.


Tak lama kemudian, Tyo kembali dengan dua gelas es kelapa. Ditaruhnya kedua gelas itu di kap mesin.


"Ada apa?" tanya Tyo.


Lani menghela napas, tidak menjawab. Tyo lalu berdiri tepat di depannya.


"Cerita nggak, atau elo gue bunuh!" ancam Tyo.


Menatap tajam ke arah Lani yang memilih untuk menunduk, lalu menghela napas lagi. Dengan berat terpaksa ia menceritakan peristiwa itu. Tyo sampai terperangah dan wajahnya mulai merah padam.


"Brengsek tuh orang!" makinya. "Kita balik ke kampus sekarang!" ajak Tyo.


"Eh! Eh!" Lani buru-buru mencekal satu lengan Tyo, yang sudah melangkah menuju pintu mobil.


"Tyo, tunggu! Udah deh, nggak usah diperpanjang!" pinta Lani.


"Cowok bangsat kayak gitu mau elu diemin?"


"Udah, nggak usah! Biarin aja deh. Lagian gue juga nggak kenapa-napa." Lani menahan Tyo.


Pria itu kembali menghadapkan tubuhnya ke arah Lani. Ditatapnya gadis si hadapannya itu dengan lekat.


"Bener nih, elu udah nggak apa-apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya, masih nyesek aja, sih. Cuma masalahnya kalau ribut juga percuma. Malah tambah malu gue ntar," sahut Lani.


Tyo menghela napas. Kedua tangannya terulur tanpa sadar, dan merengkuh Lani ke dalam pelukannya. Diusap-usapnya punggung gadis itu. Namun, bukannya memenangkan, Tyo malah sukses membuat Lani menangis.


"Kenapa sih elu malah ketemu cowok kayak gitu?" ucap Tyo pelan.


Lani makin terisak.


"Balik sama Dikta lagi aja, ya?"


Seketika Lani melepaskan diri dari pelukan Tyo. Dihapusnya air matanya lalu ditatapnya Tyo dengan muka cemberut.


"Kenapa sih elu nggak bilang, sama gue aja, Lan? Kenapa harus sebut nama Dikta?" Lani memicing tak percaya.


Tyo hanya tersenyum.


"Cuma usul, Lan. Gue takutnya nggak bisa jagain elu lama-lama. Gue mau masuk pesantren di rutan. Itu juga kalau gue nggak abis digebukin, hahaha. Ya ampun, gue jadi lupa udah beli es kelapa belum gue bayar!"


Tyo meraih kedua gelas yang diletakkannya di kap mesin. Diberikannya satu pada Lani, lalu diajaknya Lani duduk di pinggir danau. Lani menghela napas sejenak.


"Elu mau masuk penjara, gitu? Karena apa?" tanya Lani.


"Nanti aja kalau gue udah masuk penjara baru gue jelasin," sahut Tyo.


"Goblok, luh!" sungut Lani.


Tyo tertawa keras. "Maki aja gue, Lan!"


"Nggak ah. Sayang mulut gue." Lani meringis. Tapi sesaat kemudian mukanya mengeruh. "Jangan cerita-cerita sama Dikta, ya?" pintanya pelan.


"Iya!" Tyo mengangguk.


Hening kemudian sampai Tyo buka suara.


"Gue salut sama elo, Lan," ucap Tyo.


"Kenapa, kok bisa?"


"Elu cewek pertama yang minta putus dari Dikta. Cewek pertama yang begitu dilepas, reaksinya bener-bener seneng. Dan elu juga cewek pertama yang pergi dari Dikta tanpa sakit hati." Tyo tertawa pelan dan menggeleng- gelengkan kepala.


"Lebay, luh! Udah ah balik, yuk! Udah sore banget, nih!" ajak Lani.


Tyo mengangguk.


"Makasih banget ya, Yo," ucap Lani tulus.


"Oke, sama-sama."


Keduanya bangkit berdiri. Tyo lalu mengembalikan kedua gelas es kelapa itu pada si penjual, lalu menyusul Lani yang sudah menunggunya di mobil. Sesaat sebelum memutar kunci, Tyo menoleh dan menatap Lani sungguh-sungguh.


"Maafin gue ya, Lan."


Lani tersenyum, "gue yang harusnya minta maaf karena sering buat elu repot."


Tyo balik tersenyum, lalu diputarnya kunci. Mobil itu kemudian melaju meninggalkan tepian danau yang mulai meremang.

__ADS_1


...******...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2