
Bab 57 PMM
Boy menggebrak kap mobil taksi online yang membawa Lani sore itu pulang dari kampus.
"Turun luh!" seru Boy.
"Pak, jangan dibukanya, ya!" pinta Lani pada sang sopir.
"Tapi, Non–"
"Tolong, Pak. Dia itu psycopat dan suka nyulik orang terus diambilin organ ginjalnya," ucap Lani ketakutan.
"Wah, gimana ini, Non? Laporkan polisi aja!" serunya.
Boy makin menggebrak mobil Lani. Dan akhirnya Lani berteriak meminta tolong dari celah jendela mobil taksi online tersebut. Beberapa warga datang mendekat. Boy lantas mengacungkan jari tengahnya pada Lani.
"Gue bakal buru elu ke manapun, Lan!" ancam Boy lalu pergi.
Sopir taksi online itu lantas mengantar Lani ke kantor polisi. Ia meminta Lani untuk melaporkan perbuatan Boy. Sejak saat itu, Boy menjadi buruan Rio dan kawan-kawan untuk dimintai keterangan.
...***...
Lani merenung di tepi Danau Situindah, wisata baru dekat rumahnya. Lani memikirkan cintanya yang kandas. Dari mana pun cinta itu datang, dari arah yang salah atau benar, torehan pertamanya se- lalu jadi yang paling menyakitkan.
"Apa mungkin karena gue membuka seluruh hati? Mungkin juga karena gir dibutakan cinta sama Boy, hingga tanpa sadar gus melepaskan semua pertahanan diri dan membayangkan versi terindah semua kisah cinta dalam dunia dongeng yang pernah gue baca di novel," gumam Lani berbicara dengan dirinya sendiri.
Lani menghela napas. Terduduk lesu di kursi taman dekat danau itu. Hanya sendiri tak ada siapa pun yang menemani. Akhir-akhir ini, entah kenapa dia ingin sekali sendirian. Tidak ditemani siapa pun, baik Rara atau Briana. Dia hanya ingin sendirian.
Sekali lagi dihelanya napas setelah menarik napas dalam, lalu diambilnya ponsel dari dalam tas. Ada lima pesan whatsapp yang masuk. Dua pesan dari ibunya, dari Rara, dari Briana, dan juga dari Tyo. Lani mendapat kabar tentang Boy yang bak belur dihajar Tyo sampai tidak berani muncul di kampus. Tapi, tetap saja ternyata tidak cukup melegakan untuknya. Pantas saja Boy menemuinya dan mau marah-marah. Syukurlah saat itu ada sopir taksi online yang baik dan menolongnya.
Mereka benar-benar eman terbaiknya saat ini. Yang benar-benar mau mengerti kondisinya saat ini. Juga sang ibu yang tanpa banyak bertanya tentang kisah cintanya, tetapi tetap perhatian. Bahkan ibunya menyerahkan kunci mobil saat dia katakan dia butuh kendaraan pribadi untuk sementara ini.
Namun, entah kenapa sosok Dikta terlintas di pikiran Lani. Bahkan gadis itu mengharapkan pesan singkat dari Dikta. Tentu saja tidak akan ada. Tidak ada alasan pria itu untuk mengiriminya prsan singkat saat ini.
Lani juga sudah meminta para temannya agar jangan cerita apa pun pada Dikta. Jadi, Lani berharap pria itu tidak akan tahu soal hubungannya dengan Boy, yang bahkan langsung berakhir begitu dimulai.
__ADS_1
Lani menghela napas. Akhir-akhir ini dia sering memikirkan semua ucapan Tyo di tepi danau waktu itu. Lani berpikir kalau mau diakui dengan jujur, sebenarnya ucapan Tyo ada benarnya juga. Namun, sepertinya semua sudah terjadi. Ya, sudahlah meskipun sering dipikirkan lebih dalam, dia tidak akan melihat pemikiran itu ada gunanya saat ini.
Kembali Lani menghela napas berat dan lelah. Sangat lelah lalu masuk ke dalam mobilnya. Diletakkannya ponsel di dasbor. Kemudian ia memutar kunci kontak mobil dan menyalakan mesinnya. Ia menelusuri jalan raya dengan kecepatan sedang.
Tercipta keheningan di dalam mobil yang kembali membuat rasa sepi itu datang. Entah bagaimana caranya, mendadak kesepian itu berubah menjadi kesedihan. Kesedihan yang terasa berat dan menekan perasaannya, membuat luka menyayat hati.
Tiba-tiba air mata Lani turun. Gadis itu terperangah. Cepat cepat dia hapus air mata itu dan dengan panik meraih kacamata hitam dari laci dasbor.
"Kenapa sih gue pake nangis gini?" keluhnya. Suaranya sekarang menjadi serak.
Tiba-tiba saja dia sangat ingin menangis. Meskipun sudah ditahannya sangat mati-matian, bulir bening itu tetap turun membasahi pipinya. Lani benar-benar tak bisa mencegahnya. Tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukannya hanya cepat-cepat menghapusnya begitu mengalir.
Tak lama ponselnya berbunyi. Ada pesan whatsapp yang masuk. Dengan satu tangan, gadis itu meraih ponselnya dari dasbor. Ada satu pesan baru. Layar ponselnya itu ditatapnya lekat-lekat dan langsunh membuatnya tersentak seketika. Pesan singkat dari Dikta.
"Jangan nyetir smbl nangis. BAHAYA!"
Lani tak mengerti kenapa Dikta tahu kalau dia sedang mengendarai mobil sendirian. Namun, pesan singkat itu malah nyaris menyebabkan mobil Lani mengalami tabrakan beruntun.
Begitu membacanya, Lani tanpa sadar menginjak rem kuat-kuat. Lantas saja mobilnya berhenti mendadak. Mobil di belakangnya sudah pasti ikut berhenti mendadak setelah nyaris saja menyundulnya.
"Woi, tolol!"
"Woi, bego!"
"Bisa bawa mobil nggak sih!? Bego banget luh!"
"Baru belajar nyetir, ya?"
Semua makian itu menakutkan bagi Lani. Dia buru-buru menurunkan kaca dan meminta maaf pada orang sekitarnya. Para pengemudi motor di dekatnya sudah ingin memaki lagi, tetapi tak jadi begitu tahu gadis itu habis menangis. Kacamata hitam Lani hanya bisa menyembunyikan kedua matanya, tetapi tidak hidungnya yang memerah.
"Maaf, Mas, Mbak hiks hiks. Maaf kan saya. Maaf."
Namun tak lama kemudian, Satu suara berat yang ikut meminta maaf mengejutkan Lani.
"Maaf ya, Mas. Maaf ya, Mbak."
__ADS_1
Lani menoleh dan terpana. Dikta berdiri di depan mobilnya, entah muncul dari mana. Pemuda itu tahu tahu muncul dan lalu menghampirinya dengan langkah cepat.
"Lan, kamu geser!" perintahnya dengan nada halus.
Lani masih terpana, sehingga tanpa sadar kalau gadis itu menuruti perintah dari Dikta. Sambil membuka pintu mobil, sekali lagi Dikta meminta maaf pada orang-orang di sekitarnya. Terutama pengemudi mobil di belakang mobil Lani
Baru setelah mereka tinggalkan tempat itu, Dikta menoleh dan menatap Lani sesaat.
"Kenapa kamubnangis?" tanya Dikta.
Lani tidak menjawab.
"Apa gara-gara si Boy itu, ya?" tanya Dikta lagi.
Lani tersentak tapi tetap bungkam. Dikta menghela napas diam-diam.
"Nggak apa-apa, Lan. Kalau elu nggak mau cerita ya udah," ucap Dikta dengan suara yang dipaksa tetap tenang.
"Hmmmm." Lani hanya menggumam.
"Kamu mau ke mana, Lan?" tanya Dikta lagi.
Baru kali ini Lani membuka mulut.
"Aku mau pulang aja, Ta" jawabnya lirih.
Dikta akhirnya mengangguk, "Aku anter kamu sampai rumah, ya. Kamu kayaknya lagi kacau, deh," ucap Dikta.
Setelah Lani mengangguk-angguk, mobil tersebut melaju. Jarak jauh yang mereka tempuh malah terasa pendek. Tempat terdekat yang terasa jauh.
Drama mengenaskan Lani dan Boy itu akhirnya menelan habis kebersamaan yang singkat itu. Dikta dan Lani kini seolah dua-duanya nya menyesali habisnya waktu. Namun, mereka tetap tidak ada yang berani untuk memulai. Kenyataan bahwa gadis di sebelahnya pernah berulang kali dan berusaha keras untuk bisa pergi darinya, membuat Dikta kehilangan nyaris seluruh keberaniannya.
...******...
...Bersambung dulu ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...