PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 38 - Sendiri


__ADS_3

Bab 38 PMM


Lani merasa akhirnya dia benar-benar bebas. Bebas dari sosok Dikta yang mulai menghilang tak mengganggu lagi di hidupnya. Dia juga kembali ke rumahnya setelah merasa aman.


"Yeaaaayyy!"


Lani menjerit keras-keras. Melompat-lompat di atas tempat tidurnya. Di tengah lagu berdebar keras yang disetel dengan volume tinggi. Tentu saja gadis itu ikut mengikuti syair di tengah alunan lagu yang terdengar.


"Waktunya berburu cinta!"


Entah kerasukan hantu ganjen mana yang membuat Lani memberanikan diri mengirim pesan pada Boy untuk menanyakan keadaan.


Ijah berdiri di ambang pintu. Wanita paruh baya itu sudah tidak terlalu kaget lagi jika sang majikannya berulah seperti itu. Ijah paham karena sepertinya sang nona majikan sedang gembira sekali.


Sejak hari pertama kepulangan Lani kembali ke rumah, gadis itu melompat-lompat seraya menjerit-jerit, dan tertawa-tawa sendiri. Hari kedua bahkan dia mengajak Briana untuk bergabung.


Namun, sahabatnya itu hanya bisa menonton sambil senyum-senyum, tidak bisa mengikuti tingkah gila sahabatnya itu. Hari ini, pun masih sama. Hanya saja ditambah musik ala clubing yang suaranya lebih gila-gilaan.


Mbok ljah hanya bisa pergi sambil geleng-geleng kepala. Sesekali ia juga mengikuti alunan musik tersebut. Namun, Mbok Ijah sudah siap-siap, jika sebentar lagi pasti ada tetangga yang datang untuk protes karena suara bising konser dadakan yang diciptakan Lani.


Lani juga mulai mengubah penampilan. Wanita itu jadi lebih sering memakai rok daripada celana panjang. Dikta tak pernah suka sebenarnya jika Lani harus memakai rok. Toh, sama saja mengundang malapetaka.


"Tumben elu dandan!" sentak Briana saat meluhat Lani terlihat juga mulai suka berdandan, meskipun tidak berlebihan.


"Sirik aja, luh! Hari ini gue mau nge-date sama Boy. Pokoknya, gue harus berusaha keras agar jejak-jejak atau aura mantannya Dikta tidak berbekas di gue," akunya menjelaskan.


"Elu pikir ******* bekas Dikta bertanda di muka elu? Hahaha, kocak luh, Lan!" Briana merebahkan dirinya di atas ranjang.


Namun, ia langsung mengubah posisinya jadi duduk sembari berteriak, "whaaaaat? Elu mau nge-date sama Boy? Gila luh!"


"Kok, gila sih?! Dikta udah go away yah, Bri. Terus si Tyo juga lagi sakit. Nggak akan ada yang ganggu gue gebet menggebet!" tegasnya.

__ADS_1


"Ih, si Lani ya! Heran banget gue sama elu!" seru Briana.


"Suka suka gue, Lah! Gebetan gue udah ada. Fakultas gebetan gue itu juga tidak jauh. Adanya di gedung belakang fakultas kita, kan? Jadi, gue nggak perlu repot jauh jauh kalau mau tebar- tebar pesona sesering mungkin." Lani kembali tertawa dengan puasanya.


"Terus, emang elu yakin kalau Boy juga suka sama elu?" selidik Briana.


"Liat aja chat dia ke gue!" Lani meminta Briana membaca chat Lani dan Boy saat dia sedang memilih pakaian yang pantas untuk kencan.


Briana harus mengakui kalau Boy sepertinya juga suka pada Lani. Dari percakapan chat whatsapp mereka memang ada balas membalas emoticon penuh cinta. Boy juga puitis kerap mengirim puisi cinta.


Briana pikir hubungan Lani dan Boy baru sampai saat masih dalam taraf saling memberikan senyum, menyapa, dan bercakap- bercakap sekadarnya. Ternyata, memang hubungan mereka yang mulai mengarah ke kata "jadian" yang selama ini dicari Lani.


"Jadi, gimana menurut elu, Bri?" tanya Lani saat meminta pendapat Briana.


"Gimana apanya?"


"Si Boy?" selidik Lani.


Briana berkata bahwa Boy, si gebetan Lani itu boleh juga. Gayanya keren dan modis. Boy juga lebih tampan dari Dikta karena kulitnya lebih terang dan bersih. Boy memang jenis pemuda yang berada di kutub yang berlawanan dengan Dikta. Boy mampu menjaga dan merawat tubuhnya layaknya oppa Korea kesukaan Lani.


"Jelas, dong! Nggak bisa dibandingin, lagi, Bri! Yang satu beradab, yang satu lagi primitif!" protes Lani seketika.


"Tapi, tetep lebih tajir Dikta, Lan!" Briana tertawa.


"Uang bukan segalanya! Pokoknya Boy itu baik tau! Cowok itu perhatian, lembut, dan nggak suka maksa kayak Dikta. Nggak sok berkuasa. Pokoknya Boy itu so sweet banget deh!" pujinya setinggi langit.


"Yah, namanya juga elu lagi fall in love. Tai kucing juga elu bilang coklat yang manisnya kebangetan," ejek Briana.


"Iyuuuh, masa elu samain ama tokai kucing, sih?! Jorok!" seru Lani.


Betapa ajaibnya cinta. Dia bisa menggambarkan dengan begitu detail, dalam banyak kata dan warna. Cinta yang merupakan sebuah objek yang bahkan adanya nun jauh di sana di batas cakrawala sana tetapi seraya dekat dan mudah direngkuh.

__ADS_1


"Lan, gue masih mikirin yang nyerang Tyo. Gue cuma takut kalau salah satu di antara kita bakal bernasib sama kayak Tyo," ucap Briana.


"Elu belum tau, ya, kalau Tyo terlibat penipuan bitcoin sama judi krypto?" Lani selesai membuat kepangan di rambutnya.


"Masa, sih?" selidik Briana.


"Dia ngaku gitu, kok. Jadi ada kemungkinan itu musuhnya Tyo. Mungkin salah satu anggota geng motor yang kena tipu sama Tyo," ucap Lani.


"Ah, masa sih? Gue masih nggak percaya deh."


...***...


Sementara itu, Dikta masih berada di beranda lantai dua depan kamarnya


Pemuda itu mulai merasa sendirian. Namun, kata sendiri bukan kata yang asing untuk Dikta. Dia sudah mengenalnya berkali-kali. Dan semua definisi kata "sendiri" mulai menyenang- kan.


Baru saja kemarin mendapat panggilan dari Rio ferkait alibi di maba Dikta berada saat penusukan Tyo terjadi. Beruntung Dikta punya alibi.


Hobby barunya melukis dan kerap pulang pergi ke sanggar lukis di daerah dekat rumah Tyo, membuatnya memiliki bukti kalau ia sedang berada di sanggar saat penusukan terhadap Tyo terjadi.


Hari itu, Tyo melukis tentang seseorang yang tengah sendirian berada di pesisir pantai. Dikta sudah sering bergelut dengan kesendirian karena sering tidak ada seorang pun di rumah, jadi dia bisa mengerjakan sesuatu dengan tenang. Sendiri juga berarti pergi ke mana pun tanpa kedua sahabat seperti dahulu. Dan itu menyenangkan setelah berhari-hari selalu bersama.


Dikta juga mulai menyukai ketika dia berhasil mengenyahkan para perempuan yang selama ini menempel di sebelahnya. Hal yang mulai membuatnya muak dan bosan dengan segala perhatian dan kemanjaan mereka yang mulai terasa mengekang.


Tak ayal Dikta juga harus mendengar beberapa panggilan khusus. Yayang, ayang, sayang, baby, babe, cinta, honey, dan sejenisnya, yang mulai terasa mengancam kebebasannya. Sehingga pada akhirnya membuat dirinya memutuskan untuk sendiri.


Namun, Dikta merasa ternyata sendiri kala itu adalah kekosongan. Juga untuk kata sakit dan kehilangan. Sedih dan penyesalan. Sendiri itu juga sunyi. Sangat sunyi, karena ia merindukan Lani. Kesunyian itu mendadak mengingatkan Dikta pada seorang Lani yang selalu dipaksanya untuk pergi.


Dikta sama sekali tidak menyangka akhirnya dirinya juga melakukan hal yang persis sama seperti para mantannya. Ia memohon Lani agar orang yang dicintainya itu bersedia untuk tinggal. Akan tetapi, gadis itu malah mendepaknya mentah-mentah.


Rasa sakit menjalar di kepalanya kala mengingat setiap potongan kenangan yang hadir. Meskipun kenangan tak menyenangkan. Dikta meraih selembar foto dari anak-anak Mapala Merah yang sudah ia cetak. Ia mulai mencoba mengingat satu persatu wajah itu. Sampai akhirnya ada lembaran foto yang memuat hanya foto Lani. Dikta merobeknya kuat-kuat.

__ADS_1


...*****...


...To be continued see you next chapter!...


__ADS_2