PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 46 - Buang Sial Ala Dikta


__ADS_3

Bab 46 PMM


...*******...


Tyo menemui Dikta di sebuah kafe. Ia menyerahkan foto Boy pada Dikta.


"Raja punya sesuatu tentang cowok ini. Dia bilang cowok ini berbahaya dan nggak baik buat Lani," ucap Tyo.


"Oh…."


"Cuma oh? Respon macam apa itu, Ta?" sentak Tyo.


"Gue lagi kepikiran sama mimpi gue, Yo. Gue ngeliat cewek gantung diri tapi gue nggak tau mukanya siapa. Gue takut itu mantan-mantan gue yang pernah gue sakiti terus minta tolong sama gue," ucap Dikta.


Tyo hanya bisa merespon dengan mulut menganga.


"Udah ya elu urus dulu si Lani. Gue mau ketemu mantan gue dulu," ucap Dikta.


"Ta! Woi, gue pikir elu bakal– Ta?!" pekik Tyo.


Dikta hanya mengangkat tangan dan melambai, lalu pergi menuju mobil jeep miliknya yang terparkir di halaman kafe.


Dikta tak berbohong. Nyatanya, memang satu per satu ia mendatangi para wanita yang pernah berstatus pacar dengannya.


Para perempuan itu bersamanya di banyak waktu yang singkat, bahkan teramat singkat. Beberapa di antaranya bahkan telah terlupakan. Beberapa juga ada yang telah menghilang atau pindah ke luar kota.


Namun, beberapa di antaranya ternyata masih berharap bisa kembali pada Dikta meskipun rasanya sulit. Bahkan ada pula yang menyimpan kebencian sampai saat ini. Dan mungkin saja, salah satunya berani untuk menghabisi nyawanya.


Siang itu Dikta menemui Amelia, salah satu mantannya yang langsung memberinya tamparan telak.


"Gue ke sini cuma mau minta maaf, Mel," ucap Dikta.


"Halah, bullshit! Pasti ada yang mau elu rencanain kan sama gue?" Amelia terlihat geram.


"Terserah elu mau percaya apa nggak. Gue cuma mau buang sial makanya gue minta maaf sama elu dan mantan gue lainnya. Gue juga udah kapok jadi playboy," ucap Dikta.


"Sekalian aja elu temuin itu si Tutik!" tukas Amelia.

__ADS_1


Dikta terhenyak. Ia jadi ingat salah satu dari gadis-gadis itu yang meninggalkan kesan yang cukup dalam untuk Dikta. Sri Astutik, sebuah nama yang masih ia ingat dengan jelas. Sebuah nama yang sangat kampungan dan ia tertawakan saat berkenalan dengan Tutik.


***


Dikta mengenang saat pertama kali bertemu dengan Tutik. Gadis berkulit sawo matang dengan rambut agak keriting itu, memang baru saja tiba Jakarta, dari sebuah desa yang ada di pelosok Kalimantan sana. Tutik berasal dari keluarga yang memiliki perkebunan perkebunan karet dan kelapa sawit. Gadis itu nekat ke ibukota untuk menimba ilmu lebih baik dari pada di kampung asalnya.


Saat pertama kali melihat Tutik di area parkir sebuah minimarket yang tidak jauh dari kampus, Dikta langsung tertarik. Ia melihat sosok berparas ayu nan cantik. Cantiknya kembang desa. Penampilan Tutik sangat sederhana. Garis itu malah terlihat canggung dan bingung di tengah keramaian orang-orang yang tahu pasti ke mana tujuan dan apa yang akan mereka lakukan. Dikta yakin kalau Tutik bisa saja jadi sasaran penipuan para preman sekitar.


Saat Dikta mencoba mendekatinya, Tutik bersikap langsung waspada. Wajahnya terlihat langsung pucat, dan baru agak tenang setelah Dikta menekankan berkali-kali bahwa tempat itu pernah jadi daerah kekuasaannya. Dan salah satu penjual rokok di kedai kecil yang mangkal di situ juga membenarkan perkataan Dikta.


"Nama elo siapa?" tanya Dikta.


"Tutik, Sri Astutik," sahutnya.


"Cantik namanya kayak orangnya," goda Dikta saat gadis itu menyebutkan nama.


Sebuah gombalan yang tak ada kualitas atau sangat tak bermutu sama sekali. Namun, Tutik tersenyum karenanya. Meskipun malu-malu, gadis itu terlihat sangat geli dengan candaan garing yang dilontarkan Dikta kemudian. Jangan-jangan di kampungnya sana tidak pernah ada yang memberinya gombalan cinta.


Di hari-hari berikutnya, Dikta mulai kerap membawa gadis desa itu keliling ibukota. Rasanya lucu sekaligus aneh, melihat ada orang yang sebegitu sangat senang bahkan takjub hanya karena melihat Monas.


Namun, Dikta hanya mengajak Tutik satu kali memasuki sebuah mall besar. Dia tak tahan ketika gadis desa itu memasuki setiap konter dengan wajah terperangahnya. Banyak pertanyaan dan komentar-komentar yang dia dengar dan membuat hampir setiap orang yang mendengar ocehan Tutik jadi menoleh dan langsung tahu gadis itu baru datang dari pedalaman. Dikta bahkan bertemu geng Raisa, Lani, Ajeng, dan Briana di mall tersebut.


"Kasihan anak baru itu jadi targetnya so Dikta," gumam Raisa.


"Iya tuh, kasihan banget. Gue yakin bakalan nggak polos lagi deh kalau udah diacak-acak sama Dikta," sahut Ajeng.


Lani dan Briana hanya menatap Dikta dengan sorot mata jijik. Pemuda playboy yang menyebalkan itu sangat terkenal di antero kampus. Tutik juga menyapa kawanan gadis cantik itu dan ingin menjadi teman mereka. Namun, Raisa jelas menolaknya mentah-mentah.


Mereka tertawa melihat kelakuan Tutik yang sangat takjub pada lift kapsul di mall itu. Ketika akhirnya bisa mengatasi rasa takutnya, gadis itu naik-turun lift berulang kali. Setelahnya, Dikta hanya menjalin hubungan dengan Tutik sekitar dua bulan. Setelah itu, ia campakkan karena mulai bosan.


...***...


Sepulang dari rumah Amelia, Dikta merenung seraya mengemudikan mobil Jeep-nya. Terlintas tanya, bagaimana kabar Tutik sekarang? Pertanyaan yang sebenarnya ditujukan Dikta untuk dirinya sendiri itu kemudian membawanya memasuki perkampungan yang bisa dibilang kumuh.


Berbekal ingatan yang sudah mulai pudar itu, ditelusurinya perkampungan padat, pengap, dan tampak semrawut itu. Tutik pernah tinggal di sebuah kontrakan di sana bersama salah satu sahabatnya, Irma.


Karena tempat yang dituju sebuah gang, Dikta memarkirkan mobilnya di halaman mini market samping gang tersebut. Setelah tersesat di lorong-lorong yang becek, kadang remang bahkan gelap, dan tak terhitung berapa kali ia bertanya pada orang sekitar, Dikta akhirnya

__ADS_1


menemukan apa yang dia cari.


Sebuah rumah kontrakan yang murah, dengan ukuran kecil seperti kamar mandi di kamarnya, dan cat tembok mengelupas serta kusam. Tempat Tutik tinggal bersama sahabatnya yang ternyata sudah berkeluarga.


Sebenarnya sama sekali bukan karena kondisi Tutik yang miskin lalu dia tinggalkan, ini hanya karena naluri playboy-nya yang ingin bebas. Naluri kebebasan itulah yang mulai mengancamnya, dan juga jenuh. Lagipula kalau boleh jujur, Dikta pasti agak malu juga untuk memunculkan gadis kampung seperti itu di tengah teman-temannya.


Setelah menarik napas, Dikta memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tak lama, didengarnya suara gerendel pintu yang ditarik. Sedetik kemudian pintu itu akan terbuka. Namun, Dikta merasa tubuhnya mulai gugup. Ia yakin akan melihat Tutik di sana. Ternyata, yang muncul di depannya adalah seorang wanita muda yang tidak dikenalnya. Bukan Tutik maupun Irma.


"Maaf. Tutiknya ada?" tanya Dikta.


"Tutik?" Wanita itu mengerutkan kening.


"Iya, saya cari temen saya namanya Tutik atau Irma nya ada?" tanya Dikta lagi.


"Di sini nggak ada yang namanya Tutik atau Irma. Hmmmm, mungkin yang dulu pernah ngontrak di sini, kali ya? Udah pindah dianya, Mas," sahutnya.


"Oh, gitu. Terus apa Mbak tau ke mana ya kira-kira dia pindahnya?" Dikta mulai berharap.


"Wah, saya nggak tau, Mas." Wanita itu lalu memandang Dikta dengan saksama.


Sesaat Dikta terdiam. Lalu kemudian, dia pamit undur diri karena memang tidak ada lagi yang bisa dia lakukannya di situ.


"Terima kasih, Mbak. Permisi."


Wanita itu tersenyum lalu menutup pintunya kembali. Namun saat Dikta akan meninggalkan perkampungan kumuh itu, tak diduga dia bertemu seseorang yang dia kenali sebagai teman sekelas Tutik, bahkan teman satu kos-nya saat itu.


"Irma! Elu Irma, kan? Hai, apa kabar?" sapa Dikta.


Gadis berkacamata dan dikuncir kuda itu tampak kaget. Diturunkannya majalah yang sedang dibacanya.


"Kabar gue baik," jawabnya dingin.


"Elu temennya Tutik, kan? Elu tau nggak dia pindah ke mana?" tanya Dikta langsung.


...******...


...To be continued, see you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2