
Bab 29 PMM
"Hai, Ja!" sapa seorang pemuda, mahasiswa tingkat akhir yang merupakan adik kelas Anta semasa sekolah dulu.
Namanya Frans, pemuda berdarah Timur ini kerap bertemu dengan Raja karena sering meminta bantuan Raja untuk manggung bersama teman-teman band-nya.
"Gimana tesis Kak Frans?" tanya Raja.
"Hadeh… Demi Tuhan, Ja. Dosenku itu bener-bener sinting! Sampai suruh ganti judul. Padahal mengganti judul tesis itu susah banget! Ini adalah kali ke ... ah, aku bahkan nggak ingat lagi tuh dosen suruh ganti judul," sahut Frans seraya menyeruput teh manis miliknya.
"Oh, jadi kalau udah mau lulus tuh malah tambah pusing, ya." Raja mengangguk-angguk.
Rara datang mendekat seraya membawa tabloid kampus.
"Ja, kita mau bikin acara doa bersama buat Raisa, Ajeng, dan Devan malam Jumat nanti. Pesen kue bolu sama bunda, ya. Bikin tiga loyang," pinta Rara.
"Hai, pacarnya Raja yang makin cantik!" sapanya.
"Hai, Kak Frans!" sapa Rara, "tumben ke kampus ini?"
"Aku udah sebulan tau bolak-balik kampus ini gara-gara cari Pak Rian! Dia kan dosen pembimbing aku!" sahut Frans.
Tatapan pemuda berkulit hitam manis itu menatap tabloid di atas meja yang baru saja diletakkan Rara.
"Ini siapa?" tanyanya seraya menunjuk tiga foto di halaman belakang tabloid tersebut.
"Oh, ini anak Mapala Merah yang udah meninggal. Namanya Raisa, Ajeng, sama Devan," jawab Rara.
"Yang cewek rambut panjang ini? Siapa tadi namanya?" tanya Frans.
"Raisa." Raja gantian menjawab.
"Oh, namanya Raisa rupanya. Kok, dia bisa ada di majalah ini? Eh, tadi kamu bilang meninggal?" Frans mengernyit mengucap tak percaya.
Rara dan Raja saling bertatapan lalu keduanya menatap Frans bersamaan.
"Emangnya kenapa, Kak? Kamu kenal sama dia?" tanya Rara.
"Sering lihat di minimarket deket rumah. Aku sering ngeliat dia dari jauh, sih. Eh, tapi tadi bilang apa? Meninggalnya kapan?" tanya Frans mulai agak cemas.
"Udah lama, Kak. Ada lah semester lalu, " sahut Rara.
"What? Semester lalu? Lah, baru minggu yang lalu aku lihat dia jaga malam di minimarket deket kampus aku!" seru Frans.
Brak!
__ADS_1
Raja mengejutkan para mahasiswa yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan Rara dan Frans.
"Kenapa kamu jadi marah sama aku e?" tanya Frans tak percaya.
"Bukan gitu, Kak. Maksud aku jangan ngomong sembarangan. Masa dia masih hidup jelas-jelas dia udah mati jatuh dari bukit. Terus kalau pun Kak Frans bisa lihat jangan-jangan itu hantunya," kata Raja.
"Buahahaha! Hantu dari mana? Masa hantu bisa jualan, bisa bikin kopi sama mie instan juga di minimarket itu lagi. Kocak kamu, Ja!" Frans masih menertawakan Raja.
"Ja, apa kita buktiin aja omongan Kak Frans, gimana?" tanya Rara.
"Tentu saja." Raja mengangguk mengiyakan.
"Eh, tapi cewek penjaga minimarket itu ada tahi lalat di dagunya. Terus dia pakai kacamata tebal," ucap Frans seraya mengamati lebih saksama, "apa cuma mirip, ya?"
"Tapi, nggak ada salahnya kalau kita ketemu yang mirip Raisa itu, Ja," ucap Rara.
"Iya, pasti. Nanti aku juga mau tanya sama Adam tentang Rangga. Aku mau tanya ke dia kalau si Raisa punya kembaran apa nggak," kata Raja.
Ponsel Frans berdering. Pak Rian sudah mengirimkan pesan untuk memanggilnya.
"Wah, Pak Rian si dosen pembimbingku memanggilku buat diskusi ngerubah materi penelitian," ucap Frans.
"Ya udah sana! Semangat buat bimbingannya, Kak!" Raja dan Rara memberikan semangat.
"Kak Frans! Mau ikut doa bersama di kampus ini?" tanya Rara.
"Boleh dong, namanya juga doa bersama. Nih, ambil aja selebarannya!" Rara menyerahkan selebaran acara doa bersama pada Frans.
"Oke, makasih. Aku pergi dulu, ya. Bye!" Frans melangkah pergi menuju titik temu dengan Pak Rian.
Frans menghela napas lelah sambil berjalan gontai. Langkahnya mengayun terpaksa menunjukkan sama sekali merasa tidak nyaman. Suasananya semakin membuat Frans merasa gerah. Walaupun ruang dosen ini ber-AC, menyegarkan tubuh yang mudah sekali berkeringat, tetapi jika keadaannya sudah saling tatap dan diberi pengarahan seperti itu, tentu saja Frans tetap merasa gerah. Semangatnya terasa terjun bebas ke tingkat paling dasar bahkan ke dasar kerak bumi sekaligus.
"Ganti halaman yang saya silang. Judul program juga basi. Kamu ganti aja program kamu!" titah Pak Rian.
"Pak, dua minggu lagi loh waktunya. Masa saya harus buat program lagi!" keluh Frans.
Sempitnya waktu yang Frans miliki tidak sebanding dengan banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Itu pun belum termasuk penyusunan naskah dan jadwal konsultasi dengan kedua pembimbing. Frans benar-benar stres.
Pak Rian lantas meminta Frans untuk keluar dan membetulkan lagi yang sempat disalahkan tadi. Frans melirik sekilas ruangan berpintu cokelat di sebelah kanan. Terdapat tulisan "Ruang Lab Komputer" di atas pintu.
Merasa tidak memiliki pilihan lain, kaki pemuda itu pun mulai menuruni tangga. Melangkah menuju ruang kemahasiswaan untuk mengurus surat peminjaman salah satu unit komputer.
"Aku harus bergerak cepat dan segera kembali ke lantai dua guna meminta tanda tangan Pak Rian, sebelum pria lima puluh tahun itu kabur dari kampus tersebut.
Meski sekarang masih pukul setengah dua siang, dosen pembimbing Fransitu kerap meninggalkan fakultas untuk menyelesaikan urusannya di gedung penelitian terpadu atau mengajar hingga hampir magrib. Frans mulai kesal dan tidak mau menunggu selama itu.
__ADS_1
Sekembalinya Frans ke lantai dua, tepatnya di ruang dosen, dia tidak melihat Pak Rian di mana pun. Sial!"
Dugaan Rian benar. Dosennya itu sangat mahir untuk kabur jika sedang dibutuhkan seperti ini.
Frans menemukan Lili di lantai tersebut.
"Hai, Li!" sapa Frans, "kamu sendiri aja?" tanya Frans pada Lily, salah seorang teman yang dari tadi duduk di depan ruang dosen organik.
"Mau ketemu Pak Rian, ya?" tanyanya.
"Emang dia lagi ngajar?" tanya Frans.
"Kan, ada kelas terakhir hari ini." Lily menunjuk ruang sidang yang terletak di dekat ruang dosen dengan dagunya.
Frans pun menghela napas kecewa. Meski sudah buru-buru, nyatanya dia masih kalah cepat. Pak Rian tampaknya telah kembali mengajar.
Frans pun mengambil tempat di sisi gadis itu. Setidaknya, Pak Rian belum pulang. Dia akan menunggu Pak dosen dan meminta pertolongan.
Saat melihat kertas yang Frans bawa, semuanya masih utuh. Hanya saja Arga tampak ketakutan.
"Mau minta tanda tangan, ya?" tanya Lily.
Lily lalu mengangguk. "Aku baru ganti judul lagi dan siapa tahu dia acc," sahut Frans.
Lily terlihat biasa saja. Dia tidak menanggapi keterkejutan gadis itu dan memilih menekuri ketikannya di keyboard komputer tersebut.
Setelah itu, Frans mengambil ponsel pintar dan menyambungkannya dengan saluran wi-fi. Baru hendak berselancar di jejaring sosial, Lily kembali mengajaknya berbincang.
"Kenapa ganti judul lagi, Frans? Bukannya yang kemarin sudah hampir rampung?" tanya Lily yang memang selalu bertemu dengan Frans di tempat itu.
Dari gelagatnya yang santai, Frams bisa menebak sepertinya gadis itu punya banyak waktu untuk mendengar ceritanya. Akhirnya Frans meletakkan ponsel yang terhubung dengan jaringan wi-fi kampus itu tanpa diperintah. Lalu, pemuda itu mencurahkan isi hati pada gadis kurus itu.
Lily mendengarkan dengan saksama. Sesekali, manik kelamnya menatap Frans kasihan karena stress dan tekanan. Namun terkadang, Lily juga merasa kesal dengan Pak Rian yang terdengar menyebalkan.
Sampai Frans menyadari sesuatu lalu bertanya, "jilbab kamu kok kayaknya basah lengket gitu, ya?"
Frans mencoba menyentuhnya, tetapi Lily menepisnya.
"Oh, maaf deh. Aku nggak ada maksud." Frans melihat ponselnya kehabisan daya baterai. Kemudian, ia meraih powerbank dari dalam tas.
Namun, pria muda berambut keriting itu melihat selebaran dengan saksama. Pandangannya tertuju pada gambar foto Ajeng. Frans menoleh ke arah Lily dengan saksama.
"Kenapa foto ini mirip sama kamu, ya?" gumam Frans.
...*****...
__ADS_1
...To be continued, see you next chapter!...